
Awalnya Nadine hanya memegang pergelangan tangan Zain dengan erat saat melihat film sepasang suami istri keluar rumah pada malam hari menuju belakang rumahnya yang terdapat beberapa pohon kelapa.
"Lepas." Zain menarik tangannya.
"Maaf nggak sengaja."
"Kalau nggak berani lihat film horor kenapa mau di ajak nonton?..."
"Lah kan kalian semua yang ngatur tanpa bertanya keinginan ku. Tega banget sih."
"Jangan di lihat kalau takut."
"Nggak bisa lah, kan aku penasaran sama filmnya. Mumpung gratis lagi, ini kan pertama kalinya Aku nonton film di bioskop. Biasanya juga cuma nonton film di TV."
"Norak."
"Biarin."
Baru saja Nadine melihat layar besar di depannya, dia sudah melihat hantu kepala yang tertawa cekikikan. Spontan Nadine memeluk Zain dengan erat. Sedangkan yang di peluk malah menghela nafas kasar.
"Gadis ini benar-benar membuatku kesal."
"Setannya sudah pergi, sekarang lepaskan aku."
"Iya maaf, maaf. Refleks."
"Ini terakhir kalinya kau menyentuh ku."
"Lah terus kalau nanti aku takut harus peluk siapa?... Masak peluk Om gendut itu." Nadine menunjuk pria besar yang duduk di sampingnya.
"Terserah." Jawab Zain dingin.
"Nggak apa-apa dik, kalau kamu takut peluk Om saja." Ucapan Om genit itu membuat Nadine bergidik ngeri.
"Nggak usah Om Terimakasih." Nadine tersenyum kikuk.
Zain menatap Nadine dan mulai mendekatinya.
"Kakak mau ngapain?..."
"Diam lah." Zain menarik bandrol harga yang menggantung di pakaian Yang Nadine kenakan.
"Oh... Kirain mau itu."
"Jangan terlalu banyak menghayal."
***
"Sepertinya mereka sangat menikmati momen romantis berdua."
"Tidak, mereka sedang berdebat."
"His, sotoy.... Udah berapa menit film di mulai."
"Hampir 15 menit."
"Hahahaha.... Waktu masih panjang rupanya. Zain pasti akan bersenang-senang."
"Nadine itu orangnya asyik dan ceriwis, Zain yang pendiam pasti akan angkat suara jika menghadapi Nadine."
"Mungkin."
"Aku pengen liat Zain menikah."
__ADS_1
"Meskipun kamu ngotot nyomblangin mereka kalau takdir berkata lain ya percuma." Iqbal mengecupi punggung tangan Rani. Rani dan Iqbal tidak terlalu tertarik dengan film yang mereka tonton, mereka berdua malah sibuk dengan dunianya sendiri.
Rani kembali memandang layar di depan sambil melahap pop corn. Sedangkan Iqbal bukannya menonton film malah bersandar di bahu Rani dan memeluk lengan Rani.
"Iqbal, kamu buang buang duit tau. Masuk sini tapi nggak nonton."
"Sudah ku bilang, aku takut hantu."
"Iiiiiihhhhh Bokis..."
***
"Aaakkkkhhhhh...." Adegan setan muncul lagi Saat Nadine hendak memeluk Zain lagi, dia mendadak berhenti takut dengan amukan Zain. Tangan Nadine menutup wajahnya dan kepalanya menunduk tak mau melihat layar.
"Emang gue cewek apaan...."
"Aaakkkkhhhhh..."Beberapa saat kemudian Nadine menekuk kakinya, memeluk lututnya sendiri dan menyembunyikan wajahnya saat melihat hantu. Zain yang melihatnya tak tega bercampur kesal karena dress yang ia kenakan tersingkap ke atas.
"Kampungan."
Setelah hantu tidak ada maka Nadine akan menselonjorkan kakinya kembali dan membenarkan dress-nya.
"Peluk tanganku kalau takut." Nadine menatap Zain tak percaya.
"Nggak usah kak, makasih."
"Dari pada pahamu di tonton orang itu." Zain menunjuk Pria gemuk yang berada di samping Nadine dengan dagunya.
Nadine melihat ke samping, Om gendut itu tersenyum mesum padanya. Dia pun bergidik ngeri.
Sepanjang film di putar Zain hanya bisa pasrah dengan tingkah Nadine yang memeluk lengan Zain begitu erat. Entah sudah berapa kali Nadine menyembunyikan wajahnya ke pelukan Zain.
Beberapa saat kemudian film Tamat. Semua pengunjung bioskop keluar. Iqbal dan Rani sudah menunggu kedatangan Nadine dan Zain.
Rani menertawakan penampilan Zain yang berantakan.
"Zain kau menang banyak." Ucap Iqbal yang tersenyum samar ke arah Zain. Zain melihat kemeja berwarna biru muda yang ia kenakan, penuh dengan lipstik dari bibir Nadine.
"Maaf..." Ucap Nadine lirih, Zain hanya mendengus kesal.
"Tuan saya harus membeli pakaian."
"Heemmmm ya."
"Ayuk, sekalian saja bareng. Kebetulan stok pakaianku sisa sedikit." Ucap Rani.
"Se-di-kit...." Iqbal menaikkan satu alisnya ke atas.
"Hehehe iya..." Rani memeluk lengan Iqbal meminta sedikit pengertian. Sedangkan Nadine heran sebab dia melihat sendiri isi lemari pakaian Rani penuh dengan pakaian bahkan masih ada yang berbungkus plastik, pakaian yang Nadine kenakan pun masih dengan bandrol harga yang menggantung tadi sebelum ia pakai.
"*Jangan banyak berbohong, aku tidak ingin anakku jadi pembohong Seperti dirimu." Iqbal berbisik ke telinga Rani.
"Iya. Kali ini aja*.
***
Di dalam toko pakaian bermerk Zain membeli kemeja baru, Ia memakainya dan membayar di kasir. Kemudian menghampiri Iqbal dan duduk di sampingnya.
Sementara Rani masih memilih banyak pakaian untuk Nadine dan dirinya. Rani membawa Nadine ke ruang ganti dan memaksa Nadine untuk mencobanya.
"Kak aku nggak mau beli baju. Bajuku masih banyak." Ucap Nadine jujur walaupun bajunya tidak ada yang bagus, semuanya dia beli di pasar tradisional dengan harga murah.
"Tidak apa-apa. Aku yang bayar."
__ADS_1
"Tapi kak."
"Udah nggak usah tapi tapian."
Setelah meresletingkan baju yang Nadine kenakan, Rani pun ikut berganti pakaian. Dia bercermin memperhatikan perutnya yang mulai buncit.
"Aku gendut ya Nad?..." Dia berpose di depan cermin, melihat perutnya ke arah samping.
"Biasa kak kan lagi hamil, tapi tetap cantik kok."
"Heemmmm, pipiku tambah pipiku tambah tembem..."
"Itu karena tuan Iqbal sangat perhatian sama kak Rani. Kak Rani harus banyak bersyukur punya suami seperti Tuan Iqbal. Aku pun pengennya suami yang mirip Tuan Iqbal."
"Ada.... Sifat Zain mirip suamiku. Nikah saja sama dia."
"Ah, nggak mau kak. Dia galak."
"Hahaha... Sebenarnya dia baik cuma casingnya aja jelek."
"Eh, Casingnya ganteng kak...."
"Iya iya ganteng... Ya sudah yuk keluar."
Rani dan Nadine pun keluar dari ruang ganti.
"Zain Nadine cantik nggak?..."Ucap Rani.
"Jelek." Jawab Zain tanpa mau melihat Nadine.
"Itu karena kakak rabun." Ketus Nadine. Zain hanya menggelengkan kepalanya.
"Huh, nyebelin lihat aja belum." Ketus Rani. "Iqbal, ini bagus nggak?..."
"Bagus." Jawab Iqbal yang sedari tadi pandangan matanya hanya fokus pada Rani.
"Aku nggak kelihatan gendut kan?..."
"Kamu cantik memakai apapun." Iqbal menatap Rani dengan penuh cinta.
"Lihat tuh, kayak suamiku gitu kalau memberikan penilaian."
"Nadine bukan istri saya, Nona." Rani hanya mendengus kesal.
Beberapa saat kemudian, ini sudah kali ke empat Nadine berganti pakaian, namun saat meminta pendapat dari Zain, jawabannya tetap sama yaitu "JELEK." Rani hanya ingin Zain melihat Nadine, jangankan melihat, melirik pun tidak.
Iqbal Sendiri tidak tertarik untuk mengurusi masalah pribadi Zain, sebab cinta tidak bisa di paksakan.
Untuk kelima kalinya Nadine berganti pakaian, Iqbal mulai bosan dengan sikap Rani yang usil. Dia menarik tangan Rani saat hendak membantu Nadine memakai baju yang ia pilih.
"Jangan buang buang waktu lagi, kita belum cari perlengkapan bayi."
"Iya iya."
Nadine keluar dari ruang ganti dengan baju berwarna hitam pekat, membuat kulitnya yang berwarna putih susu terlihat lebih jelas dan berkesan glamor.
"Zain, lihat lah Nadine." Ucap Rani.
"Lumayan." Jawab Zain sebab dia sudah lelah dengan keisengan Rani. Iqbal masih fokus memainkan Hpnya.
"Coba berputar Nad." Saat Nadine berputar memperlihatkan punggung mulusnya pada Zain dan Rani, mereka berdua sama sama terperangah. Beruntung Iqbal tak melihat. Nadine lupa Setelah memasang pengait atas tidak menutup resleting bajunya karena kesal.
Zain yang melihat itu kebingungan, mengalihkan pandangannya ke segala arah.
__ADS_1
"Kenapa kak?..."
"Pasang resleting mu Nadine." Ucap Zain, Nadine menganga lalu menutup mulutnya, dia berjalan mundur dan masuk kembali ke ruang ganti. Iqbal menghentikan gerakan tangan yang memainkan Hpnya saat mendengar suara Zain.