
Beberapa hari kemudian, saudara sepupu Rani berkunjung ke kampung Nelayan. Namanya Yusuf, dia adalah anak angkat dari paman Rani. Dia tinggal dengan neneknya di Surabaya, setiap lebaran Idul fitri dia selalu mudik ke rumah Bapak angkatnya. Tapi dia juga sering menumpang tidur di rumah Rani. Sebab rumah Rani dan rumah pamannya begitu dekat hanya berjarak kurang lebih 20 meter sudah sampai.
Saat ada Yusuf, Rani akan melupakan Iqbal dan Alyn. Karena Yusuf akan mengajak Rani jalan jalan seharian tanpa kenal lelah.
Seperti saat ini, Yusuf duduk di pinggir pantai memakan jagung bakar bersama Rani, menikmati panorama alam, membasahi kakinya dengan air laut dan mendengarkan deburan ombak. Hari mulai senja, sinar Matahari memantul ke permukaan laut. Matahari mulai turun, bersembunyi di bawah garis cakrawala di ufuk barat.
"Yah nggak terasa udah mau malam aja. Kalo bareng kak Yusuf, waktu cepat sekali berlalu. Coba saja Kak Yusuf tinggal di sini, kan enak kita bisa jalan-jalan setiap hari." Setelah mendengar ucapan Rani, Yusuf mengkusuk-kusuk rambut Rani.
"Iih Kak Yusuf, apaan si rambutmu kan jadi berantakan."
"Hahahaha iya iya besok besok kalau aku sudah jadi suamimu aku akan membawamu jalan-jalan ke mana saja kamu mau."
"Iiiiiihhhhh,,,Ogaaah....Kita kan saudara sepupu."
"Memangnya kenapa? Sepupu kan bisa aja nikah. Apa lagi aku cuma anak angkat dari Kakaknya bapakmu."
"Hahahaha kakak ini bercandaannya lucu..." Rani menepuk nepuk lengan Yusuf.
"Hehehehe.... Ngelawak ya nih anak...." Ucap Yusuf. Jarak usia mereka hanya terpaut 1 tahun.
"Pulang yuk kak... Hampir magrib, ntar Ibu nyariin lagi. Takut orang tua kita khawatir..."
"Yah... Padahal aku masih pengen ngajak kamu jalan jalan mumpung aku di sini. Lusa aku sudah balik ke Surabaya."
"Besok lagi kak kita jalan jalan, di sana ada pasar malam." Rani menunjuk ke arah selatan.
"Kalau jauh nggak mau. Kelamaan di jalan, ntar pulangnya malam."
"Di sana deket rumah. Jalan kaki 15 menit sampai."
"Ok deh kalau begitu." Jawab Yusuf.
"Besok kita double date Ya kak, sama temen ku."
"Siapa?..."
"Alyn, sahabatku. Tapi kakak harus ngaku jadi pacarku ya."
"Kenapa harus begitu."
"Daripada aku jadi obat nyamuk."
"Jadi pacar beneran aku juga mau."
"Hahahaha.... Ngelawak nih kakak."
"Ya sudah yuk... Katanya mau pulang."
"Ayuk..."
***
Malam hari...
Iqbal bersandar di pagar yang mengelilingi pasar malam. Menunggu dua gadis yang sama-sama di sayanginya.
Iqbal melihat Rani dan Alyn berjalan ke arahnya. Senyum merekah di bibir kedua gadis tersebut.
"Hay Iqbal." Ucap Rani.
"Sudah lama menunggu mas?..." Ucap Alyn.
"Baru saja." Jawab Iqbal.
Mata Iqbal menyipit saat melihat sosok laki-laki berparas manis bertubuh tinggi mensejajari Rani.
"Siapa?..." Ucap Iqbal.
"Eh, dia... Dia pacar baruku. Ganteng kan!"
Iqbal menatap laki laki itu, memandanginya dari atas hingga bawah. Pakaiannya bagus dan rapi, Iqbal mulai membanding-bandingkan dirinya dengan Yusuf. Untuk wajah dan body, oke lah menang Iqbal. Tapi penampilan! Baju yang Iqbal kenakan mulai kusam, jelas Alyn mencintai Iqbal apa adanya. Untuk Yusuf, penampilan cool, dengan kemeja, celana jeans dan sandal bermerk POLO.
"Yusuf..." Yusuf menjulurkan tangannya ingin menjabat tangan Iqbal namun Iqbal diam saja.
__ADS_1
"Mas...." Alyn mengguncang tangan Iqbal. Iqbal kemudian menjabat tangan Yusuf.
"Ahh... Kamu semangat sekali menjabat tangan ku." Ucap Yusuf yang tangannya sedikit ngilu karena Iqbal sedikit keras menjabat tangannya.
"Benarkah..." Ucap Iqbal.
"Udah yuk masuk, keburu malam." Ucap Rani yang kemudian menggandeng lengan Yusuf dan berjalan memasuki pasar malam.
Iqbal menggenggam tangan Alyn dan membawanya masuk pasar malam.
Tawa bahagia terus mengembang di bibirnya Rani, Alyn dan Yusuf kecuali Iqbal.
Yusuf membelikan Rani kembang gula kapas.
Rani sangat bersemangat memakannya.
"Kak Yusuf mau."
"Mau kalau di suapi...Hehe..."
"Iya iya deh... Nih... Spesial buat kak Yusuf karena udah traktir aku." Rani kemudian menyuapi Yusuf.
"Aaaahh...Sakit mas." Alyn mengeluh kesakitan saat Iqbal memasang gelang yang kekecilan ke tangan Alyn.
"Maaf aku tidak sengaja.... Huuuuufffhhh..." Ucap Iqbal merasa bersalah, entah kenapa Iqbal malah memaksakan gelang yang tak muat masuk ke tangan Alyn, alhasil tangan Alyn merah dan sedikit tergores. Iqbal meniup tangan Alyn yang sedikit tergores.
"Kamu itu gimana sih Bal. Udah tahu gelang kekecilan di paksa masuk ke tangan Alyn." Rani mengeluh kesal.
"Lyn tunggu di sini sebentar, aku mau beli obat." Ucap Iqbal. Iqbal sudah hendak beranjak namun Alyn menarik lengan Iqbal hingga Iqbal urung pergi.
"Tidak perlu mas. Cuma luka kecil kok."
"Kamu yakin." Ucap Iqbal khawatir.
"Iya..."
"Kamu mau pulang ya Lyn." Ucap Rani menawarkan.
"Ya nggak lah... Baru juga masuk masak udah pulang." Ucap Alyn.
Yusuf langsung merangkul leher Rani, memisahkannya dari Alyn.
"Mau naik itu?..." Ucap Yusuf seraya menunjuk bianglala.
"Ok, siapa takut."
Yusuf berniat membayar tiket masuk bianglala tapi Iqbal menolak, akhirnya mereka membayar tiket pasangan masing-masing.
***
Rani tertawa kegirangan, melihat pemandangan di puncak wahana di kurungan bianglala.
"Wah pemandangannya indah banget kak dari atas." Ucap Rani setelah melihat pemandangan dia mengguncang lengan Yusuf, meminta Yusuf melihat pemandangan yang di suguhkan.
"Kamu suka?"
"Suka banget."
"Kapan kapan ke Surabaya, tempat wisata di sana jauh lebih bagus dari pada disini."
"Aaaahhh....Cintaku berat di ongkos..."
"Aku yang ngongkosin."
"Benar ya."
"Siap Ibu negara."
"Iiiiiihhhhh apa sih. Sini deh kak lihat itu. Mereka kelihatan kecil kalo di lihat dari atas." Ucap Rani kegirangan.
Sedangkan Alyn memeluk lengan Iqbal, menyembunyikan wajahnya di lengan Iqbal karena ketakutan. Iqbal memegangi kepala bagian belakang Alyn namun matanya terus menatap Rani yang sibuk dengan dunianya sendiri.
***
__ADS_1
Kini mereka sedang asyik menikmati bakso di sebuah warung. Namun Iqbal sudah terlihat kesal, berulang kali dia terlihat menghela nafas.
Yusuf memperhatikan gerak gerik Iqbal sedari tadi. Iqbal yang merasa di perhatikan beralih menatap Yusuf.
"KAU MENCINTAI RANI?..." Ucap Yusuf tiba tiba. Spontan Alyn dan Rani pun melihat ke arah Yusuf.
"Apa urusanmu?..."
"Jelas urusanku. Rani kekasihku." Geraham Iqbal mulai mengetat. Alyn yang duduk di samping Iqbal meremas lengan Iqbal memberi tatapan memohon, seolah memohon untuk tidak memperkeruh suasana. Iqbal tersenyum menatap Alyn. Kemudian kembali menatap sinis Yusuf.
"Aku mencintai Alyn, Rani hanya sahabatku."
"Tidak ada persahabatan antara laki-laki dan perempuan. Cinta tumbuh karena kebiasaan bersama." Ucap Yusuf.
"Kak..." Rani meremas tangan Yusuf, menatap dengan tatapan memohon untuk berhenti. Hati Rani sangat malu jika perasannya di ketahui, sebab Alyn dan Iqbal kini menatap.
Hati Alyn pun ketar ketir membayangkan sahabat dan kekasihnya saling mencintai.
"Tenanglah Ran, aku hanya bercanda. Iyakan Iqbal. Tidak mungkin Iqbal serakah menginginkan 2 gadis sekaligus." Ucap Yusuf.
"Braaaaakkkk..." Iqbal menggebrak meja. Membuat dua gadis dan orang orang yang ada di sekitarnya terperanjat kaget. Yusuf merasa sangat janggal sejak Iqbal menanyakan siapa Yusuf pada Rani. Terlebih Iqbal meremas tangan Yusuf.
"Kak Yusuf cukup." Ucap Rani.
"Lebih baik kita pulang. Kita jadi tontonan orang sekarang." Ucap Alyn menyeret Iqbal pergi menjauhi Yusuf.
Rani pun menyeret Yusuf menjauh dari keramaian.
"Kak Yusuf kok gitu sih?..." Ucap Rani setelah keluar dari pasar malam.
"Kok gitu gimana? Emang bener kan."
"Iqbal dan Alyn itu sahabatku, kalau mereka salah paham gimana?" Ucapan Rani membuat langkah Yusuf terhenti. Yusuf menatap mata Rani lekat-lekat, berusaha menyelami dalamnya perasaan Rani.
"Jangan bilang kalau kamu mencintai Iqbal."
"Aku nggak cinta sama Iqbal."
"Bohong."
"Benar kak."
"Jawab jujur Ran." Yusuf terus mendesak Rani. Membuat Rani semakin malu.
"Kak Yusuf cukup."
FLASH BACK OFF.
***
"Kak Yusuf cukup... Kak Yusuf cukup...Kak Yusuf..." Rani terus menggelengkan kepalanya, peluh membanjiri wajahnya, saat dia bermimpi tentang masa lalunya.
"RANI..." Iqbal membangunkan Rani saat Rani menyebutkan nama Yusuf. Pria yang pernah membuat Iqbal kesal setengah mati.
Rani pun terbangun, yang pertama kali di lihatnya adalah Iqbal yang menatapnya tajam.
"Kau masih mencintai pria itu?..." Ucap Iqbal tegas, Rani diam sejenak menormalkan pikiran yang mengambang.
"Pria siapa?"
"Yusuf. Mantan pacarmu."
"Hah, ternyata kamu masih ingat."
"Jawab aku Ran."
"Iya aku masih cinta sama kak Yusuf. Memangnya kenapa?..."
"Praaaaaaannkkkk...." Suara Hp yang membentur lantai Karena Iqbal membanting Hp Rani yang sejak tadi ia genggam.
"Huuuaaaa.... Hp ku...." Rani berteriak.
***
__ADS_1
SELAMAT MENIKMATI