
Rani menyingkap selimutnya, dia turun dari ranjang. Dia melihat bercak darah diranjangnya, hal itu membuatnya semakin menangis sedih, dia sudah benar-benar tidak Suci lagi. Kehormatanya sudah direnggut.
Rani berjalan dengan langkah gontai karena area intinya sangat sakit dan badannya juga remuk redam dia. Dia berjalan memasuki kamar mandi dan menyalakan keran.
Rani menangis di bawah guyuran air shower, dia merosot duduk memeluk dirinya sendiri, dengan lutut yang ditekuk.
Rani menangis sejadi-jadinya di dalam kamar mandi. Dia terus menggosok semua tanda merah yang melekat di tubuhnya dengan kasar. Dia menggosok tubuhnya seolah sedang menggosok noda yang sulit untuk dibersihkan.
Dia begitu jijik dengan dirinya sendiri saat membayangkan Heru mencumbunya. Semakin digosok tanda merah itu bukannya hilang tapi malah semakin melebar.
Rani menyesali kecerobohannya, mengundang tamu laki-laki di malam hari hanya berdua di dalam rumah. Rani sangat bodoh, bisa-bisanya dia memakan makanan pemberian dari Heru tanpa ada rasa curiga sedikitpun.
***
Rani meringkuk di bawah selimut, tak henti hentinya dia menangis. Menangis sama sekali tidak mengurangi rasa sakit hati di dadanya. Dadanya masih terasa sesak, mengambil nafas pun rasanya sulit. Hatinya masih begitu sakit, bagai ditusuk belati, luka namun tak berdarah.
"Aku sangat malu pada Iqbal. Bagaimana jika Iqbal tahu aku sudah tidak Suci lagi? Apakah dia masih mau menerimaku yang sudah kotor ini?"
"Aku sangat mencintai Iqbal. Tapi tubuhku sudah kotor, aku sendiri jijik dengan diriku, apalagi Iqbal. Aku tidak pantas untuk Iqbal. Tubuhku sudah kotor, aku kotor, aku sudah tidak Suci lagi, aku sudah tidak layak untuk Iqbal."
"Apa yang akan Iqbal katakan padaku? Jika dia tahu apa yang sudah Heru lakukan padaku? Dia pasti akan hancur, dia pasti akan kecewa. Bisa jadi dia juga akan membunuhku dan Heru"
***
Rani keluar dari kamarnya dengan menyeret koper. Dia melihat Iqbal yang tidur di sofa ruang tamu. Rani menghampiri Iqbal dan menatap wajah Iqbal lekat-lekat.
"Maafkan aku yang tak bisa menjaga kesucian ku untukmu Iqbal, aku sangat mencintaimu." Rani bergumam dalam hati. Rani mengambil pena dan menulis surat untuk Iqbal lalu ia letakkan surat itu di atas meja.
Rani mengecup kening Iqbal kemudian pergi dengan menyeret koper, meninggalkan Iqbal yang masih terlelap di atas sofa dengan membawa segunung beban lara di hati.
***
Rani menaiki taksi online yang dia pesan. Di dalam taksi air mata masih terus mengalir di pipi mulusnya. Sesekali Rani menghapus air matanya, sopir taksi sesekali melihat Rani dari kaca mobil tapi dia sungkan untuk menanyakan kepada Rani perihal Kenapa ia menangis.
Rani menggunakan masker sebelum turun dari taksi online. Rani memilih penerbangan ke Bali. Rani ingin menenangkan diri untuk sementara waktu di pulau dewata itu.
__ADS_1
Selama di penerbangan,Rani hanya memejamkan mata namun tak bisa benar-benar tertidur.
***
Iqbal mulai menggeliat dan membuka mata, dia menghela nafas berat. Kemudian duduk sejenak untuk menjernihkan pikirannya. Lalu dia berjalan ke arah kamar Rani, Iqbal terkejut saat melihat Rani sudah tidak ada di atas ranjangnya, Iqbal mencari Rani ke dalam kamar mandi tapi Rani tetap tidak ada.
"RANI.....RANI..... RANI....RANI....RAN KAU DI MANA?" Iqbal berteriak sambil berjalan kesana kemari mencari keberadaan Rani.
"Rani jawab aku."
Iqbal mencari di setiap penjuru ruangan. Tapi semua tempat kosong. Iqbal begitu khawatir, dia tahu keadaan Rani sekarang sedang tidak baik-baik saja, atas apa yang sudah menimpa dirinya.
Iqbal berjalan kearah ruang tamu, dia melihat sepucuk surat di atas meja. Iqbal mengambilnya dan membaca surat itu.
"Iqbal aku butuh refreshing, tolong jangan cari aku dan jangan hubungi aku dulu, aku masih ingin sendiri. Sampai batas waktu yang tidak ditentukan." Isi surat Rani yang terdapat 2 tetes air mata di surat itu.
"Rani pasti masih marah padaku, dia pasti kecewa dengan apa yang sudah aku lakukan padanya. Kesalahanku benar-benar fatal dan sulit untuk dimaafkan."
"Seharusnya semalam aku bisa menahan diri dan memanggil dokter untuk menghilangkan efek dari obat perangsang itu dan bukan malah meniduri Rani. Karena cemburu aku lepas kendali. Dan melampiaskan amarahku padanya." Iqbal sangat menyesali apa yang sudah dilakukannya pada Rani. Sebab apa yang sudah dilakukannya pasti begitu menyakiti hati Rani.
***
Rani memesan kamar di hotel kemudian resepsionis memberikan Rani kunci kamar dan nomor kamar. Rani berjalan menuju ke kamar yang ia pesan, diantar oleh pelayan hotel ke nomor kamar 3034.
"Ini." Rani memberikan tip/uang untuk pelayan yang mengantarkannya.
"Terima kasih Nona."Ucap pelayan itu sambil menunduk hormat pada Rani.
"Iya sama-sama."
"Jika Anda membutuhkan sesuatu anda bisa menghubungi operator telepon hotel ini."
"Baik."
"kalau begitu saya permisi Nona."
__ADS_1
Rani memasuki kamarnya, dia mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru kamar. Kamar Rani memiliki balkon yang menghadap ke arah laut. Rani yang begitu lelah setelah melakukan perjalanan jauh, langsung merebahkan tubuhnya di atas ranjang.
Matanya terus menerawang langit langit kamar. Air mata kembali meluncur setitik di sudut matanya. Dia bingung apa yang akan dia lakukan selanjutnya. Apakah dia harus jujur pada Iqbal tentang apa yang sudah dilakukan Heru padanya atau Rani diam saja seolah-olah tidak pernah terjadi apapun padanya.
Rani sendiri bingung bagaimana reaksi Iqbal jika Iqbal tahu dia telah dilecehkan oleh Heru. Sebab Rani tidak pernah bisa menebak jalan pikiran Iqbal yang selalu berubah-ubah, Kadang baik, kadang lembut, kadang tegas, kadang ganas, Rani sendiri heran kenapa dia bisa mencintai orang seperti Iqbal.
"Apa yang akan dilakukannya jika dia mengetahui bahwa aku sudah!..." Rani tak bisa melanjutkan kata-katanya, dia terlalu berat menyebutkan kata dilecehkan apalagi menyebut nama Heru.
Setelah puas merenung, Rani berjalan ke arah balkon, dia duduk di atas kursi memeluk lututnya sambil memandangi lautan dengan tatapan kosong dan hampa.
***
Tidak lama kemudian Zain menghubungi Iqbal dan memberitahu bahwa anak buahnya telah berhasil melacak keberadaan Rani.
Zain mengirim mata-mata untuk mengawasi setiap kegiatan Rani dan menjaga Rani dari jarak jauh.
Iqbal sedikit lega karena Rani tidak pergi terlalu jauh. Iqbal mencoba mengerti keadaan Rani yang masih ingin sendiri.
***
Satu Minggu kemudian.
Satu minggu mengasingkan diri tak mampu mengurangi rasa gundah di hati Rani, rasa sakit hati dan terpukul atas apa yang sudah dialaminya masih menyelimutinya, padahal hari sudah lama berlalu. Namun keadaan Rani masih tetap sama terpuruknya.
Rani ingin sekali melaporkan Heru ke pihak yang berwajib tapi dia akan sangat malu jika apa yang dialaminya di ketahui masyarakat, apalagi sampai harus disorot kamera wartawan.
***
Iqbal memperhatikan foto-foto dan video kegiatan Rani sehari-hari yang dikirim oleh anak buahnya.
Iqbal dapat melihat jelas kesedihan di raut wajah Rani dalam video itu. Terlihat beberapa kali Rani sedang menangis.
Iqbal semakin merasa bersalah karena sudah membuat kekasih hatinya bersedih.
***
__ADS_1