CINTA GADIS OBAT NYAMUK (Kesucian Yang Ternoda)

CINTA GADIS OBAT NYAMUK (Kesucian Yang Ternoda)
PERTEMUAN KEDUA


__ADS_3

"Wah cantik sekali, Terima kasih Ya." Ucap Rani sambil memegang dan memperhatikan bentuk liontin yang bergantung di kalung itu, kalung yang dulu pernah Iqbal gadaikan untuk membayar uang SPP dan uang ujian Rani.


"Kamu harus menjaganya dengan baik, jangan sampai hilang itu kalung warisan."


"Iya iya, aku merasa bangga pake kalung ini. Walaupun mertua udah nggak ada tapi aku masih bisa memakai warisan turun temurun dari keluarga mu." Rani pun bersandar di bahu Iqbal.


"Aku juga punya hadiah untuk mu." Ucap Rani sambil merogoh saku bajunya.


"Apa?..."


"Taraaaaa..." Rani menunjukkan permen KISS yang di bagian belakang bungkusnya bertuliskan "I LOVE YOU" lalu memberikannya pada Iqbal.


"Ini???.... Kau niat sekali memberiku hadiah Ran." Ucap Iqbal mengernyitkan dahinya sambil tersenyum mengejek. Rani menegakkan posisi duduknya demi melihat reaksi Iqbal.


"Hey, jangan mengejek hadiahku, sulit loh ya cari permen yang ada tulisan I LOVE YOU nya."


"Aku tidak mengejek hadiahmu."


"Itu senyumanmu mengejekku."


"Iya iya maaf. Hemmmm, Senangnya dapat hadiah dadakan."


Iqbal membuka bungkus permennya setelah itu malah Rani yang memakan permennya.


"Yah, hadiah macam apa ini!!... Masak aku cuma di kasih bungkusnya."


"Hahahaha..." Rani malah tertawa, Iqbal pun ikut tergelak. Mengkhusuk khusuk rambut Rani lalu mengecup dahinya.


"Kamu mau menjadi istriku, itu saja sudah menjadi hadiah luar biasa bagiku. Di tambah ini ni." Ucap Iqbal mengusap perut Rani setelah puas tertawa, Iqbal mengambil dompetnya dari balik saku celananya dan menyimpan bungkus permen tersebut.


"Hey Iqbal, kenapa sampah kamu simpan dalam dompetmu?..."


"Hadiah pertama pernikahan dari Istriku harus di simpan baik-baik."


"Ya elah Iqbal, tadi aku cuma bercanda. Aku saja baru ingat kalau aku punya permen. Aku tahu kamu itu aneh. Tapi anehnya di kurangin lah... Nggak usah leb... Hemmmm...." Iqbal sudah membenamkan wajahnya pada Rani, menghentikan bibir itu supaya tidak terus berbunyi. Dengan sensasi permen KISS, lebih harum dan wangi, melewati malam indah bersama istri tercintanya di barengi Senda gurau di atas rumah pohon akan dia jadikan momen abadi untuk Iqbal, yang akan ia kenang selamanya.


***


"Masih jauh nggak sih pak alamat ini?..." Ucap Nadine yang sudah sangat lelah setelah melewati perjalanan jauh yang penuh dengan suka duka, peluh sudah bercucuran di sekujur tubuhnya di tambah bau asem asem kecut. Dia nekad naik ojek tanpa sepeserpun uang, kalau alamat tidak ketemu ya terpaksa memberikan KTP nya sebagai jaminan pada tukang ojek tersebut kalau dia tidak bisa bayar. Karena dia sudah sangat lelah di sepanjang perjalanan menuju ke rumah majikan Bibinya.


"Udah deket neng... Daerah sini kok..."


"Kepala ku pusing, capek campur laper. Capek, pengen istirahat. Rasanya aku udah mau pingsan saja."


Beberapa saat kemudian Nadine sudah melihat Bi Ijah menunggunya di depan rumah besar. Setelah turun dari motor, dia segera menghampiri Bi Ijah.


"Nak kamu dari mana saja, kok baru nyampe, di telpon nggak bisa?..." Ujar Bi Ijah pada keponakannya dengan nada cemas karena sejak tadi di tunggu baru datang. Wajah keriput itu makin mengkerut saat melihat wajah letih Nadine.


"Sebel Bi, apes banget. Minta uang dong Bi, buat bayar ojek, nanti ku ganti." Ucap Nadine sambil menengadahkan tangannya.

__ADS_1


"Iya, tunggu sebentar." Ucap Bi Ijah lalu merogoh saku di dasternya dan memberikan semua uangnya pada Nadine.


"Terimakasih."


Setelah membayar ongkos ojek, Bi Ijah segera membawa Nadine memasuki gerbang, berjalan ke halaman dan memasuki rumah lewat pintu belakang. Dia langsung melempar tasnya ke atas ranjang milik Bi Ijah lantas duduk dengan kasar.


"Memangnya kenapa?... Ada apa di jalan?..."Ucap Bi Ijah seraya mengusap peluh dari wajah Nadine yang terlihat lelah.


"Aku abis di jambret, Hp ku dan uang ku raib di gondol maling."


"Tapi kamu nggak apa-apa kan Nak?... Mereka nggak nyakitin kamu kan?" Ucap Bi Ijah yang terlihat panik.


"Nggak di apa apain kok Bi, orang jambretnya naik motor langsung cuuusss..." Nadine menggerakkan tangannya seolah motor itu bergerak secepat tangannya. Dia pun merebahkan tubuhnya di atas ranjang, terasa sedikit lega rasanya.


"Bi, aku lapar." Ucapnya lirih dengan mata yang masih terpejam.


"Tunggu sebentar di sini, biar bibi ambilkan."


"Nggak usah Bi, biar aku ambil sendiri bareng sama bibi." Nadine kembali duduk.


"Sudah, kamu tunggu di sini. Kamu capek kan..."


"Iya Bi, maaf ya jadi ngerepotin."


"Iya nggak apa-apa..." Ucap Bi Ijah setelah menepuk nepuk paha Nadine.


Nadine kembali rebahan, dia menerawang kejadian tadi, ada rasa sesal di hatinya saat mengingat sosok laki laki yang mobilnya menabrak dinding, tak seharusnya ia lari dari tanggungjawab tapi dia terlalu kalut kalau laki laki itu benar benar akan membawanya ke kantor polisi jika Nadine tak sanggup membayar biaya perbaikan mobilnya.


Tak perlu menunggu waktu lama Bi Ijah datang dengan membawa nampan berisi makanan.


"Ayo bangun, makan dulu."


"Iya Bi, Terima kasih." Nadine memaksakan diri untuk bangun karena tubuhnya terasa remuk redam, dia pun mengambil nampan dari tangan Bi Ijah. Kemudian mulai memakan makanannya. Dengan sekejap dia sudah menghabiskan makanan di piringnya.


"Kamu mandi dulu, setelah itu istirahat. Ayo bibi antar ke kamar mandi."


"Iya Bi."


***


Keesokan paginya, walaupun awan masih gelap Nadine sudah bangun dan membantu Bi Ijah di dapur untuk memasak. Berani numpang hidup di rumah majikan Bibinya berarti harus tahu diri untuk membantu bukan, pikir Nadine.


Setelah selesai membantu di dapur, dia mulai membersihkan sebagian rumah majikan Bibinya.


Rani berjalan ke arah dapur untuk membuatkan kopi untuk Iqbal , tak sengaja matanya menangkap sosok Nadine saat di sedang membersihkan meja dengan kemoceng. Rani pun menghampirinya.


"Keponakannya Bi Ijah ya?..."


"Iya Nyonya."

__ADS_1


"Eh jangan panggil Nyonya, Panggil saja kak Rani."


"Maaf Nyonya, tapi saya tidak enak hati dengan pekerjaan yang lain."


"Iiiiiihhhhh, Bi Ijah itu kesayangannya suamiku. Nanti dia marah loh, lagian kamu kan jauh jauh ke sini bukan untuk kerja tapi untuk kuliah, jadi kamu harus fokus kuliah."


"Iya Nyonya, eh kak."


"Sudah tidak usah bekerja, biar ini di kerjakan sama yang lain saja."


"Tapi rasanya tidak enak kalau saya nggak ngapa-ngapain kak."


"Ouw... Ya sudah lah terserah kamu saja. Kapan mulai kuliah?..."


"Lusa."


"Di kampus mana?..."


"Di kampus xxxx"


"Oh ya sudah, aku tinggal dulu ke dapur ya."


"Iya." Jawab Nadine seraya mengangguk. Rani pun pergi meninggalkannya.


"Majikan Bi Ijah tidak hanya cantik tapi juga baik ternyata."


Beberapa saat kemudian...


"Hey kamu, buatkan aku teh." Ucap Zain pada Nadine yang membelakanginya. Nadine melihat ke arah Zain yang matanya masih fokus pada layar Hpnya, mata Nadine melotot, jantungnya mencelos hampir keluar, dunianya terasa runtuh, diapun langsung berbalik memunggungi Zain kembali.


"Ku tunggu di ruang tamu." Ucap Zain melewati Nadine tanpa melihat wajah Nadine. Nadine mengangguk tanpa mau menjawab.


"Huuuuufffhhh....Mampus, kenapa dia ada di sini sih?... Mana aku nggak punya uang lagi."


Setelah Zain tak terlihat, dengan langkah tergesa-gesa dia pergi ke kamar untuk mengambil masker, kemudian segera ke dapur.


"Ada apa Nadine?..." Ucap Bi Ijah.


"Mau buat teh Bi."


"Untuk siapa?..."


"Nggak tahu, pokoknya orangnya ganteng, tubuhnya tinggi. Kulitnya putih bersih, dia pakai jas hitam."


"Oh, pasti Tuan Zain. Kalau Tuan Zain tehnya harus air mendidih yang langsung dari kompor kalau nggak gitu dia nggak mau minum."


"Ribet banget sih orangnya."


"Huuussss kamu kalau ngomong hati hati. Kalau kedengaran orangnya gimana?... Ingat, jangan sampai buat kesalahan sama Tuan Zain atau pun dengan Tuan Iqbal, kalau bisa jangan pernah membicarakannya kalau tidak punya urusan dengan tuan Iqbal dan Tuan Zain."

__ADS_1


"Memangnya kenapa Bi?..."


"Sudah, jangan banyak bertanya. Kamu nurut saja." Nadine hanya mengangguk sambil menelan salivanya, memangnya orang seperti apa mereka?...


__ADS_2