
"Bisa segera dimulai prosesnya." Ucap Iqbal yang pandangannya tak lepas dari perut Rani yang buncit, Rani masih berdiri sebagai sandera. Rani yang malu karena ketahuan hamil langsung menutup perutnya dari pandangan Iqbal. Rani merasa seperti sedang telanjangi oleh tatapan Iqbal.
"Tentu, tentu." Jawab Steven sangat antusias.
Pengacara Iqbal mulai berdiskusi dengan pengacara Steven, kemudian pengacara itu memberikan berkas untuk dibaca kepada Iqbal dan Steven. Iqbal tak ingin melihat berkas itu pandangan mata dan hati Iqbal masih fokus pada Rani.
Akhirnya pengacara menyerahkan berkas itu pada Zain. Ia membaca berkas itu dengan teliti karena dia tidak ingin Steven yang licik itu melakukan peniupan. Iqbal mempercayakan isi berkas itu pada Zain
"Tuan." Ucap Zain sambil menganggukkan kepalanya pada Iqbal. Iqbal dengan segera menandatangani berkas itu tanpa basa basi, begitupun dengan Steven.
Mata Steven langsung berbinar saat proses akuisisi selesai sesuai dengan yang ia rencanakan. Dia segera kabur agar bisa cepat lolos dari Iqbal, meninggalkan anak buahnya yang menyandra Rani.
Rani masih berdiri mematung, masih menyembunyikan perutnya yang mulai membuncit dengan tangannya dari pandangan Iqbal. Rani teramat malu karena ketahuan hamil duluan.
Setelah pengawal Steven menurunkan pistolnya dari kepala Rani. Zain mengangkat senjata, hendak menembak orang yang menyandra Rani, tapi tangan Iqbal mencegahnya.
"Berhenti." Ucap Iqbal saat anak buahnya yang tidak di suruh dengan sigap mengangkat senjata mengarahkannya pada pasukan Steven yang masih ada.
"Jangan menjatuhkan darah." Ucap Iqbal dengan tegas. Karena Rani sedang hamil. Rani sudah sangat tertekan, Iqbal tidak ingin Rani merasa lebih tertekan lagi karena adanya pertumpahan darah. Kedua belah pihak langsung menurunkan senjata.
"Rani..." Suara Iqbal terdengar lirih, dengan kedua tangannya yang terbuka lebar. Ingin menyambut kedatangan Rani di pelukannya.
Rani pun mendongakkan kepalanya, air mata mulai lolos membanjiri pipi mulusnya. Ingin sekali dia terbenam pada pelukan Iqbal, tapi dia masih ragu.
"Kemari lah Ran." Ucap Iqbal lagi. Rani pun berlari berhambur ke pelukan Iqbal, tangis Rani pecah di pelukan Iqbal karena hatinya sudah tidak tahan menahan gejolak rindu. Iqbal memeluk Rani dengan tangan kokohnya. Memeluknya dengan erat. Rani menangis sejadi-jadinya di pelukan Iqbal, hingga bahunya bergetar, Rani menangis sesegukan, tubuhnya bergetar hebat. Tangis kesedihan bercampur dengan kerinduan. Iqbal senang akhirnya Rani bisa kembali ke pelukannya, rasa senang bercampur getir, saat mendengar tangisan pilu Rani.
"Rani dengarkan aku." Mendengar suara Iqbal Rani semakin menangis, ini benar nyata dan bukan mimpi. Rani semakin mempererat pelukannya.
Iqbal berusaha melepaskan tangan Rani yang membelit pinggangnya dengan erat. Iqbal merangkum wajah Rani, menatap lekat lekat wajah itu.
"Kita harus segera pulang. Kita meminta restu pada ibumu. Lalu kita menikah."
"Deg..." Jantung Rani berdegup, Rani baru menyadari bahwa ada anak Heru di perutnya. Wajah Rani berubah sendu. Dia melepaskan tangan Iqbal dari wajahnya.
"Kenapa Ran?" Iqbal mengerutkan alisnya.
"Bagaimana kita bisa menikah kalau aku sedang hamil?...."
"Justru karena kamu sedang hamil maka kita harus segera menikah."
__ADS_1
"Bagaimana kita bisa menikah kalau aku mengandung anak Heru."
"Deg." Jantung Iqbal berdegup. Dia mulai mengerti keadaan Rani dan apa yang ada di isi kepala Rani. Zain dan Iqbal saling pandang. Semua anak buah Iqbal tahu, bahwa yang meniduri Rani adalah Iqbal. Tapi Rani mengira bahwa Heru yang telah melakukannya. Sedangkan Heru sudah di buatnya impoten di malam saat Iqbal merenggut kesucian Rani.
"Obat apa yang Heru berikan pada Rani, ku pikir hanya obat perangsang biasa."
"Ka-Kau... lari dariku karena berpikir hamil anak Heru." Ucap Iqbal dengan suara terbata. Rani pun menganggukkan kepalanya. Iqbal yang tidak pernah takut apapun kini mulai gentar menghadapi Rani. Kepala Iqbal mulai pening membayangkan reaksi Rani.
Ingin sekali Iqbal mengatakan pada Rani yang sesungguhnya, bahwa Iqbal lah yang sudah menidurinya. Tapi tidak di sini, tidak di hadapan anak buahnya. Jika Iqbal mengatakannya disini. Wibawa Iqbal akan jatuh, karena sudah dapat di pastikan Rani akan menyerang Iqbal habis habisan.
Iqbal tidak menyangka bahwa apa yang sudah di lakukannya akan membuat hidup Rani serumit ini. Hanya karena kesalahpahaman Rani pergi jauh darinya.
"Eheemm... Lebih baik kita pulang. Kita akan membicarakan hal ini di rumah." Ucap Iqbal menegaskan suarannya. Iqbal tau dia terlalu pengecut untuk mengakui segalanya.
Iqbal menggenggam tangan Rani dan membawanya masuk ke dalam mobil.
Tiba-tiba di perjalanan Iqbal menidurkan kepalanya di pangkuan Rani, Iqbal menghadapkan wajahnya ke perut Rani yang mulai membuncit. Sedangkan tangannya melingkar di pinggang Rani. Iqbal menciumi perut Rani. Dia tidak menyangka hanya dengan satu kali melakukannya Iqbal bisa menghamili Rani, Iqbal bahagia bercampur takut.
Iqbal bahagia karena Rani sudah mengandung anaknya, tapi Iqbal takut melihat amukan Rani.
Tangan Rani membelai rambut Iqbal. Rani tidak menyangka bahwa Iqbal akan sesenang ini. Padahal sebelumnya Rani sangat takut jika Iqbal akan mengamuk dan memaksa Rani untuk menggugurkan kandungannya.
"Maaf."
"Apa saja yang kau lakukan selama menghilang?..."
"Hanya makan dan tidur." Rani tidak berani menceritakan pada Iqbal, jika selama di Malaysia dia menjadi asisten rumah tangga. Dia takut Iqbal akan mengamuk.
"Enak sekali hidupmu. Padahal aku kesulitan mencarimu."
"Kamu tidak marah aku hamil."
"Aku sangat bahagia kau hamil."
"Walaupun kamu tahu ini bukan anakmu." Iqbal tidak menjawab ucapan Rani. Hal itu membuat hati Rani sedih. "Iqbal pasti sangat kecewa."
Iqbal duduk kemudian membungkam bibir Rani dengan bibirnya. Iqbal sangat rindu rasa manisnya bibir Rani, sudah lama Iqbal tidak mereguk manisnya.
Rani mendorong dada Iqbal, hingga melepas pagutan mereka.
__ADS_1
"Iqbal, malu ada Zain." Ucap Rani sambil melihat Zain yang sedang mengemudikan mobilnya.
"Dia tidak akan melihat." Iqbal tidak mempedulikan Zain dan penolakan Rani. Iqbal kembali melakukannya. Dia teramat rindu pada Rani.
***
Di kediaman Iqbal.
Iqbal sangat memanjakan Rani. Iqbal memperlakukan Rani seperti Ratu, sebelum ia mengungkapkan masalah yang sebenarnya. Berharap itu akan mengurangi emosi Rani saat Iqbal jujur nanti.
Iqbal menyuapi Rani dengan banyak makan dan cemilan, mengupas buah-buahan untuk Rani. Dia juga memijat kepala dan kaki Rani yang pegal pegal. Iqbal juga memijat bahu Rani.
Rani pikir ini adalah bentuk kerinduan Iqbal padanya Setelah sekian lama tidak jumpa. Perlakuan manis Iqbal berhasil mengurangi rasa gundah di hati Rani.
"Iqbal, kau baik sekali."
"Ran."
"Apa?"
"Berjanjilah kau tidak akan marah."
"Memangnya kenapa?"
"Sebenarnya....!" Iqbal diam, Iqbal berulang kali menelan salivanya. Iqbal meraih tangan Rani dan menggenggamnya erat.
"Berjanjilah kau tidak akan pernah meninggalkan aku lagi." Ucap Iqbal.
"Harusnya aku yang mengatakan hal itu Iqbal. Aku sudah mengandung Anaknya Heru, tapi kamu masih berbaik hati menerima ku." Ucap Rani yang kemudian meneteskan air mata. Iqbal langsung menghapus air matanya. Iqbal dapat merasakan kepedihan yang Rani rasakan selama ini.
"Sebenarnya kau hamil anakku Ran." Rani langsung menghentikan isakan tangisnya.
"Apa maksudmu Iqbal."
"Aku lah yang meniduri mu. Bukan Heru."
***
SELAMAT MENIKMATI
__ADS_1