CINTA GADIS OBAT NYAMUK (Kesucian Yang Ternoda)

CINTA GADIS OBAT NYAMUK (Kesucian Yang Ternoda)
DOSA BESAR


__ADS_3

"Apa maksudmu?..." Ujar Rani yang sudah tidak tenang.


"Kau tahu jelas apa maksudku." Gumam Iqbal lirih sambil membelai lembut pipi mulus Rani. Sikap Iqbal malah membuat Rani merinding dan gugup.


"Kau jangan gila Iqbal. Aku hanya bercanda, kau jangan bersikap berlebihan." Ketus Rani Dengan perasaan gugup.


"Kau sudah tahu aku gila, kenapa mengajakku bercanda."


"Hehe Iqbal kau jangan terlalu serius lah...Suer, aku cuma bercanda." Ujar Rani nyengir kuda sambil membentuk huruf V. Berusaha mencairkan suasana hati Iqbal yang emosi.


"Tapi aku serius. Aku tidak suka ada yang meragukan kemampuanku." Ujar Iqbal dengan wajah yang berubah tegas. Wajah Rani mendadak pucat. Bagaimana dia kabur jika di borgol begini. Rani menggelengkan kepala karena sudah membayangkan hal yang tidak tidak.


"Apa yang kalian bicarakan?..." Heru bertanya sambil menatap heran Iqbal dan Rani.


"Apa kau mendengar suara sesuatu Ran?..."


"Huuuuufffhhh...." Rani hanya menghela nafas, memikirkan nasibnya selanjutnya. Wajah Rani berubah murung.


"Sial...Laki laki ini..." Heru mengambil ponsel hendak melaporkan tindakan Iqbal kepada pihak yang berwajib, tapi Rani melarang karena Iqbal memiliki kenalan hebat di kepolisian. Kalau hanya laporan dari Heru dan Rani pada Iqbal, hanya di anggap rempeyek oleh Iqbal.


Heru memanggil seseorang dan menyuruhnya untuk mengambil kunci di atas genteng. Tapi kunci yang di cari tidak kunjung di temukan.


Beberapa saat kemudian datang pelayan menghidangkan makanan di hadapan Rani. Makanan yang di pesan oleh Heru dan Rani.


Rani mencebikkan bibirnya saat melihat makanan itu, karena ucapan Iqbal yang selalu menjurus ke "Itu" iya "Itu" yang sejak tadi Rani bayangkan tidak ada lagi yang lain.


"Kau harus banyak makan biar kuat untuk melakukan "Itu." Ujar Iqbal.


"Aku pengen nangis kalau Iqbal kayak gini... Memangnya aku harus bilang apa pada psikopat gila ini. Apa dia mau mengerti jika aku menolak melakukan"itu". Sejauh ini , selama mengenal Iqbal, keinginannya tidak pernah bisa di tolak. Janjinya selalu ia penuhi, walaupun itu sangat mengerikan. Janjinya untuk jadi orang kaya juga berhasil ia penuhi. Janjinya untuk tidak akan pernah menyentuh Alyn juga ia penuhi. Tapi kenapa janjinya padaku malah sebaliknya, bagaimana jika dia benar-benar melakukan "Itu" padaku seperti yang dia ucapkan tadi."


"Makan..." Ujar Iqbal.


Dengan terpaksa Rani mulai memakan makanannya karena memang dia lapar belum makan. Sangat sulit untuk Rani menelan makanannya, seperti ada biji buah kedondong tersangkut di tenggorokannya.


Heru berinisiatif menyuapi Rani saat melihat Rani kesusahan menyuapkan makanan dengan tangan kirinya sebab tangan kanannya di borgol. Tiba tiba sendok yang sudah berada di depan mulut Rani, Iqbal tepis hingga makanan jatuh berhamburan.


"Kau...." Ujar Heru geram menatap Iqbal, bahu Heru di tekan oleh Zain dengan kuat hingga ia terduduk kembali saat tadi sudah hampir bangkit dari kursinya. Iqbal hanya tersenyum mengejek melihat ketidakberdayaan Heru.


Rani memegangi kepalanya pusing melihat tingkah laku tiga pria dewasa yang ada di dekatnya. Mereka seperti seorang bocah yang berebut mainan.


***


Beberapa saat kemudian Rani menyilangkan kakinya karena sudah tidak tahan ingin buang air kecil.

__ADS_1


"Iqbal aku kebelet pipis..." Ujar Rani yang sudah tidak tahan, mengempit kakinya dan menghentakkan kaki berulang kali. Rani memasang wajah sendu berharap Iqbal mau mengasihaninya dan membuka borgolnya.


"Ayo aku antar." Ujar Iqbal.


"Apa kau sudah gila." Ucap Rani dan Heru bersamaan.


"Iya..." Jawab Iqbal santai.


"Kau benar-benar tidak waras." Ujar Heru.


"Jaga ucapanmu, sebelum aku menghancurkan segala yang kau miliki." Ujar Iqbal menatap tajam pada Heru sambil menunjuk wajah Heru dengan sendok.


Hal itu berhasil membuat Heru gentar. Di lihat dari mobil, pakaian dan segalanya sesuatu yang menempel di tubuh Iqbal dan Zain, mereka jelas bukan dari kalangan biasa.


"Ya ampun Iqbal, aku sudah tidak tahan." Ujar Rani menarik narik lengan blazer Iqbal.


"Ini." Iqbal malah memberi Rani gelas kosong.


"Kau gila." Ketus Rani.


"Iya."


"Tunggu sebentar Ran, aku akan mengambil kuncinya." Ujar Heru kemudian keluar dan menaiki tangga menuju atap Cafe yang cukup tinggi. Setelah menaiki tangga setapak demi setapak kini Heru berjalan kesana-kemari dengan langkah gemetaran di atas atap untuk mencari kunci.


***


"Iqbal aku sudah tidak tahan, bagaimana caranya aku pipis kalau ada kamu di sini."


"Pipis saja, aku tutup mata."


"Iqbaaaal...Aku bisa ngompol loh...."


"Ngompol saja."


"Ya ampun....Kok ada ya manusia seperti dirimu."


"Kalau mau kencing, ya kencing saja. Aku tidak akan mengintip."


"Ya ampun aku sudah tidak tahan. Aku tidak tahan...Aku tidak tahan." Rani mengempit kakinya, sudah ada sesuatu yang mendesak keluar.


"Ya pipis saja apa susahnya?..."


"Otakmu itu di mana Iqbal. Aku ini perempuan dan kamu laki laki."

__ADS_1


"Lalu?..." Ujar Iqbal santai masa bodoh.


"Lalu lalu.... Iiiiiihhhhh...." Rani sudah sangat kesal pada Iqbal. Ingin sekali dia mencekik Iqbal.


"Iqbal kalau aku pipis jangan ngintip ya..." Ucap Rani ragu.


"Iya..."


Saat Rani hendak membuka resleting celananya ia malah di bingungkan dengan tangan Iqbal yang ikut gerakan Rani di depan resleting. Mau buka dengan satu tangan mana mungkin bisa.


"Aaaaakkkhhh Iqbal aku membencimu." Rani mendorong dada Iqbal sambil menghentakkan kakinya, Alhasil Rani terpeleset dan beruntung Iqbal meraih pinggang Rani. Tangan Rani yang tak sengaja menyenggol kran di dinding membuat air mancur dari shower membasahi tubuh keduanya.


Iqbal menatap Rani dalam pelukannya. Mata Iqbal mulai gelap, berulang kali menelan salivanya, jakunnya sudah naik turun. Melihat Rani yang tampak seksi, keduanya bukan hanya menginginkan pelukan tapi menuntut lebih. Mata keduanya terkunci saling pandang. Tubuh keduanya meremang.


Rani berusaha menahan diri. Bahwa apa yang di rasakannya saat ini salah. Keinginan tubuhnya ini salah. Namun "Itu." Adalah kebutuhan biologis bagi Iqbal dan Rani, usia mereka sudah cukup matang untuk melakukan itu. Setan mulai berbisik"Tidak apa, ini cara menjerat Iqbal dalam pernikahan."


Saat Iqbal handak mencium bibir Rani, Rani malah melengos dengan tatapan sayup-sayup menahan hasrat, menahan diri.


Iqbal meraih dagu Rani dan menghadapkan padanya, Rani tak berani menatap mata Iqbal.


"Aku mencintaimu, Setelah ini aku akan menikahi mu, percayalah." Ucap Iqbal dengan suara parau. Air mata Rani menetes mendengar kata cinta yang sudah lama ia rindukan, namun Iqbal tak mampu melihatnya karena guyuran air shower.


Bibir Iqbal semakin dekat tapi tidak ada penolakan. Setelah bersentuhan, Iqbal mencoba masuk lebih dalam dengan lembut, turun ke leher dan semakin ke bawah. Rani seperti kerbau yang di cocok hidungnya, di perlakukan seperti apapun ia menurut.


Setiap sentuhan Iqbal menghipnotis Rani.


Rani terlalu lemah, cintainya membuatnya tak berdaya, tak bisa menolak setiap sentuhan Iqbal. Tanpa Rani sadari Iqbal sudah membuka borgolnya. Membuat tangan Iqbal semakin bebas meletakkan dan menyusuri setiap bagian yang membuatnya penasaran.


"Bajumu basah Ran." Bisik Iqbal dengan suara parau.


"Buka saja..." Jawab Rani dengan lirih.


Hasrat Iqbal kian bergelora saat Rani mulai membalas. Keduanya saling memberi kenikmatan satu sama lain.


Guyuran air dingin tak mampu mengalahkan panasnya gelora yang tengah mereka salurkan.


"Ran..." Gumam Iqbal menatap Rani dengan mata yang sudah berkabut meminta persetujuan, Rani hanya mengangguk.


"Tuhan...Bapak...Ibu...Maafkan Rani...Rani sangat mencintai Iqbal."


Iqbal mengambil apa yang sudah di jaga oleh Rani. Membuat air shower yang mengalir berubah jadi merah.


Suara Rani beradu dengan gemericik air. Dosa besar telah mereka lakukan.

__ADS_1


***


selamat menikmati, jangan lupa di like dan komentar. Biar Authornya semangat up.


__ADS_2