
"Kenapa senyum senyum terus?..."
"Emang kenapa?... Nggak boleh." Sahut Rani sambil terus mengaduk susunya. Bukannya menjawab, Iqbal malah ikut tersenyum.
"Kamu kayak pak dokter..."
"Hahahaha, iya dokter cinta." Rani pun ikut tertawa.
"Sudah dingin, di minum dulu susunya."
"Baca doa dulu." Ucap Iqbal saat Rani hendak meminum susunya.
"Sudah."
"Mana? Aku nggak dengar?..."
"Sudah dalam hati." Jawab Rani sambil tersenyum, Iqbal kembali tertawa. Rani pun meminum susunya.
"Awas tersedak loh."
"Uhuuukkk Uhuuukkk Uhuuukkk..." Rani tersedak, Iqbal pun menepuk nepuk punggung Rani.
"Ehem." Ridwan Paman Rani berdehem saat melihat Rani dan Iqbal berduaan bersenda gurau.
"Eh paman." Ucap Rani.
"Aku haus, ingin minum."
"Biar saya yang ambil." Sahut Iqbal. Dia bergegas pergi, mengambil air mineral dan menyerahkannya pada Ridwan.
"Sudah malam, segera habiskan susunya. Setelah itu ku antar ke kamar."
"Iya..." Rani meneguk susunya hingga tandas.
"Sudah habis. Yuk..." Iqbal pun beranjak mengantarkan Rani ke kamarnya sambil mengobrol.
"Apa kau tidak merasa berat membawa dia kemana-mana?..."
"Ini?..." Rani menunjuk perutnya. Iqbal pun mengangguk.
"Biasa aja sih rasanya."
"Benarkah?..."
"Hanya saja untuk bergerak dan tidur kurang leluasa."
"Biasanya perempuan hamil sering sakit dan minta yang aneh-aneh, tapi ku perhatikan kau terlihat biasa saja."
"Iya sekarang biasa saja. Tapi pas awal-awal kehamilan aku sering muntah dan pusing. Kayak orang masuk angin begitu."
"Kalau sekarang?..."
__ADS_1
"Kalau sekarang hanya sering pipis dan punggung rasanya kaku gitu."
"Apa perlu di urut?..."
"Kapan kapan aja sih pengen di urut tapi punggungnya aja, kalau perutnya jangan. Nggak boleh sama dokter." Iqbal mengangguk mendengar penjelasan Rani.
"Memangnya kenapa?..." Lanjut Rani.
"Aku Ingin melihat mu ngidam. Dan meminta sesuatu yang aneh padaku, seperti ibu hamil pada umumnya. Aku Ingin melakukan sesuatu untuk mu dan untuk anakku. Pasti sangat menyenangkan jika anakku minta sesuatu padaku. Bahkan waktu itu kau ngidam masakan Zain bukan masakan ku." Rani berusaha menahan tawa dengan menutup mulutnya mendengar penuturan Iqbal.
"Marah nggak ya kalau aku jujur, wah jangan lah dia sedang terlihat manis aku tidak mau dia mengamuk....Hahaha rupanya dia masih cemburu pada Zain tapi Iqbal terlihat menggemaskan saat sedang cemburu, takyuuut."
"Jangan mentertawakan ku, itu tidak lucu."
"Apa! Aku tidak sedang mentertawakan mu." Ucap Rani masih dengan tawanya.
"Itu masih tertawa."
"Hello Iqbal.... Harus kah aku menangis."
"Kamu itu jangan galak galak, ntar anak mu ikutan galak...Eh... Iiiiiihhhhh amit amit amit amit jabang bayi, semoga anakku nggak galak kayak bapaknya." Ucap Rani yang geli sambil mengusap ngusap perutnya, membayangkan anaknya galak seperti Iqbal.
"Aaaaahhhh...." Rani berteriak saat Iqbal menarik hidungnya.
"Baru sebentar di manja, udah berani ya sama calon suami."
"Iya iya... Sudah sampai, sana pergi." Ucap Rani mendorong Iqbal menjauh.
"Ok." Rani mengangguk dan memasuki kamar, lalu menutup pintunya.
"Tapi aku masih rindu dengan Iqbal, tidak apa-apa kan meski cuma lihat punggungnya dari belakang." Rani menggerutu dalam hati, dengan perlahan dia membuka pintu dan melihat ke arah koridor yang mengarah pada kamar Iqbal.
"Kok nggak ada sih." Gerutu Rani.
"Kenapa keluar lagi?..." Rani terperanjat saat mendengar suara Iqbal yang bersandar di dinding yang membelakangi Rani.
"Kenapa kamu belum pergi?..."
"Aku hanya ingin memastikan kamu benar benar masuk kamar... Kenapa masih berdiri?... cepat sana masuk."
"Kenapa jadi kayak ABG gini sih?... Tapi kenapa mendadak benar benar pengen liat punggung Iqbal sih?..."
"Hey..." Iqbal melambaikan tangannya di depan wajah Rani. Membuat Rani salah tingkah.
"Kamu pergi duluan sana nanti aku masuk setelah kamu pergi."
"Kenapa?..."
"Aku Ingin lihat punggung kamu dari belakang saat pergi." Ucap Rani sungguh sungguh namun dengan wajah merah merona karena malu.
"Aneh.... Apa itu termasuk ngidam?..."
__ADS_1
"Mungkin..."
"Baiklah..." Iqbal pun pergi setelah mengusap lembut rambut Rani. Rani terus memandangi punggung Iqbal yang sesekali masih melihat ke belakang untuk tersenyum, kini dia kian menjauh Hingga menghilang di balik pintu.
"Aneh nggak sih keinginan ku?..."
***
Hari yang di tunggu tunggu akhirnya tiba.
Akad nikah Iqbal dan Rani yang di selenggarakan dengan sederhana di kediaman Iqbal, hanya di hadiri oleh beberapa saksi, wali, penghulu dan keluarga inti.
Iqbal terlihat tampan dan berkharisma dengan balutan jas berwarna hitam, kemeja putih di dalamnya dan peci yang menutupi rambutnya, biasanya juga tampan namun kini auranya berbeda dari biasanya. Dia sudah duduk di depan penghulu dengan hati yang bertalu-talu, jantungnya berdegup kencang seperti beduk yang di pukuli.
Rani memasuki ruangan bersama dengan Nabila dan Ibunya. Dengan balutan kebaya berwarna putih tulang yang di penuhi payet dan riasan pengantin modern, dia terlihat sangat cantik dan elegan. Kecantikannya akan membuat siapa saja yang memandang terpesona. Dia duduk di tempat yang sudah di sediakan, dia hanya bisa melihat Iqbal dari belakang. Melihat punggung Iqbal yang memakai Jas berwarna hitam membuat hatinya berdesir.
Kini saat-saat Ijab kabul akan di mulai, melihat Iqbal menjabat tangan Ridwan hati Rani bergemuruh. Air mata mulai menetes, dia sangat gugup, jantungnya terasa mencelos ingin keluar.
Mengingat mendiang bapaknya yang di wakilkan oleh pamannya, apalagi Rani menikah dalam keadaan seperti ini, membuat air mata yang keluar semakin deras. Kini bukan hanya Rani, Ibu Narsih pun ikut meneteskan air mata.
Nabila yang terlihat lebih tegar segera mengusap air mata Rani agar tidak merusak riasannya.
Tangan Iqbal dan Ridwan sama sama basah karena keringat dingin, namun jabatan kuat dari Ridwan sedikit mampu memberikan ketenangan.
"Saudara Muhammad Iqbal bin Musthofa , saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan keponakan saya yang bernama Rani Maulidya Binti Muhannan Mukafi dengan mas kawin beruba uang Rp2.000.000.000, Kalung Emas 25 gram dan seperangkat alat sholat, tunai."
"Saya terima nikahnya dan kawinnya Rani Maulidya Binti Muhannan Mukafi dengan mas kawin tersebut, Tunai."
"Sah." Ucap para saksi serempak.
Semua yang hadir berdoa lalu berucap syukur dengan nafas lega atas kelancaran Ijab kabul.
Rani dan Iqbal sama sama lega, namun ini bukan akhir dari segalanya tapi proses dalam ibadah yang panjang bahkan bisa sampai maut memisahkan.
Beberapa saat kemudian penghulu datang dari arah belakang Iqbal dengan membawa buku dengan sampul berwarna merah dan hijau dengan gambar Garuda besar di depannya, hampir memenuhi isi sampul.
"Tanda tangan di sini." Ucap pak penghulu, menunjukkan tempat pengisian tangan tangan. Iqbal tersenyum samar saat melihat sudah ada tanda tangan Rani di sana. Sekarang dia sudah benar benar menjadi seorang suami. Tidak menunggu waktu lama lagi, Iqbal pun menandatangani buku nikah itu.
Setelah itu para tamu undangan satu persatu mengelilingi Iqbal mengucapkan selamat padanya.
Matanya melihat sosok Rani yang tampil begitu cantik, tak henti hentinya dia memandang. Sejak tadi Rani memandanginya namun saat ketahuan mencuri pandang, ia malah menunduk malu tak mampu membalas tatapan Iqbal. Entah karena apa, suasana menjadi canggung.
"Tuan selamat ya..." Ucap Zain seraya memeluk Iqbal, dia tidak bisa menahan kebahagiaan atas pernikahan Iqbal. Baginya Iqbal adalah saudara, dia tidak memiliki siapa pun selain dirinya.
"Jangan menangis. Malu di lihat orang." Iqbal menepuk nepuk punggung Zain.
"Iya Tuan." Akhirnya Zain melepaskankan pelukannya dan segera menghapus air matanya.
"Menikah lah... Agar kau tidak lagi kesepian." Zain hanya menunduk mendengar ucapan Iqbal.
Iqbal menghampiri Bu Narsih dan mencium telapak tangannya kemudian mencium punggung tangannya. Rani yang grogi sejak tadi hanya menautkan tangannya, memainkan jemarinya.
__ADS_1