
Cinta bisa membodohi siapa saja. Termasuk Rani. Bisa bisanya dia menikmati sentuhan itu. Bibir itu terasa asing, dingin, kenyal dan manis. Sensasinya luar biasa, membuat Rani hanyut dalam sesaat. Awalnya tersentak ingin menolak tapi bukannya menolak, Rani malah menutup mata. Rasa itu membuatnya ketagihan. Ciuman pertamanya di curi oleh cinta pertamanya.
Setelah adegan ciuman itu Rani sangat malu. Hingga ia mendorong dada Iqbal. Niatnya ingin kabur, tapi Iqbal mencekal pergelangan tangannya begitu kuat.
"Iqbal apa yang kau lakukan?..."
"Aku sudah dapat jawabannya, Ran." Iqbal melepas tangan Rani.
Rani malah diam mematung, tiba tiba Iqbal mengecup bibir ranum itu lagi. Wajah Rani semakin merah, Rani menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan dan lari terbirit-birit, memasuki rumah. Membuat seisi rumah terheran heran dengan tingkah laku Rani.
Rani berlari memasuki kamar, menutup pintu. Dan bersandar di daun pintu, memegangi dadanya yang naik turun. Jantungnya masih bergemuruh, rasa itu masih melekat terasa sampai sekarang. Rani tersenyum sendiri membayangkan adegan tadi.
Dua sepupu Rani yang juga berada di kamar itu memperhatikan Rani terheran heran.
"Ran kesambet setan di mana?..." Tanya Sarah, sepupu Rani.
"Aku kesambet di bawah pohon." Jawab Rani kemudian melangkah menuju ranjangnya.
"Wah bener-bener nih anak kesetanan, perlu di ruqiyah ni anak." Gurau Heni, sepupunya Rani.
"Hei kalian berdua salah, aku tidak sedang kesetanan tapi aku sedang jatuh cinta." Rani tidur di atas ranjang dengan posisi terlentang dan mengepak ngepakan tangannya ke atas ke bawah berulang kali seperti sedang terbang ke langit biru nan tinggi.
"Ini anak bener-bener sudah gila. Itu tangan kenapa begitu. Mau jadi burung lu." Ucap Heni kemudian melempar bantal ke wajah Rani. Rani malah duduk memeluk bantal yang dilempar ke wajahnya. Dan memeluknya erat, seolah sedang memeluk Iqbal. Di peluknya bantal itu sambil bergoyang-goyang ke kanan dan ke kiri.
"Iya...Aku berasa jadi burung. Hatiku berasa terbang, berbunga-bunga...Oh bahagianya hatiku..."
"Ini pasti efek karena ditembak Iqbal di hadapan banyak orang, Dia jadi gila."
"Iya kalian semua bener, aku sedang tergila-gila padanya." Ujar Rani. Satu bantal mendarat ke wajah Rani, pun membalasnya. Akibatnya terjadilah perang bantal di antara tiga gadis itu. Yang mengakibatkan bulu-bulu bantal bertebaran di kamar Rani.
"Eeeh kalian tuh kenapa malam-malam kok berisik....." Ibu Narsih membuka pintu.
__ADS_1
"Astaga naga Kenapa kamarnya seperti kapal pecah." Ujar Ibu Rani melongo, terkejut melihat Rani dan para sepupunya bermandikan isi bantal dan banyaknya bulu halus berserakan di mana-mana.
"Rani sudah gila bude ketawa-ketiwi sendiri sejak tadi" Ujar Sarah menunjuk Rani.
"Dari dulu dia memang sudah gila. Ayo diberesin semua kekacauan ini. Setelah itu kalian semua harus tidur, besok pagi harus bangun pagi pagi sekali untuk bantu bude mempersiapkan acara besok." setelah memberikan perintah, ibu Rani keluar dan menutup pintu.
Rani kembali menjadi seperti orang gila, dia tersenyum sambil merentangkan tangannya kesamping dan langsung merobohkan dirinya ke atas springbed hingga tubuhnya terpental beberapa kali keatas, membuat isi bantal juga ikut terpental ke atas mengikuti pantulan Rani.
"Ini anak bener-bener gila, sudah tidak waras." Ucap sepupu Rani. Mereka menggelengkan kepala melihat kelakuan Rani. Bukannya membantu para sepupunya untuk membereskan kamarnya, Rani malah tersenyum senyum sendiri sambil berguling-guling di atas ranjang seperti orang kesurupan.
***
Keesokan harinya sejak pagi sudah banyak tamu yang berdatangan di rumah Rani. Beberapa tetangga datang untuk rewang memasak, menanak nasi, memasak ikan, mengupas sayuran dan lain lain, persiapan untuk acara puncak.
Di desa beda dengan di kota, jika di kota Pernikahan ramai di selenggarakan malam hari. Jika di kampung siang hari sudah banyak tamu berdatangan.
Iqbal hadir di acara pernikahan Nabila, adik dari gadis yang di cintainya. Sekali melangkah di bawah terop dia sudah melihat Arya yang tersenyum ke arahnya. Iqbal menghampiri Arya.
Kini Iqbal duduk berhadapan dengan Arya. Mengambil satu botol air mineral, menusukkan tusuk sedotan dan meminumnya sambil menatap Arya dengan wajah datarnya.
"Iya....Terima kasih informasinya, tapi informasi yang anda sampaikan keliru."
"Maaf...Saya hanya bercanda. Ternyata candaan Saya, Tuan anggap serius."
"Tuan Arya terima kasih. Gurauan Anda sangat lucu." Ucap Iqbal dengan wajah datar.
"Tuan Iqbal, Nona Rani ada di belakang anda."
"Alyn juga ada di belakang anda. Bisa kita bertukar posisi." Usul Iqbal.
"Oh tentu, dengan senang hati. Sebenarnya Saya juga ingin mengatakan hal yang sama."
__ADS_1
Kemudian Iqbal dan Arya bertukar posisi tempat duduk. Keduanya sama-sama mengagumi sang pujaan hati masing-masing. Keduanya mulai bisa berbincang dengan santai. Iqbal sudah bisa menerima dan mengiklaskan Alyn hidup dengan Arya.
Arya terus memandangi Alyn yang menggendong bayinya di bawah terop, balitanya yang bergerak lincah. Ibu Naya mengemban putrinya sedangkan putranya digendong oleh Alyn.
Iqbal terus memandangi sosok Rani, dia terlihat begitu cantik dengan balutan kebaya, dia menyalami satu persatu tamu yang datang. Saat ini Rani menjabat sebagai penerima tamu yang berdiri di ujung drop.
Mata Rani tak sengaja bertemu dengan mata elang Iqbal, Rani tersentak kaget, lagi lagi ingatan kejadian semalam berkeliaran di isi kepalanya. Rani tersipu malu, melengos dan menunduk berusaha menghindari tatapan Iqbal. Namun Iqbal tak berkedip sedikitpun memandangi wajah elok Rani.
Iqbal melihat pena di saku Arya.
"Tuan Apa boleh saya pinjam pena Anda sebentar." Ucap Iqbal.
"Oh tentu, ini silakan ambil. Untuk Anda saja. Anggap sebagai hadiah kenang-kenangan dari saya." Ucap Arya.
"Terima kasih." Iqbal menerima pena yang dijulurkan oleh Arya, kemudian Iqbal mengambil tisu yang berada di atas meja. Iqbal menulis sepucuk surat untuk Rani. Mata Iqbal mencari perantara yang bisa diajak kerjasama, melihat anak kecil yang berlarian di dekatnya, Iqbal memanggil anak kecil lalu memberikan uang berwarna merah dengan gambar presiden Indonesia pertama dan memberikan sepucuk surat kepada anak kecil itu, untuk diberikan kepada Rani.
Anak itu tertawa girang mendapat uang dari Iqbal, hanya mengantar sepucuk surat saja sudah mendapatkan uang sebesar itu.
Anak itu berlari menuju, Rani kemudian menarik-narik ujung kebaya Rani.
"Tante ini dapat surat dari Om itu." Iqbal dapat melihat anak itu menunjuk ke arahnya. Rani melihat Iqbal sekilas, kemudian malu-malu menunduk dan menerima surat dari anak kecil itu.
Rani membuka sepucuk surat dari Iqbal dan membacanya, dua sepupu Rani Yang penasaran ikut mengintip isi surat yang dibaca Rani.
"Besok pagi jam 8 kutunggu di rumah pohon." Isi surat dari Iqbal.
"Cie cie cie cie... Dapat surat cinta nih dari sang pujaan hati." Para sepupunya menggoda Rani. Membuat wajah Rani kian bersemu merah, bukan hanya menggoda, mereka juga menyenggol nyenggol bahu Rani dengan bahunya. Membuat bahu Rani terdorong ke depan beberapa kali. Iqbal tersenyum melihat reaksi Rani. Sedangkan Arya tersenyum geli melihat kelakuan Iqbal yang seperti anak ABG.
"Tuan Iqbal, ternyata anda bisa romantis juga ya.... saya tunggu undangan pernikahan dari anda." Ucap Arya.
"Doakan saja semoga berjalan dengan lancar." Ujar Iqbal.
__ADS_1
***
SELAMAT MENIKMATI JANGAN LUPA DUKUNG AUTHOR PAKE LIKE KOMENTAR DAN VOTE FAVORIT BIAR AUTHORNYA SEMANGAT