CINTA GADIS OBAT NYAMUK (Kesucian Yang Ternoda)

CINTA GADIS OBAT NYAMUK (Kesucian Yang Ternoda)
HUBUNGAN SUAMI-ISTRI


__ADS_3

Arya menggenggam tangan Alyn dan segera membawanya pergi di ikuti oleh Brayen, Alena, Khasanuci dan istrinya.


Mereka berenam terus berjalan di sepanjang koridor.


"Mas, maaf ya aku...." Ujar Alyn terjeda saat Arya keburu menyanggahnya.


"Sudah lah tidak usah di bahas." Ucap Arya dengan tegas.


"Kamu marah?..." Ucap Alyn sambil memperhatikan raut wajah Arya yang buram.


"Aku bilang tidak perlu di bahas." Ujar Arya. Alyn pun memilih diam, dia tahu saat ini Arya sedang menahan amarahnya.


Brayen menegur Alena sebab kecerobohannya membuat suasana terasa canggung.


"Iya, maaf... Aku kan nggak sengaja."


***


Iqbal menghampiri Rani, dia duduk di sisi ranjang yang sempit lalu menggenggam tangan Rani.


"Maaf ya, jangan marah."


"Siapa juga yang marah?..."


"Kamu lah, Siapa lagi!!!..."


"Aku nggak marah."


"Tidak marah!... Tapi nada suaranya naik satu oktaf." Rani tidak lagi menyanggah ucapan Iqbal, dia memilih bungkam. Walaupun dia tahu jika yang terjadi adalah ketidak sengajaan tapi entah kenapa mampu membuat hatinya berdenyut nyeri. Dia sama sekali tidak bisa mengelola emosinya, tidak bisa menempatkan pada tempat yang tepat.


"Jika kamu masih cemburu pada Alyn, maka aku akan berusaha menghindar darinya. Berusaha sebisa mungkin agar tidak pernah bertatap muka dengannya." Ucap Iqbal.


Rani pun menghela nafas dan memeluk Iqbal dengan sangat erat. Membenamkan wajahnya ke dalam dada Iqbal yang terasa hangat dan menenangkan.

__ADS_1


Dia tidak ingin kehilangan Iqbal, cinta yang dulunya hanya sebatas angan angan kini sudah ada dalam genggaman. Maka sebisa mungkin akan ia pertahankan. Sebagai seorang istri dia akan berdiri di garda terdepan untuk menjadi benteng pertahanan dalam rumah tangganya. Iqbal terus mengusap punggung Rani dengan lembut.


"Kamu tidak perlu menjauhi Alyn. Dia sahabat kita dan selamanya akan tetap menjadi sahabat kita. Aku sangat mengenal kalian berdua, aku tahu kalian berdua tidak akan pernah mengkhianati ku. Aku percaya pada kalian berdua. Walaupun ku akui aku... Akuuu... Cemburu."


"Tidak apa-apa, cemburu itu tanda cinta." Iqbal mencium puncak kepala Rani. Sambil terus mengusap punggung Rani.


***


Tujuh hari kemudian, Iqbal baru bisa membawa putrinya pulang ke kediamannya, dia membawa peralatan medis ke rumahnya sebab putrinya lahir dalam keadaan prematur. Dia juga membawa perawat dan setiap hari di jam tertentu akan ada dokter yang datang untuk senantiasa memantau perkembangan kesehatan putrinya.


Pada hal Iqbal sudah menyiapkan kamar pribadi khusus putrinya tepat di sebelah kamarnya dengan pintu yang terhubung langsung dari dalam kamarnya, namun Iqbal tak rela berjauhan dari putrinya. Dia membawa putrinya untuk tidur di dekatnya tepat di samping tempat tidurnya.


Iqbal menggelar hajatan untuk Aqiqah putrinya yang ia beri nama Putri Cordelia Raffani. Yang di panggil Putri.


Keesokan harinya, setelah selesai menggelar hajatan untuk Putri Cordelia Raffani, ibu Narsih dan Nabila kembali ke kampung Nelayan. Dan akan kembali lagi ke Jakarta saat acara pernikahan Rani dan Iqbal berlangsung. Acara pernikahan akan di gelar setelah Rani benar-benar sehat. Iqbal ingin mewujudkan impian pernikahan mewah yang selalu Rani bayangkan.


***


Jika putrinya menangis dia akan memarahi siapapun yang ada di dekatnya termasuk Rani.


Dan meminta solusi bagaimana mendiamkan putrinya yang sedang menangis sambil marah marah.


"Iqbal, Putri itu sudah tidur jangan di gendong terus." Ucap Rani.


"Suka suka aku." Jawab Iqbal tidak peduli dengan protes istrinya. Dia terus saja menina bobokan Putri sambil sedikit mengguncang tubuhnya. Dia terlalu senang dan bersemangat saat melihat putrinya. Bayinya mengubah dunia Iqbal, kehadirannya mengalihkan segalanya. Bayinya begitu sangat berarti untuknya.


"Kalau terus di gendong ketumanan (Kebiasaan), dia akan terus terusan minta di gendong. Kalau nggak di gendong dianya malah nangis..."


"Ya tinggal di gendong apa susahnya."


"Ya kalau minta di gendong pas aku bangun nggak masalah. Lah kalau minta gendong pas aku lagi tidur kan bikin kepalaku pusing, di tambah lagi kamu selalu marah kalau Putri nangis nggak berhenti henti."


"Bagaimana aku nggak marah kalau putri nangis. Bisa saja kan dia nangis karena sakit dan perlu perawatan dokter."

__ADS_1


"Kata Ibu dan teman temanku, bayi nangis itu hal biasa belum tentu sakit."


"Hemmmm...." Iqbal hanya berdehem.


"Bisa jadi Putri takut sama Papanya karena Papanya galak."


"Mana mungkin." Iqbal Meletakkan bayinya di atas ranjang tepat di sisi Rani, kemudian Iqbal menaiki Ranjang dan tidur di sisi Putrinya.


"Iqbal kok Putri malah di tidurin di sini sih!... Kalau kena tindih pas kita lagi tidur gimana?..."


"Aku belum ingin tidur, aku masih kangen sama Putri, nanti kalau aku mau tidur pasti aku pindahin ke boxnya."


"Sejak tadi kamu sudah main sama Putri, kok masih kangen aja.... Pada hal yang bikin Putri nangis seringan kamu tapi nanti malah ngamuk nyalahin orang lain kalau Putri nangis."


"Sudah jangan berisik. Mending kamu peluk si Putri. Kata dokter Ibu adalah inkubator alami yang bisa memberi kehangatan pada bayi. Bayi juga akan merasa nyaman mendengar irama jantungmu karena sudah mengenali detak jantungmu sejak dalam kandungan." Ucap Iqbal. Rani hanya bisa mengalah menuruti keinginan Iqbal, berdebat pun percuma.


***


Tepat 51 hari kelahiran Putri...


Iqbal dan Rani melakukan nikah ulang dan menggelar acara pernikahan yang megah di gedung Empire, selama acara di gelar Putri di jaga oleh Nabila, Nadine dan Zain serta 2 bodyguard dan seorang perawat yang menjaganya. Nabila, Nadine dan perawat berada di dalam kamar khusus untuk bayi Iqbal. Sementara Zain dan dua bodyguard pria berjaga di depan kamar gedung, tentunya dengan pistol di balik bajunya.


Acara di gelar sangat meriah, Rani terlihat cantik dengan gaun pengantin berwarna putih tulang fashion seperti putri duyung, gaun yang Rani kenakan membalut tubuh Rani mengikuti bentuk tubuhnya dengan sempurna. Bodynya masih terlihat seksi walaupun sudah melahirkan.


Sementara Iqbal terlihat gagah dan maskulin dengan jas yang melekat sempurna di tubuhnya tidak ada senyum di wajahnya untuk umum. Senyumannya hanya untuk beberapa orang saja yang ia kehendaki.


Pikiran Iqbal tertuju pada hal lain, yaitu malam pertama. Apakah dia harus melakukannya saat ini sedangkan Rani baru saja melahirkan dengan cara Caesar.


Tiba tiba dokter yang menangani proses bersalin Rani datang menjabat tangan Iqbal. Dan tanpa malu-malu Iqbal mengutarakan isi pikirannya.


"Dokter, ini sudah 51 hari istri saya melahirkan dengan cara Caesar. Apakah kami boleh melakukan hubungan suami-istri?..." Iqbal bertanya dengan setengah berbisik namun masih bisa di dengar oleh Rani. Rani sangat malu lantaran ini sudah ke 3 kalinya Iqbal bertanya pada dokter yang sama. Rani segera mencubit pinggang Iqbal.


Iqbal Hanya masih ragu dan takut menyakiti Rani saat proses cocok tanam nanti. Bukan kah perempuan yang melahirkan secara Caesar tidak boleh melakukan pekerjaan berat. Sedangkan melakukan hubungan suami-istri merupakan kegiatan berat.

__ADS_1


__ADS_2