CINTA GADIS OBAT NYAMUK (Kesucian Yang Ternoda)

CINTA GADIS OBAT NYAMUK (Kesucian Yang Ternoda)
LAMARAN KE 2


__ADS_3

"Iya aku mau ..." Ucap Rani, Rani menjulurkan tangannya kemudian Iqbal memasang cincin di jari manis Rani. Iqbal pun bangkit mencium kening Rani dan Rani pun menubruk tubuh Iqbal. Benar seperti dugaan Iqbal, Rani akan menerima lamaran Iqbal sebab cinta Rani yang begitu besar untuknya tak berkurang sedikitpun.


"Kamu harus mau. Karena aku tidak akan membiarkan mu menolakku." Ucap Iqbal di telinga Rani, Iqbal memeluk Rani begitu erat sambil membelai rambut Rani hingga lusuh. Rasanya begitu nyaman berada dipelukan Rani.


Rani terisak di pelukan Iqbal, Rani terharu dan masih tidak percaya dengan apa yang Iqbal lakukan saat ini. Iqbal langsung melepaskan pelukannya.


"Kenapa menangis? Apa kamu tidak bahagia? apa apa aku melakukan kesalahan yang menyakitimu?" Iqbal memborbardir Rani dengan pertanyaan yang beruntun. Iqbal menatap lekat mata Rani sedangkan tangan Iqbal merangkum kedua pipi Rani. Rani menggeleng kemudian Iqbal menghapus air mata yang mengalir di pipi Rani.


"Aku menangis karena terharu. Aku sangat bahagia tapi aku masih tidak percaya, rasanya ini seperti mimpi."


"Ini bukan mimpi ini benar-benar nyata."


Tiba-tiba Iqbal mencubit pipi Rani, membuat Rani meringis kesakitan, Rani pun menggosok pipinya.


"Kenapa kamu cubit pipiku? Nanti aku nggak doyan makan gimana?"


"Memangnya kamu bayi!...''


"Hehehe...Romantismu nanggung Bal." Rani malah terkekeh.


"Aku mencubit mu supaya kamu yakin kalau ini nyata dan bukan mimpi."


"Aku merasa semua ini masih mimpi karena Iqbal yang tidak bisa menulis surat cinta untuk Alyn bisa melakukan hal seromantis ini. Memangnya kamu belajar dari siapa?"


"Sekarang zaman sudah canggih aku browsing lewat internet."


"Hahahaha pantas saja tak kreatif. Aku pikir kamu belajar dari robot yang selalu mengikutimu."


"Siapa maksudmu?"


"Zain siapa lagi kalau bukan dia."


"Jangan pernah menyebut nama laki-laki lain dihadapanku meskipun itu adalah asisten pribadi yang selalu setia padaku."


"Kenapa? cemburu?"


"IYA."


"Cie cie cemburu nih ye..." Rani mencolek pinggang Iqbal.


"Diam lah Ran..." Rani semakin gencar mencolek pinggang Iqbal dan berlari.


"Zain Zain Zain Zain Zain Zain Zain Zain Zain Aku mencintaimu Zain Hahahahahaha..." Rani berlari dan Iqbal terus mengejarnya karena kesal mendengar ucapan Rani. Rani sendiri tidak pernah mengucapkan kata cinta pada Iqbal tapi Rani malah mengucapkan kata aku mencintai Zain.


"Awas saja jika kau tertangkap." Ujar Iqbal yang kesal.


"Hahahahahaha... lihatlah wajahmu yang sedang cemburu Iqbal, terlihat sangat menggemaskan merah seperti tomat." Ucap Rani yang berlarian. Tangannya berhasil disergap oleh Iqbal, Iqbal yang berhasil menangkapnya mendorong Rani hingga punggungnya bersandar di bawah rumah pohon. Hembusan nafas mereka masih ngos-ngosan karena saling berkejaran.

__ADS_1


"Apa yang kamu katakan tadi?" Iqbal bertanya dengan nafas yang masih memburu, Iqbal membelai pipi Rani, matanya fokus melihat bibir ranum Rani.


Rani tersenyum kemudian kembali memeluk Iqbal. "Aku mencintaimu Iqbal sangat mencintaimu dari dulu sampai sekarang cinta ini hanya untukmu. Takkan pernah ku bagi dengan siapapun."


"Benarkah?..."Ucap Iqbal dengan menaikkan satu alisnya ke atas. Rani mengangguk tiba tiba melepas pelukannya, wajahnya melengos cemberut dan tangannya bersedekap.


"Kenapa?" Iqbal bertanya.


"Cinta mu sendiri sudah kau bagi." Ucap Rani dengan bibirnya yang mengerucut. Iqbal pun tersenyum melihat bibir Rani.


"Apa kau memberiku kode." Ucap Iqbal.


"Kode apa?..." Ketus Rani menatap sinis ke arah Iqbal. Iqbal meraih tangan Rani, lalu di letakkannya tangan itu ke dada Iqbal.


"Saat ini, disini hanya ada namamu. Apapun yang terjadi pada Alyn, tidak ada niat sedikitpun untukku kembali padanya." Ucap Iqbal tulus.


"Hihihihi pasti kata katamu browsing di Internet." Rani membantin sambil tersenyum.


"Kata kata ku ini tulus dari hati bukan browsing dari internet."


"Hehehehe apa dia bisa membaca pikiranku ya?..."


Iqbal merangkum leher Rani yang sedang mendongak memandang wajahnya karena tubuh tinggi Iqbal. Iqbal pun sedikit membungkuk Kemudian menyatukan bibir mereka, kali ini lebih dalam dan lebih lama dari pada malam itu. Mereka sama-sama pelajar amatir yang baru belajar hal mengenai sentuhan.


***


"Untuk apa?" Ucap Iqbal.


"Ayo Iqbal...Ayo foto aku, momen bahagia ini juga harus diabadikan dan ku pajang di sosmed." Rani meminta Iqbal memotret dirinya yang duduk di hamparan kelopak bunga mawar merah di atas tanah.


"Kamu jangan berlebihan momen ini cuma untuk kita berdua."


"Ayolah Iqbal Kapan lagi kita bisa mendapatkan momen romantis ini?..."


"Akan ku buatkan setiap hari kalau kau mau."


"Iiiiiihhhhh nggak asyik. Nggak romantis."


"Huuuuufffhhh.... Baiklah..."


Kemudian Iqbal memotret Rani yang bersila di atas hamparan bunga kelopak bunga mawar merah .


Rani berpose di ayunan yang dibuat Iqbal di bawah pohon, tali yang dibuat Iqbal untuk ayunan itu dirambati bunga-bunga yang cantik sehingga ayunan itu terlihat tidak biasa namun fantastic.


Setelah memotret Rani di atas ayunan, Iqbal menghampiri Rani dia mendorong ayunan yang di duduk Rani ke depan, kini Rani benar-benar terbang di atas udara, bukan sekedar khayalan.


***

__ADS_1


Iqbal dan Rani tidur bersisian di atas hamparan kelopak bunga mawar merah yang bertabur di atas tanah. Iqbal berbantal dengan tangan kirinyanya dan Rani tidur di lengan kanan Iqbal. Sesekali tangan Iqbal menyisir rambut Rani.


"Kenapa kita malah tiduran di tanah Ran?..."


"Karena dari tanah aku bisa melihat keindahan rumah pohon itu. Apa kau mengerjakannya sendiri?..."


"IYA."


"Rani."


"Heeemmmm..."


"Bagaimana jika ibumu menolak lamaran ku?..."


"Kurasa ibu dengan senang hati akan menerima lamaran mu, sudah lama sekali Ibu ingin melihatku menikah."


"Ya semoga saja aku tidak menerima penolakan. Apa yang harus aku lakukan jika Ibumu menolakku."


"Jangan macam-macam itu ibuku calon ibu juga."


"Hemmm... Kenapa kamu itu tiba-tiba mencium?" Ucap Rani yang jelas-jelas akan menenggelamkan dirinya sendiri dalam hal yang sama, Iqbal hanya diam seolah sedang memikirkan sesuatu.


"Karena aku menginginkannya."


Beberapa saat kemudian Iqbal menatap mata Rani, matanya berubah sayup seperti malam itu dan seperti tadi. Kemudian mereka kembali melakukannya.


"Iqbal cukup aku tidak ingin melakukan yang lebih dari ini sebelum kita benar-benar menikah."


"Baiklah."


"Iqbal bisa tidak kita malam pertama di rumah pohon itu." Ujar Rani sambil menunjuk rumah pohon.


"Sejak kapan otakmu mesum."


"Hehehe Sejak kau membalas cintaku."


***


"Ibu saya sangat mencintai Rani. Saya datang kemari berniat baik untuk melamar putri Ibu. Saya ingin segera menikahi Rani jika Ibu mengizinkan." Ucap Iqbal yang kini sudah berhadapan dengan Ibu Narsih. Iqbal Terlihat sangat tenang. Tapi yang grogi dan gelisah malah Rani.


"Maaf Nak Iqbal tidak bisa." Jawab Bu Narsih.


"KENAPA?..." Wajah Iqbal berubah tegas mengintimidasi. Membuat Bu Narsih yang di tatapannya terkejut.


"Kenapa di tolak sih Bu?....Ibu kan ngebet banget pengen liat Aku nikah."


"Nabila baru menikah. Pamali kalau saudara kandung nikahnya di tahun yang sama."

__ADS_1


****


__ADS_2