
Ada notifikasi pesan masuk di Hp Rani, rupanya itu dari Yusuf. Selama satu jam lebih Rani dan Yusuf chatting, saling bertukar pesan. Saling bertanya kabar masing-masing.
Yusuf menanyakan keadaan Rani dan juga banyak bertanya tentang Nadine.
"Zain, Yusuf masih mengganggu Istriku. Apa kau bisa mengurusnya?..." Tanpa sepengetahuan Rani, Iqbal sudah menyadap Hpnya.
"Bisa Tuan." Jawab Zain. Iqbal menghempaskan nafas kasar, karena rasa cemburunya yang terlalu berlebihan.
"Pastikan dia tidak menghubungi Istriku lagi."
***
Keesokan harinya, mata Iqbal fokus menatap layar laptopnya membaca setiap kata demi kata agar tidak ada kesalahan. HP Iqbal berdering, dilihatnya HP itu di atas meja kerjanya terdapat panggilan telepon dari Rani. Iqbal mengulas senyum dan segera meraih hp-nya.
"Hallo..." Ucap Iqbal.
"Kamu lagi ngapain?..."
"Lagi duduk."
"Iiiiiihhhhh, masak cuma duduk doang. Ngapain kek gitu?..."
"Aku sedang bekerja?..."
"Aku ganggu nggak?..."
"Aku suka kalau kamu yang ganggu."
"Iih gombal."
"Ada apa menelpon ku?..."
"Kangen." Iqbal tersenyum mendengar alasan Rani.
"Sudah makan belum?..." Ucap Iqbal.
"Sudah."
"Susunya sudah di minum?..."
"Sudah juga."
"Sekarang lagi ngapain?..."
"Lagi di dapur, masak makanan yang istimewa untuk kamu."
"Aku sudah melarangmu memasak kenapa masih memasak?'' protes Iqbal dengan nada sedikit gusar.
"Aku lagi pengen buatin kamu makanan yang istimewa, nanti jangan lembur, langsung pulang. Ku tunggu di rumah. By... Tut,Tut,Tut..." Rani menutup panggilannya Sebelum Iqbal menyanggah ucapannya. Suara Iqbal masih mengambang di udara belum sempat mengutarakan isi pikirannya.
Rani mendapat notifikasi pesan dari Iqbal yang isinya. "Hati hati dalam bekerja. Kalau capek istirahat, suruh ART saja yang masak." Rani mengulas senyum melihat perhatian dari Iqbal.
"Heemmm bahasanya dalam bekerja, kaku banget."
Dengan hati riang gembira Rani mulai meracik bahan makanan di dapur, membayangkan wajah bahagia Iqbal saat menikmati makanan olahan dari tangan Rani.
__ADS_1
***
Saat jarum jam pendek menunjuk pada angka 4, Rani mulai memasuki kamar mandi. Dia berlama-lama di dalam bathtub, menenggelamkan tubuhnya di bawah limpahan busa dengan aroma mawar, aroma sensasional yang sangat di sukai Iqbal.
Tepat pukul 5 sore Iqbal sampai di rumahnya dengan perut yang masih kosong sebab dia Ingin merasakan masakan istri tercintanya.
Pandangannya fokus menuju kamar Rani, dia terus melangkah dengan satu tangan yang menenteng tas kerjanya.
Saat membuka pintu kamar, mata Iqbal langsung tertuju pada Rani yang sedang mengeringkan rambutnya dengan hair dryer, dia duduk di depan cermin dan masih menggunakan kimono handuk. Senyum langsung mengembang dari bibir seksinya.
Iqbal menghampiri Rani, memegang pundaknya setelah meletakkan tasnya ke atas ranjang lalu mengecup puncak kepala Rani.
"Sudah pulang..."
"Heemmmm... Rambutmu harum. Aku suka." Iqbal mengambil alih hair dryer dari tangan Rani dan membantu mengeringkan rambut Rani.
"Sudah aku bisa sendiri, kamu mandi dulu sana. Terus kita makan."
"Kamu belum makan?..."
"Udah tadi tapi sedikit soalnya lagi pengen makan sama kamu." Rani bangkit dari tempat duduknya dan berbalik, mengalungkan kedua tangannya ke leher Iqbal lalu mengecup bibir itu sekilas.
"Kamu pasti capek, sekarang kamu mandi terus kita makan bersama." Iqbal sama sekali tidak mendengarkan tutur kata Rani, tangannya malah fokus mengusap bibir yang sejak tadi buka tutup...
"Aku sudah siapkan ma....Heeemmmm...." Setelah puas memberikan kenikmatan satu sama lain Rani melepaskan pagutan bibir mereka. Namun Iqbal masih mengejarnya dan mendorong Rani ke atas ranjang perlahan. Meminta lebih dari sekedar bibir yang terasa manis, membuat Rani berulang kali melenguh.
Rani mendorong dada Iqbal lebih kuat hingga Rani terlepas dari kunjungannya.
"Iqbal udaaahhh..." Ujar Rani lirih dengan suara parau, Iqbal mulai tersadar menatap mata Rani yang sayu dengan matanya yang sudah gelap karena gelora hasrat yang sudah lama terkungkung, deru nafas berat saling terasa karena terbuai oleh sentuhan yang saling bergesekan.
Iqbal terduduk di sisi ranjang kemudian menatap Rani dan tersenyum.
Iqbal berdiri, membuka jasnya dan melemparkannya ke atas ranjang. Rani pun bangkit membantu Iqbal membuka kancing kemeja putih yang suaminya kenakan.
"Udah mandi sana." Ucap Rani.
"Iya." Sebelum pergi ke kamar mandi, Iqbal mencium kening Rani dahulu. Rani tersenyum melihat punggung Iqbal kemudian memunguti pakaian Iqbal dan membawa ke ruang ganti lalu memasukkannya ke keranjang baju kotor.
Rani membuka lemari mengambil handuk dan baju ganti untuk Iqbal, lengkap dengan pakaian dalamnya. Setelah meletakkan pakaian bersih ke atas ranjang, Rani berjalan menuju kamar mandi.
"Iqbal, ini handuknya." Rani mengetuk pintu. Tangan dan kepala Iqbal yang penuh busa muncul di sela pintu yang sedikit terbuka.
"Mana?..." Ujar Iqbal dengan mata tertutup karena penuh dengan busa. Membuat Rani tersenyum lucu.
"Nih..." Setelah menerima handuk, Iqbal segera masuk dan menutup pintunya kembali.
***
"Mau kemana?..." Ucap Iqbal saat Rani beranjak dari tempat tidur.
"Mau ke dapur." Iqbal hanya mengangguk tanda mengerti.
Iqbal kembali memasang pakaiannya setelah Rani keluar dari kamar. Setelah selesai mengenakan pakaiannya, dia keluar dari kamar untuk menghampiri Rani ke dapur.
"Aaakkkkhhhhh ... Iqbaaaal..." Teriakan Rani menggema, suaranya berasal dari dapur.
__ADS_1
"Rani." Iqbal berlari menuju dapur, dia begitu syok saat melihat Rani terduduk di atas lantai dan banyak darah segar di sekitar pahanya dan lantai. Sandal yang Rani kenakan juga tergeletak jauh dari kaki Rani. Rani meringis kesakitan dengan wajah yang pucat, tangan memegangi perutnya yang sakitnya terasa luar biasa, air mata mengalir di pipi mulusnya.
Iqbal berlari merengkuh tubuh Rani. "Kamu kenapa Ran?..."
"Aku jatuh Iqbal... Hikzzz.... Sakit...." Dengan tangan kokohnya yang gemetaran Iqbal langsung menggendong Rani dan membawanya keluar dari dapur.
"Cepat siapkan mobil." Iqbal berteriak teriak sambil menggendong Rani.
"Iqbal, anak kita... Selamat kan anak kita..." Rani menangis di gendongan Iqbal.
"Semua akan baik-baik saja." Iqbal memasukkan Rani ke dalam mobil, kaos putihnya sudah berlumuran dengan darah.
Iqbal mendekap Rani, membenamkan pipinya ke dadanya yang terasa hangat. Sesekali Iqbal mengusap keringat yang mengucur di dahi dan wajah Rani.
"Iqbal sakit, aku nggak kuat..." Rani menangis sambil memegang erat tangan Iqbal, berharap bisa mengurangi rasa sakitnya.
"Tahan sayang, kamu harus kuat." Iqbal ikut meneteskan air mata, seolah dia bisa merasakan rasa sakit yang di rasakan oleh Rani.
"Sakiiiiit....Hikzz.... Aku takut..." Rani terus menangis karena kesakitan.
"Perbanyak istighfar, semua akan baik-baik saja. Aku akan selalu ada untukmu." Iqbal berusaha menenangkan Rani walaupun dirinya sendiri juga sangat cemas dan takut.
***
"Kami harus melakukan tindakan secepatnya. Operasi cesar harus segera di lakukan untuk menyelamatkan nyawa bayi dalam kandungan. Sebab Nyonya Rani mengalami pecah ketuban akibat benturan keras saat kecelakaan tersebut. Jika tidak segera di lakukan operasi maka nyawa ibu dan bayinya dalam bahaya." Ucap dokter yang menangani kasus Rani.
"Lakukan apapun, lakukan yang terbaik untuk anak dan istriku." Ucap Iqbal dengan suara bergetar, Iqbal terlihat gusar takut, takut akan Kehilangan Rani dan anaknya.
Setelah mengisi formulir informed consent dan menandatanganinya, Iqbal menyerahkannya pada perawat yang berdiri di samping dokter tersebut.
"Setelah menandatangani berkas ini, pihak rumah sakit tidak akan bertanggung jawab jika terja...."
"Jangan banyak bicara, segera lakukan apa yang harus dilakukan." Ucap Iqbal dengan suara meninggi.
Iqbal terlihat gusar, dia mondar-mandir. Berjalan kesana kemari sambil memijat keningnya. Dia sangat gelisah dan khawatir, berulang kali dia menghela nafas berat untuk mengurangi sedikit kecemasannya.
Zain muncul, dia berjalan dengan langkah tergesa menghampiri Iqbal.
"Tuan bagaimana?..."
"Entah lah...." Iqbal menjambak rambutnya karena stress. Dia kemudian duduk di kursi tunggu dengan wajah menunduk dan masih menjambak rambutnya sendiri, Zain ikut duduk dan memegang bahu Iqbal seolah sedang memberikan kekuatan pada Iqbal.
"Anda harus tenang dan kuat. Jika anda rapuh
lalu siapa yang akan menjaga Nona Rani." Zain menasehati. Kehadiran Zain sedikit mengurangi rasa khawatirnya.
"Terimakasih karena selalu ada untukku."
Beberapa saat kemudian...
"Hooeeeekk, hooeeeekk hooeeeekk hooeeeekk...." Iqbal mendongak, terasa ada angin segar di tengah gundah yang ia rasakan saat mendengar suara tangis bayi...
"Zain.... Anakku..." Iqbal terlihat sangat bahagia, hatinya terasa lega. Dia seperti menemukan oase di tengah gurun pasir saat mendengar tangisan bayi.
***
__ADS_1
Author...
Fokus sama Rani dan Iqbal dulu ya.... Bentar lagi tamat, ganti Cerita Zain dan Nadine.