
Akhirnya Rani berhasil sampai di negara Malaysia, dia sangat bersyukur penampilannya yang menggunakan gigi tonggos, alis tebal dan kacamata tebal bisa mengelabui para pengawal Iqbal yang berada di bandara.
Rani melewati mereka dengan sangat mudah. Apa lagi dengan paspor palsunya. Ternyata didikan Iqbal sangat berguna bagi Rani.
Sesampainya di negara Malaysia perut Rani keroncongan karena lapar. Rani memasuki restoran dan memesan banyak makanan. Rani menyadari ada bayi di perutnya yang harus ia jaga. Rani makan dengan sangat lahap karena dia sangat kelaparan. Energinya terkuras untuk berpikir keras selama di Indonesia.
Setelah selesai makan, pelayan meminta tagihannya pada Rani.
"Berapa semua?"
"Semua 300 Ringgit."
Rani membuka tasnya Rani terkejut saat uang Ringgit yang berada di dalam tasnya raib bersama dengan semua perhiasannya. Roni mengeluarkan semua isi tasnya tadi sangat kebingungan.
Rani kebingungan saat akan membayar apalagi di negeri orang. Rani tidak tahu apa yang akan dilakukan setelah ini.
"Awak tiada Wang ke?...(kamu tidak punya uang)" Ucapan pelayan restoran membuat Rani kebingungan.
"Saya Kehilangan Wang."
"Sebab je. Padahal nak makan free.(Alasan saja padahal ingin makan gratis.)"
"Saya betul-betul Kehilangan Wang."
"Awak nak tipu saya. Awak nak makan free."
"Maaf ada apa ini?" Seorang pria datang, tubuhnya tinggi namun wajahnya pas Pasan.
"Die tak nak bayar.(Dia tidak mau bayar)" Ucap pelayan tersebut menunjuk Rani.
"Bukan begitu Tuan, tapi uang saya hilang."
"Berapa semua, biar saya yang bayar." Ucap pria itu. Mau tak mau Rani menerima bantuan dari pria itu karena tidak mau terlibat dalam masalah yang lebih besar.
Kemudian pria itu membayar biaya tagihan makan Rani di restoran itu, Rani merasa tidak enak hati sebab tagihan itu cukup mahal.
"Terima kasih Tuan, semoga Tuhan membalas kebaikan anda." Kemudian Rani pergi meninggalkan pria itu.
Lagi lagi Rani kebingungan harus bagaimana tanpa uang di negeri orang. Pria itu datang menghampiri Rani.
"Kenapa Anda terlihat kebingungan? Apa anda punya salah? Mungkin saya bisa membantu."
"Saya bingung harus gimana, uang saya hilang tidak tersisa."
"Dari logat bicaramu kamu berasal dari Indonesia."
"Ya. Saya baru sampai disini."
"Memangnya apa tujuan kamu berada di negara Malaysia?"
"Saya ingin jadi TKW." Ucap Rani berbohong.
"Oh ya... Kamu mau pergi kerja ya. Kerja di mana Biar saya antar?"
"Saya belum memiliki pekerjaan."
"Kebetulan saya sedang membutuhkan asisten rumah tangga. Jika kamu mau kamu bisa bekerja dengan saya."
Rani terlihat kebingungan, Dia tidak punya solusi. Rani dilema apakah dia harus ikut dengan orang asing atau jadi gelandangan di negeri orang dan hidup terluntang lantung tidak jelas apalagi dengan bayi dikandung badan.
Mau tak mau Rani menerima tawaran dari pria tersebut walaupun Rani ragu tapi Rani menerima tawaran tersebut.
Rani juga memiliki bekal ilmu bela diri jika ternyata pria tersebut ternyata orang jahat Rani bisa melawannya.
"Baiklah, saya mau bekerja dengan Anda."
"Siapa namamu?"
"Rani."
__ADS_1
"Namaku Wildan Antonio, panggil saja saya Wildan." Kemudian Wildan membawa Rani masuk ke dalam mobilnya.
***
Satu minggu kemudian Rani sudah bekerja sebagai asisten rumah tangga, ternyata Wildan adalah orang yang baik, sopan dan ramah.
Beruntung Wildan tidak memberikan pekerjaan yang berat pada Rani, Rani hanya membersihkan rumah yang tidak terlalu besar dan memasak saja tugasnya.
Bayi di kandungan Rani sudah tidak rewel lagi, Rani bisa memakan apa saja dengan lahap tanpa memuntahkannya lagi. Rani sudah tidak sering pusing kepala lagi.
"Yang sabar ya dek... Mama akan terus jagain Adek. Mama janji akan memberikan kasih sayang yang berlimpah untuk adek." Rani mengusap perutnya yang masih rata. Tiba-tiba dia merindukan Iqbal. Rasa bersalah karena memutuskan Iqbal secara sepihak menyeruak di hati Rani. Tiba-tiba air mata Rani menetes.
"Apa kabar dengan Iqbal Ya pasti dia sangat kecewa padaku, padahal rencananya Bulan depan kami akan menikah. Aku tidak menyangka akhirnya kan seperti ini." Rani menggeleng-gelengkan kepalanya dia berusaha melupakan Iqbal, Rani merasa tidak pantas untuknya. Rani mengambil kembali sapu-sapu dan mulai membersihkan rumah.
Saat sedang menyapu lantai Rani mendengar bel berbunyi. Rani berjalan ke arah pintu dan membuka pintu ini sangat terkejut saat melihat kedatangan Heru yang berada di samping Wildan.
"Rani kau disini." Heru pura-pura terkejut saat melihat Rani, pada hal Wildan adalah orang suruhan Heru.
"Kalian sudah saling kenal." Ucap Wildan.
"Iya kami teman di Indonesia."
"Wah kebetulan sekali Ayo masuk."
Kemudian mereka semua masuk.
Rani menghidangkan teh pada Heru dan Wildan yang berada di ruang tamu. Rani menatap Heru dengan sangat kesal, Rani tahu Heru lah yang telah mencuri semua harta bendanya. Rani mulai berpikir apakah yang Rani alami ini memang rencana Heru dan Wildan.
"Tuan, bisa saya bicara berdua dengan Heru."
"Oh tentu saja."
"Kembalikan semua uang dan perhiasan."
"Apa maksudmu aku tidak mengerti?"
"JANGAN pura-pura bodoh, aku tahu kaulah yang mencuri barang-barang ku, uang dan perhiasan ku saat aku sedang pingsan.
"Iya aku tahu pencuri mana ada yang mau ngaku. Aku sangat membencimu Heru." Kemudian Rani pergi meninggalkan Heru.
***
Setiap hari Heru selalu datang ke rumah yang di sewa Wildan, dia selalu datang dengan membawa oleh oleh untuk Rani. Kejadian di malam itu membuat Rani lebih waspada karena Rani tidak ingin mengalami malapetaka itu lagi.
Heru selalu memberikan perhatian yang lebih pada Rani, namun Rani tak pernah mengindahkannya. Hal itu semakin membuat Heru kesal.
Rani meminta upah setiap minggu pada Wildan, sebab Dia tidak ingin memakan makanan yang berada di rumah Wildan. Rani hanya mau memakan makanan yang baru diolah dan masih panas.
Rani tidak memiliki apapun dan terpaksa tetap bernaung di bawah bantuan Wildan dengan catatan waspada.
Rani akan terus mengurung diri di kamar Selama masih ada Wildan dan Heru di rumah ini.
***
"Halo... Apa kau sudah mendapatkan informasi yang aku minta?..."
"Maaf... Kami belum mendapatkan informasi apapun tentang Nona Rani."
"Teruskan pencarian." Iqbal menutup teleponnya.
"Baik Tuan."
Iqbaal menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya, dia sangat frustasi Sudah 1 bulan lebih dia mencari keberadaan Rani tapi tidak ada titik terang sedikitpun.
"Aaaaaaakkkkkhhhhhhh... Aaaaakkkhhh.... Aaaaakkkhhh....Di mana kau Ran?..." Iqbal berteriak kesal dan membuang semua barang-barang yang ada di atas meja kerjanya. Semua barang itu jatuh oleh sapuan tangan Iqbal dan berserakan di lantai.
Iqbal sangat menderita setelah kehilangan Rani dunianya terasa runtuh, perasaan sakit dan tertekan ia alami. Rasa menyesal kecewa frustasi dan putus asa melebur menjadi satu.
Rasa kecewa dan penyesalan melanda hati Iqbal. Rani pergi darinya karena sakit hati atas perbuatan yang Iqbal lakukan padanya.
__ADS_1
Hari-hari Iqbal digunakan untuk mencari keberadaan Rani, yang ada di otak Iqbal hanya Rani, Iqbal sangat terpuruk. Hari-harinya dilakukan hanya menangis karena tidak bisa menahan rasa sakit di hatinya.
Iqbal memandangi foto Rani saat bermain di rumah pohon bersamanya, air mata mulai menetes. Dia sangat merindukan Rani, dia bersumpah tidak akan melepaskan Rani jika sampai Rani ditemukan.
Dia menatap foto Rani dengan perasaan hampa, hatinya diliputi dengan perasaan sedih kecewa dan rindu.
Saat mengingat Rani hatinya mendidih marah bercampur dengan rindu.
Sudah beberapa bulan ini Iqbal susah untuk tidur, dia terus saja memikirkan Rani. Dia sangat merindukan Rani yang selalu mengisi harinya. Terasa ada beban berat yang Iqbal pikul.
Zain hanya bisa bersedih menyaksikan kehancuran Iqbal.
"Tuan Anda juga harus istirahat agar pikiran anda jernih dan bisa menemukan Nona Rani." ucap Zain.
"Aku tidak bisa tidur, Aku sangat merindukannya. seandainya waktu bisa diulang Aku tidak akan melakukannya." Ucap Iqbal sambil terus memandangi foto Rani.
"Anda jangan khawatir, secepatnya Nona Rani akan ditemukan."
"Apa yang dia lakukan? Sekarang pasti dia sedang mengutukku atas semua perbuatanku."
"Tidak Tuan. Nona Rani sangat mencintai anda, dia akan kembali pada anda."
"Semoga saja."
***
Saat tidur tiba-tiba seseorang membekap Rani dengan sapu tangan hingga Rani pingsan. Dia membawa Rani keluar dari kamarnya.
Heru terkejut saat dia datang ke rumah Wildan dia melihat Tuan Steven dan anak buahnya membawa Rani, Heru langsung menghadang Steven.
"Tuan Kenapa Anda membawa Rani?"
"Bukankah anda sendiri yang ingin menjualnya pada saya."
"Saya tidak ingin menjual Rani pada Anda tapi saya hanya menawarkan anak yang ada di kandungan Rani Jika dia lahir nanti."
"Tapi saya lebih tertarik pada Rani." Ucap Steven.
Heru berusaha membawa Rani kembali tapi anak buah Steven malah menghajar Heru.
Akhirnya Heru hanya bisa melihat kepergian Rani yang dibawa oleh Steven.
***
"Halo Tuan Iqbal?..."
"IYA."
"Saya dengar anda sedang mencari kekasih anda, Rani!! "
"IYA. Dimana Rani sekarang? Cepat katakan?" Ucap Iqbal sangat antusias.
"Rani ada padaku."
"Siapa kau dan mau apa?"
"Serahkan 80% saham di perusahaan anda pada saya, maka saya akan mengembalikan Rani pada Anda. Anda jangan khawatir. Kekasih Anda aman di tangan saya."
"Jangan pernah kau sakiti dia sedikitpun, jika sampai dia terluka sedikit saja maka aku akan membunuhmu." Suara Iqbal terdengar marah dan mengancam.
"Hahahaha hahaha gurauan Anda lucu sekali. Anda tenang saja, saya tidak akan membiarkan tambang emas saya lecet sedikitpun."
"Anda jangan coba-coba menipu saya, jika anda berani menipu saya maka nyawa kekasih anda yang akan jadi taruhannya. Segera urus surat pengalihan harta anda, jangan coba menipu saya karena saya juga akan membawa pengacara saya."
"Anda tidak akan jatuh miskin dengan saham yang sisa 20%"
"Baik saya setuju."
***
__ADS_1
SELAMAT MENIKMATI...