CINTA GADIS OBAT NYAMUK (Kesucian Yang Ternoda)

CINTA GADIS OBAT NYAMUK (Kesucian Yang Ternoda)
APA KAU SUDAH MENGAMBIL VIRGIN KU IQBAL


__ADS_3

Iqbal menyentuh kening Rani, kulit Rani begitu panas, tubuhnya meringkuk kedinginan menggigil, bibirnya bergetar mungkin akibat dari seharian berenang di laut, apalagi Rani belum makan.


Iqbal sudah berusaha membangunkan Rani. Namun Rani tak kunjung bangun. Iqbal tidak tega melihat tubuh Rani menggigil, akhirnya Iqbal memeluk Rani dari luar selimut dengan erat berharap bisa memberikan kehangatan untuk Rani tapi pelukan Iqbal tidak memberikan efek apapun pada Rani.


Iqbal memadamkan semua lentera yang menerangi rumah pohon, kini semuanya gelap. Iqbal tidak bisa melihat apapun.


Iqbal membuka seluruh pakaiannya kecuali segitiga Bermuda.


"Apa yang harus aku lakukan aku juga harus membuka baju Rani?..." Iqbal langsung frustasi saat tubuhnya langsung menegang.


"Aku rasa tidak perlu, belum dibuka saja tubuhku sudah kacau, Aku takut tidak bisa mengendalikan diri."


Kemudian Iqbal masuk ke dalam selimut dan memeluk Rani dengan erat.


"Ah sial... Kenapa Rani tidak pakai...!" Iqbal semakin belingsatan saat memeluk Rani. Berkali-kali dia menggelengkan kepala, membuang jauh jauh pikiran kotornya.


Dia berusaha memikirkan hal lain, tapi terlalu banyak setan di hutan dan di hati Iqbal. Apalagi suasana sangat mendukung. Suara guntur berbarengan dengan gemericik air terdengar seperti alunan musik. Suara katak yang bertalu-talu dan nyanyian burung hantu di malam hari membuat Iqbal kewalahan menahan diri sendiri yang tengah bergejolak.


Berulang kali Iqbal membuang nafas, berharap bisa menetralkan diri walaupun percuma. Aroma tubuh Rani sungguh menyesatkan jiwa raganya Iqbal, otaknya berkata tidak namun tubuh yang merespon ya ya ya.


"Ah sial...Nikmat yang menyiksa. Kenapa kita harus menikah tahun depan Ran?... Huuuuffff Tahan Iqbal, jika tidak Rani akan membunuhmu saat sudah sadar..."


***


Enam jam kemudian tubuh Rani mulai berkeringat, begitupun Iqbal. Kepala Iqbal jadi pusing karena gejolak tubuhnya yang ia tahan meminta untuk di salurkan.


Iqbal mulai menyerah dengan pertahanan dirinya, matanya sudah gelap berkabut, Iqbal adalah lelaki normal. Mana bisa dia berdiam diri dengan posisi seintim ini selama berjam-jam. Iqbal benar benar hilang kendali. Iqbal berubah liar, dia sudah Kehilangan akal Kehilangan kewarasannya. Iqbal mulai gelap mata.


"Uuuuuhhhh..." Iqbal tersentak saat Rani mulai melenguh. Kesadaran Iqbal mulai kembali dan jernih.


"Aaaahh sial, apa yang kulakukan? Hampir saja kebablasan. Maafkan aku Ran, aku khilaf." Iqbal menjambak rambutnya sendiri. Menyesali dan merutuki kebodohannya kemudian dia mulai mengancingkan satu persatu kancing kemeja Rani.


Iqbal sudah merasakan bahwa tubuh Rani mulai normal, saat ini dia hanya tertidur. Jika Rani terbangun, dia pasti akan menampar Iqbal bahkan bisa jadi Rani akan mencekik Iqbal.


Di rasa Rani sudah baik baik saja. Iqbal mengambil Hp dan menyalakan senter untuk mencari letak keberadaan lentera. Iqbal mengambil lentera dan menyalakannya.


Setelah rumah pohon terang Iqbal melihat tumbuh Rani yang kacau serta rambutnya berantakan. Lehernya penuh dengan stempel kepemilikan dari Iqbal. Iqbal bisa membayangkan apa yang akan terjadi padanya saat Rani bangun. Gadis ini sudah pasti mengamuk bicara tanpa henti. Iqbal meraih selimut dan menyelimuti tubuh Rani sampai di lehernya.


Iqbal keluar dari rumah pohon. Mengguyur tubuhnya dengan air hujan. Walaupun dinginnya menusuk sampai ke tulang, Iqbal tidak peduli. Dia hanya ingin menetralkan kembali tubuhnya yang menegang. Karena tidak ingin lepas kendali lagi dan memberikan penyesalan yang mendalam pada Rani.


Setelah tubuh Iqbal kembali rileks, dia memasuki rumah pohon lagi. Mengeringkan tubuhnya dengan handuk kecil. Dan memasang kembali celananya, sedangkan kemeja ia gunakan untuk menyelimuti Rani.


Iqbal tidak ingin tidur di samping Rani lagi, hal itu membuat otaknya menggila. Iqbal mengambil sebatang rokok, menyalakan korek dan membakar ujung rokok itu. Iqbal menyebulkan asap rokok dengan bentuk O ke udara.


"Aaaaakkkhhh...." Rani berteriak dan langsung terduduk.

__ADS_1


"Ada apa?..."


"Ular ... Ular ... Ular ... Mana Ular ..." Rani masih berteriak, dia memutar tubuhnya ke kanan dan ke kiri dengan gelisah. Peluh sudah membanjiri Rani.


"Ular apa yang kau maksud? Kalau ularku sudah kembali ke sangkarnya," ujar Iqbal. Rani langsung melempar bantal ke wajah Iqbal. Namun, Iqbal tak menghindar karena dia merasa pantas mendapatkan hukuman yang lebih dari itu.


"Bukan ularmu dodol, tapi ular yang tadi menyerangku."


"Dia sudah pergi."


"Syukurlah, kupikir dia yang merayap di tubuhku tadi. Kenapa aku ada di dalam rumah pohon. Perasaan tadi aku di bawah?"


"Tadi kau pingsan."


"Berapa lama aku pingsan."


"Kurang lebih 7 jam"


"What? Are sure?"


"Yes, I'm sure."


"Benarkah? Oh ya ampun, ini sudah jam berapa?" Rani terkejut, dia pasti sudah di cari sejak tadi.


"Jam 23.15 WIB."


"Aku pinjam Hpmu Bal. HPku ngedrop, Aku harus menghubungi orang rumah, mereka pasti khawatir dan mencariku."


Iqbal Menyodorkan Hpnya, kemudian Rani menghubungi adiknya. Pada deringan ke lima panggilan Rani baru di terima.


"Halo, Dik."


"Ya ampuuuun Mbaaaakk... Kamu ada di mana? Di hubungi tidak bisa. Kami sangat khawatir takut terjadi sesuatu sama kamu, Mbak. Sejak tadi di cariin baru nongol."


"Maaf Bil ... Aku terjebak hujan. Sejak tadi hujan deras tidak reda. Jadi aku nggak bisa pulang."


"Tapi kamu baik baik saja kan mbak."


"Iya Bil, aku baik."


"Kamu sekarang di mana Mbak biar kami jemput."


"Eh tidak usah Bil. Nanti kalau hujannya reda, aku bakal pulang."


"Siapa itu BIL? RANI kah? Sini ibu mau ngomong sama tuh anak." Rani dapat mendengar suara ibunya yang terdengar marah.

__ADS_1


"Rani ada di mana kamu?" Ibu Narsih bicara dengan suara tegas.


"Aku ada di rumah temanku Bu."


"Di rumah temanmu! apa di rumah Iqbal?"


"Bener bu di rumah temanku." Jawab Rani sambil menggigit kuku jarinya.


"Awas ya kalau sampai kamu ketahuan berduaan sama Iqbal terus macam-maca. Ibu pecat kamu dari KK."


"Iya Bu, Iya... Ya sudah dulu ya Bu Nanti aku langsung pulang kalau hujan sudah reda." Rani langsung memutus panggilan teleponnya karena takut ketahuan jika dirinya sedang bersama Iqbal.


"Ran, " Iqbal tak berani melihat ke arah Rani, pandangannya lurus ke depan sambil menghisap rokok.


"Iqbal matikan rokokmu, nafasku sesak tahu karena asapnya."


"Aku minta maaf."


"Kenapa kamu tiba-tiba minta maaf?"


"Karena aku salah."


"Maksudmu?"


"Ular yang merayap di atas tubuhmu adalah aku."


"Apa maksudmu Iqbal bicara yang jelas?"


"Aku sudah lancang padamu, lihat sendiri tubuhmu nanti kau juga akan mengerti?" jawab Iqbal dengan pandangan tetap lurus dan wajah datar.


Rani menyalakan kamera HP Iqbal dan menggunakannya sebagai ganti cermin ia melihat wajahnya baik-baik saja hanya rambutnya yang berantakan, turun ke leher mata Rani membulat saat melihat lehernya penuh dengan tanda merah pemberian Iqbal.


Rani membalik tubuhnya agar mata Iqbal tidak bisa melihatnya kemudian Rani membuka kancing kemejanya dan melihatnya lewat layar HP Iqbal. Rani sangat terkejut melihat penampakannya. Banyak tanda merah.


Rani Langsung melempar HP Iqbal dengan sangat keras ke wajah Iqbal, hingga mengenai sudut bibirnya dan mengeluarkan lelehan darah. Namun, Iqbal bergeming tak menunjukkan reaksi apapun.


"Lancang kau Iqbal. Aku sudah memberikan bibirku padamu walaupun aku tahu itu salah. Apa itu masih kurang, hah? Apa kau tidak bisa sabar sedikit sampai kita menikah tahun depan?" Rani meraung-raung dengan air mata sudah meleleh di pipi mulusnya, dia menghampiri Iqbaal


"KATAKAN APA ... APA KAU SUDAH MENGAMBIL KEGADISANKU IQBAL?" Rani mulai berteriak pada Iqbal. Iqbal menggelengkan kepala, ia menyesal sangat menyesal. Air mata semakin deras meluncur dari mata Rani. Bibir Rani bergetar, ia takut apa yang dia pikirkan benar-benar terjadi.


"KATAKAN IQBAL KATAKAN JANGAN DIAM SAJA, APA KAU SUDAH MENGAMBIL KEGADISANKU?" bertanya dengan perasaan yang hampa dan kecewa pada Iqbal. Selama ini Iqbal bisa menjaga Alyn dengan baik tapi kenapa pada Rani tidak. Tidak pernah menyentuh Alyn sembarangan tapi kenapa dengan Rani dia selalu sembarangan menyentuh.


"Maafkan aku. Aku salah tapi aku tidak sampai sejauh itu?..."


"KATAKAN YANG JELAS IQBAL," Rani berteriak sambil terisak dia menarik-narik dengan Iqbal.

__ADS_1


***


SELAMAT MENIKMATI JANGAN LUPA LIKE DAN COMMENT KALAU PERLU VOTE YA


__ADS_2