CINTA GADIS OBAT NYAMUK (Kesucian Yang Ternoda)

CINTA GADIS OBAT NYAMUK (Kesucian Yang Ternoda)
KEPERGIAN RANI


__ADS_3

"Jika ibu tau aku hamil, pasti ibu kecewa. Nama baik Keluarga akan hancur. Dan Iqbal...Iqbal pasti akan membunuhku. Aku harus melakukan sesuatu." Ucap Rani setelah puas menangis.


Rani sengaja menonaktifkan semua panggilan agar tidak ada satu orangpun yang menghubunginya terutama Iqbal. Rani tahu bahwa Iqbal pasti sudah menyadap teleponnya.


Rani meminjam Hp milik Nabila kemudian Rani browsing ke internet, mencari tahu bagaimana cara aborsi, resiko aborsi dan klinik untuk Aborsi.


"Huuuuufffhhh..." Rani bingung harus melakukan apa. Setelah lama berpikir akhirnya Rani terlelap.


"Ibu... Ibu... Ibu... Ibu... jangan bunuh aku, aku anakmu dan anak ayah." Seorang bocah perempuan berdiri di hadapan Rani dia menangis menarik narik tangan Rani.


"Ibu... Aku sangat mencintaimu dan juga ayah."


"Jangan bunuh aku Ibu... Aku ingin hidup bersama Ayah dan Ibu."


"Ibu Jangan bunuh aku. Ibu jangan bunuh aku Ibu Ibu Ibu Ibu Ibu Ibu Ibu...." Bocah perempuan itu terus memanggil manggil Rani dengan sebutan ibu.


"Jangan jadi pembunuh Nak." Tiba-tiba sang Ayah hadir membelai kepala Rani.


"Bapak, bapak, bapak..." Rani menggelengkan kepalanya, keringat sudah membasahi sekujur tubuhnya.


"Rani...Rani... Bangun Nak..." Kemudian Rani terbangun setelah sang Ibu mengguncang tubuhnya.


"Nak kamu mimpi apa?" Ibu Narsih membelai wajah Rani yang penuh dengan keringat.


Rani langsung memeluk ibunya, dia menangis tersedu-sedu.


"Rani mimpi bapak bu, Rani kangen bapak. Hikzzzzz Hikzzzzz." Pelukan sang ibu terasa hangat nyaman dan menenangkan.


Ibu Narsih pun ikut meneteskan air mata dan menghapus air matanya, dia langsung melepaskan pelukan Rani dan memegang pipi Rani dengan kedua tangannya.


"Bapak juga pasti kangen sama kita, bapak pasti lebih merindukan kita. Bapak merindukan doa-doa dari kita juga. Jangan lupa senantiasa berdoa ya, Ini sudah malam kamu tidur lagi sana.


"Rani pengen tidur sama ibu."


"Iya." Kemudian Ibu Narsih naik ke atas ranjang dan masuk ke dalam selimut Rani. Rani memeluk erat sang ibu. Ibu Narsih menepuk nepuk punggung Rani sama seperti waktu Rani kecil dulu.


"Ibu akan melindungimu Nak, maafkan Ibu yang sudah berniat untuk mengaborsi mu. Jika Iqbal tahu aku sedang hamil anak Heru, bisa jadi dia akan memaksaku untuk menggugurkan anak ini. Aku harus menyembunyikan kehamilanku dari Iqbal."


***


"Tok tok tok..." Ibu Narsih membuka pintu. Beliau tersenyum ramah saat melihat kedatangan Iqbal.


"Silahkan masuk Nak." Kemudian Iqbal membuntuti ibu Narsih yang berjalan ke arah ruang tamu. Iqbal duduk di sofa yang berada di ruang tamu.

__ADS_1


"Tunggu sebentar di sini Nak, saya mau panggilin Rani dulu."


"Iya..." Ucap Iqbal sambil mengangguk, setelah kepergian Bu Narsih. Iqbal mengedarkan pandangannya melihat sekeliling ruangan.


***


"Rani...Ada Iqbal di luar." Ucap Ibu Narsih.


"Iya." Rani terkejut.


"Cepat sana temui, Ibu mau buatin kopi untuknya."


"Tidak usah Bu, biar Rani saja yang membuatkan kopi untuknya."


"Sudah kamu temuin saja Dia, kasihan kan kalau nunggu kamu terlalu lama." Ucap Narsih.


"Iya." Jawab Rani. Kemudian Ibu Rani pergi ke dapur membuat kopi untuk Iqbal.


"Huuuuufffhhh..." Jantung berdebar, Rani harap harap cemas, kakinya tiba tiba gemetaran saat akan melangkah keluar. Rani masih tidak sanggup untuk bertemu dengan Iqbal. Tapi Rani terus meyakinkan diri, setelah mantap dia baru beranjak pergi.


***


Iqbal tersenyum pada Rani saat melihat Rani datang menghampirinya. Rani menatap Iqbal dengan wajah datar.


"Rani Aku sangat merindukanmu, Kau lama sekali mengasingkan diri menghindariku."


"APA MAKSUDMU RAN?" Iqbal membentak Rani, dia bangkit dari tempat duduknya lalu mencengkram lengan Rani dengan kuat karena emosi mendengar pernyataan Rani.


Ibu Narsih yang terkejut mendengar teriakan Iqbal langsung keluar dengan membawa kopi.


"Lepas Iqbal sakit." Ucap Rani meringis kasakitan.


"Apa kau pikir aku akan melepaskan mu begitu saja. Aku akan mengurungmu jika kau berani meninggalkan ku. Aku datang kesini karena aku sangat merindukan mu dan ingin minta maaf padamu karena..."


"Praaaaaaannkkkk..." Ibu Narsih yang terkejut melihat Iqbal mencengkram lengan Rani langsung menjatuhkan kopinya hingga gelas itu jatuh dan pecah menjadi serpihan. Pandangan Iqbal dan Rani beralih pada ibu Narsih.


"Iqbal apa yang kau lakukan? Lepaskan putriku."


Ibu Narsih berteriak pada Iqbal sambil menarik tangan Iqbal.


"Diam." Iqbal kembali lepas kendali, dia lupa siapa lawan bicaranya.


"Iqbal kau jangan kurang ajar, dia ibuku." Rani mendorong dada Iqbal. Iqbal pun kelimpungan dan menunduk malu kemudian melepaskan lengan Rani.

__ADS_1


"Aku minta maaf, karena emosi aku lepas kendali." Iqbal menunduk malu.


"KELUAR..." Ibu Narsih berteriak mengusir Iqbal. Bukannya keluar, Iqbal malah bersimpuh di hadapan Rani, Rani pun menghindar mundur beberapa langkah. Kini wajah Iqbal berubah sendu.


"Ran, aku tahu aku salah. Aku menyesal. Aku minta maaf. Perbuatanku sudah sangat keterlaluan." Rani malah berlari memasuki kamarnya dengan air mata yang mengalir deras. Rani pikir Iqbal meminta maaf karena Ucapannya pada ibunya.


"Iqbal sebaik kamu pulang. Kalau jodoh tidak akan kemana." Ucap Ibu Narsih yang heran dengan sikap keduanya.


***


"Rani Sebenarnya kamu Ada masalah apa dengan Iqbal. Ada apa dengan kalian? Bukannya beberapa waktu lalu kalian ngotot ingin sekali menikah. Lalu ini kenapa jadi seperti ini, ada masalah apa?" Ucap Ibu Narsih, yang tahu Rani bersedih.


"Kami udah nggak cocok Bu." Ucap Rani dengan wajah murung.


"Kamu jangan bohong. Ibu tahu kamu masih sangat mencintai Iqbal."


"Udah ya Bu jangan di bahas lagi. Rani ingin istirahat."


***


"Tok tok tok tok tok Ran tolong buka jendelanya kita harus bicara. Ran aku tahu kau belum tidur. Aku bawa coklat kesukaan mu Ran." Sudah tiga jam Iqbal menunggu jawaban dari Rani tapi Rani tak kunjung menjawab.


"Setelah pikiran mu kembali jernih, kita akan bicara lagi Ran." Iqbal pun akhirnya pergi.


***


Rani menghubungi seseorang untuk membuat paspor palsu untuk dirinya. Dia berencana pergi ke Malaysia tempat dulu dia merantau sampai dia melahirkan. Dan memesan tiket untuk penerbangan ke Malasya.


Rani Ingin menyembunyikan kehamilannya dari semua orang, karena tidak ingin di anggap memberi aib pada keluarga.


Keesokan harinya Rani pamit pada Ibu Narsih dan Nabila untuk kembali ke Jakarta dan hanya membawa 3 baju ganti.


Rani pergi ke Bank untuk mengambil uang dengan nominal yang cukup banyak.


Anak buah Iqbal melaporkan kegiatan Rani pada Iqbal.


"Apa yang Rani rencana dengan mencairkan uang dalam jumlah besar. Apa dia mau melarikan diri dari ku lagi." Gumam Iqbal. Kemudian Iqbal menyuruh anak buahnya untuk menyergap Rani.


Rani yang sejak awal menyadari bahwa dirinya di mata matai berlari menghindari orang suruhan Iqbal.


Rani yang sudah terlatih dengan mudah lolos dari kejaran anak buah Iqbal. Rani sengaja memilih hari ini karena ada karnaval. Rani bersembunyi di gang sempit yang gelap tanpa pengawasan kamera CCTV.


Kemudian Rani memakai baju syar'i, cadar dan penutup kepala. Rani keluar dari persembunyiannya lalu berdiri sejajar berkumpul dengan wanita yang bercadar. Rani melewati para pengawal yang tak menyadari bahwa Rani lah yang berada di balik cadar itu.

__ADS_1


***


SELAMAT MENIKMATI


__ADS_2