
Iqbal sangat gelisah, sejak tadi perasaannya tidak tenang. Seperti ada sesuatu yang mengganjal di hatinya tapi entah apa.
"Pa, kamu kenapa?..." Rani ikut gelisah melihat kecemasan yang terpampang di wajah Iqbal.
"Aku kepikiran Putri terus."
"Kamu emang gitu kan tiap hari."
"Tapi ini beda Ran, perasaan ini sama seperti saat aku ngerasa kamu ada dalam bahaya dulu." Ujar Iqbal semakin cemas, dia mengingat kejadian dulu saat Rani hampir di perkosa oleh 2 orang pemuda di masa remaja dan saat Rani hampir di perkosa oleh Heru. Iqbal segera turun dari panggung, dia melangkah cepat setengah berlari. Rani pun menjinjing gaun pengantinnya dan mengikuti Iqbal.
Semua tamu memperhatikan sepasang pengantin itu.
"Ibu tunggu di sini ya, untuk menjamu tamu. Biar Alyn yang liat mereka." Alyn yang curiga ada sesuatu yang tidak baik memilih mengikuti Rani.
Iqbal berlari menyusuri koridor, hati Iqbal makin gelisah saat jaraknya sudah tidak jauh dari kamar Putri, apa lagi saat mendengar suara tangisan bayi yang familiar di telinga.
"Hooeeeekk hooeeeekk hooeeeekk hooeeeekk"
Saat Iqbal membuka pintu, dia melihat Putri menangis di gendongan Zain. Dan raut wajah semua orang tegang. Iqbal segera mengambil Putri dari tangan Zain dan berusaha mendiamkan putrinya. Zain segera menendang gunting yang di gunakan Hafsah, ke bawah ranjang saat pandangan mata Iqbal tertuju pada Putri.
"Ada apa ini, kenapa Putri menangis?..." Suara Iqbal menggema di dalam kamar.
"Maaf Tuan... Anak Tuan Arya mengganggu tidur Nona Putri." Ucap Zain sambil menatap tajam ke arah Nadine, yang di tatap pun menunduk takut dan merasa bersalah.
Sementara yang lain menunduk cemas dan takut, terutama Alena dan Nadine sebagai tersangka. Beda lagi dengan Hafsah yang berdiri di depan Alena, dia layaknya balita pada umumnya, masih tidak mengerti apa-apa, Hafsah malah berjoget-joget, bertepuk tangan sambil tertawa-tawa mendengar tangisan Putri, apa lagi saat tadi melihat Zain memarahi Nadine. Hafsah makin gembira saat melihat Iqbal mengamuk.
"Bagaimana bisa!!!.... Padahal sudah ada 5 orang yang berjaga tapi mengurus satu bayi saja tidak becus." Ucap Iqbal masih emosi.
"Kalau kamu marah marah, Si Putri nggak akan diam Iqbal. Yang ada malah tambah nangis." Ucap Rani yang tiba tiba muncul ke dalam kamar, Rani masih bisa mendengar suara Iqbal yang menggelar karena lantang.
"Ikut campur saja." Ujar Iqbal ketus, Iqbal selalu kebingungan dan marah seperti ini jika bayinya menangis.
"Ya harus ikut campur lah, aku ini emaknya. Sini berikan Putri padaku kalau kamu nggak bisa diemin dia." Rani hendak mengambil bayinya tapi Iqbal malah memalingkan tubuhnya.
"Sudah, aku bisa sendiri. Mana susunya."
Beruntung sekali perawat datang tepat waktu, dia datang bersamaan dengan Alyn.
Hafsah makin kegirangan saat melihat kedatangan Alyn yang menggendong saudara kembarnya Raffasa.
Putri kembali tertidur di gendongan Iqbal setelah meminum susu. Semua orang merasa lega kecuali Nadine. Sebab Zain masih menatapnya sinis.
"Ini kenapa bedong sobek di pakai kan ke Putri?..."
"Kak, maaf ya so...." Ucapan Alena terjeda karena Zain segera menyanggahnya.
__ADS_1
"Lebih baik anda pergi sebelum Hafsah membangunkan Nona Putri lagi." Ujar Zain dengan nada tegas.
"I, iya... Kak Iqbal, kak Rani, aku pamit pulang duluan ya." Ucap Alena kemudian menggendong Hafsah dan melewati Iqbal yang masih menggendong Putri. Si Hafsah berulah lagi, saat Alena berjalan tangan mungilnya masih sempat mencubit kaki Putri dengan 5 jarinya hingga Putri kembali terbangun dan menangis.
"Adek..." Ujar Alyn.
"Alyn, anakmu itu benar benar menyebalkan." Ucap Iqbal ketus sambil mengusap lembut kaki putrinya.
"Maaf ya Iqbal, maaf... Aku minta maaf atas kelakuan Hafsah." Alyn benar benar malu dengan apa yang di lakukan Hafsah, karena ini untuk pertama kalinya Iqbal berbicara ketus pada Alyn.
"Udah Lyn, nggak apa-apa. Namanya juga anak kecil." Rani menepuk lengan Iqbal sedikit keras, Semenjak Putri lahir sikap protektif Iqbal pada putrinya makin menjengkelkan bagi Rani. Iqbal tidak peduli dengan keluh kesah Rani karena dia sibuk menina bobokan Putri.
"Maaf ya Ran, maaf banget... Kalau begitu aku keluar dulu. Biar Hafsah nggak ganggu lagi."
"Iya, ucapan Iqbal jangan kamu ambil hati ya. Kamu tahu sendiri kan dia orangnya gimana."
"Iya, sekali lagi aku minta maaf."
Alyn pun keluar dari kamar dengan menggendong Raffasa.
"Emuuacc Emuuacc Emuuacc..." Alena keluar sambil menggendong Hafsah yang menghadap ke belakang sambil kiss by pada Iqbal. Rani dan Iqbal hanya bisa geleng-geleng kepala melihat kelakuan Hafsah.
***
"Hafsah, kamu itu nggak boleh nakal. Kalau tadi adik bayinya sampai jatuh gimana?....Kan bisa berabe. Kasian kan tadi dedek bayinya kamu cubit sampai merah kalau Aaakkkkhhhhh ada da da da da..." Hafsah menggigit telinga Alena yang ada di balik hijabnya kuat kuat karena menceramahinya.
"Ya ampun mbak, anakmu ini benar benar ya... Pengen tak untel untel rasanya." Keluh Alena sambil menggosok telinganya yang sakit.
"Kelakuannya mirip kayak kamu waktu kecil. Luka di tangan ku ini juga karena bekas gigitan mu." Ucap Alyn sambil menunjukkan bekas luka gigitan di tangannya pada Alena.
"Masak sih mbak, waktu kecil aku nakal."
"Banget..." Ujar Alyn memastikan."Adik kamu nggak boleh nakal ya..." Lanjutnya.
"Iya..." Jawab Hafsah sambil memeluk Alena.
***
Iqbal menidurkan Putri yang terlelap ke atas ranjang kemudian mengecup kedua pipi dan dahinya.
"Ayo Pa, tidak enak sama tamu yang datang kalau pengantinnya nggak ada." Ucap Rani sambil menarik lengan Iqbal.
"Zain, aku titip Putri ya jangan di tinggal..."
"Iya Tuan..."
__ADS_1
Iqbal pun pergi dengan kepala yang masih melihat putrinya ke belakang.
Setelah kepergian Iqbal dan Rani dari kamar ini, dengan kepala menunduk Nadine memberanikan diri menghampiri Zain yang masih menatapnya tajam.
"Kak maaf ya, tadi aku sudah lalai dalam menjaga Nona Putri. Terimakasih sudah menyelamatkan Putri. Dan Terima kasih karena nggak Cerita kejadian yang sebenarnya pada Tuan Iqbal."
"Menurut mu apa yang akan terjadi jika Tuan Iqbal sampai tau Nona Putri hampir celaka?..."
"Mu, mungkin dia akan mengusirku dari rumahnya atau mungkin akan memenjarakanku." Ucap Nadine gelagapan.
"Aku sama sekali tidak berniat menolong mu. Aku hanya tidak ingin merusak kebahagiaan Tuan Iqbal dan Nona Rani di hari pernikahannya karena kecerobohan mu. Sekarang berdiri menghadap tembok, dengan satu kaki dan tangan menarik telinga sampai acara selesai."
"Ya ampun kak, hukumannya kok kayak anak SD sih..."
"Jadi kamu mau hukuman seperti anggota tentara, push up sana..."
"Kejam banget sih..." Ujar Nadine dengan wajah merengut.
"Push up atau di Usir dari rumah Tuan Iqbal?..."
"Menghadap tembok saja kak?..." Ujar Nadine, Zain mengibas ngibaskan tangannya sebagai bentuk pengusiran.
Nadine berdiri di depan tembok dengan satu kaki dengan tangan menjewer telinga.
"Ibarat orang lain yang makan pisang tapi aku yang kepeleset karena nginjak kulit pisangnya." Nadine menggerutu kesal dalam hati.
Dia menerima hukuman ini dengan suka rela selain karena takut di usir, dia juga merasa bersalah.
Setidaknya Nadine bisa bernafas lega saat ini, beruntung tadi tangisan Putri memancing Zain membuka pintu kamar dan berlari cepat menangkap Putri yang sudah terjatuh namun masih bisa di tangkap oleh Zain dengan posisi Zain yang sedikit roboh di lantai.
Satu jam kemudian kaki Nadine mulai tidak seimbang karena kelelahan membuat tubuhnya goyang kiri dan goyang kanan, Nadine menoleh ke belakang melihat Zain yang duduk di atas sofa menatap Hpnya.
Nadine bisa bernafas lega, dengan perlahan dia menurunkan kakinya, belum sampai kaki menyentuh lantai dia sudah mendengar suara Zain.
"Naikkan lagi kakimu." Ujar Zain tanpa mengalihkan pandangannya dari Hp.
"Kak Zain aku capek."
"Kalau begitu kemasi barang mu dan pergi dari rumah tuan Iqbal."
***
Author
Yang di lakukan Hafsah adalah kisah nyata, jadi pesan saya pada bunda panda harus waspada saat punya balita... Ote ote
__ADS_1