
"Zain...Zain...Zain tolong berhenti. Dengar kan aku sebentar... Zain." Riska sedikit berlari untuk mengimbangi langkah kaki panjang Zain yang berjalan tergesa. Dia terus melangkahkan kakinya berjalan di koridor rumah sakit, melewati setiap ruangan yang berderet. Zain sama sekali tak mengindahkan panggilan Riska.
Saat bertemu Zain, Perasaan yang masih ada menguar lebih kuat hingga membuat otaknya menuntunnya untuk menarik perhatian Zain. Hatinya menangis, meratapi dan menyesali segala kebohongannya di masa lalu.
"ZAIN..." Riska menarik tangan Zain dengan keras hingga langkah kaki Zain terhenti.
"Jangan pernah menyentuh ku dengan tangan kotor mu." Ucap Zain dengan wajah datarnya, berusaha menutupi rasa sakit yang saat ini dia rasakan. Kenapa harus bertemu dengannya lagi di saat dia belajar untuk melupakannya, kejadian itu sudah bertahun-tahun lamanya tapi kenapa rasanya masih sangat sakit apa lagi melihat wajah putus asanya.
"Zain tolong jangan bersikap dingin padaku." Ucap Riska dengan wajah sendunya.
Bukannya menjawab, Zain malah melangkah pergi namun lagi lagi Riska menghadangnya.
__ADS_1
"Zain aku minta waktu mu sebentar."
"Aku tidak punya waktu untuk wanita seperti mu." Bukannya pergi, Riska malah menarik tangan Zain ke tempat yang lebih sepi tak jauh dari posisinya saat ini.
"Aku masih sangat mencintaimu, Perasaan itu tidak berkurang sedikitpun. Aku menyesali semua perbuatanku di masa lalu. Zain aku sangat merindukanmu, aku masih mencintaimu."
Zain tak bergeming, juga tidak mau melihat Riska.
"Zain tolong katakan sesuatu, agar aku mengerti. Zain aku sangat merindukan mu, setiap hari aku selalu memikirkan mu, aku tidak pernah mencintai Rangga. Meskipun kami sudah menikah tapi aku tidak pernah memberikan cintaku padanya."
"Zain aku tau kamu masih mencintai ku, kebencian mu dan kemarahan mu menunjukkan jika cinta itu masih ada untukku."
__ADS_1
"Dia bisa memberikan apapun yang kau inginkan, yang tidak bisa ku berikan padamu. Jadi untuk apa kau menahanku?..."
"Sebesar itukah rasa dendam yang bersarang di hatimu untukku sampai kamu tidak bisa memaafkan kesalahan ku dulu. Kejadian itu sudah lama Zain."
Zain memegang kedua bahu Riska dan mendorongnya ke dinding.
"Lama... Lama kau bilang... Kau tahu seberapa lama hatiku terluka?... Cinta mu begitu sadis Riska, cintamu begitu sadis. Di sini, disini luka itu masih belum sembuh Riska." Zain menepuk nepuk dadanya sendiri yang terasa sakit dengan pandangan mata yang nyalang dan merah.
"Maka dari itu aku ingin memperbaiki semua kesalahanku di masa lalu, tidak apa-apa meskipun kamu tidak mencintai ku lagi. Aku hanya ingin berada di sisimu, aku akan memberikan cintaku pada mu dan mengabdikan hidupku untukmu. Tidak perlu kamu membalas cinta ku. Aku hanya ingin menebus dosa ku dan berada di sisimu lagi. Karma yang ku dapat atas perbuatanku di masa lalu sangat besar, aku sudah membayar penghkianatanku." Riska mulai putus asa, derai air mata mulai mengalir membasahi pipinya. Tapi Zain menutup mata, telinga dan hatinya untuk Riska tak peduli dengan rasa sakit yang ia rasakan.
"Aku sudah cukup baik tidak pernah mengusik kehidupanmu lagi tapi Aku tidak cukup bodoh untuk mempercayaimu."
__ADS_1
"Zain tolong beri aku kesempatan satu kali lagi."
"Aku masih perjaka, pantang bagiku memakan roti bekas pria lain." Ucap Zain geram saat mengingat peristiwa penghkianatannya dulu. Bukan karena status jandanya dia menolak cinta Riska, melainkan karena harga diri seorang lelaki yang melihat dengan mata kepalanya sendiri orang yang sangat dia cintai bercumbu dengan sahabatnya sendiri.