
Setelah keluar masuk toko untuk membeli perlengkapan bayi dan keliling tidak jelas mengikuti permintaan Rani yang hanya melihat lihat, mereka semua akhirnya pulang setelah langit mulai gelap.
Setengah perjalanan pulang Rani yang lelah bercampur mengantuk tertidur dengan kepala yang bersandar di bahu Iqbal. Iqbal menggenggam tangan Rani dan mengusap lembut punggung tangannya dengan jari jempol Iqbal.
Sementara Zain fokus mengemudi, Nadine tidur dengan kepala yang bersandar di jendela.
Setelah sampai di depan rumah, Iqbal membuka pintu mobil dan keluar. Dia memutari mobil kemudian menggendong Rani dan membawanya masuk ke dalam rumahnya.
Sesampainya di kamar Iqbal merebahkan Rani di atas ranjang lalu membuka sepatu fantofel yang tidak terlalu tinggi dari kaki Rani. Setelah itu Iqbal menyelimuti tubuh Rani. Dia mengecup kening Rani sebelum pergi meninggalkannya.
Iqbal bergegas pergi ke dapur untuk membuat susu khusus ibu hamil, saat Iqbal sedang mengaduk susu tiba tiba Zain masuk ke dalam dapur.
"Menginap di sini?..."Ujar Iqbal setelah menyadari keberadaan Zain di belakangnya yang mengambil botol air mineral dari dalam bufet.
"Iya Tuan." Jawab Zain sambil memijat lehernya yang terasa kaku karena kelelahan.
"Tumben, biasa juga pulang ke apartemen?..."
"Saya sangat lelah untuk pulang." Ujar Zain, kebetulan Iqbal memberikan kamar pribadi di rumahnya untuk Zain jika sewaktu-waktu Zain ingin menginap di sini. Biasanya Zain akan menginap di rumah Iqbal setelah pulang dari perjalanan di luar kota dan luar negeri.
"Ouw...Ku pikir karena ada gadis itu di sini?..."
Zain tertegun mendengar ucapan Iqbal, belum sempat Zain menjawab, Iqbal sudah meninggalkannya dengan membawa segelas susu khusus ibu hamil untuk Rani.
Di depan pintu dapur Iqbal berpapasan dengan Nadine yang menunduk saat melihat dirinya. Setelah Iqbal keluar Nadine pun masuk. Nadine segera masuk ke dapur menuju Zain yang masih tercengang menatapnya.
"Terimakasih..." Ucap Nadine yang tanpa permisi mengambil botol air mineral dari tangan Zain.
"Tidak sopan." Ucap Zain.
"Salah sendiri aku tidur nggak di bangunin, malah di tinggal dalam mobil, di parkiran lagi. Untung saja aku di bangunin sama pak Limin."
"Bukan salahku jika tidurmu seperti orang mati."
Jawab Zain. Bukannya menjawab, Nadine malah pergi meninggalkan Zain sendirian.
Sebenarnya di dalam mobil Zain sudah memanggil nama Nadine sebanyak tiga kali tapi Nadine tak kunjung terbangun, akhirnya Zain melajukan mobilnya ke parkiran dan meninggalkan Nadine sendirian setelah memanggil namanya 1 kali lagi tapi Nadine tetap tertidur.
"Gadis ini benar-benar menyebalkan."
***
"Rani, bangun..." Iqbal duduk di samping Rani dan mengusap lembut pipinya. Rani hanya menggeliat dan menarik tangan Iqbal hingga dia jatuh ke pelukannya.
"Ayo bangun."
"Aku ngantuk." Ucap merengek manja dalam pelukan Iqbal.
"Bangun, minum susu dulu. Setelah itu mandi baru istirahat. Aku mau menyiapkan air hangat dulu."
__ADS_1
"Nggak mau, dingin. Begini saja dulu." Rani semakin mengeratkan pelukannya dan wajahnya bergumul di dada bidang Iqbal. Iqbal sangat senang melihat sikap manja Rani.
"Pemalas."
"Aku lagi pengen di manja." Ucap Rani. Iqbal malah terkekeh. Berulang kali dia mengecup puncak kepala Rani dan mengusap lembut punggungnya.
"Ayo bangun dulu sebentar, minum susunya." Iqbal melepaskankan pelukannya dan duduk, dia menarik Rani. Rani pun terbangun dengan malas. Iqbal mengambil susunya dari nakas dan memberikannya pada Rani. Dengan segera Rani meminumnya hingga tandas. Setelah itu dia kembali tidur.
Iqbal naik ke atas ranjang dan tidur di samping Rani, meletakkan kepala Rani ke lengannya dan memeluk Rani dalam dekapannya.
"Capek?..." Ujar Iqbal.
"He'em... Campur kangen." Jawab Rani lirih kemudian nafasnya terdengar teratur, Iqbal semakin mengeratkan pelukannya.
***
Keesokan paginya Iqbal terjaga dan menggeliat, matanya menyipit melihat Rani yang masih melilit tubuhnya dengan posesif, dia pun tersenyum, terasa sangat nyaman hingga dia enggan untuk terbangun.
"Sudah pagi." Ucap Iqbal lalu mengecup puncak kepala Rani.
"Ehemmm...." Rani hanya menggeliat manja masih dengan mata terpejam.
"Bangun, sudah pagi."
"Males..." Iqbal langsung menciumi leher Rani hingga dia tertawa terbahak-bahak karena geli.
"Udah, geli Iqbaaaal."
"Iya iya bangun..."
"Bau kecut..."
"Iiiiiihhhhh....Siapa suruh cium cium, orang aku belum mandi." Rani menggelitik pinggang Iqbal karena kesal, hingga Iqbal tertawa terbahak-bahak.
***
Rani membuat kopi di dapur untuk Iqbal. Dia menghampiri Nadine yang membantu ART memasak di dapur.
"Nadine, mulai sekarang kamu berangkat ke kampus bareng suamiku ya, kan jalannya searah."
"Waduh, nggak usah kak, makasih. Aku naik angkot saja."
"Ngapain naik angkot, udah bareng suamiku aja berangkatnya. Kalau pulangnya terserah kamu. Udah nanti biar aku yang bilang sama suamiku." Ucap Rani mengusap lembut lengan Nadine. Nadine hanya merasa sungkan dan canggung pada Iqbal makanya dia enggan menumpang di mobil Iqbal, apalagi si pengemudi sangat menyebalkan.
"Oya, buatkan teh untuk Zain, airnya harus mendidih langsung dari kompor. Ok..." Rani pun pergi dengan membawa nampan berisi secangkir kopi panas untuk Iqbal.
Rani meletakkan kopi panas di hadapan Iqbal yang sedang membaca koran.
"Sudah banyak informasi lewat sosmed, kenapa masih membaca koran." Ucap Rani sambil duduk di samping Iqbal.
__ADS_1
"Suka suka aku." Jawab Iqbal singkat.
"Mulai sekarang Nadine berangkat ke kampus bareng kamu ya, kasian dia kalau naik angkot. Masih nunggu dan desak desakan takut telat lagi. Apa lagi kan kampusnya searah dengan kantor mu."
"Hemmm...." Iqbal berdehem sambil mengangguk samar.
"Ikhlas nggak nih?... Masak aku ngomong panjang lebar cuma di jawab hemm..." Iqbal hanya tersenyum mendengar keluhan Rani.
"Mungkin."
"Ih ngeselin."
Tiba tiba Zain masuk ke ruang makan dia melangkah dan duduk di kursi ujung, jauh dari tempat duduk Rani dan Iqbal namun masih satu meja.
Zain mengambil Roti dan mengoleskan selai di atas Roti lalu menumpuknya.
"Nggak mau makan nasi Zain." Ucap Rani.
"Tidak Nona, Terima kasih." Jawab Zain kemudian mengigit roti tersebut.
Zain dan Rani melihat ke arah pintu, di sana ada Nadine yang sedang melangkah masuk dengan membawa nampan berisi teh.
"Ini tehnya." Ucap Nadine setelah meletakkan segelas teh di hadapan Zain.
"Aku tidak meminta di buatkan teh oleh mu, kenapa kamu malah memberikan teh padaku."
Ucap Zain.
"Biasanya kan tiap pagi kamu minum teh Zain." Sahut Rani.
"Ya sudah kalau tidak mau." Nadine menarik kembali teh tersebut.
"Tunggu, siapa yang menyuruhmu mengambil tehnya lagi." Ucap Zain.
"Katanya nggak mau?..." Ucap Nadine dengan wajah bersungut-sungut, dia malu karena merasa di permainkan di hadapan Iqbal dan Rani yang melihat drama mereka berdua.
"Kapan aku bilang nggak mau, aku cuma tanyakenapa membuatkan ku teh?..."
"Belajar jadi istri Solehah." Celetuk Rani. Zain malah mencebikkan bibir.
"Pergilah." Ucap Zain.
"Uuuuhhhh nyebelin banget, pengen ku getok tuh kepala sama nih nampan kalau aku nggak takut." Nadine melangkah pergi sambil menggerutu.
***
Nadine berangkat kuliah bersama dengan Iqbal dan Zain menggunakan mobil mewah. Ini merupakan hari pertama kuliah untuk Nadine setelah masa orientasi. Nadine tampil cantik dan menarik dengan pakaian yang di berikan Rani untuknya.
Sepanjang perjalanan dia hanya diam membisu. Sementara Iqbal dan Zain berbincang bincang membahas masalah pekerjaan.
__ADS_1
Setelah sampai di depan gerbang Kampus semua mata tertuju pada mobil mewah milik Iqbal. Pintu mobil mulai terbuka, menggeser ke samping, Nadine mulai turun dari mobil.
Nadine berjalan memasuki Kampus, para mahasiswa memperhatikan Nadine yang terlihat cantik dan elegan dengan pakaian bagus nan mahal yang dia kenakan. Mereka semua menerka nerka siapakah Nadine, apakah dia anak orang kaya?...