
"Berat badanmu berapa Ran kau berat sekali?"
"Iiiiiiiiiiiihhhh..." Rani mencubit hidung mancung Iqbal hingga dia tak bisa bernafas.
"Aaaaawww...." Rani berteriak karena tangannya di gigit oleh Iqbal.
"Turunkan aku Iqbal. Turunkan aku. Tubuh ku itu berat. Nanti tulang mu bisa remuk dan hancur berkeping keping karena menggendongku." Ucap Rani sambil mengguncang tubuh Iqbal.
"Jangan banyak bergerak Ran. Kakiku menapaki jalan berlumpur. Kita bisa saja jatuh berjamaah."
"Makanya turunkan aku."
"Kau itu sensitif sekali."
"Salah sendiri mengataiku gendut."
"Aku tidak mengataimu gendut aku cuma bilang badanmu berat."
"Sama saja."
"Yang penting aku cinta kamu."
"Aaaaakkkhhh hatiku klepek-klepek...." Rani tersenyum senang.
"Kau senang?"
"Tidak."
"Bohong, buktinya kau tersenyum."
"APA? Aku tidak tersenyum."
"Aku tau kau tersenyum."
"Apa dia punya mata di belakang kepalanya ya" Rani melihat ke belakang kepala Iqbal.
***
"Tok tok tok tok tok...." Rani mengetuk pintu rumahnya. sedangkan Iqbal memperhatikan Rani lari jarak jauh.
"Ceklek." Pintu di buka.
"Bagus ya jam segini baru pulang." Ucap Ibu Narsih yang sejak tadi khawatir menunggu Rani.
"Maaf Bu Rani terjebak hujan. Jadi nggak bisa pulang."
"Sudah sana masuk, bersihkan tubuhmu. Lalu tidur."
"Iya." Jawab Rani kemudian berlari kabur ke dalam kamarnya untuk mengambil handuk dan berlari ke dalam kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
Setelah memastikan Rani pulang dengan selamat dan Ibu tidak marah-marah lagi Iqbal pun pergi meninggalkan rumah Hani.
***
Di Jakarta.
Beberapa hari Kemudian Iqbal menjemput Rani membawanya ke tempat pelatihan yang biasa di gunakan untuk latihan para anak buahnya.
Rani melihat sekeliling terdapat banyak alat untuk alat olahraga. Mesin fitnes untuk membentuk otot. Rani melihat semua orang yang berada di sana tubuhnya serba berotot.
Iqbal membawa Rani ke sebuah ruangan seperti ring tinju di sana ada dua wanita yang sedang bergulat, Iqbal menyuruh Rani untuk mengamati dua wanita itu.
"Rani. Perhatikan pertarungan mereka berdua."
__ADS_1
"Kenapa kau membawaku kemari dan menyuruhku untuk mengamati 2 wanita yang sedang bergelut itu?"
"Karena nanti kaulah yang akan melawan salah satu dari mereka nanti." Ucap Iqbal yang pandangannya tak beralih dari dua wanita yang sedang bergulat itu.
"APA? Kau bercanda."Ucap Rani yang terkejut.
"Aku tidak sedang bercanda, aku serius jadi jangan sia-siakan waktumu saat ini. Amati pergerakan mereka karena jika salah satu diantara mereka ada yang kalah kaulah yang akan menggantikan posisinya."Ucap Iqbal serius, Rani hanya melongo dia masih tak habis pikir dengan sikap Iqbal.
"Iqbal Aku tidak mau, aku tidak pernah bergelut. Bagaimana aku bisa mengalahkan perempuan itu?..."
"Kau harus mau, aku tidak ingin kau menjadi kelemahanku setelah bersanding dengan ku." Ucap Iqbal menatap Rani kemudian mengecup punggung tangan Rani.
"Tapi Iqbal, Aku takut." Rani
sudah ingin menangis.
"Jangan cengeng. Apa kau mencintaiku?..."
"IYA." Jawab Rani.
"Maka lakukan perintahku."
"Ya ampun Iqbal. Mencintaimu haruskah berkorban sejauh ini. Kau punya banyak anak buah. Kau bisa meminta bantuan mereka untuk menjagaku bukan."
"Jangan selalu mengandalkan orang lain. Perhatikan saja pertarungan mereka. Waktu mu tidak banyak."
Kemudian Rani memperhatikan dengan seksama pergulatan dua wanita itu.
"Jika kau berhasil memberikan satu pukulan pada lawan mu nanti, maka ku anggap kau menang tapi jika lawanmu berhasil memukulmu maka lawan mu akan mendapatkan hukuman dari ku, apa kau mengerti?"
"Permainan macam apa ini Iqbal Kau sungguh sangat menyeramkan?" Akhirnya pun Rani memperhatikan gerakan mereka dengan seksama.
***
Beberapa saat kemudian salah satu dari wanita itu tumbang, datang dua perempuan menjemput Rani menyuruh Rani untuk memasuki ring.
"Pantas saja Iqbal menyuruhku untuk menggunakan pakaian olahraga ternyata ini tujuannya." Rani membantin.
"Ambil lah peluang untuk menghajar Lawan."
"Tau ah gelap." Rani mulai naik ke atas ring tinju.
Rani mengepalkan tangannya memberi ancang-ancang dan memperhatikan setiap gerakan lawannya. Lawan itu terus berusaha memukul Rani. Tapi Rani selalu menghindar mundur, jika tidak mundur Rani akan berlari saat lawan Rani hendak memukul Rani. Rani berhasil menangkisnya tapi sayang di tengah pergulatan wajah Rani terkena tinju.
"Aaaawwww" Rani meringis kesakitan karena wajahnya mendapatkan satu tinju.
Pergulatan berhenti, datang seorang wanita meninju lawan Rani memberikan pukulan yang sama seperti yang Rani alami, padanya.
Rani melongo tak mengerti apa maksud Iqbal.
Ternyata apa yang diucapkan Iqbal itu bukan main-main.
Pertandingan pun di mulai kembali. Rani berusaha keras memenangkan pertandingan ini.
Kini Rani berdiam diri tak memberi perlawanan. Iqbal yang melihat sikap Rani mengerutkan alisnya, berpikir apa yang akan dilakukan Rani.
Lawan Rani pun merasa heran dengan sikap Rani. Iqbal melihat lawan Rani, memberikan isyarat untuk menyerang Rani, saat dia hendak meninju Rani tiba-tiba Rani melengos dan menendang pinggangnya hingga wanita itu terjatuh dan akhirnya Rani menjadi pemenangnya, pertandingan pun selesai.
Iqbal kemudian menghampiri Rani "Ternyata kau cerdas juga ya." Ucap Iqbal memuji kemampuan Rani yang memakai siasat untuk mengecoh lawan.
"Ini baru pemanasan kau harus belajar lebih dari ini."
"APA?" Rani terkejut mendengar ucapan Iqbal.
__ADS_1
"Kejutan apa lagi yang akan kau berikan padaku?..."
"Untuk menjadi istriku kau harus menjadi wanita yang tangguh agar kau tidak menjadi kelemahanku tapi aku akan menjadikanmu kelebihanku." Ucap Iqbal dengan penuh keyakinan.
"Kenapa aku merasa seperti akan mencalonkan diri menjadi anggota militer bukan menjadi istrimu." Ucap Rani.
Iqbal mengompres pipi Rani. Tak peduli dengan celoteh Rani.
"Apa masih sakit?" Iqbal bertanya dengan wajah datarnya.
"Masih bertanya. Ya sakitlah."
"Kau harus kuat. Ku lihat kau memiliki kemampuan untuk Ilmu bela diri. Hanya perlu di asah saja."
"Aaaww sakit bodoh."
"Cup." Iqbal mengecup wajah Rani di bagian yang terkena tinju.
"Iiiiiisssss iiiisss iiiisss.... Jangan suka cium orang sembarangan tanpa permisi." Ucap Rani walaupun senang dengan perlakuan Iqbal.
"Obat mujarab biar cepat sembuh."
***
Sembilan bulan kemudian. Di Jakarta..
Heru berkunjung ke rumah Rani di malam hari sekitar pukul 19.00 WIB.
Dia berkunjung ke rumah Rani. Dia membawa oleh oleh makanan kesukaan Rani. Rani yang tidak curiga dengan sikap baik Heru menerima dengan senang hati pemberian dari Heru.
"Aku bawa oleh-oleh untuk mu."
"Kenapa harus repot-repot."
"Tidak repot kok."
"Ayo masuk." Kemudian Rani mempersilahkan Heru masuk.
Rani membawa Heru ke ruang tamu dan menyajikan minuman dan cemilan untuk Heru.
"Silahkan di minum."
"Iya terima kasih."
"Kenapa malam sekali berkunjung kemari."
"Iya tadi aku lembur. Pulang kerja, sekalian saja lewat sini."
"BTW Terima kasih ya oleh olehnya."
"Kamu suka."
"Iya dong."
"Di makan dong biar yang bawa oleh-oleh senang. Setidaknya oleh olehnya di terima walaupun lamarannya di tolak."
"Wah aku jadi nggak enak hati nih."
"Hahahah santai saja. Aku sudah move on. Asal Carikan cewe untuk ku."
"Ah.....Hahahah iya."
Rani yang menolak lamaran Heru dan lebih memilih Iqbal daripada dirinya membuatnya sakit hati. Karena Heru sudah bersusah payah mendekati Rani selama lebih setahun, bahkan dia menceraikan istrinya demi untuk bisa menjadi suami Rani, tapi pengorbanannya ternyata sia sia. Namun di hadapan Rani dia bersikap baik baik saja. Rani tidak tahu jika makanan dari Heru telah di bubuhi obat perangsang.
__ADS_1
***
Selamat menikmati.