
"Mau jalan jalan kemana?..." Ucap Iqbal seraya mencolek dagu Rani, yang di sambut senyum oleh Rani.
"Ke mall yuk, sekalian beli perlengkapan untuk bayi kita. Kita kan belum mempersiapkan apapun." Rani mengusap perutnya yang buncit.
"Mau ke mall kapan?..."
"Kalau sekarang gimana?..."
"Ya sudah aku mau ganti baju dulu." Ucap Iqbal seraya bangkit dari duduknya.
"Iqbal, tunggu." Rani menarik tangan Iqbal lalu berdiri.
"Apa?..."
"Cup..." Iqbal tersenyum bahagia mendapat kecupan di pipinya dari Rani.
"Ini tanda tandanya sudah tidak marah lagi." Ucap Iqbal.
"Hehe iya... Ya sudah aku mau siap siap dulu, dandan biar tambah ok."
Iqbal pun merangkum wajah Rani dan mengecup semua wajahnya mulai dari kening, pipi, hidung dan berakhir dengan ciuman.
"Sudah cantik, kenapa mesti pakai makeup lagi."
"Biar tambah cantik lah. Kan kamu juga ikut senang kalau istrinya tambah cantik."
"Sudah begini saja. Rambutnya saja yang mesti di sisir. Aku lebih suka wajah kamu natural."
"Iiiiiihhhhh...."
"Memangnya kamu mau terlihat cantik untuk siapa?..."
"Untuk mu lah."
"Untuk ku apanya!... Di rumah nggak pakai makeup tapi keluar pakai make up..Ini apa lagi?... Rambut di Cepol begini?..." Iqbal memegangi rambut Rani yang di ikat ke atas seperti onde onde. "Itu namanya cantik untuk umum bukan untuk suami." Sambung Iqbal.
"Iiiiiihhhhh Iqbal..."
"Iiih apa?..."
"Iya iya, di rumah aku bakal jaga penampilan."
"Bagus. Ini baru benar. Kalau keluar harus polos. Kalau pun pakai makeup harus tipis."
"Huh, iya... Ribet banget sih..."
Mereka berdua kembali berdebat seperti biasanya.
***
Beberapa saat kemudian Iqbal yang baru selesai mandi, memakai lotion dan parfum ke tubuhnya kemudian memakai celananya. Dia melangkah keluar dari ruang ganti sebelum memakai baju, Dia melihat Rani yang terlihat tidak nyaman. Iqbal segera menghampiri Rani yang sedang memegangi perutnya.
"Kenapa Ran?..." Ucap Iqbal yang terlihat cemas.
"Sttttt....Perutku nyeri banget."
"Aku telpon dokter dulu ya."
"Nggak usah, nggak usah." Rani menahan tangan Iqbal.
"Kenapa?..."
"Bayinya nendang nendang terus dari tadi, nggak mau berhenti, uuuhhh...." Rani meremas tangan Iqbal, dia melenguh karena rasa sakit yang di dera. Peluh sudah bercucuran di sekujur tubuhnya terutama area wajah.
__ADS_1
"Terus aku harus bagaimana?..."
"Tolong ambilkan air putih."
"Tolong bawakan air putih ke kamar istriku." Iqbal meraih Hp di atas nakas lalu menghubungi seseorang .
"Baik Tuan." Sahutan dari seberang. Iqbal terlihat kebingungan, tidak tahu harus berbuat apa.
"Nak, ini Papa."Iqbal mengusap lembut perut Rani.
"Kok malah ngajak kenalan sih Iqbal, aku beneran sakit loh, aduh."
"Lah terus aku harus bagaimana, siapa tahu ini berhasil. Ku telpon dokter kamu nggak mau."
"Aduuuhhh..." Rani tak memperdulikan ucapan Iqbal, yang jelas perutnya sangat sakit.
"Coba kamu berbaring dulu." Iqbal merebahkan tubuh Rani dengan perlahan di atas ranjang lalu menyelimuti kakinya.
Asisten rumah tangga datang membawa segelas air putih dan memberikannya pada Iqbal.
"Terima kasih Bi,... Tolong tunggu di sini." Ucap Iqbal pada Bi Ijah untuk berjaga-jaga jika Iqbal membutuhkan bantuannya.
"Ia Tuan." Bi Ijah mengangguk. Iqbal pun meminumkan airnya pada Rani yang kepalanya sedikit terangkat agar bisa meminumnya. Setelah air di gelas habis, Rani kembali tidur dengan posisi miring. Iqbal kembali mengusap perut Rani.
"Nak, ini Papa. Kamu istirahat sebentar dulu ya, kasian Mamamu kesakitan." Iqbal mengusap perut Rani, tendangan itu terasa begitu kuat di tangan Iqbal. Tidak perduli dirinya terlihat bodoh di hadapan Rani dan Bi Ijah, dia hanya berharap apa yang di lakukannya bisa mengurangi rasa sakit di perut Rani. Sebab dokter mengatakan ajak bayi di perut untuk berkomunikasi, itu yang Iqbal pikirkan saat ini.
"Anak Papa yang baik, Kamu istirahat sebentar, nanti main lagi." Tendangan di perut Rani perlahan melemah dan berhenti, hanya sesekali menendang dengan lemah.
"Hah, berhasil. Aku masih tidak percaya ini..Apa masih sakit Ran?..."
"Udah mendingan." Ucap Rani lirik seraya menggelengkan kepala.
"Mungkin ini yang namanya ikatan batin antara anak dan Ayah, Tuan."
"Iya mungkin. Bibi boleh pergi sekarang, terima kasih." Ucap Iqbal sambil tersenyum.
"Apa masih sakit?..." Rani hanya menggeleng.
"Ya sudah kamu istirahat saja dulu, jalan jalannya bisa kapan kapan kalau sudah sehat." Rani tidak menjawab, dia memejamkan matanya dengan tarikan nafas yang dalam. Iqbal menyingkap selimutnya, di lihatnya kaki Rani mulai bengkak.
"Ternyata tidak mudah jadi seorang Ibu hamil."
Iqbal masuk kedalam selimut, memeluk Rani dari belakang, dia tidak mau mengganggu tidur istrinya. Urusan kaki bengkak obati saat Rani terbangun.
***
Hari Minggu tiba, Rani memakai dress warna putih, Iqbal pun juga mengenakan kemeja warna putih warna favoritnya. Rani dan Iqbal berjalan dengan tangan yang saling bertautan dengan senyum yang begitu cerah. Hari ini mereka akan kencan sambil membeli perlengkapan untuk bayi mereka nanti.
Saat sampai di samping mobil, Rani membungkuk untuk melihat Zain sudah berada di kemudi. Rani menatap Iqbal dengan heran.
"Dia ikut?..."
"Iya."
"Kenapa dia selalu nempel kemanapun kamu pergi, Iqbal."
"Karena dia supirku."
"Dia, Jadi obat nyamuk dong." Rani merengut.
Iqbal malah tersenyum mengingat masa lalunya bersama Rani, walaupun Rani adalah obat nyamuk tapi waktunya lebih banyak di habiskan bersama dengan Rani, Iqbal sudah bisa membaca apa yang Rani pikirkan.
"Aku kasihan padamu Zain. Tunggu di sini sebentar."
"Mau kemana Ran?..." Ucap Iqbal ketika melihat Rani beranjak hendak memasuki rumah.
"Sebentar, 10 menit. Tunggu aku 10 menit."
__ADS_1
"Dasar wanita." Iqbal merogoh saku celananya lalu mengambil sebatang rokok, menyalakan api dan membakar ujungnya. Dia bersandar di pintu mobil, seraya menyesap rokok lalu menyemburkan asapnya.
***
Rani berjalan memasuki kamar Nadine, namun kamar itu kosong.
Rani berjalan ke dapur, Nadine juga tidak ada. Hanya ada satu asisten rumah tangga yang sedang membersihkan dapur.
"Bi, lihat Nadine nggak?..."
"Ada di belakang Nyonya."
"Oh, terima kasih."
"Sama sama."
Rani berjalan ke belakang rumah. Di lihatnya Nadine yang sedang membaca buku dengan kaca mata yang bertengger di atas hidungnya.
"Nadine."
"Eh, kak Rani.... Ada apa kak?..."
"Sibuk nggak..."
"Nih lagi baca buku."
"Ada ujian?..."
"Nggak kak. Cuma belajar aja."
"Ikut aku Yuk..."
"Kemana kak?..."
"Jalan jalan."
"Maaf kak, aku lagi bokek..."
"Tenang, aku yang terakhir."
Nadine nampak berpikir namun Rani segera menarik tangannya.
"Eh kak...Kak Rani mau bawa aku kemana?..." Rani menyeret tangan Nadine karena tidak mau Iqbal terlalu lama menunggunya.
"Kita tidak punya banyak waktu."
Rani membawa Nadine ke kamarnya. Dia membuka lemari dan mengambil baju yang masih terbungkus rapi dan belum pernah dia pakai. Sebab Iqbal terlalu banyak membelikan baju untuknya, hingga masih banyak pakaian yang belum ia pakai.
"Ini pakai."
"Tapi kak."
"Udah jangan pakai tapi tapian. Cepat ya... Aku tunggu di luar."
Setelah keluar dari ruang ganti, dengan segera Nadine mengganti pakaiannya.
Dia keluar dengan memeluk pakaian yang sebelumnya ia kenakan.
"Coba lihat." Rani mengambil pakaian yang ada di tangan Nadine. "Wah ternyata pas, berarti ukuran baju kita sama dong. Bajumu ini tinggal dulu di sini." Sambung Rani. Rani meletakkan pakaian itu ke dalam keranjang baju kotor di ruang ganti.
Lagi lagi Rani menyeret Nadine dan mendudukkannya di depan meja rias. Rani merias wajah Nadine dengan riasan tipis ala anak muda. 10 menit baru selesai, Nadine terlihat begitu cantik.
"Hihihihihihi, kalau Zain tidak terpesona dengan Nadine berarti dia ada kelainan."
***
Author.
__ADS_1
Saya meleleh melihat body Iqbal. Apa ada yang sama?...