
Rani bersandar di headboard ranjang, merenungkan setiap ucapan Zain. Alyn sudah menikah dan bahagia dengan suaminya, tidak ada yang perlu di takutkan dan di ragukan lagi atas perasaan Iqbal padanya. Selama bertahun-tahun mencintai tanpa mengharapkan balasan tapi saat cintanya terbalas kenapa ia malah menyia-nyiakannya.
Jika mengingat masa lalu, Iqbal sudah banyak membantunya. Bantuan yang membuatnya jatuh hati pada Iqbal.
Walaupun salah tapi setidaknya Rani beruntung, bukan Heru yang telah memperdaya dirinya. Iqbal bukan tidak serius padanya, beberapa kali dia melamar dirinya tapi selalu berakhir dengan penolakan. Tak seharusnya Rani menutup mata atas pengorbanan dan penantian Iqbal selama ini.
Derita yang dia alami juga karena salahnya sendiri, karena kabur tanpa memberikan alasan yang jelas hingga akhirnya dia di jual oleh Heru pada Steven. Kesalahan bukan hanya ada pada Iqbal, tapi dirinya juga ikut bersalah karena membawa laki laki masuk ke dalam rumahnya hanya berduaan saja.
***
Sore hari Iqbal sampai di depan rumah Bu Narsih. Kini Iqbal berdiri mematung di depan pintu rumah Ibu Narsih dengan menenteng 2 kantong keresek besar sebagai oleh oleh untuk Ibu Narsih, berharap dengan oleh oleh yang dia bawa bisa mengurangi sedikit emosi di hati Bu Narsih. Walaupun mustahil rasanya, Mengingat kejadian terakhir saat Iqbal datang kemari dan mengamuk karena Rani ingin mengakhiri hubungannya. Iqbal belum sempat meminta maaf karena pikirannya yang kacau atas hilangnya Rani. Keadaan kacau balau seperti ini semua karena Iqbal. Namun seperti biasa, wajah Iqbal datar tanpa ekspresi. Walaupun hatinya gelisah dan merasa bersalah namun wajahnya tidak bisa mengekspresikan perasaan yang ia rasakan saat ini.
"Kak Iqbal... Kenapa berdiri di luar." Mendengar ucapan Nabila Iqbal menoleh.
"Ibunya ada?..." Ucap Iqbal dengan wajah tanpa ekspresi.
"Ada kak di dalam. Ayo masuk." Jawab Nabila sopan walaupun tahu masalah yang terjadi beberapa bulan yang lalu. Iqbal pun memasuki rumah mengikuti Nabila.
"Bil, ini ada sedikit oleh oleh." Setelah berada di ruang tamu, Iqbal memberikan 2 kantong keresek yang ia bawa pada Nabila.
"Ngapain sih kak repot repot segala?..." Walaupun sungkan Nabila tetep menerima pemberian dari Iqbal.
"Kok sepi Bil?..."
"Iya kak, cuma ada aku sama Ibu. Suamiku kerja."
"Tunggu di sini sebentar ya kak, aku panggilkan Ibu dulu."
"Iya." Jawab Iqbal seraya mengangguk. Nabila pun pergi meninggalkan Iqbal seorang diri di ruang tamu untuk kemudian menemui Ibunya.
"Bu, ada kak Iqbal di ruang tamu. Dia juga bawa banyak oleh oleh."
"Ada apa lagi dia datang kemari?..."
"Nggak tahu. Mungkin mau melamar mbak Rani lagi! Udah temuin aja Bu, biar nggak penasaran. Aku mau buatin kopi dulu." Iqbal menajamkan pendengarannya demi untuk mendengar percakapan antara ibu dan anak.
Saat melihat Bu Narsih menghampirinya, Iqbal bangkit dari sofa yang ia duduki. Dapat terlihat jelas tatapan matanya tak bersahabat, Iqbal pun meraih tangan Bu Narsih dan mencium punggung tangannya.
__ADS_1
"Silahkan duduk." Ucap Bu Narsih. Iqbal pun mengangguk lalu duduk berbarengan Ibu Narsih.
"Ada apa Nak Iqbal datang kemari?..."
"Sebelumnya saya ingin meminta maaf atas sikap saya yang tidak sopan dan kurang ajar terhadap anda tempo lalu."
"Iya... Saya sudah memaafkan kamu."
"Kedatangan saya kemari untuk melamar Rani, saya ingin segera menikahinya." Ucap Iqbal to the point.
"Bukannya hubungan kalian sudah berakhir waktu itu. Maaf ya Nak Iqbal tapi Ibu tidak berani terima lamaran kamu kalau Rani tidak mau." Iqbal masih menunduk mendengar pernyataan Ibu Narsih.
"Kami masih menjalin hubungan Bu. Kami harus segera menikah. Karena saya sudah melakukan kesalahan yang membuat Rani..." Ucapan Iqbal terjeda sejenak. "Saat ini Rani... Rani sedang hamil." Sontak ungkapan Iqbal membuat Ibu Narsih terkejut dan memegangi dadanya.
"Ha.. Hamil... Ra-Rani Hamil???...." Ucap Bu Narsih terbata bata. Ibu Narsih terkejut, beliau sangat kecewa, putri yang selama ini ia banggakan, putri yang menjadi tulang punggung dan memberikan kehidupan yang layak untuk keluarga kecilnya bisa hamil di luar nikah. Ibu Narsih berharap bahwa ia salah mendengar.
"Iya saat ini Rani sedang mengandung anak saya."
"Praankkk..." Nampan berisi secangkir kopi jatuh ke lantai karena terkejut mendengar ucapan Iqbal.
"IBUUU..." Nabila berteriak saat melihat Ibu Narsih pingsan. Dengan sigap Iqbal meraih Bu Narsih dalam pelukan.
"Bu, bangun."
"Ibu Kenapa?..."
"Ambil minyak angin Bil."
"Iya kak." Nabila berlari masuki kamar sementara Iqbal menidurkan Bu Narsih di kursi panjang. Tak lama kemudian Nabila datang dengan membawa minyak angin. Iqbal mengoleskan minyak angin ke leher, kening dan hidung Bu Narsih.
"Ibu bangun dong Bu..." Nabila terlihat begitu cemas, dia memijati kaki Ibunya yang tidak kunjung sadar. Nabila yang kebingungan akhirnya pergi keluar untuk memanggil pamannya.
Iqbal semakin di hantam rasa bersalah melihat keadaan Ibu Narsih seperti ini. Padahal ia sangat berharap Bu Narsih akan memarahinya dan memukulinya dengan begitu penyesalan dan rasa bersalah yang selama ini setia menemani Iqbal bisa berkurang sedikit. Tapi reaksi yang di berikan Bu Narsih malah berbanding terbalik.
***
Dengan nafas yang masih tersengal-sengal akibat berlari Nabila mengetuk pintu rumah pamannya dengan tidak sabaran.
__ADS_1
Saat pintu terbuka Yusuf terlihat heran menatap Nabila yang berdiri di depan pintu.
"Paman mana kak?..."
"Hey, ada apa Bil?..."
"Ibu... Ibu..."
"Bibi Kenapa?..." Yusuf bertanya dengan nada khawatir sambil memegangi kedua bahu Nabila.
"Ibu pingsan Kak karena dengar mbak Rani hamil."
"APA?..."
"Mbak Rani hamil."
"SIAPA?...SIAPA YANG BERANI MENGHAMILI RANI?..." Ucap Yusuf yang terlihat murka dan cemburu tidak rela Rani di kotori oleh sembarang orang.
"Kak Iqbal."
"Be reng sek. Di mana dia sekarang?..."
"Di rumah." Dengan langkah tergesa Yusuf berjalan ke rumah Bu Narsih.
"Bug..." Tanpa basa-basi Yusuf meninju Iqbal yang tengah lengah saat Iqbal sedang meletakkan bantal di bawah kakinya Bu Narsih untuk menaikkan kakinya lebih tinggi sekitar 30 cm dari dada, guna mengembalikan aliran darah kembali ke otak. Pukulan keras dari Yusuf membuat Iqbal tersungkur dan pelipisnya terluka mengenai ujung meja mengakibatkan lelehan darah segar mengucur dari sana, sudut bibirnya robek dan terasa asin akibat lelehan darah.
Saat melihat Yusuf lah yang meninjunya, Iqbal lebih ganas membalas pukulan Yusuf, akhirnya terjadilah perkelahian di antara keduanya.
"Udah... Udah... Berhenti... Tolong berhenti..." Keduanya sama-sama mengadu kekuatan, tak mengindahkan teriakan Nabila.
Suami Nabila yang baru saja pulang bekerja di kejutkan dengan suguhan di depan matanya yang melihat perkelahian Yusuf dan Iqbal. Beruntung kedatangan suami Nabila bisa melerai perkelahian mereka. Keduanya sama-sama babak belur. Iqbal bertarung melawan pelatih Ju Jitsu.
Aan suami Nabila memegangi Iqbal sementara Nabila memegangi Yusuf.
***
"Kalian itu sama-sama dewasa, Kenapa berkelahi seperti anak kecil. Kekerasan itu tidak akan menyelesaikan masalah. Kekerasan itu nggak banget deh... Aku panggil kak Yusuf ke sini buat bantu Ibu biar sadar, Ini malah tambah kekacauan. Lihat Ibu masih pingsan nah aku malah ngurusin kalian berdua kayak gini." Nabila ngedumel panjang lebar menentang keras sikap brutal kedua manusia yang sampai saat ini masih memberikan tatapan permusuhan, yang siap menerjang kapan pun jika tidak ada Nabila dan Aan.
__ADS_1