
"Sudah jangan ngambek terus." Ucap Iqbal pada Rani yang membelakanginya, sementara Alyn memegang kamera sambil cekikikan melihat Iqbal merayu Rani yang merajuk.
"Abisnya kamu pelit. Masak cuma Alyn yang kamu kasih coklat!!" Ujar Rani dengan nada ketus.
"Iya maaf. Aku juga punya sesuatu untuk mu." Lanjut Iqbal.
"Serius." Ucap Rani berbalik menatap Iqbal dengan sorot mata yang masih ragu.
"Iya, mana tangan mu." Ucap Iqbal.
Rani pun menengadahkan tangan. Iqbal malah memberinya batu besar. Rani yang geram langsung melepaskan batunya.
"Aaakkkkhhhhh..." Rani dan Alyn berteriak terkejut saat tak sengaja batu besar jatuh mengenai kaki Iqbal. Iqbal yang kesakitan hanya menggertak giginya.
Rani langsung ngicir kabur.
"RANIII...." Iqbal berteriak kesal dan berlari mengejar Rani.
"Ampun Iqbal aku tak sengaja." Rani terus berlari menghindari lemparan batu kecil dari Iqbal.
"Kau membuat kakiku jadi jempol semua Ran."
"Sumpah aku tidak sengaja."
Sedangkan Alyn malah tertawa menyaksikan Iqbal dan Rani kejar kejaran.
"Ada dah dah dah...." Rani meringis saat Iqbal berhasil meraih rambut panjang Rani. Iqbal langsung merangkul leher Rani, mereka berjalan menghampiri Alyn di bawah pohon.
"Iqbal leherku sakit."
"Lebih sakit kakiku, kau tidak lihat batu sebesar apa yang kau Jatuhkan ke kakiku?"
"Salah sendiri kau mengerjaiku."
"Kau saja terlalu sensitif."
"Si sensitif nuduh orang sensitif." Iqbal langsung menyentil hidung mancung Rani.
Alyn tertawa hambar menyaksikan Mereka berdua, hati Alyn terasa tercubit, sebab jika bersama dengan dirinya Iqbal tidak pernah terlihat sebahagia itu.
Kini mereka sudah duduk di bawah pohon.
"Kau itu sangat menyebalkan Iqbal. Awas ya... Aku akan cari pacar yang jauh lebih baik darimu. Yang rela melakukan apapun untukku." Tawa Iqbal langsung sirna, Iqbal pun mencekal pergelangan tangan Rani.
"Aku tidak mengizinkan mu pacaran." Ucap Iqbal tegas.
"Kenapa?... Alyn saja boleh, kenapa aku nggak boleh."
"Karena aku tidak mengizinkan." Ucapan Iqbal membuat wajah Alyn sendu. Alyn sudah pasti cemburu. Sedangkan Iqbal Sendiri hatinya terusik mendengar ucapan Rani.
__ADS_1
"Dengan atau tanpa persetujuan mu aku akan tetap pacaran." Ucap Rani menatap Iqbal sinis. Keduanya sama-sama memberikan tatapan yang tidak menyenangkan.
"Coba saja kalau bisa." Ucap Iqbal menantang.
"OK. Kita lihat saja nanti."
"Mas kamu cemburu?" Ucap Alyn. Kontak mata mereka terputus lantaran suara Alyn. Iqbal pun langsung melepaskan tangan Rani.
"Tidak mana mungkin aku cemburu padanya, cintaku hanya untukmu." Ucap Iqbal berpaling tanpa mau melihat ke arah Alyn dan Rani. Iqbal tak bisa membayangkan sesakit hati apa Rani.
"Udah hampir sore Lyn. Yuk pulang." Ucap Rani yang kemudian bangkit. Menepuk rok bagian belakangnya yang kotor karena duduk di atas tanah berumput. Iqbal langsung melihat ke arah Rani.
"Mas kami pulang dulu ya."
"Iya." Ucap Iqbal singkat.
***
Malam hari di rumah Rani, saat Rani selesai belajar dia mengeluarkan semua isi tasnya untuk mengisi tasnya dengan buku mata pelajaran besok.
Rani melihat gulungan kertas, kemudian Rani meraihnya dan membukanya. Ternyata isi kertas itu adalah Coklat batang sama seperti milik Alyn. Rani pun tersenyum senang saat mengetahui bahwa coklat itu pemberian dari Iqbal.
"Salahkah jika aku bahagia." Rani membantin saat mengingat Alyn. Kemudian Rani mencari Nabila dan memberikannya pada Nabila.
***
Beberapa hari kemudian seperti biasa, Iqbal menunggu kedatangan Alyn dan Rani, tapi Iqbal hanya melihat Alyn seorang diri bersepeda ke arahnya.
"Dia tidak masuk."
"Kenapa?"
"Rani sudah berbulan-bulan menunggak bayar uang SPP sama uang ujian, belum lagi biaya yang lain. Guru tidak memperbolehkan Rani untuk ikut ujian kalau belum bayar. Makanya Rani tidak masuk sekolah."
"Kenapa kamu tidak cerita padaku?..."
"Aku saja baru tahu dari Rani tadi."
"Memangnya berapa semua?..."
"Rp.500.000."
Memang semenjak bapak Rani meninggalkan, hidup keluarga Rani mengalami kesulitan dalam masalah keuangan. Sebab waktu bapak Rani sehat, dia lah satu-satunya tulang punggung di rumah Rani.
Untuk kebutuhan hidup sehari-hari dan perawatan bapaknya yang sakit Ibu Narsih masih mengandalkan harta simpanan hingga terkuras habis sampai akhirnya bapak Rani meninggalkan. Harta yang tersisa hanya rumah dan sawah. Sekarang ibu Narsih bekerja sebagai pencukit kerang terkadang dia memilah Ikan kecil dan besar. Pekerjaan yang gajinya tidak seberapa. Upahnya hanya cukup untuk makan. Harus sangat berhemat agar bisa menyisihkan uang untuk biaya sekolah anak-anaknya.
Rani juga berjualan gorengan. Pagi hari sebelum berangkat sekolah, gorengan tersebut di titipkan ke warung setempat. Keesokan paginyanya Rani baru mengambil uang hasil jualan sekaligus menitipkan gorengan baru. Hasilnya lumayan bisa untuk meringankan beban orang tuanya.
"Pulang lah Lyn. Takut Abah khawatir mencarimu karena tidak bersama Rani." Ucap Iqbal sambil memberi Alyn coklat seperti biasanya.
__ADS_1
"Tapi mas..." Alyn tak langsung menerima coklat itu. Kemudian Iqbal mengkhusuk khusuk rambut Alyn, meletakkan coklat ke keranjang sepedanya dan mendorong sepedanya menjauh. Mau tak mau Alyn mengayuh sepedanya sambil menoleh dan melambaikan tangan.
"I love you..." Ucap Iqbal.
"I love you too." Alyn pun tersenyum.
Kemudian Iqbal lari sekencang-kencangnya ke rumahnya karena rumahnya cukup jauh, waktu Iqbal tidak banyak. Takut sekolah keburu tutup, beruntung masih ada ujian untuk adik kelas.
Iqbal tidak berani meminjam sepeda Alyn sebab dia takut jika Alyn akan di marahi oleh kedua orang tuanya jika ketahuan pergi bersama dengan Iqbal sebab Rani tidak bersamanya.
Dengan nafas yang masih tersengal-sengal Iqbal membuka pintu rumahnya. Dia berjalan ke arah kamar dan memasukinya. Iqbal membuka lemari dan membongkar semua isinya.
Karena Iqbal menyelipkan harta berharga peninggalan Ibunya, yang ia dapatkan dari mendiang Bibinya sebelum wafat. Setelah paman Iqbal wafat, Bibinya itu baru berani memberikan kalung tersebut pada Iqbal karena takut pamannya yang jahat akan menjarahnya dari Iqbal.
Setelah menemukan dompet berwarna hijau, Iqbal membukanya untuk memastikan bahwa perhiasan itu masih ada. Iqbal bergegas keluar.
Kota terlalu jauh dari kampung Iqbal. Iqbal yang miskin tidak punya kendaraan, akhirnya meminjam sepeda ontel pada temannya. Dia mengayuh sepeda dengan kecepatan penuh. Beberapa saat kemudian Iqbal sampai di tempat pegadaian. Iqbal menggadaikan perhiasan milik Ibunya.
Sebenarnya di dekat rumah Iqbal juga ada pegadaian, tapi pemiliknya adalah lintah darat. Iqbal hanya tidak Ingin kehilangan kalung Ibunya karena kecurangan sang lintah darat tersebut.
***
Iqbal pergi ke sekolah Rani, untuk melunasi semua tanggungan Rani. Iqbal tidak mau menyebutkan identitasnya pada guru tersebut. Setelah menerima kartu ujian, Iqbal pergi ke rumah Rani.
Di jalan mata Iqbal menyipit untuk memastikan bahwa matanya melihat Rani baru pulang sekolah dan masih berseragam SMA.
Iqbal mengayuh sepedanya lebih cepat agar bisa menyalip Rani.
"Dari mana kau?" Rani terkejut saat mendengar suara Iqbal.
"Ya ampun kau itu ngagetin aku saja Iqbal."
"Jawab aku. Kau dari mana?"
"Baru pulang sekolah, memangnya dari mana lagi."
"Bohong. Alyn bilang kau tidak sekolah dan tidak ikut ujian." Iqbal masih menyudutkan Rani. Iqbal benar benar tidak tahu cara berbicara dengan bijak.
"Itu bukan urusanmu." Rani melengos. Demi apapun hati Rani sangat malu, dia ketahuan berbohong oleh Iqbal. Terlebih mata Rani bengkak karena menangis.
Rani hanya tidak ingin melihat ibunya sedih karena tidak mampu membayar uang SPP dan uang ujian, makanya Rani pura pura sekolah di depan ibunya. Iqbal melajukan sepedanya lebih kencang lalu menghadang Rani.
"Iqbal kau apa apaan sih." Rani menggerutu karena kesal. Iqbal turun dari sepedanya dan meraih tangan Rani. Kemudian Iqbal mengambil kartu ujian Rani di saku kemejanya dan meletakkannya ke telapak tangan Rani.
"Jangan seperti ini lagi. Aku sahabatmu, jika punya masalah jangan sungkan-sungkan untuk Cerita. Besok kau sudah bisa mengikuti ujian. Ingat, jangan bilang bilang pada Alyn jika aku membantumu. Aku tidak ingin Alyn cemburu padamu. Kita sahabat. Aku harus segera pulang, takut yang punya sepeda nungguin." Iqbal pun pergi meninggalkan Rani yang tercengang melihatnya. Tiba-tiba air mata Rani menetes, sikap Iqbal membuat cinta yang tumbuh di hati Rani semakin hari semakin membesar.
"Pantaskah aku di salahkan Karena mencintaimu Iqbal, Sikapmu yang perhatian semakin membuatku terjerat dalam cinta yang tak mungkin ku gapai."
***
__ADS_1
SELAMAT MENIKMATI*