
Keesokan harinya Iqbal, Aan, Nabila, Bu Narsih dan paman Rani berangkat ke Jakarta. Sementara Yusuf menolak dengan alasan sibuk, nyatanya dia tidak akan sanggup melihat pernikahan Rani dan Iqbal.
Tidur Rani terganggu akibat belaian lembut kasih sayang seorang ibu yang akan selalu ada sepanjang masa. Saat mata Rani terbuka, menetes lah air mata Rani saat senyum ibunya mengembang ke arahnya.
"Ibu." Rani beringsut duduk dan berhambur ke pelukan ibunya. Ibu yang ia rindukan.
"Ibu maaf..." Bisik Rani lirih bersama dengan derai air mata. Bu Narsih terus membelai rambut Rani.
"Dosa adalah penyakit, tobat adalah obatnya. Renungkan hidupmu, sesali kesalahanmu, dan bertobatlah. Bersyukur kamu masih bernafas, masih di beri kesempatan bertaubat."
"Sudah jangan sedih lagi." Rani melepaskan pelukannya demi bisa melihat wajah yang sudah lama ia rindukan.
"Maafin Rani udah bikin ibu malu dan kecewa."
Bu Narsih menggenggam erat tangan Rani, berusaha menyalurkan ketenangan dan kekuatan hati. Agar Rani tahu semua akan baik-baik saja. Keluarganya akan selalu ada untuknya.
"Kenapa kamu tidak cerita sama Ibu masalah sebesar ini sama ibu. Kenapa malah di pendam sendiri. yang akhirnya bikin kamu bingung tak tentu arah."
"Maafin Rani Bu, Rani salah..."
"Ibu juga salah..."
"Rani sama Iqbal yang salah. Ibu nggak salah apa apa."
"Semua musibah pasti ada hikmahnya. Jangan menambah dosa dengan dosa yang lain."
"Ibu juga salah. Membiarkan anak gadis ibu mandiri di kota orang tanpa perhatian dan pengawasan. Harusnya ibu tidak pernah nolak lamaran Nak Iqbal agar ada suami yang menjagamu."
"Nggak, Ibu nggak salah. Rani yang salah." Rani semakin terisak melihat Bu Narsih menyeka air matanya.
"Udah jangan main salah salahan, aku jadi ikut sedih." Ucap Nabila yang tiba-tiba muncul dan memeluk Rani.
"Kami semua akan selalu ada buat mbak Rani. Sekarang Mbak Rani jangan terlalu banyak pikiran biar nggak stress. Kasian bayi mbak Rani nanti ikut sedih kalau Mamanya sedih."
"Terima kasih ya dek." Ucap Rani seraya mengkhusuk khusuk rambut Nabila.
"Iya mbak sama sama. Jangan sampai satu kesalahan menghapus sejuta kebaikan yang mbak beri buat keluarga kita."
"Kesalahan yang mbak lakuin nggak bisa di sandingkan dengan itu dek.... Salah ya tetap salah."
Iqbal yang mengintip dari balik pintu tersenyum senang melihat kerukunan dan kehangatan yang di tunjukkan Keluarga Rani.
***
Di halaman belakang, Iqbal sedang mempersiapkan kejutan untuk Rani seperti yang Rani minta dahulu di kampung Nelayan.
__ADS_1
Semua bahan yang di perlukan sudah lengkap, tinggal prosesnya saja. Iqbal ingin mewujudkan impian kecil Rani walaupun semua sudah kacau balau karena ulahnya.
Iqbal memberikan design pada tukang karena Iqbal terlalu sibuk untuk mengurusnya sendiri.
***
Rani mencari keberadaan Iqbal, dia rindu wajah yang selalu menentramkan hati ketika di pandang. Belaian lembut yang selalu membuatnya seperti tersengat aliran listrik. Rani rindu semua itu dari Iqbal. Di meja makan saat semua sedang makan malam bersama Iqbal juga tidak memperlihatkan batang hidungnya. Di kamarnya tidak ada, di ruang kerja juga tidak ada. Sejak tadi mata Rani mencari keberadaannya.
"Bi, Iqbal di mana?..." Akhirnya Rani bertanya pada salah pekerja di rumah Iqbal.
"Tadi saya melihatnya di pinggir kolam renang."
"Ouw.... Terimakasih." Dengan langkah tergesa Rani berjalan menuju kolam renang. Di lihatnya sosok Iqbal dari belakang sedang menyebulkan asap rokok sambil memainkan HP.
"Terlalu banyak merokok itu tidak baik untuk kesehatan, apa lagi malam hari. Kurangi kebiasaan merokok mu itu." Iqbal yang mendengar suara Rani pun menoleh.
"Ran kau belum tidur." Rani terkejut melihat penampakan Iqbal, wajah tampannya di bumbui lebam berwarna keunguan di tambah plester di bagian pelipis matanya.
"Iqbal kau kenapa?..." Rani pun duduk di kursi yang berada di samping Iqbal."Kenapa bisa jadi begini?..." Rani menyentuh wajahnya lebam Iqbal dengan lembut.
"Biasa. Laki laki."
"Siapa yang melakukannya?..."
"Itu tidak penting."
"Sudah malam, waktunya tidur. Ayo ku antar ke kamar."
"Aku belum ngantuk."
"Lusa kita akan menikah. Kau harus banyak istirahat."
"Tapi Iqbal...!"
"Apa kau sudah minum susu?..."
"Belum." Jawab Rani seraya menggeleng.
"Ayo masuk. Akan ku buatkan." Iqbal menarik tangan Rani hingga berdiri, mereka pun bergandengan tangan memasuki rumah menuju dapur sambil sesekali melempar senyum kebahagiaan yang sudah ada di depan mata.
"Mau tunggu di kamar atau mau ikut ke dapur?..." Iqbal bertanya sambil melangkah saat langkahnya sudah mendekati kamar Rani, hanya perlu berbelok sedikit.
"Ikut ke dapur..." Setelah mendapat jawaban dari Rani, Iqbal pun meluruskan langkahnya menuju dapur.
"Kenapa tidak tunggu saja di kamar biar tidak capek?..."
__ADS_1
"Nggak mau. Bayinya kangen sama Papanya."
Iqbal pun tersenyum dan menoleh demi untuk melihat ekspresi Rani.
"Anak atau Mamanya yang kangen?..."
"Iiiiiihhhhh Ge er..." Lagi lagi Iqbal mengulum senyum.
Sesampainya di dapur Iqbal dan Rani melihat asisten rumah tangganya sedang menata piring.
"Tuan ada yang bisa saya bantu."
"Aku Ingin membuat susu untuk Istriku." Hati Rani berbunga bunga saat Iqbal mengatakan Rani istrinya. Hanya membayangkan saja sudah membuat Rani terbang ke awang-awang.
"Biar aku yang membuatnya sendiri. Keluar lah."
"Baik Tuan." Ucapnya seraya menunduk hormat.
"Duduk lah." Iqbal menarik kursi untuk Rani duduk. Lalu Iqbal menyalakan kompor dan memasak air, setelah itu dia mengambil gelas dan toples berisi susu hamil dari dalam laci. Iqbal pun menghampiri Rani dan duduk di hadapannya.
"Tunggu airnya mendidih."
"Iya."
Iqbal memperhatikan perut Rani, lalu mengusapnya. Hatinya berdesir bahagia. Ada makhluk kecil yang kini hidup di perut wanita yang sangat ia cintai.
"Kamu mencintainya."
"Ya, aku mencintainya setelah tahu dia ada. Dia anakku. Anak kita. Aku juga mencintaimu."
Ceret yang berada di atas kompor berbunyi, pertanda air sudah mendidih.
Iqbal pun bangkit, membuka toples berisi Susu Ibu hamil dan memasukkan 3 sendok susu bubuk lalu mematikan kompor dan menuangkan air panas yang mengeluarkan kepulan asap ke dalam gelas berisi susu bubuk.
"Mau minum di mana?..."
"Di sini juga tidak apa apa." Setelah mengaduk ngaduk Susunya, Iqbal memberikannya pada Rani. Rani menuangkan susu ke dalam lepek. Bibir Rani sudah mengerucut untuk meniupnya.
"Jangan di tiup. Tunggu saja sampai dingin."
"Lama dinginnya."
“Tidak boleh meniup makanan atau minuman panas. Kuman yang ada di mulut atau bakteri di dalam mulut bisa berpindah ke dalam makanan dan minuman.”
"Menurut reaksi kimia, apabila uap air dari panas makanan bereaksi dengan karbondioksida dari uap mulut maka akan membentuk senyawa asam karbonat yang bersifat asam. Asam karbonat ini mengganggu pH dalam darah sehingga membuat tubuh mudah terpapar radikal bebas."
__ADS_1
"Kelamaan nunggu dingin."
"Tidak apa, kita kan bisa berduaan. Katanya anakku merindukan ku."