
Setelah membaringkan Nadine di ranjang UKK(Unit Kesehatan Kampus), Dion menyibak rambut yang menutupi wajah cantik Nadine ke belakang. Di pandangnya Nadine dengan intens oleh kakak senior tersebut.
"Heemmmm, ternyata lebih cantik dari dekat." Ucap Dion yang duduk di sebelah Nadine. Sejak tadi Dion sudah curi pandang pada Nadine yang beraktivitas, maka dari itu saat menyadari tubuh Nadine lemas dia berlari ke lapangan dan saat tubuh Nadine mulai limbung Dion segera menangkapnya. Di gendongnya Nadine dengan langkah cepat ke ruang UKK(Unit Kesehatan Kampus).
Dia mengambil papan nama dari kardus yang di kenakan Nadine kemudian Dion gunakan untuk mengipasi Nadine.
"Ehemmm... Pacar???..." Ucap dokter yang berjaga di ruang UKS
"Eh, hehe... Masih calon." Si dokter hanya tersenyum menanggapi ucapan Dion. Lalu memeriksa kondisi kesehatan Nadine.
"Dia hanya kelelahan dan sepertinya belum sarapan." Ucap dokter tersebut. Namun Dion tetap tidak mau mengalihkan pandangannya dari Nadine, Dion menatapnya dengan rasa iba.
"Dion..." Ucap Renata, teman sekelas Dion. Dion pun menoleh.
"Ada apa?..." Sahut Dion.
"Pakai tanya ada apa!!!... Teman teman yang lain pada sibuk, kamu malah ngurusin dia." Ucap Renata sambil menunjuk Nadine.
"Dia sedang sakit, ya harus di urus lah."
"Kamu kembali lah ke lapangan. Kan ada dokter yang mengurusnya."
"Aku capek, pengen istirahat bentar di sini."
"Dion, profesional dong jadi senior." Ucap Renata dengan nada sewot sambil menarik lengan Dion hingga dia bangkit dari tempat duduknya.
"Lepas, aku bisa sendiri." Renata pun melepaskan tangan Dion.
Dion melihat Nadine sekilas sebelum pergi meninggalkan ruang UKK. Namun langkahnya bukan menuju lapangan, malah mengarah ke kantin.
"Dion kamu mau ke mana?... Lapangannya di sana." Ucap Renata sambil menunjuk ke arah lapangan.
"Aku mau ke kantin dulu."
"Aku ikut."
"Ngapain ngikutin aku, katanya anak anak pada sibuk." Ucap Dion.
"Aku juga pengen beli sesuatu di kantin, sekalian aja bareng sama kamu."
"Terserah dah." Dion berjalan sambil bersiul melewati koridor menuju kantin kampus, kampusnya cukup luas, jadi dia harus berjalan cukup jauh.
Sesampainya di kantin, Dion membeli 2 Roti dan 1 botol air mineral dengan isi 600ML dan 1 botol minuman isotonik MIZONE dengan isi 500ML. Sedangkan Renata hanya membeli 1 botol air mineral.
Dion pun pergi dari kantin menuju ruang UKK (Unit Kesehatan Kampus).
"Dion ngapain ke sini lagi?..."
"Dia belum sarapan."
"Siapa?" Renata mengernyitkan alisnya tak mengerti maksud Dion.
"Gadis itu."
"Perhatian banget sih kamu sama dia." Namun Dion tidak menggubris ucapan Renata.
Setelah memasuki ruang UKK, Dion meletakkan Roti dan minumannya di atas meja yang berada di samping ranjang Nadine.
"Dok, tolong berikan ini pada..." Terjeda sebentar sebab Dion sedang membaca nama Nadine yang tertulis di seragam SMA (kemeja putih) di bagian dada sebelah kanan. "Nadine, saat dia sadar."
"Iya." Jawab sang dokter.
__ADS_1
"Kalau begitu saya permisi dulu Dok."
"Ya."
Dion pun melangkah pergi bersama Renata yang berjalan di sampingnya.
"Kamu kenal dengan gadis itu?..." Dion hanya menggelengkan kepalanya.
"Apa kamu menyukainya?..."
"Maybe yes maybe no...!!"
***
Beberapa saat kemudian Nadine mulai tersadar, dokter itupun memberikan roti dan botol air mineral pada Nadine.
"Terimakasih..."
"Terimakasih nya jangan sama saya, tapi sama Dion."
"Dion?..." Nadine mengernyitkan alisnya tak mengerti.
"Iya, senior kamu yang membawamu kemari dan memberikanmu semua itu." Ucap si dokter menunjuk roti dan minuman di tangan Nadine.
"Sebaiknya kamu istirahat dulu, tidak usah ikut OSPEK." Nadine mengangguk.
"Ini untuk anda." Nadine memberikan satu bungkus roti dan 1 botol air mineral pada dokter tersebut.
"Tidak perlu. Saya tidak lapar. Kamu makan saja."
"Iya." Nadine membuka bungkus rotinya."Dokter, mari makan." Ucap Nadine menawarkan.
***
Sore hari kegiatan OSPEK baru selesai Nadine berjalan kaki menuju jalan raya tempat biasa di lewati angkutan umum jurusan sekitar area kompleks rumah Iqbal.
Nadine berdiri di pinggir jalan menunggu angkutan umum lewat.
"Ciiiiiiiiittttttt...." Suara motor berdecit, motor itu berhenti tepat di hadapan Nadine, Nadine memperhatikan pemuda yang membuka helmnya itu.
"Nadine kan?..."
"Ya...Siapa?" Jawab Nadine dengan raut kebingungan.
"Aku yang tadi membawamu ke ruang UKK."
"Kak Dion...!!"
"Wah sudah tahu namaku ya."
"Terima kasih roti sama minumannya."
"Sama sama. Pulang bareng yuk."
"Nggak usah kak, terima kasih. Aku naik angkutan umum saja."
"Angkot yang huruf apa?..."
"Huruf V warna hijau."
"Jam segini angkot jarang lewat. Mending pulang bareng aku."
__ADS_1
Tawaran yang menggiurkan memang, jadi Nadine tidak perlu mengeluarkan uang untuk ongkos angkutan umum, bisa berhemat kan. Tapi Nadine masih ingat betul dengan pesan dari sang ibu, harus waspada terhadap orang yang baru di kenal jadi Nadine putuskan...
"Nggak usah kak, terima kasih. Aku tunggu sampai angkot lewat."
"Jangan khawatir, aku bukan orang jahat kok."
"Maaf kak, tapi aku tidak bilang kakak orang jahat loh."
"Aku suka sikapmu yang waspada. Memang seharusnya ya seseorang itu berhati-hati dengan orang yang baru di kenalnya. Apa lagi kalau gadisnya secangkir kamu." Nadine tidak menyanggah ucapan Dion, sebab apa yang Dion utarakan memang benar. Tapi kenapa Dion mengatakan Nadine cantik, padahal Nadine merasa wajahnya pas Pasan walaupun banyak yang mengatakan bahwa dirinya memang cantik. Itulah istimewanya Nadine, gadis yang tidak sombong.
Dion bukannya pergi malah menemani Nadine menunggu angkutan umum.
"Kakak kenapa masih disini?..."
"Ngusir nih...?" Dion memasang wajah cemberut.
"Eh nggak gitu kak...."
"Hehehe, bercanda. Aku nemenin kamu disini sampai angkutan yang kamu tunggu lewat. Aku takut kalau kamu nunggu sendirian ada yang gangguin."
"Siapa juga yang mau gangguin aku?..."
"Aku." Jawab Dion antusias sambil mengacungkan tangan setinggi-tingginya. Yang di sambut tawa oleh Nadine.
"Kakak ih, bisa aja. Eh itu angkutannya lewat." Nadine melambaikan tangannya untuk menghentikan angkot, Dion pun mengikuti gerakan tangan Nadine. Setelah angkutan umum berhenti, Nadine segera memasuki angkot.
Nadine duduk berdesakan desakan dengan penumpang yang lain. Angkot terus melaju dengan santai, dan sesekali berhenti untuk menaik turunkan penumpangnya.
Saat lampu merah berhenti ada seseorang yang mengetuk kaca jendela angkot tepat di belakang Nadine. Nadine pun menoleh ke belakang, ternyata si Dion membuntutinya lalu melambaikan tangan pada Nadine. Dion menggerakkan tangannya seolah sedang menyuruh Nadine untuk membuka kaca jendelanya. Nadine pun menggeser kaca jendela hingga terbuka.
"Ada apa kak?..."
"Ini, biar nggak dehidrasi. Takut kamu pingsan lagi." Nadine tersenyum malu-malu. Si Dion menyodorkan Sebotol minuman pada Nadine yang langsung di terima oleh Nadine. Biasanya jika seorang gadis di dekati oleh seorang pemuda apa lagi dia berwajah tampan, maka gadis itu akan bahagia dan hatinya berbunga-bunga. Namun tidak dengan Nadine, dia merupakan gadis yang sulit untuk jatuh cinta, dan biasanya jika gadis sulit untuk jatuh cinta maka dia juga akan sulit untuk melupakan cinta.
Sepanjang perjalanan angkot, si Dion terus saja membuntuti Nadine hingga Nadine turun dari angkot. Nadine berjalan kaki memasuki area kompleks rumah elit.
"Rumah mu mana?... Ayo ku bonceng."
"Nggak usah kak, udah deket."
"Ya sudah..." Dion turun dari motornya dan berjalan berdampingan dengan Nadine. Mereka terus berjalan sambil mengobrol.
"Sudah sampai." Ucap Nadine. Dion sangat takjub melihat rumah Iqbal, besar dan mewah.
"Rumah mu besar, kenapa naik angkot?..."
"Iiiiiihhhhh jangan salah. Ini itu rumah majikan ku. Ibuku kerja di sini. Aku anak pembantu di rumah ini." Dion tercengang mendengar perkataan Nadine.
"Kenapa?... Kaget ya, tau aku anak pembantu."
"Iya aku kaget. Aku tidak percaya ada ya anak pembantu secantik kamu. Aku makin tertarik melihat kejujuran mu."
***
Author...
Suit suiiiitttt, romantis kaaaaannnnn.....!!!
Nadine enaknya di jodohkan sama siapa ya... Dion atau Zain?....
Minta pendapat dong?....
__ADS_1