
"Udah, jangan di dengerin. Dia emang nyebelin tapi sebenarnya baik kok. Udah kamu jalan sama aku aja, lebih aman."
"Baik apanya kak?... Orang tadi ku panggil cuek bebek. Nyebelin bin ngeselin. Jangan jodoh jodohin aku sama dia lagi ya kak."
"Iya... Maaf ya." Ucap Rani.
Mereka bertiga mulai beranjak. Iqbal masih membuntuti Rani dari belakang. Rani berjalan bergandengan tangan dengan Nadine. Iqbal Khawatir jika terjadi hal yang tak di inginkan pada Rani. Sementara Zain masih memimpin di depan.
Mall di sini memiliki dua mushola, yang pertama terletak di lantai bawah tanah dan di sekelilingnya adalah parkiran mobil yang kapasitasnya besar.
Yang kedua yakni terletak di lantai 3 tempat yang mereka tuju saat ini. Meski hanya berkapasitas 30 orang, mushola ini pun terasa nyaman, sejuk dan bersih juga dilengkapi dengan AC dan tempat penitipan barang yang aman sehingga pengunjung yang beribadah tidak perlu khawatir barang barangnya akan hilang, mereka bisa lebih khusu' dalam beribadah.
Setelah sampai di musholla mereka berempat pergi ke toilet. Nadine dan Rani pergi ke toilet khusus wanita, sementara Zain dan Iqbal masuki toilet pria.
Toilet terlihat bersih dan terawat walaupun ukurannya terlalu kecil untuk Mall sebesar ini.
Setelah mengambil whudu' mereka memasuki mushola. Musholla memiliki 2 pintu masuk, yang satu untuk pintu pria dan yang satu lagi untuk pintu masuk wanita. Musholla tersebut hanya di batasi tabir antara tempat pria dan wanita.
Setelah memasang mukenah Rani dan Nadine mendengar suara iqomat. Mereka mulai bersiap-siap sholat berjamaah mengikuti suara imam. Suara imam itu terdengar jelas, lantunannya terdengar merdu dan tartil, membuat orang bulu kuduk orang yang mendengar merinding dan terlena dengan bacaannya termasuk Rani dan Nadine.
Beberapa saat kemudian Rani dan Nadine pergi keluar, menunggu Zain dan Iqbal yang masih berada di dalam musholla. Zain sedang menunggu Iqbal yang melakukan panggilan telepon di dekat pintu masuk.
Rani dan Nadine berdiri di dekat pagar pembatas Mall yang terbuat dari kaca transparan.
"Wiiihhh suara imamnya tadi merdu banget ya kak...Bulu kudukku langsung berdiri pas denger suaranya."
"Iya... Tau nggak itu suara siapa?..."
"Suara siapa kak?...."
"Suaranya Zain..."
"Serius kak?..."
"Iya..." Rani mengangguk, seseorang melihat Rani sedang bercengkrama dengan Nadine. Saat Yakin dia memang lah Rani, dengan segera ia menghampiri. Tiba tiba ada seseorang yang menepuk pundak Rani dari belakang saat Rani menoleh ke belakang orang itu berpindah ke samping Rani.
"Kak Yusuf..." Ujar Rani terkejut melihat penampakan Yusuf, Yusuf hanya cengar cengir.
"Kak Yusuf kok ada disini?..."
"Jalan jalan."
"Bukan itu maksud ku."
"Aku dapat tawaran kerja di sini. Gajinya lebih menjanjikan dari pada di Surabaya. Sekalian cari jodoh." Ucap Yusuf seraya menaik turunkan alisnya.
"Masih jadi pelatih ilmu bela diri?..."
"Iya..."
"Oh, jadi sekarang kak Yusuf tinggal di Jakarta dong..."
"Yapz..."
"Wah, senangnya... Akhirnya aku punya kerabat di Jakarta."
__ADS_1
"Kamu senang aku ada di sini?..."
"Iya, tapi aku juga kecewa sama kakak, kenapa Kakak nggak hadir di acara pernikahan aku, paman saja ikut."
"Aku sibuk..." Jawab Yusuf, nyatanya dia Sibuk menata hati, Rani sama sekali tidak pernah menyadari perasaan Yusuf yang sesungguhnya padanya. Yang Rani tau Yusuf adalah kakak sepupu yang selalu memanjakannya sejak kecil.
Pada kenyataannya Yusuf tidak bisa menghadiri pernikahannya karena tidak sanggup melihat Iqbal bersanding dengan Rani.
Rani menganggap kecemburuan Iqbal pada Yusuf itu tidak beralasan karena mereka bersaudara. Beberapa kali Rani menjelaskan pada Iqbal jika Yusuf hanyalah kakak sepupu Rani, mereka tidak pernah pacaran. Tapi setiap penjelasan Rani selalu membuat Iqbal marah, maka dari itu Rani sudah tidak mau lagi membahas masalah Yusuf di hadapan Iqbal.
Yusuf datang ke kampung Nelayan memberanikan diri, berniat meminta restu pada bapak angkatnya untuk mempersunting Rani sebab dia sudah tidak sanggup membendung perasaan yang selama ini dia pendam.
Jika Bapak angkatnya merestui maka Yusuf akan mulai mendekati Rani dan mengutarakan isi hatinya selama ini. Namun takdir berkata lain, belum sempat Yusuf bertemu dengan Bapak angkatnya, dia sudah di kejutkan dengan berita yang di kirim Nabila padanya bahwa Iqbal sudah menghamili Rani.
Emosi Yusuf membuncah, dia tidak bisa mengendalikan diri. Maka dari itu tanpa perhitungan dia langsung menyerang Iqbal.
"Kakak Iih lebih mementingkan pekerjaan ketimbang persaudaraan."
"Bukannya begitu, kamu tahu sendiri kan suamimu itu seperti apa. Sejak pertama kali bertemu dia sudah mengibarkan bendera perang padaku..."
"Iya sih, maaf ya kak. Kata Nabila kalian sempat..." Rani melirik Nadine tidak jadi melanjutkan ucapannya.
"Maaf, karena aku emosi jadi tidak bisa mengendalikan diri."
"Padahal aku pengen kalian akur."
"Sudah lah, itu hal yang tidak mungkin."
Tiba tiba Yusuf merangkul bahu Rani, kebiasaan yang dia lakukan sejak masih kecil. Namun Rani segera menyingkirkan tangan Yusuf dari bahunya.
"Maaf, lupa kalau kamu sudah jadi milik orang lain. Hehehehe..." Yusuf melihat ke arah Nadine yang melihat lantai dasar dan sesekali memperhatikan Rani dan Yusuf."Dia siapa?... Kenalin dong..."
"Kan aku udah bilang, mau cari jodoh di Jakarta. Siapa tahu cocok. Aku serius pengen nikah." Ujar Yusuf Sedikit berbisik ke telinga Rani, Rani pun perlahan menghindar.
"Nadine." Ucap Rani.
"Iya kak." Nadine berbalik melihat Rani.
"Kenalin ini kakakku Yusuf. Kak kenalin ini Nadine teman baruku."
"Hy...Aku Yusuf." Yusuf menjulurkan tangannya tapi Nadine malah melambaikan tangan sambil tersenyum manis, dia enggan menjabat tangan Yusuf.
"Nadine."
"Wah, ternyata kamu gadis yang menarik ya." Yusuf kembali menarik tangannya karena sedikit malu.
"Boleh dong minta nomor hpnya."
"Maaf kak, aku nggak punya Hp..."
"Wah sayang sekali ya... Ran, aku minta nomor wa mu ya. Soalnya wa mu yang dulu sudah tidak aktif." Ucap Yusuf. Rani tidak menjawab, dia sedikit ragu sebab takut Iqbal mengamuk.
"Nanti kalau Nadine sudah punya Hp aku bisa minta langsung ke kamu." Lanjut Yusuf, setelah sedetik berpikir Rani pun akhirnya memberikan nomor wa nya. Tak enak hati sebab Rani sudah menganggap Yusuf seperti saudaranya sendiri. Terlebih Yusuf selalu baik padanya selama ini.
Yusuf melihat Iqbal baru saja keluar dari persimpangan pintu dan berjalan sambil mengetik sesuatu di Hpnya.
__ADS_1
"Aku balik duluan Ran." Yusuf memutuskan segera pergi sebab tidak ingin terjadi keributan.
"Iya kak..."
"By Nadine." Yusuf pergi seraya melambaikan tangannya dan tersenyum. Dengan langkah cepat ia segera berbelok di persimpangan koridor.
"Ran..." Hati Rani mencelos saat mendengar suara Iqbal dari belakang.
"Eh, em em..." Rani kebingungan.
"Udah lama nunggu..."
"Eh, lumayan."
"Kenapa gugup begitu."
"Emmm tidak apa-apa... Ayuk cari perlengkapan bayi..."
"Tunggu Zain sebentar."
"Itu Zain." Rani menunjuk Zain yang baru muncul. Rani berjalan menggandeng lengan Iqbal.
"Kok lama kak, ngapain aja di dalam." Zain dan Nadine berjalan mengikuti Iqbal dan Rani.
"Anak kecil tidak perlu tahu urusan orang dewasa." Jawab Zain.
"Aku sudah kuliah, bukan anak TK lagi." Jawab Nadine ketus seraya mengerucutkan bibir.
Setelah sampai di depan lift, Iqbal menekan tombol lift di L. 4, beruntung lift sepi tak terlalu banyak yang mengantri. Mengingat kejadian tadi Iqbal memutuskan menaiki lift.
Setelah beberapa saat pintu lift terbuka, sudah ada 3 orang pria di dalamnya. Cukup sesak setelah di masuki Rani, Iqbal, Zain dan Nadine serta beberapa orang yang ikut mengantri masuk.
Iqbal segera menarik Rani ke samping tepat di sudut lift, melindungi tubuhnya agar tidak berhimpitan dengan pria lain.
"Terimakasih." Ucap Rani.
"Sudah tugasku." Jawab Iqbal.
Zain pun melakukan hal yang sama pada Nadine seperti yang dilakukan Iqbal pada Rani. Melindungi wanitanya dari pria lain.
"Berdiri di sampingku." Ucap Zain.
"Udah dari tadi keles. Sok romantis deh." Jawab Nadine sewot.
"Pengantin baru ya..." Ucap seorang ibu yang usianya sekitar setengah abad.
"Jangan sampai bu, dia galak." Jawab Nadine.
"Jangan berisik." Ucap Zain.
"Iya suamiku." Sahut Nadine. Zain hanya menghela nafas sambil menggelengkan kepala.
"Pasti karena perjodohan makanya nggak akur." Ucap Ibu tua itu lagi.
"Ibu udah." Ucap putra dari ibu itu.
__ADS_1
***
SELAMAT MENIKMATI