
Zain menyeret Nadine hingga mendekati mobil, dia membuka pintu mobil dan memasukkan Nadine ke dalam mobil. Zain pun segera memasuki mobil, setelah menutup pintu. Zain segera mengunci pintu mobil agar Nadine tidak bisa kabur lagi. Nadine berusaha membuka pintu mobil namun pintu tidak bisa terbuka, membuat Nadine semakin ketakutan, dia sangat gugup berduaan dengan Zain, dia kebingungan apa yang akan Zain lakukan padanya nanti, pikiran kotor sudah mengungkung otak Nadine yang belum terkontaminasi oleh hal hal buruk.
"Kakak mau ngapain?..."
"Mana tas mu." Zain menjarah tas yang terselempang di bahu Nadine.
"Buat apa kak?...."
"Buat jaminan supaya kamu tidak kabur lagi." Zain pun menggeledah tas milik Nadine. Jangan kak, Nadine yang berada di sampingnya berusaha merebut tasnya. Mereka saling berebut, Zain tetap menggeledah isi tas Nadine
"KAKAK, puas..." Wajah Nadine bersemu merah saat Zain memegang dan mengeluarkan pembalut wanita miliknya. Zain pun tak kalah malunya. Namun untuk menutupi itu Zain malah melempar pembalut itu ke wajah Nadine membuat wajah Nadine semakin merah karena malu
Zain mengambil dompet Nadine tidak peduli dengan ekspresi wajah yang di tunjukkan oleh Nadine. Di lihatnya isi dompet Nadine hanya ada uang Rp.20.000 itu pun pemberian dari Bi Ijah, dia berjanji akan mengembalikannya jika sudah menerima pengiriman dari orang tuanya di Kampung. Tapi untuk hutangnya pada Zain dia akan usahakan sendiri. Karena dia tidak mungkin meminta uang lebih pada orang tuanya.
"Sekarang, apa bentuk pertanggungjawaban mu padaku."
"Aku akan usaha cari uang, tapi tidak sekarang. Aku belum punya uang."
"KTP mu ku sita sampai kau bisa melunasi hutang mu." Zain membuka kunci pintu mobil." Sekarang keluar lah."
"Nyebelin, sekarang main ngusir seenak jidatnya." Nadine menggerutu kesal dengan suara lirih dan hampir tak terdengar.
"Kamu bicara apa?..."
"Aku bilang kakak baik hati."
"Sudah cepat sana keluar."
Nadine berusaha membuka pintu tapi pintu itu tidak bisa terbuka seolah-olah sedang macet. Zain mencoba membantu berusaha membuka pintu yang memang macet hingga membuat jarak keduanya begitu dekat, membuat Nadine menutup mata dan menahan nafas saat aroma tubuh Zain yang harum menerobos masuk ke dalam Indra penciumannya. Sungguh aroma yang memabukkan.
__ADS_1
"Heh, kalian berdua sedang apa?..." Saat pintu berhasil di buka, Rani yang berdiri di samping Iqbal terkejut melihat posisi mereka yang begitu dekat. Refleks Nadine mendorong Zain hingga tulang rusuknya terbentur bagian depan mobil.
"Sialan kau." Zain membentak Nadine Karena Zain kesakitan.
"Kakak jangan curi curi kesempatan dong." Ketus Nadine yang tak kalah kesal, sialnya Zain malah menyentil dahi Nadine.
"Aaakkkkhhhhh sakit kak." Nadine merengek sambil menggosok dahinya. Namun Zain tak peduli.
"Zain." Iqbal menatap Zain dengan tajam, sebab tak suka dia bersikap kasar pada keponakan Bi Ijah, Iqbal sendiri lupa jika dirinya tidak kalah kasar dari Zain.
"Maaf Tuan."
Nadine pun keluar dari mobil dengan wajah bersungut-sungut.
"Hey, mau kemana?... Mending berangkat bareng kami ke kampusnya. Toh jalannya searah dengan kantor Iqbal." Rani menahan tangan Nadine.
"Nanti telat loh kalau naik angkot, ini udah jam berapa?..."
"Ayo masuk, ini perintah." Ucap Iqbal yang malas berbasa-basi.
"Iya Tuan." Nadine menurut saja, bagai kerbau yang di cocok hidungnya. Suara Iqbal terdengar begitu menakutkan di telinga Nadine.
"Iqbal, kamu nakuti dia tahu." Ucap Rani sambil melangkah memasuki mobil.
"Diam lah." Iqbal dan Rani duduk di belakang sedangkan Nadine kembali duduk di jok depan tepat di samping Zain.
"Zain kau apakan anak orang sampai rambutnya berantakan begitu?..."
"Rambutku di Jambak kak sama dia." Sahut Nadine, Zain hanya menghembuskan nafas kesal.
__ADS_1
"Heh, Zain jangan suka melakukan kekerasan sama anak orang." Keluh Rani sambil menusuk nusuk pundak Zain dengan jari telunjuknya. Membuat Zain semakin kesal namun tidak bisa berbuat apa pun karena ada Iqbal di samping Rani.
"Aaakkkkhhhhh..." Rani berteriak saat Iqbal benar benar mencubit pahanya.
"Iqbal sakit." Rani menepuk paha Iqbal dengan cukup keras.
"Sekali lagi kau menyentuh Zain, akan ku pukul Zain."
"Pukul saja aku tidak takut." Sahut Rani dengan nada ketus.
"Aku lagi yang kena batunya." Zain membatin semakin kesal.
"Geser dudukmu."
"Ini sudah mentok Iqbal."
"Aku bilang geser ya geser."
"Iiiiiihhhhh ngeselin." Rani pun menggeser duduknya. Dengan segera Iqbal merebahkan kepalanya di pangkuan Rani.
"Iqbal, malu tuh ada Zain dan anak di bawah umur."
"Gadis yang di depan tutup mata dan telingamu." Ucap Iqbal.
"Namanya Nadine." Rani malah menepuk lengan Iqbal, Iqbal membalas dengan menggigit paha Rani membuat si empunya geli bercampur sakit. Iqbal malah tergelak menahan tawa.
Zain melirik Nadine, dia tersenyum melihat ekspresi wajah Nadine yang menutup matanya rapat-rapat dan juga menutup kedua telinganya dengan kedua tangannya karena ulah bosnya yang tak ada akhlak.
"Iiiiiihhhhh ngeselin, mending naik angkot dari pada berpose aneh kek gini di dekat dua pria ini."
__ADS_1