
"Apa kau tidak mau membersihkan bekas bibir Heru." Ucap Rani merengek, Seketika Iqbal yang emosi langsung membuka mata. Mengambil selimut dan membungkus tubuh Rani dengan selimut.
"Bodoh. Apa gunanya aku melatih mu dengan ilmu bela diri kalau kau tidak becus menjaga diri. Bagaimana bisa kau biarkan bibir dan leher ini di kotori oleh bedebah itu." Iqbal membentak Rani, setelah membungkus tubuh Rani dengan selimut, lalu mengusap kasar mulut Rani.
Dia menyeret Rani sambil memeluknya di depan lemari. Iqbal membongkar semua isi lemari mencari sesuatu yang bisa mengikat Rani. Sementara mulut Rani masih meracau tidak jelas.
Iqbal mengambil syal dan pasmina. Iqbal menyeret Rani yang sejak tadi meracau tidak jelas ke atas ranjang. Lalu mengikat kedua tangannya di sisi kanan kiri ranjang.
***
Iqbal memasuki kamar mandi. Ia mandi air dingin untuk merilekskan tubuhnya yang menegang.
Beberapa saat kemudian Iqbal keluar kamar mandi dan melewati Rani yang sedang meracau, Iqbal keluar dari kamar berusaha menetralkan pikirannya. Iqbal pergi ke dapur mencari sesuatu yang bisa di makan. Dia melihat jus yang Rani dapat dari Heru dan di letakkannya ke dalam kulkas. Iqbal yang tak tahu jika jus itu juga di beri obat perangsang akhirnya meminumnya.
Beberapa saat kemudian Iqbal merasakan ada yang aneh dengan tubuhnya.
***
"Aku butuh pelepasan. Aaakkkkhhhhh tubuhku meriang, aku gatal... tolong aku, aku sudah tidak tahan... Siapa pun sentuh aku." Rani terus meracau tidak karuan. Iqbal menyentuh Rani dengan kasar saat mengingat adegan ciuman Rani dan Heru tadi. Iqbal berharap bisa menghilangkan efek obat perangsang itu. Bukan hanya pemanasan, Iqbal juga melakukan **** dengan jarinya.
"Aaaaakkkhhh..." Iqbal berteriak frustasi. Ini tidak cukup hanya dengan pemanasan. Rani masih meracau Seperti orang gila. Iqbal sudah berjanji tidak akan melakukannya sebelum menikahi Rani, tapi bagaimana Iqbal bisa menikahi Rani yang sedang kehilangan akal.
Iqbal yang frustasi bercampur dengan emosi, turun dari ranjang dan mengambil kursi yang berada di depan meja rias lalu menghancurkan semua isi kamar Rani. Apa lagi obat yang Iqbal minum mulai bereaksi.
"Aaaaakkkhhh..."Iqbal berteriak seperti orang gila seraya memukul semua benda yang berada di kamar Rani hingga hancur, dia berharap bisa mengurangi emosinya. Iqbal memiliki otak yang jenius, tidak sama dengan manusia pada umumnya, memory otak Iqbal mampu menyimpan apapun tanpa bisa di hapus. Iqbal sangat emosi, dia cemburu mengingat Heru yang begitu rakus menyatukan bibirnya dengan Rani.
"Aaaaakkkhhh... Persetan dengan janji..." Iqbal naik ke atas ranjang. Membuka ikatan Rani, membiarkan Rani melakukan apapun padanya.
Akhirnya terjadilah pergulatan panas di antara mereka. Emosi bercampur rasa cemburu yang meluap luap, menguasai otaknya membuat kewarasannya hilang. Iqbal melakukannya dengan kasar, dia benar benar merenggut kehormatan Rani. Dia sudah tidak peduli dengan janjinya untuk tidak menyentuh Rani, dia sudah tidak peduli dengan reaksi yang akan terjadi jika Rani sadar. Rasa cemburunya telah mengungkung akal sehat Iqbal.
***
Zain datang bersama anak buahnya. Zain menyuruh anak buahnya untuk membereskan Heru. Memperlakukan Heru sesuai dengan perintah Iqbal.
"Tutup telinga kalian semua dan keluar lah." Ucap Zain saat mendengar suara rintihan Rani. Semua anak buah Iqbal keluar dari rumah Rani. Mereka semua pergi dengan membawa Heru. Sementara Zain masih setia berdiri di depan rumah Rani.
Rani yang kelelahan akhirnya tertidur.
__ADS_1
***
Setelah tertidur sejenak, Iqbal terbangun dia menyelimuti tubuh Rani sampai ke leher.
Iqbal menyisir rambutnya di bawah guyuran air shower. Di dalam lubuk hatinya dia menyesali apa yang sudah dia lakukan. Dia yang emosi tak bisa mengendalikan diri hingga melampiaskan amarahnya pada Rani. Setelah ini Rani pasti kecewa pada dirinya. Bisa jadi dia akan benar-benar membenci dirinya sendiri dan Iqbal.
Rasa bersalah kini menyeruak di dalam dada Iqbal. Tak sedikitpun Iqbal melupakan kejadian yang mereka lakukan tadi.
Beberapa saat kemudian Iqbal keluar dari kamar mandi hanya dengan melilitkan handuk di pinggangnya yang berbentuk kotak-kotak/six pack. Dilihatnya Rani yang tertidur pulas setelah pergulatan hebat mereka tadi, Tubuh Rani yang hanya ditutupi selimut dan hanya menampakan lehernya yang penuh dengan tanda merah.
Iqbal memunguti satu persatu pakaiannya dan memakainya kembali di hadapan Rani yang tertidur pulas. Iqbal menghampiri Rani dan duduk disampingnya, ditatapnya lekat-lekat wajah Rani. Iqbal membelai puncak kepala Rani."MAAF"
***
Beberapa saat kemudian Iqbal keluar dari kamar dengan rambut yang basah, dia melihat ke tempat tadi Heru tergeletak, sudah kosong hanya terlihat bercak darah Heru di lantai.
Zain langsung berdiri saat melihat Iqbal membuka pintu rumah. Zain menatap Iqbal nyalang.
"Tuan Kenapa Anda melakukannya?... Padahal sebentar lagi Anda akan menikah? Kenapa anda tidak bisa menunggu sebentar?" Ucap Zain yang langsung memberondong Iqbal dengan pertanyaan.
Iqbal menatap Zain dengan mata sinis tapi Zain tak gentar sedikitpun. Iqbal tidak ingin menjawab pertanyaan Zain, sebab tidak ada alasan yang bisa di benarkan disini.
"Sudah Tuan."
"Patahkan kakinya."
"Saya rasa itu terlalu berlebihan Tuan."
"Kau mulai berani membantahku?..."
"Saya tidak berani Tuan." Ucap Zain yang kemudian menunduk.
"Pulang lah."
"Tapi Tuan."
"Aku tidak sebinatang yang kau pikirkan. Pergilah." Iqbal menatap Zain nyalang karena tau arah pikiran Zain dari sorot matanya, Zain tahu Iqbal sedang emosi langsung menunduk hormat dan pergi meninggalkan Iqbal. Zain hanya takut jika Iqbal melakukan hal yang gila pada Rani.
__ADS_1
***
Heru membuka mata dengan tangan kanan dan kiri yang di borgol. Badannya terasa remuk redam karena di hajar oleh Iqbal. Heru sangat murka saat menyadari empat gigi depannya ompong.
Dia menarik narik tangannya dengan kasar hingga membekas goresan merah di pergelangan tangannya.
"Aaaaakkkhhh... Lepaskan aku bedebah..." Heru berteriak sambil terus menarik tangannya yang terborgol.
Tiba-tiba Zain masuk bersama dengan seorang dokter yang menangani kasus Heru dan dua perawat laki laki yang berada di belakangnya.
"Tuan Heru, tenangkan diri anda. Anda akan kami bebaskan setelah kami memastikan bahwa tubuh anda benar benar sehat."
"Lepaskan aku sekarang juga...Lepaskaaaaan... Aku akan melaporkan kalian ke pihak kepolisian...Supaya kalian di hukum."
"Ck ck ck...Anda benar benar tidak tahu diri. Jika anda melaporkan kami ke pihak berwajib, yang ada andalah yang akan mendekam di penjara karena kasus percobaan pemerkosaan. Sudah untung Tuan Iqbal tidak membunuhmu. Tuan Iqbal benar. Sepertinya kaki anda memang harus di patahkan." Ucapan Zain membuat bulu kuduk Heru merinding, dia sangat takut Jika yang di ucapkan Zain benar benar terjadi.
"Kau jangan berlebih-lebihan Tuan. Aku tidak sempat memperkosa Rani, kami hanya sampai tahap berciuman."
"Ya...Nona Rani beruntung, Tuan Iqbal datang tepat waktu." Kemudian Zain beranjak pergi.
"Hey Tuan...Kau mau kemana?"
"Jangan berisik atau aku akan memasukkan mu ke rumah sakit jiwa."
"Aku minta maaf. Aku menyesal, tolong Jangan tinggalkan aku. Lepaskan aku dulu. Bebaskan aku, jangan pergi. Aku mohon." Heru mulai memberontak dan berteriak lagi. Zain menatap Seorang dokter laki laki yang usianya sekitar setengah abad, memberikan isyarat untuk membungkam Heru. Dokter itu mengangguk mengerti.
"Hey hey hey apa? Apa yang kalian lakukan? Lepas... Lepaaaaaasss... Lepaskan aku." Kedua perawat itu memegangi lengan Heru saat dokter hendak menyuntik lengannya dengan obat bius agar dia tidak terus memberontak. Sampai akhirnya Heru tidak sadarkan diri.
***
"Huuuuufffhhh..."Rani mulai menggeliat menghembuskan nafas berat. Tubuhnya terasa begitu berat dan sulit untuk digerakkan, semua badan Rani terasa sangat sakit terutama area itu.
Rani mulai membuka mata, ingatan saat Heru akan melecehkannya mulai beterbangan di pelupuk mata. Rani langsung duduk lalu membuka selimut yang menutupi tubuhnya.
"Aaaaakkkhhh.... Tidaaaaakkk.... Aaakkkkhhhhh Hikzzz" Rani tidak percaya ini benar-benar terjadi. Awalnya Rani pikir ini mimpi. Rani menutupi kembali tubuhnya dengan selimut, ia memeluk tubuhnya sendiri dengan erat dia menangis sesegukan tidak terima dengan apa yang terjadi padanya.
Rani merasa dirinya begitu kotor. Padahal rencananya 2 bulan lagi dia akan menikah dengan Iqbal.
__ADS_1
***
SELAMAT MENIKMATI