
Rani segera membawa Nadine keluar dari kamar, mereka melangkah dengan tergesa. Di depan rumah dia sudah melihat Iqbal yang matanya mengarah padanya. Setelah mereka sampai di samping mobil Iqbal melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya.
"20 menit, telat sepuluh menit."Ujar Iqbal.
"Hehe maaf."
Iqbal membukakan pintu mobil untuk Rani, setelah Rani masuk mobil Iqbal memutari mobil bagian belakang lalu duduk di samping Rani.
"Kalau tahu jalan-jalan dengan tuan Iqbal mending nggak usah ikut." Nadine membatin, masih berdiri canggung di luar.
"Zain suruh Nadine masuk." Ucap Rani.
Zain menghela nafas kesal, entah karena apa.
"Dasar pelit." Rani menggerutu karena Zain tak merespon perkataan Rani. Dia hanya menurut dengan Iqbal.
Rani membuka jendela. "Nadine ayo masuk."
Zain pun akhirnya membuka pintu untuk Nadine namun masih dengan posisi duduk di kemudi.
"Masuk." Ucap Zain.
"Zain jangan galak galak. Sekali kali santai lah."
Ucap Rani.
Nadine memasuki mobil, dia duduk di samping Zain namun Zain tidak meliriknya sedikit pun. Zain mulai melajukan mobilnya. Saat Zain sampai di depan pintu gerbang dia menghentikan mobilnya menunggu gerbang di buka.
"Zain, Nadine cantik ya." Ucap Rani. Namun Zain tidak bergeming, pandangannya masih fokus ke depan.
"Kenapa kamu mengajaknya Ran?..." Iqbal bertanya.
"Kita kan mau double date." Jawab Rani.
"APA?..." Ucap Nadine dan Zain bersamaan, mereka berdua akhirnya saling pandang. Keduanya memasang wajah penuh keterkejutan. Zain dapat melihat dengan jelas wajah cantik Nadine, namun hatinya sama sekali tidak tertarik. Saat melihat Zain wajah Nadine berubah merengut hingga bibir itu makin maju. Rani tersenyum penuh kemenangan.
"Iqbal, bantu aku nyomblangin mereka. Sudah saatnya Zain merdeka dari masa lalunya." Rani berbisik ke telinga Iqbal, namun Iqbal tak bergeming.
Nadine melihat ke belakang, menatap Rani.
"Kak, aku nggak ikut. Aku balik saja ya." Nadine merengek dengan wajah yang di buat memelas. Rani hanya menggelengkan kepalanya sedangkan jari telunjuknya menggaruk paha Iqbal, meminta dukungan dan bantuan darinya.
"Zain, jalan."
"Tapi Tuan?..."
"Jalan." Ucap Iqbal tegas tak terbantahkan. Setelah menghembuskan nafas berat, Zain kembali mengemudikan mobilnya. Nadine menatap kesal ke arah Zain yang pandangannya selalu fokus ke depan.
"Jangan melihatku seperti itu."
"Iiiiiihhhhh GR. Memangnya aku lihat apa?..." Zain tidak menjawab, dia terlalu kesal. Membantah Iqbal, tentu dia tidak berani. Yang ada Iqbal akan marah. Dia hanya melirik Nadine dengan tatapan sinis.
Rani memeluk Iqbal."Kalau kamu manis begini, aku makin cinta." Rani berbisik ke telinga Iqbal. Iqbal pun tersenyum dan mengecup puncak kepala Rani.
"Sejak dulu kamu memang memiliki hobi jadi Mak comblang." Iqbal berbisik ke telinga Rani.
Rani hanya melirik Iqbal dengan wajah masam. Jadi Mak comblang sangat menyakitkan pikir Rani.
"Tidak akan mudah meluluhkan hati Zain."
"Ah, masak. Kalau Zain tidak tertarik dengan Nadine berarti mata Zain rabun." Rani dan Iqbal saling berbisik.
__ADS_1
"Bukan matanya yang rabun, tapi hatinya mati suri."
Rani malah cekikikan mendengar perkataan Iqbal. "Memangnya ada ya, hati mati suri."
"Jika Zain dan Nadine menikah maka aku akan menghadiahkan mereka berdua sebuah rumah."
"Nggak salah nih?..."
"Zain sangat berjasa dalam pengembangan perusahaanku."
***
Beberapa saat kemudian Mereka sudah sampai di Mall. Rani berjalan dengan tangan yang melingkari lengan Iqbal, mereka berdua asyik mengobrol.
Sementara Nadine berjalan di samping Zain dengan rasa canggung sebab Zain selalu memasang wajah datar.
"Tujuan kita kemana sekarang?..." Ujar Iqbal.
"Kalau nonton dulu gimana?..."
"Mau nonton film apa?..."
"Horor."
"Kalau drama romantis gimana?..."
"Ah nggak seru. Pengen nonton film horor aja."
"Apa nggak ngaruh dengan bayi di kandungan mu?..."
"Aduh Iqbal, kita itu nonton film bukan naik Roller coaster."
"Bagaimana jika kamu takut dan perutmu sakit lagi."
"Terserah kamu sajalah."
Mereka terus melangkah menuju gedung bioskop.
"Kak..." Nadine mendongak untuk melihat Zain.
"Apa?..." Zain bertanya dengan pandangan yang masih lurus ke depan.
Nadine menggaruk kepalanya, dia bingung mau bicara apa. "Garing banget nggak asyik." Nadine menggerutu tapi masih bisa di dengar oleh Zain.
"Kalau perlu sesuatu katakan."
"Kirain kakak lagi sariawan, diam Mulu dari tadi."
"Kapan kamu mau bayar hutang?..."
"Ya elah, sekalinya Ngomong malah nagih utang. Pasti aku bayar, tapi kalau sekarang Aku belum punya uang."
"Sudah terlihat dari penampilan mu setiap harinya."
"Eh, ternyata diam diam kakak merhatiin aku ya...Ikikikiki..." Nadine mendapatkan tatapan tajam dari Zain karena menertawakannya.
"Jangan pernah bermimpi."
"Setiap orang harus punya mimpi, biar bisa membangun mimpinya yang tinggi."
"Khayalan mu terlalu tinggi."
__ADS_1
"Lah bener kan kak, aku jauh jauh kuliah di sini biar bisa membangun mimpi mimpiku yang ada di alam mimpi."
"Ck..." Zain berdecak kesal karena berdekatan dengan gadis yang banyak bicara.
"Kakak cita citanya apa?..."
"Menjauh darimu." Nadine mengerucutkan bibirnya saat mendengar jawaban dari Zain.
"Kakak nggak tanya cita citaku apa?..."
"Apa?..."
"Jadi istrimu." Zain hanya menggelengkan kepalanya jengah, Nadine Sendiri merasa geli mengucapkan kata itu. Menjadi istri pria dingin seperti Zain, oh no.
"Iiiiiihhhhh bercanda kak...Jangan di anggap serius, kakak itu bukan tipeku." Zain diam saja tidak menjawab.
"Pantas saja tidak laku laku." Ucap Nadine lirih.
"Ehem..." Zain berdehem kesal.
"Hehe, bercanda."
***
Setelah sampai di gedung bioskop Iqbal berbisik pada Zain, meminta Zain untuk duduk berjauhan dari Rani dan dirinya sebab Iqbal tidak ingin kehadiran Zain dan Nadine mengganggunya nanti.
Setelah membeli tiket masuk bioskop dengan genre film horor. Zain juga membeli pop corn dan minuman untuk mereka berempat.
Mereka pun masuk ke gudang bioskop. Iqbal memilih duduk di kursi paling belakang.
"Iqbal kok duduk di ujung belakang sih."
"Aku takut lihat hantu."
"Iiiiiihhhhh, aku nggak percaya orang seperti mu bisa takut hantu." Iqbal malah tertawa tanpa mengeluarkan suara.
"Eh, Zain sama Nadine di mana?..."
"Itu." Iqbal menunjuk Zain dan Nadine yang duduk di kursi bagian tengah.
"Mereka serasi kan."
"Lebih serasi kita."
"Serasi apaan?... Kamu nyebelin gitu." Iqbal mencubit pipi Rani.
Beberapa saat kemudian ruang bioskop mulai gelap pertanda film akan di mulai, Iqbal juga sudah memulai filmnya sendiri.
"Iiiiiihhhhh Iqbal, udah ah. Di rumah tadi juga udah, aku mau fokus lihat film nih." Rani menggerutu kesal setelah Iqbal melepaskankan pagutan bibir mereka. Iqbal hanya tergelak menahan tawa.
"Duduk mojok di belakang tujuannya cuma mesum."
"Maaf khilaf."
"Malu tahu kalau di lihat orang."
"Tidak ada yang lihat, aman."
Rani menyandarkan kepalanya ke bahu Iqbal. Iqbal terus saja menyuapi Rani dengan popcorn.
"Bug, bug, bug..." Film sedang menayangkan suasana malam hari, terdengar suara seperti kelapa yang jatuh dari pohon. Saat di lihat oleh sepasang suami istri di bawah pohon kelapa tidak ada apa apa. Ketika berbalik ada sebuah kelapa, Sang suami hendak memungut buah kelapa itu. Di lihat dari dekat, buah kelapa itu malah berbalik ternyata bukan kelapa namun sebuah kepala yang tiba-tiba muncul dengan dengan suara tawa cekikikan...."Hikikikikiki...."
__ADS_1
"Aaaaakkkhhh..." Semua orang yang berada di ruangan bioskop berteriak histeris saat melihat penampakan hantu kepala dengan wajah yang sangat menyeramkan.
Tapi Iqbal dan Rani malah tertawa menyaksikan Nadine yang memeluk lengan Zain karena ketakutan. Iqbal dapat membayangkan reaksi kesal Zain saat berdekatan dengan seorang wanita, ya itulah Zain. Beberapa orang yang berada di samping Rani dan Iqbal terlihat heran dengan reaksi yang di tunjukkan oleh Rani dan Iqbal.