
"Korban perasaan gimana?..."
"Di tinggal pas lagi sayang sayangnya."
"Jangan berbelit-belit dong Iqbal, ayo cerita."
FLASH BACK ON
Zain dan Riska sama-sama anak perantauan. Rista ngekos di kos kosan putri tak jauh dari kos kosan putra yang di tinggali Zain, kebetulan kos kosannya itu bebas untuk siapapun tamu yang berkunjung.
Riska dan Zain saling mencintai, namun hubungan antara laki-laki dan perempuan bukan hanya tentang cinta bukan, tapi juga kontak fisik. Kata Cinta hanyalah ungkapan dari hati yang tersampaikan lewat lisan. Tapi bagi Zain, saling merindukan pun itu sudah di katakan berpacaran bukan melulu bersentuhan.
Zain mencintai gadis yang merindukan belaian seorang pria, sebab Riska tak mendapatkan semua itu dari Zain. Riska ingin berpacaran seperti gaya pacaran anak muda pada umumnya. Tapi Zain yang mencintai Riska selalu berusaha untuk menjaga kehormatan dan menasehati Riska.
Pada suatu hari Zain sudah membeli cincin dan mempersiapkan segalanya, Zain ingin melamarnya dan menikahinya selain karena cinta, Zain juga ingin melindungi dan memiliki Riska seutuhnya.
Namun sialnya saat Zain berkunjung ke kos kosan Riska, dia melihat sepatu laki laki di depan pintu kamar Riska. Zain yang emosi mendobrak pintu kamar Riska, benar saja Riska menyalurkan hasrat terpendamnya pada laki-laki lain. Zain yang murka melihat adegan percumbuan mereka akhirnya menghajar pemuda tersebut yang merupakan sahabatnya sendiri. Kenapa harus dengan Rangga sahabatnya sendiri, bukan dengan orang lain.
__ADS_1
Karena perkelahian tersebut, perbuatan mesum Riska dan selingkuhannya tepergok oleh warga setempat pada akhirnya para warga memaksa menikahkan Riska dan selingkuhannya. Riska bersikeras menolak sebab ia masih sangat mencintai Zain. Bukan hanya Riska yang menolak Pernikahan itu, selingkuhannya pun menolak sebab mereka hanya sekedar iseng.
Zain pergi dengan hati penuh luka, luka tak berdarah. Hati dan impiannya hancur tak tersisa. Semenjak kejadian itu Zain menutup diri, bersikap dingin pada siapapun, sikapnya yang selalu hangat menguap entah kemana.
Sedangkan Riska sama sekali tidak bahagia dengan pernikahannya, sebab Rangga yang teramat malu karena kejadian itu selalu menyalahkan Riska sebab perbuatan mereka ketahuan warga karena Zain yang mengamuk dan menghajarnya.
Rangga selalu mengamuk dan marah-marah padanya bahkan cenderung bersikap kasar pada Riska, Rangga sering mabuk. Rangga suka sekali bermain wanita dan berjudi. Dia jarang pulang sekalinya pulang dia akan marah-marah jika Riska tak menyambut kedatangannya. Setelah puas marah, Rangga akan menyalurkan hasratnya pada Riska. Riska merasa hari harinya bagaikan neraka. Namun meski begitu Riska masih meniti karirnya di dunia kedokteran.
Sementara Zain berusaha bangkit, yang ia lakukan hanyalah bekerja keras tanpa kenal lelah. Berharap suatu saat nanti Riska dan Rangga akan mendongak ke atas untuk melihatnya
Di saat ini Riska baru menyadari arti hadirnya Zain dalam hidupnya, pemuda bertanggung jawab yang selalu berusaha memberikan yang terbaik dan selalu memberikan kebahagiaan walaupun dalam bentuk kecil tapi benar benar tulus dari lubuk hatinya. Hari-harinya hanya di penuhi dengan ingatan Zain. Selalu merindukan dan mendambakan kehadiran Zain. Riska sangat menyesali pengkhianatannya pada Zain.
Saat ini Zain, walaupun hidupnya sudah mapan, namum hatinya selalu kesepian dan hampa. Terasa ada yang kurang, sakitnya di khianati masih bersemayam dan membekas di hatinya.
Tidak pernah ada cinta lain selain Riska, cinta yang di selimuti dendam dan kebencian karena cinta Riska begitu sadis menyayat hati. Zain sendiri tidak bisa membedakan antara cinta dan benci, sampai detik ini dia masih mengingat Riska entah karena benci yang teramat besar atau kah Karena cinta.
FLASH BACK OFF
__ADS_1
"Miris banget kisah cintanya Zain, aku baru tahu kalau di balik sikapnya yang dingin tersimpan luka yang begitu besar. Ternyata cinta bukan hanya bisa memberikan kebahagiaan pada seseorang namun juga bisa mencederai hati siapapun, bahkan sampai bertahun-tahun. Cinta itu aneh bin ajaib, tak terlihat tapi tajamnya melebihi tajamnya pedang, dampaknya sangat dahsyat." Rani mendongak ke atas demi bisa melihat wajah Iqbal yang tersenyum mendengar perkataan Rani.
"Kenapa melihatku seperti itu?..." Ucap Iqbal seraya mengerutkan alisnya.
"Mirip sama kisah cintamu dan Alyn. Di tinggal nikah pas lagi sayang sayangnya." Iqbal malah tersenyum jahil melihat Rani.
"Kami berbeda. Zain hanya punya satu wanita tanpa cadangan, sedangkan aku memiliki ban cadangan dan untungnya bukan ban bekas." Iqbal berusaha menahan tawa.
"Iiiiiihhhhh nyebelin, nyebelin, nyebelin, nyebelin, ngeselin... Masak aku di samain sama ban cadangan. Nggak banget deh perumpamaan nya." Rani memukuli lengan Iqbal karena kesal.
"Hahahaha..." Iqbal malah mentertawakan Rani."Lalu kamu mau di samakan dengan apa?... Rembulan?... Bulan itu gelap dan banyak lubangnya dari dekat. Wajah mu kan mulus tanpa jerawat."
"Apa kek, mawar gitu dan bukan ban serep..." Ucap Rani dengan wajah bersungut-sungut.
"Kamu tidak mirip dengan mawar, mawar itu berduri. Sedangkan kamu yang sudah membuang duri dalam hidupku. Kamu itu lebih cocok di umpakan dengan ban serep, selalu ada saat orang saat orang kesulitan di tengah jalan, walaupun sepele tapi ban serep sangat besar manfaatnya sama seperti dirimu. Benar kan!!..."
"Iiiiiihhhhh ngeselin."
__ADS_1
"Sudah jangan berisik, ini kita udah sampai di ruang ob-gyn." Iqbal merangkul Rani, kemudian membawanya memasuki ruangan ob-gyn sebab dia sudah membuat janji.