CINTA GADIS OBAT NYAMUK (Kesucian Yang Ternoda)

CINTA GADIS OBAT NYAMUK (Kesucian Yang Ternoda)
KALUNG WARISAN


__ADS_3

"Kau bahagia?..." Iqbal berbisik ke telinga Rani, alhasil Rani mencubit pinggang Iqbal. Iqbal hanya meringis sambil tersenyum. Jika hanya kata kata saja, takkan mampu menjelaskan seperti apa kebahagiaan Rani saat ini. Yang jelas, bunga di hati Rani saat ini sedang bermekaran, hatinya tak lagi berkarat karena termakan waktu, semua hal yang bahkan tidak pernah berani Rani impikan Kini menjadi nyata.


"Mbak, Ayo foto foto dulu." Ucap Nabila, setelah ramah tamah, sekarang saatnya sesi foto.


"Iya... Ayo Bu." Rani meraih tangan ibunya dan menariknya ke panggung, Iqbal hanya menggelengkan kepalanya lalu menyusul.


Rani beserta seluruh keluarganya foto bersama di kuade yang sederhana yang masih berada di ruangan yang sama, fotografer pun mengambil beberapa foto mereka sekeluarga, Zain pun juga ikut karena Zain satu satunya Keluarga bagi Iqbal, hanya saja Zain selalu menolak jika harus memanggil Iqbal dengan sebutan nama.


Setelah itu beberapa kali fotografer memotret Iqbal dan Rani hanya berdua saja, dia mengarahkan Iqbal agar berpose lebih mesra dengan Rani.


"Kau gugup Ran." Ucap Iqbal lirih tanpa menggerakkan gigi.


"Biasa saja." Jawab Rani tak kalah lirih.


"Bohong, aku bisa mendengar detak jantung mu." Ucap Iqbal yang kini tengah memeluk pinggang Rani dari belakang, sementara Rani menyentuh rahang Iqbal dan tangan satunya lagi memegang tangan Iqbal yang melingkar di pinggangnya.


"Iya iya pak dokter." Iqbal malah tersenyum mendapatkan jawaban Rani.


Beberapa saat kemudian para tamu yang hadir sudah pulang, suasana menjadi sepi.


"Kau pasti lelah, istirahat dulu ya atau mau ku ambilkan makan."


"Makan saja dulu, baru istirahat."


"Ku antar kamu ke kamar, nanti akan ku ambilkan makanan." Ucap Iqbal.


"Iya." Iqbal pun mengantar Rani ke kamarnya. Lalu keluar sebentar untuk mengambil makanan. Tak lama kemudian Iqbal kembali dengan membawa makanan, buah, jus, dan air mineral. Rani memakannya dengan sangat lahap, seperti orang yang sudah seminggu tidak makan. Iqbal sangat geli melihat cara makan Rani.


"Pelan pelan Ran makannya, takut tersedak."


"Hemm..." Rani hanya bergumam sebab mulutnya masih penuh dengan makanan. Iqbal hanya menyaksikan cara makan istri barunya ini.


Dalam sekejap semua makanan dan minuman telah Rani habiskan hingga bersih.


"Aaaahhh kenyang." Rani mengusap perutnya.


"Istirahatlah, kau pasti lelah." Iqbal membetulkan letak bantal untuk Rani.


"Iya." Rani pun merebahkan diri kemudian Iqbal menyelimuti Rani.


"Kalau perlu sesuatu katakan padaku."


"Tidak. Aku cuma ingin tidur."


"Ya sudah kalau begitu aku keluar dulu."

__ADS_1


"Heemm..."


***


Setelah menghadiri acara pernikahan Rani dan Iqbal, Zain pun memutuskan untuk pulang ke apartemen pribadinya. Dengan hati yang berbunga bunga setelah melihat pancaran kebahagiaan Iqbal, dia melajukan mobilnya dengan senyum yang terus mengembang.


Tiba tiba mobil yang dia kendarai oleng, terasa tidak seimbang. Ia menyalakan lampu sein mobil, memberikan sinyal bahwa dia akan berbelok, membuat lampu depan dan belakang sebelah kiri berkedip kedip, dia pun menepikan mobilnya.


Turun dari mobil dan di lihatnya ban mobil yang ternyata bocor. "Sial." Keluhnya. Dia menoleh ke kanan dan ke kiri, sepi. Bengkel terlalu jauh, akhirnya dia menghubungi orang bengkel untuk mengurus mobilnya. Ah sial, kebahagiaannya tidak berlangsung lama karena harus menunggu ganti Ban mobil.


Beberapa saat kemudian, masalah mobil sudah selesai. Dia kembali melajukan mobilnya.


***


Seorang gadis dengan menggendong ransel lumayan besar di punggungnya berjalan kaki di area kompleks, dia sangat kesal setelah mengalami penjambretan. Dia menggerutu kesal karena Kehilangan uang dan Hpnya. Beruntung berkas penting masih bertahan di tasnya.


Melihat kaleng bekas tergeletak di pinggir jalan, diapun menendangnya dengan sekuat tenaga untuk meluapkan kekesalannya. Namun nahas, kaleng itu mengenai kepala Zain yang sedang mengemudikan mobilnya.


"Braaaaakkkk...." Mobil Zain menubruk dinding, Zain memegangi kepalanya yang benjol dan mengambil kaleng bekas tersebut yang jatuh di bawah kakinya. Namun gadis itu hanya menoleh dan kembali berjalan santai tanpa dosa dan rasa bersalah.


Zain turun dari mobilnya, melihat kondisi mobil di bagian depannya yang tergores.


"HEY KAU.... BERHENTI..." Zain meneriaki gadis itu. Gadis itu berbalik, menoleh ke kanan dan ke kiri untuk memastikan bahwa Zain sedang memanggilnya.


"Manggil aku." Gadis itu menunjuk hidupnya sendiri. Zain melangkah cepat ke arahnya lalu menunjukkan kalengnya.


"Tidak." Zain mendengus kesal mendengar jawabannya.


"Hah, ya kau tidak melemparnya tapi menendangnya." Gadis itu mengangguk.


"Maaf aku tidak sengaja?..."


"Kau lihat kepala ku sampai benjol begini. Bahkan mobilku sampai menabrak tembok. Kau harus ganti rugi."


"Iya, iya..." Gadis itu merogoh saku celananya, mengambil uang yang tersisa. Meraih tangan Zain dan meletakkan uang ribuan yang berjumlah Rp.32.500, Zain merengutkan alisnya melihat uang receh di telapak tangannya yang masih terbuka.


"Cuma itu yang ku punya."


"Kau pikir ini cukup untuk perbaikan mobilku?..."


"Aku kan cuma bikin kepalamu benjol. Kalau masalah mobilmu rusak, itu salah kamu sendiri suruh sapa nubruk dinding." Ucapnya lirih dengan nada cemas dan raut wajah ketakutan.


"Serahkan identitas mu, kita selesaikan ini ke kantor polisi."


"Iya iya, aku bakal tanggungjawab. Memangnya aku harus ganti berapa?..."

__ADS_1


"10 juta, itu sudah murah."


"APA?... Mahal sekali." Wajahnya mendadak pucat. "Nggak punya uang kalau segitu." Gerutunya dalam hati.


"Harus ganti atau masuk penjara." Ucap Zain dengan tegas.


"Eh apaan tuh?..." Gadis itu menunjuk ke arah belakang Zain, Zain pun menoleh ke belakang. Seketika itu pula si gadis lari terbirit-birit meninggalkan Zain. Sambil berteriak. "Kalau ada uang pasti aku ganti."


"Dasar gadis tengil, beraninya dia menipuku." Zain kembali berjalan memasuki mobil dengan hati yang kesal, setelah ban bocor kini mobil bagian depannya penyok. Sungguh sial beruntun.


***


Malam hari Iqbal membawa Rani ke halaman belakang rumah. Rani berjalan dengan mata yang di tutup kain.


"Iqbal, kamu mau bawa aku kemana?..."


"Ke tempat yang kamu inginkan."


Setelah sampai, Iqbal membuka penutup mata Rani. Saat membuka mata, yang Rani lihat hanyalah gelap.


"Ih kok gelap sih." Iqbal menepuk tangannya 3 kali dan lampu kecil berwarna kuning seperti bintang menyala. Indah sekali, rumah pohon yang sangat indah. Membuat mata Rani berbinar, kebahagiaan Rani membuncah berlipat-lipat. Dia sangat bahagia dan terlena.


"Kamu suka."


"Suka sekali. Kamu masih ingat."


"Iya, ini kan yang kamu minta saat aku melamarmu di kampung Nelayan, Kamu bilang ingin malam pertama di rumah pohon. Maaf ya, aku merusak segalanya."


"Iya, terima kasih Iqbal." Rani memeluk Iqbal dengan hati yang riang. Perlakuan lembut Iqbal membuat Rani kian terpesona.


"Aku senang jika kamu senang. Apa kamu tidak ingin naik dan melihat isinya?..."


"Mau." Iqbal pun menuntun Rani, untuk menaiki tangga.


"Pelan pelan, awas jatuh, hati hati." Rani menaiki tangga perlahan dengan Iqbal yang memegangi pinggang Rani agar tidak terjatuh.


Sesampainya di sana, di lihatnya lesehan dengan berbagai hidangan. Membuat Rani tergiur, ngiler. Matanya berbinar melihat banyaknya makanan, Iqbal hanya tersenyum melihat reaksi Rani.


"Ku perhatikan nafsu makan mu banyak, makanya ku persiapan semua ini untuk mu." Iqbal membawa Rani untuk duduk, Iqbal melayani Rani sepenuh hati.


Iqbal mengeluarkan kalung emas warisan dari ibunya yang ia letakkan di saku kemejanya.


Iqbal memasangnya ke leher Rani.


"Itu warisan dari ibuku. Kata bibi harus di berikan pada Istriku, yaitu kamu."

__ADS_1


"Wah cantik, Terima kasih Ya."


__ADS_2