
"Segera kemasi barang mu dan keluar dari rumah Tuan Iqbal."
"Ok..." Balas Nadine. Ucapan Zain menyinggung hati Nadine, tega sekali dia mengusir Nadine. Apa tidak ada rasa empati sedikit pun untuk Nadine, gadis kampung yang tinggal di Jakarta, lalu Nadine harus tinggal di mana, dia belum terlalu tahu seluk beluk kota metropolitan.
Nadine berjalan ke arah pintu, dia menarik narik gagang pintu yang tak bisa di buka karena terkunci.
"Krincing krincing Krincing...." Nadine menatap Zain yang tersenyum mengejek ke arahnya sambil menggoyang goyangkan kunci di tangannya ke udara.
Dengan langkah seribu, Nadine menghampiri Zain hendak mengambil kunci namun Zain segera menarik tangannya mundur dan memasukkan kunci tersebut ke dalam saku celananya.
"Kak..." Keluh Nadine. Dia pun berusaha mengambil kunci tersebut namun Zain malah mundur saat melihat Nadine hendak merogoh saku celananya.
"Kamu mau apa?..."
"Mana kuncinya!..."
"Ambil sendiri kalau bisa."
"Kak, nyebelin ih."
"Kenapa kamu suka sekali menyentuh ku?..." Ujar Zain saat Nadine ragu ragu mulai mendekati Zain.
"Siapa yang mau menyentuh kakak, aku cuma minta kuncinya."
"Modus...Berhenti menggodaku."
"Iiiiiihhhhh ngeselin deh, emang aku cewek apaan..."
Zain malah mengganti posisi duduknya, menghimpitkan saku celana yang berisi kunci ke sandaran sofa agar Nadine tidak bisa mengambilnya.
***
Rani dan Iqbal makan malam bersama di meja makan, Rani menyuapkan makanan ke dalam mulutnya sambil sesekali melirik Iqbal yang wajah datar tanpa ekspresi. Tidak kah dia merasa gugup seperti Rani. Entah kenapa dia merasa gugup setiap melihat Iqbal dan membayangkan hal selanjutnya yang akan mereka lakukan nanti.
"Makan yang banyak agar tenaga mu kuat untuk malam pertama kita." Ucap Iqbal santai tiba tiba di sela sela ia makan.
"Uhuuukkk Uhuuukkk Uhuuukkk...." Rani tersedak mendengar ucapan Iqbal yang terdengar biasa saja dengan raut wajah santainya namun mampu membuat tangan Rani gemetaran, mereka memang sering melakukan pemanasan. Tapi Rani tak pernah tahu bagaimana rasanya melakukan 'itu' dalam keadaan sadar. Iqbal mengambil air di atas meja makan dan memberikannya pada Rani. Rani pun segera meneguknya hingga sisa air setengah gelas.
__ADS_1
"Jangan tegang, santai saja... Rasanya enak kok, percaya deh... Kita sudah sering melakukan pemanasan, harusnya sudah tidak perlu tegang lagi kan." Iqbal tersenyum mesum, menggoda pada Rani.
"Iqbaaaal..." Iqbal pun di hadiahi sebuah tepukan di lengannya oleh Rani yang merengek malu.
"Pastikan Putri tidur nyenyak malam ini, biar tidak menggangu ritual kita. Malam ini dia akan tidur di temani Zain.
"Kamu nyuruh aku makan banyak, kamu sendiri makannya sedikit sekali." Ucap Rani.
"Kamu makanan ku malam ini." Jawab Iqbal.
***
Rani membuka kado pernikahan dari Alena setelah mendapat pesan wa dari Alena untuk membuka terlebih dahulu sebelum melakukan malam pertamanya. Rani terperangah melihat isinya.
Dia memandangi kado pernikahan dari Alena yang berupa handuk, tissue, shampoo dan lingerie seksi yang tembus pandang berwarna merah menyala, serta lilin aromaterapi yang dapat meningkatkan energi seksual dalam diri pria dan wanita.
***
Di dalam kamar mandi Rani mengikat rambutnya asal asalan hingga berbentuk konde tak beraturan, kemudian menghapus sisa make-up di wajahnya dengan kapas dan cairan pembersih wajah kemudian dia menggosok gigi dan berkumur dengan penyegar aroma mint.
Dia menggosok tubuhnya dengan lulur untuk membersihkan kotoran yang melekat bandel di tubuhnya. Dia juga membersihkan kukunya.
Rani mencelupkan kaki ke dalam bathtub yang di penuhi limpahan busa bercampur aroma terapi lalu menenggelamkan seluruh tubuhnya ke dalam air berbusa kecuali kepalanya. Dia bermain main dengan busa menggosok tubuhnya lembut sambil meniup busa itu terbang.
Berulang kali Rani menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya kasar. Dia meremas lingerie seksi di tangannya walaupun ragu dia tetap mengenakannya.
"Ini namanya, berpakaian tapi telanjang..." Gumam Rani menatapi pantulan dirinya di depan cermin yang menampilkan tubuhnya.
"Tok tok tok.... Sayang....Jangan tidur di kamar mandi. Cepat keluar, sejak tadi aku menunggumu..." Ucap Iqbal setelah mengetuk pintu kamar mandi. Sejak tadi Iqbal sudah gelisah sebab Rani sudah menyalakan lilin pemberian dari Alena yang ia letakkan di atas meja.
"Ceklek..." Pintu kamar mandi terbuka memunculkan sosok Rani dengan pipi merah merona karena tak percaya diri dengan baju tembus pandang yang ia kenakan, matanya menatap Iqbal dengan keraguan.
Dia berdiri di depan pintu kamar mandi dengan tangan yang terkepal di kedua sisi panggul kanan kirinya berusaha mengumpulkan kepercayaan diri.
Iqbal memperhatikan Rani dari ujung rambut hingga ujung kaki. Kulit putih mulus Rani terpancar terang ketika berbadu dengan lingerie seksi berwarna merah mencolok. Tanpa harus membuka lingerie tersebut, Iqbal sudah bisa melihat segala isinya. Berulang kali dia menelan salivanya, kakinya terasa melayang melihat pemandangan di depan matanya.
Dengan penuh semangat 45 Iqbal mengangkat tubuh Rani dengan tangan kokohnya yang berotot. Kakinya mantap melangkah menuju ranjang yang di penuhi kelopak bunga mawar merah dengan bentuk love di tengah ranjang.
__ADS_1
Tangan Rani mengalung di leher Iqbal. Dia dapat merasakan tangan Rani gemetaran tapi Iqbal tidak peduli. Dia harus melakukannya saat ini juga.
Mata mereka saling bertemu , mencoba mendalami isi hati masing-masing. Iqbal menatapnya dengan tatapan yang sudah mendamba penuh kabut asmara. Hasrat yang sudah lama ia tahan tak mampu ia bendung lagi. Mata Rani mulai sayu tak percaya diri, dia benar-benar gugup membayangkan adegan selanjutnya yang akan Iqbal suguhkan untuknya.
Iqbal meletakkan bok*ng Rani dengan lembut ke atas ranjang dan merebahkan kepalanya Rani dengan lembut ke atas bantal. Iqbal segera naik ke atas ranjang dan menindihnya, menekannya dengan berat tubuhnya.
Gesekan lembut membuat aliran darah yang mengalir pada keduanya makin panas. Seluruh wajah cantiknya tak luput dari kecupan lembut, bibir keduanya bertautan saling memberi kenikmatan saling membasahi. Kedua tangan mereka saling mengeratkan menjelajahi setiap inci bagian yang membuat mereka penasaran. Pijatan demi pijatan ia layangkan, apa lagi di daerah yang kenyal.
Perlahan menarik turun penutup badan, membuat segalanya kian terpampang untuk di raupnya. Hanya milik Papa, beruntung untuk Papa tapi sial untuk Putri karena tak keluar ASI.
Berulang kali Iqbal membuat Rani bergelinjang.
Setiap jengkal tak luput dari stempel kepemilikan. Keduanya sudah hilang akal, baju berserakan tak karuan. Keringat sudah melebur menjadi kesatuan.
Rani hanya pasrah di bawahnya menikmati sensasi luar biasa, dengan nafas tersengal-sengal dia membelai lembut wajah pria gagah perkasa di atasnya yang nafasnya makin memburu dengan tubuh basah di penuhi keringat.
"Kalau sakit bilang...." Bisik Iqbal dengan suara parau, Rani menggeleng dan semakin mengeratkan pelukan.
"A aku mencintaimu Pa..." Ucap Rani dengan lirih, matanya sayu di liputi hastra yang menggelora, dia terus mendamba setiap sentuhan Iqbal.
"Aku juga mencintaimu sayang." Sahut Iqbal dengan suara berat dengan nafasnya yang memburu.
Berulang kali Iqbal membawa Rani melayang layang menikmati surga dunia, kenikmatan yang yang tidak bisa di jelaskan hanya dengan kata-kata.
Semakin lama berpacu, Rani merasa nyeri namun ia hanya meringis, mencoba bertahan demi kepuasan Iqbal, tak ingin mengecewakan sang suami yang sudah lama berpuasa. Rani merasa lega setelah Iqbal mengeram pertanda pergulatan sudah usai. Iqbal memberikan kecupan bertubi-tubi di wajah Rani dengan tubuh yang masih bertautan menyatu. Iqbal menggulingkan diri di samping Rani dan memeluknya erat.
"Terimakasih..." Ucap Iqbal dengan nafas yang memburu, dengan tubuh yang terkulai lemas Rani membalik tubuhnya menghadap Iqbal dan memeluknya. Karena sangat kelelahan Rani pun langsung terlelap.
***
Author
Jangan lupa tinggalkan like n komentar.
YANG MAU GABUNG GRUB CHAT ALWI 1234...
Silahkan LOWONGAN masih banyak.
__ADS_1