CINTA GADIS OBAT NYAMUK (Kesucian Yang Ternoda)

CINTA GADIS OBAT NYAMUK (Kesucian Yang Ternoda)
KAU MASIH PERAWAN


__ADS_3

"KATAKAN YANG JELAS IQBAL" Rani berteriak sambil terisak dia menarik-narik lengan Iqbal.


"Kau masih perawan, Ran. Aku tidak sampai melakukan sejauh itu."Jawab Iqbal dengan wajah datar.


"Tidak jauh katamu ... Dadaku banyak cupangnya kamu bilang tidak jauh." Rani mendorong lengan Iqbal namun Iqbal hanya terhuyung sedikit ke samping.


"Lakukan apapun padaku dengan pisau ini." Iqbal merogohkan tangannya ke belakang punggung dan memberikan pisau ke tangan Rani. Bukannya menusuk Iqbal, Rani malah menggigit lengan Iqbal dengan sangat keras hingga lengan Iqbal berdarah saking kesalnya Rani. Iqbal hanya menggertakkan giginya menahan rasa sakit. Rani mengusap mulutnya dengan kasar setelah melepaskan gigitannya dari Iqbal.


"Dasar sialan kau." Rani melangkah pergi hendak keluar.


"Mau kemana kau Ran?"


"Bukan urusanmu."


"Di luar hujan masih deras. Kau belum sembuh benar."


"Aku tidak peduli." Saat Rani hendak keluar dari rumah pohon, Iqbal malah menarik tangannya.


"Ular tadi masih berkeliaran di luar. Ular adalah predator pendendam, bagaimana kalau dia membuntuti mu dan menggigit mu. Dan kau mati." Iqbal mencoba menakut-nakuti Rani, raut wajah Rani mulai berkeringat karena takut.


"Aku janji tidak akan melakukan apapun padamu." Lanjut Iqbal.


Rani menghempaskan tangan Iqbal. Kembali melangkah masuk dan duduk di pojok rumah pohon dengan memeluk lututnya. Wajahnya menghindari tatapan iqbal karena Rani sangat emosi dan masih marah, tidak terima atas kelancangan yang sudah dilakukan Iqbal.


Iqbal mengambil kemeja miliknya, lalu membelakangi Rani dan mulai mengenakan kemejanya. Rani melirik Iqbal dengan sinis, terdapat bekas luka yang sangat lebar di punggung Iqbal. Meski sangat penasaran dari mana Iqbal mendapatkan bekas luka itu, tapi Rani masih enggan bicara. Ia masih sangat marah pada Iqbal


Setelah mengancing kemejanya, Iqbal menghampiri Rani dan meletakkan ikan panggang di hadapan Rani. "Makanlah, kau pasti lapar."


"Aku tidak lapar!" ucap Rani dengan nada ketus, walaupun sebenarnya perut Rani sudah perih keroncongan.


"Kalau kau masih tidak terima dengan perbuatanku! Aku akan menemui ibumu dan mengakui kesalahanku agar beliau segera menikahkan kita."


"Kau jangan gila, kau mau ibuku terkena serangan jantung!" Rani langsung memberikan tatapan tajam pada Iqbal.


"Lalu aku harus bagaimana Ran supaya kau mau memaafkan aku?"


"Lebih baik hubungan kita berakhir sampai disini!" ucap Rani dengan nada Ketus walaupun hatinya tidak menginginkan perpisahan.


Kalimat Rani sungguh menyulut emosi Iqbal, Iqbal yang emosi langsung mencengkram lengan Rani hingga dia meringis kesakitan.


"Aku bersumpah akan mematahkan kaki mu jika sampai kau berpaling dariku." Ucapan Iqbal tegas dan serius menatap Rani seperti monster yang siap memangsa nya. Membuat tubuh Rani merinding ketakutan.


"Iqbal sakit. Tolong lepaskan tanganku." Ucap Rani sambil meringis kasakitan. Iqbal langsung melepaskan cengkramannya dari lengan Rani.


"Bagaimana bisa aku mencintai pria seperti Iqbal, saat marah dia terlihat seperti monster yang siap menerkam mangsanya, aku sendiri bingung bagaimana dengan nasibku nanti jika aku bersanding dengannya. Sepertinya Tuhan sedang mengajakku bermain dengan takdir perjodohan"


"Aku peringatkan padamu jangan pernah mengucapkan kata perpisahan lagi karena aku tidak akan segan-segan mengurungmu dalam sangkar emasku." Ucap Iqbal menatap Rani nyalang.

__ADS_1


Iqbal mengambil secuil ikan panggang dan menyodorkannya ke mulut Rani tapi Rani malah melengos. Iqbal terus berusaha menyuapi Rani tidak memindahkan tangannya dari mulut Rani.


10 menit kemudian akhirnya Rani mau membuka mulut. Iqbal pun terus menyuapi Rani dan sesekali Iqbal juga menyuapkan beberapa cuil ikan panggang ke mulutnya sendiri, sebab Iqbal juga belum makan karena menunggu Rani.


Tatapannya tak pernah lepas dari Rani. Mencuil ikan pun masih sambil menatap Rani, tak peduli dengan tulang yang menusuk tangannya, Rani pun sesekali harus membuang tulang yang berada di mulutnya. Sedangkan Rani sendiri membuang muka, enggan melihat wajah Iqbal. Sampai akhirnya ikan di piring itu benar-benar kandas.


Iqbal membawa piring kotor itu dan meletakkannya di sudut rumah pohon.


Iqbal pun kemudian melangkah menuju jendela lalu membuka jendela rumah pohon itu dan mencuci tangannya dengan guyuran air hujan.


Setelah Tangannya bersih, Iqbal mengambil sebatang rokok dan menyalakan rokok itu dengan korek Zippo. Iqbal merokok sambil berdiri di depan jendela dan membuang asapnya diluar jendela karena tahu Rani tidak menyukai asap rokok. Tapi Rani menyukai bau asap rokok di bibir Iqbal.


"Istirahatlah Ran. Tidurlah, jika hujan sudah reda aku akan membangunkan mu. Setelah itu aku akan mengantarmu pulang. Jangan khawatir aku tidak akan menyentuhmu lagi."


"Huuuuufffhhh..."Kemudian Rani Mulai mengambil selimutnya dan tidur karena dia masih mengantuk.


Tepat pukul 01.01 WIB hujan mulai berhenti. Iqbaal pun membangunkan Rani dengan mengguncang bahunya.


"Ran Ran Rani Rani bangun... Rani bangunlah , bangunlah hujan sudah berhenti."Rani mulai menggeliat dan Rani mengusap matanya lalu membuka mata.


"Hujan sudah berhenti, Ayo ku antar pulang." ucap Iqbal.


"Tunggu dulu. Tolong ambilkan tasku." Ucap Rani. Kemudian Iqbal meraih dan mengambilkan tas berwarna hitam legam milik Rani yang berada di belakangnya hanya cukup dengan meraih saja tangan iqbal sudah sampai di tas Rani. Dan memberikannya pada Rani.


Rani membuka tasnya kemudian mengambil foundation membuka tutup botol foundation itu dan mengoleskannya ke lehernya yang berwarna merah menuju gelap. Kini Iqbal memalingkan wajah seperti orang alim.


Iqbal menggulung celananya sampai ke atas lutut lalu turun mendahului Rani, menenggelamkan kakinya di tanah berlumpur, ya saat ini Iqbal bisa melihat sekelilingnya banjir.


"Jangan turun, ayo ku gendong."


"Aku tidak mau. Aku bisa jalan sendiri."


"Menurut lah, tempat ini banyak ular. Dalam keadaan banjir begini, Ular atau hewan berbahaya lainnya akan berkeliaran. Kita tidak tahu bahaya apa yang sedang mengintai kita?"


Jika membahas masalah ular Rani langsung takut, bulu kuduknya saja sudah berdiri bergidik ngeri.


"Bahaya apa di tempat seperti ini, yang ada paling cuma ular?"


"Bisa jadi ada buaya dan hiu."


"Apa kau bercanda, hiu hanya ada di laut lepas."


"Ayolah naik, tidak usah ceramah, kaki ku sudah kedinginan. Cepat naik."


Iqbal kemudian sedikit membungkuk membelakangi Rani dan Rani mengalungkan tangannya dileher Iqbal. Iqbal langsung menggendong Rani dan tidak memberi jarak antara dada dan punggung Rani dengan punggungnya.


Iqbal terus berjalan menenggelamkan kakinya di dalam genangan air bercampur lumpur. Rani menggunakan senter hp Iqbal sebagai penerangan agar Iqbal bisa melihat jalan.

__ADS_1


"Rani aku minta maaf. Aku tahu aku salah. Aku janji tidak akan mengulanginya lagi." Rani diam saja tidak menjawab.


"Ran apa kau masih marah?"


"Bagaimana aku bisa marah padamu Iqbal, aku sangat mencintaimu, entah sebesar apa hatiku hingga bisa selalu memaafkan semua kesalahanmu. stok maaf Di Hatiku masih tersisa banyak untukmu."Rani membatin.


"Rani. Jawablah pertanyaanku."


"Iya aku masih marah."


"Marahmu besar atau kecil?"


"Besar, sebesar gunung."


"Jangan terlalu besar nanti kau akan terus memikirkanku."


"Aku memikirkanmu setiap saat, setiap waktu, dan setiap hembusan nafasku Iqbal."


"Aku tidak pernah memikirkan mu jangan terlalu GR." Ucap Rani.


"Berarti kau berbohong pada diary mu."


"Emangnya apa yang ditulis di diaryku? Aku sendiri saja sudah lupa."


"Setiap saat, di setiap hembus nafasku, Iqbal selalu ada di hati dan pikiranku."


Rani pun tersenyum. "Apa kau hafal semua isi diaryku?"


"Aku hafal di luar kepala dari A sampai Z."


"Apa tidak bisa di lupakan sedikit saja."


"TIDAK. Aku tidak bisa melupakan apapun."


"Berarti kau juga tidak bisa melupakan Alyn."


"Aku sudah mengikhlaskannya. Nanti alasan apa yang akan kau berikan kepada ibumu?"Iqbal mencoba mengalihkan perhatian Rani agar tidak membahas masalah Alyn lagi.


"Aku akan mengatakan pada ibu, kau hampir saja memperkosaku?"


"Katakan saja supaya kita segera dinikahkan."


"Tidak. Kita tidak akan dinikahkan. Yang ada kau akan ditendang dari hidupku. Bal, bekas luka di punggungmu itu kenapa?"


"Bertarung dengan preman jalanan. Untungnya Zain merawatku dengan baik. Berat badanmu berapa Ran, kau berat sekali?"


***

__ADS_1


SELAMAT MENIKMATI


__ADS_2