
Setelah teh selesai di buat, dengan wajah yang di tutupi masker Nadine mengantarkan teh tersebut pada Zain yang sedang di duduk di sofa ruang tamu. Dia meletakkan secangkir teh di hadapan Zain.
"Terima kasih." Ucap Zain. Namun Dia tidak menjawab. Setelah itu dia berbalik dan melangkah pergi, barulah dia bisa bernafas lega.
"Apa kau tidak bisa bicara?..." Ujar Zain tiba tiba membuatnya terperanjat, sebab sejak tadi dia bicara namun tidak sekali pun Nadine menjawab, membuat tubuh Nadine menegang, terkesiap mendengar suara Zain.
"Bisa Tuan." Sahut Nadine dengan nada dingin karena di anggap bisu dan masih membelakangi Zain.
"Apa kau bisa bersikap sopan! Begini kah caramu berbicara dengan orang?..."
"Huuuuufffhhh, cerewet sekali." Nadine menggerutu dalam hati.
Nadine berbalik hingga menghadap Zain.
"Maaf Tuan, saya bisa bicara." Ucapan Nadine malah mendapat tatapan tajam dari Zain.
"Lalu kenapa tidak pernah menjawab ucapan ku."
"Maaf saya sariawan." Sergah Nadine cepat."Ah, aku mulai pandai berbohong."
"Sepertinya aku pernah melihat mu!!...?"
"Hey hey,,, Mampus, mau apa dia mendekat." Nadine mulai gelisah saat melihat Zain mulai mendekatinya.
"Buka masker mu." Ucap Zain setelah berhadapan dengannya.
"Deg..." Bukan hanya jantung Nadine yang hampir copot karena mau keluar, tapi matanya pun ikut melotot mau keluar.
"Uhuuukkk Uhuuukkk Uhuuukkk Uhuuukkk, Saya Flu, takut anda tertular."
Zain meringis jijik. "Pergilah..."
Nadine pergi dengan langkah panjang, meninggalkan Zain seorang diri. Dia bisa bernafas lega setelah sampai di dapur.
"Huuuuufffhhh..." Nadine bernafas lega tentunya dengan nafas yang masih tersengal-sengal.
"Kenapa lagi kamu?..." Ucap Bi Ijah yang baru saja selesai membereskan meja makan.
"Nggak apa-apa Bi. Oya Bi, itu Tuan Zain kenapa bisa di sini sih?..."
"Dia itu asisten pribadi Taun Iqbal, kemana mana mereka selalu bersama. Pergi ke kantor pun selalu Tuan Zain yang menjemput."
"Berarti setiap hari dia kesini dong."
"Iya, meski tanggal merah dia juga sering kesini. Jika malas pulang dia juga akan tidur di sini."
"Harus cepat cari kerja sampingan nih, biar bisa cepat ganti rugi tuh mobil orang."
"Heh malah ngelamun." Bi Ijah membuyarkan lamunan Nadine dengan menepuk lengannya.
"Hehehehe..." Nadine tak menjawab, dia berjalan ke arah Westfalen untuk mencuci piring kotor lalu.
__ADS_1
***
Di ruang makan Rani terlihat berisik bersenda gurau dengan Nabila, sebab pagi ini Keluarga Rani akan kembali ke kampung Nelayan. Sedangkan Iqbal menyeruput kopi buatan Rani setelah sarapan selesai sambil sesekali memperhatikan raut bahagia di wajah istrinya.
Iqbal bangkit saat mendengar HPnya berbunyi, dia menjauhi Rani dan Nabila yang sedang asyik bercengkrama.
Beberapa saat kemudian Nabila memberikan bingkisan kecil kepada Rani.
"Mbak aku hampir lupa..."
"Apa ini Bil?..."
"Hadiah pernikahan dari kak Yusuf. Tapi jangan sampai kak Iqbal tau."
"Jangan takut, Iqbal sudah di jinakkan." Tanpa Rani sadari Iqbal menguping pembicaraan mereka di balik pintu dengan ekspresi yang tak terbaca.
"Aku takut kak Iqbal ngamuk."
"Ngamuk?..." Rani mengernyit tak mengerti.
"Hemmm.... Mukanya bonyok karena abis berantem sama kak Yusuf." Rani terperanjat kaget.
"Ehem." Iqbal tiba tiba masuk setelah berdehem. Membuat dua saudara itu salah tingkah.
"Sudah waktunya berangkat."
"Eh, iya kak."
***
Rani mencium tangan ibunya lalu memeluknya cukup lama.
"Kamu hati hati ya Nak, jaga kesehatan, kalau ada apa-apa telpon ibu." Ucap Ibu Narsih seraya mengusap punggung Rani.
"Iya Bu."
"Nurut sama suami, yang akur."
"Iya Bu."
Iqbal menghampiri Bu Narsih, mencium telapak tangan kemudian punggung tangan Ibu mertuanya.
"Titip Rani ya Nak. Tolong di jaga baik baik."
"Iya." Iqbal mengangguk. Kata sederhana dari Bu Narsih membuat Iqbal bahagia"Titip Rani." ibu mertuanya memberikan kepercayaan pada Iqbal untuk menjaga Rani, membuatnya merasa terharu.
Setelah saling berjabat tangan mereka semua memasuki mobil, Rani masih melambaikan tangannya pada Nabila yang masih memunculkan kepalanya ke luar jendela untuk melambaikan tangannya pada Rani. Iqbal merengkuh lengan Rani sambil mengusapnya.
"Jangan bersedih, ada aku disini." Ucap Iqbal, kemudian merengkuh Rani ke dalam pelukannya.
"Ayo masuk." Rani mengangguk, Iqbal pun membawa Rani ke dalam rumahnya.
__ADS_1
"Aku harus ke kantor. Apa tidak apa-apa kamu ku tinggal di rumah."
"Tidak apa-apa."
***
Di kantor Iqbal sama sekali tidak bisa konsentrasi dalam bekerja, yang dia pikirkan hanyalah Rani. Walaupun karyawan sedang presentasi di ruang rapat, pikirannya hanya fokus pada Rani, dia amat penasaran dengan hadiah yang di berikan Yusuf untuk Rani.
"Tuan." Zain membuyarkan lamunan Iqbal.
"Presentasi sudah selesai."
"Rapat di tunda." Keputusan Iqbal membuat semua yang hadir saling pandang karena heran, sebab tidak biasanya dia bersikap seperti ini. Iqbal bergegas pergi meninggalkan ruang rapat. Zain dengan segera membereskan berkas berkas yang ada di atas meja kemudian segera pergi menyusul Iqbal, sebab dia tidak ingin Iqbal menunggu lama.
***
Sesampainya di rumah, Iqbal segera mencari keberadaan Rani. Namun di kamar dia tidak ada, Iqbal pun mencari sumber suara yang sedikit bising karena seseorang sedang bersenda gurau.
"Bug, bug, bug, bug..."
"Sini gantian Nad."
"Jangan kak, nanti Tuan Iqbal marah. Kak Rani kak Rani kan di larang keras kerja berat."
"Udah sini. Suamiku belum pulang juga." Rani sudah mengambil alih adonan tepung untuk membuat roti isi coklat.
"Aduh alot banget, dari tadi adonannya nggak nyatu nyatu. Huh, capek juga." Ucap Rani pada Nadine, mereka sama-sama berkeringat setelah bergantian membanting adonan tepung. Kondisi hamil membuatnya mudah lelah.
"Siapa yang mengizinkan mu bekerja?" tanya Iqbal dari arah belakang Rani. Yang kemudian mengisyaratkan Nadine untuk pergi. Nadine pun pergi.
"Eh, Iqbal sudah pulang. Aku lagi pengen makan roti"
"Kenapa tidak suruh ART saja untuk membuatnya. Lihat keringat mu sudah banjir begitu." Iqbal sudah melingkarkan tangannya ke pinggang Rani dan mencium puncak kepalanya.
"Iiiiiihhhhh apa sih, aku kan sedang ingin makan roti isi coklat buatanku sendiri. Kamu bisa bantu ngulen adonan ini nggak."
"Bagaimana caranya?"
"Cuci dulu tanganmu," pinta Rani. Iqbal pun mencuci tangannya di wastafel lalu menghampiri Rani dan mengeringkan tangannya dengan tissue.
"Sudah, lalu?"
"Beri sedikit minyak, biar nggak lengket." Rani menuangkan sedikit minyak ke telapak tangan Iqbal. "Di usap sampai merata."
Iqbal mulai menggosok dan menautkan jemari tangannya agar minyak merata.
"Lalu di remas-remas begini terus di banting begini, bug. Paham." Rani memberikan instruksi pada Iqbal, pun hanya mengangguk.
Benar saja, tenaga laki laki memang jauh lebih besar di bandingkan dengan tenaga perempuan. Lihat saja sekarang Iqbal membanting-banting adonan tepung tanpa hambatan, tepung itu terlihat ringan saat Iqbal melayangkannya ke udara, baru saja Iqbal membanting banting tepungnya, adonan sudah mulai lembut.
Setelah adonan jadi, Rani dan Iqbal menggulung adonan tepung dengan bentuk bulat hampir menyerupai telur sedikit pipih. Setelah adonan mengembang, Iqbal, Rani dan Nadine mulai melubangi bagian tengah adonan dan mengisinya dengan coklat batangan yang sudah di haluskan. Setelah itu, Rani memasukkan adonan itu ke dalam penggorengan.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian, Wajah Rani bersungut-sungut sebab Iqbal hanya memberikan Rani 1 roti isi coklat, sisanya ia kuasai sendiri. Rasanya begitu nikmat, Iqbal sangat menyukai roti hasil karyanya sendiri bersama Rani.