CINTA GADIS OBAT NYAMUK (Kesucian Yang Ternoda)

CINTA GADIS OBAT NYAMUK (Kesucian Yang Ternoda)
KITA HARUS SEGERA MENIKAH


__ADS_3

"HAPUS NAMANYA DARI HATIMU." Ucap Iqbal dengan tatapan yang mengintimidasi. Setelah menatap nasib Hpnya yang malang tergeletak di lantai dengan keadaan yang sudah hancur.


Mata Rani beralih menatap Iqbal dengan sorot mata yang sinis.


"Kau tahu Iqbal!!... Nama siapa yang paling ingin aku hapus dari hatiku?..." Ucap Rani yang tak kalah kesalnya.


"Siapa?..." Ucap Iqbal semakin kesal.


"KAU...." Ucap Rani berteriak. "Andaikan bisa." Rani membantin.


"KAU..." Iqbal yang sangat geram mencengkram tangan Rani, hatinya terpukul mendengar pernyataan Rani, tapi ucapan Iqbal segera terpotong oleh Rani.


"Dan hal yang paling aku sesali dalam hidup adalah mencintaimu." Ucap Rani dengan pandangan mata yang berkobar menguar kilat kemarahan.


"Deg." Jantung Iqbal berdenyut nyeri. Tangan yang mencengkram Rani mulai mengendor, Iqbal mulai takut. Rani menarik tangannya dengan kasar.


Ucapan Rani terlalu menyakitkan untuk di dengar, hatinya begitu sakit bagai di tusuk belati. Rongga dadanya terasa sesak, mata Iqbal sudah merah memanas menahan kekecewaan di hatinya. Iqbal takut akan Kehilangan cinta untuk yang kedua kalinya.


Hal itu tentu menyinggung hati Iqbal. Ucapan Rani membuat hati Iqbal kian gelisah. Iqbal tidak ingin membagi hati Rani, Iqbal hanya ingin menjadi satu-satunya penguasa di hati Rani.


"Kenapa???..." Iqbal bertanya dengan perasaan yang gelisah dengan air mata yang hampir menetes.


"Masih bertanya kenapa?... Di sini aku lah yang bodoh, bisa bisanya aku mencintai laki laki tempramen seperti dirimu, bisa bisanya aku mencintai laki laki yang kasar seperti dirimu. Kau bisa menjaga Alyn dengan sepenuh hatimu. Tapi kenapa kau malah merenggut kesucianku?..." Rani mendorong dada Iqbal, meluapkan semua emosi yang selama ini ia pendam.


"Apa yang akan orang tuaku katakan saat melihat perutku yang mulai buncit. Ibu pasti kecewa melihat aku tidak bisa menjaga kehormatanku..." Ucap Rani. Tiba tiba terlintas bayangan ibunya yang tersenyum, namun senyum itu akan pudar jika mengetahui kehamilannya.

__ADS_1


"Lalu apa yang akan orang lain katakan tentang anakku! jika mereka tahu aku hamil di luar nikah, orang orang akan mencemooh anakku. Lalu bagaimana jika anakku nanti perempuan, kau sebagai bapaknya pun tidak bisa jadi walinya saat dia menikah. Putriku pasti malu jika harus di wakilkan wali hakim."


"Kau tahu tidak arti keperawanan bagi seorang wanita?... Apa kau tidak memikirkan apa akibat dari perbuatanmu. Jangan kau pikir karena aku mencintaimu kau bisa seenaknya saja padaku?..." Rani terus saja mencerca Iqbal tiada henti sambil menunjuk nunjuk dada Iqbal.


"Belum cukup cintaku yang selama ini tersimpan hanya untukmu hingga berkarat... Lihat sekarang kau malah merusak hidupku. Bodoh sekali aku, mencintaimu hingga setua ini."


"Kau tahu tidak kehancuran apa yang aku alami selama ini. Kau bisa menjaga Alyn tapi kenapa tidak bisa menjagaku Iqbal." Rani mulai terisak kemudian menyembunyikan wajahnya ke atas lutut yang kakinya ia tekuk.


Iqbal mengingat ucapannya dahulu saat berbincang dengan Rani.


"Aku hanya menjaga sahabatku biar nggak di apa-apain sama kamu saat berduaan." Ucap Rani dahulu kala, saat menjadi obat nyamuk Alyn dan Iqbal.


"Kau pikir aku lelaki macam apa? Hah... Nyatanya aku selalu menjaga Alyn dengan baik. Aku tidak pernah menyentuh Alyn sedikitpun. Lelaki yang mencintai wanitanya akan menjaga kehormatan wanita yang di cintainya." Jawaban yang selalu di tekankan pada Rani dan Alyn. Kenapa Iqbal tidak bisa memegang prinsip yang selalu ia tanamkan dalam hati. Nyatanya Iqbal kalah dengan hasutan setan, yang membuat Iqbal tidak bisa menahan hawa nafsunya. Iqbal mencurahkan semua hasrat yang bergejolak selama ini pada Rani. Iqbal merutuki kebodohannya, dia sangat menyesal.


Setiap kata yang meluncur dari mulut Rani membuat Iqbal semakin merasa bersalah. Iqbal tidak tega melihat kesedihan Rani yang tercipta karena ulahnya.


"Penyesalan mu tidak ada artinya sekarang."


"Aku akan mengakui perbuatanku pada ibumu, aku akan mengatakan padanya kalau aku yang memperkosa mu. Agar tidak ada satu orangpun yang akan menyalahkanmu."


Rani segera menghapus air matanya dan menatap Iqbal sinis.


"Yang ada dia akan semakin membencimu. Dan tidak akan memberikanmu restu. Aku tidak ingin Ibu tahu kalau aku sedang hamil. Susah payah aku menyembunyikan kehamilanku dan sekarang kau mau aku memberi tahu Ibuku. Maaf tapi aku tidak mau melihat ibuku kecewa, Ibuku pasti sedih, ibuku pasti syok."


"Anak itu butuh Ayah, aku tidak ingin anakku lahir tanpa seorang Ayah. Kita harus segera menikah Ran."

__ADS_1


"Lalu apa yang akan kau lakukan Iqbal?..."


"Aku akan pergi ke Kampung Nelayan dan meminta restu pada ibumu. Setuju atau tidak!! Aku tetap akan menikahi mu." Iqbal bangkit dari ranjang dan meninggalkan Rani.


"Iqbal jangan." Rani menyingkap selimutnya dan segera turun dari ranjang lalu mengejar Iqbal yang sudah meraih gagang pintu.


"Iqbal kau jangan macam-macam. Aku tidak ingin ibuku tahu kehamilan ku. Ibuku pasti kecewa dan sedih." Rani berusaha menghentikan Iqbal dan menarik tangannya.


"Iqbal berhenti..." Iqbal tidak menggubris ucapan Rani, dia terus melangkahkan kakinya walaupun Rani berusaha menghentikan langkahnya.


"Iqbal... Iqbal.... Aku mohon berhenti." Akhirnya Iqbal menghentikan langkahnya saat Rani mengigit lengannya. Iqbal hanya menggertakkan giginya dan membiarkan Rani melakukan apapun sesuka hatinya. Iqbal merasa hukuman yang di berikan Rani padanya masih kurang. Mengingat derita yang Rani alami karena ulahnya.


"Iqbal jangan beri tahu ibuku." Ucap Rani setelah melepas gigitannya. Iqbal langsung merangkum wajah Rani, menatap matanya dengan intens.


"Lalu sampai kapan kau akan menyembunyikannya dari Ibumu???... Sampai anak kita lahir???... Cepat atau lambat Ibumu akan tahu. Percayalah Ran semua akan baik-baik saja. Di sini aku yang bersalah, Maka aku akan menanggung semua resikonya. Aku tahu kamu masih sangat marah padaku, tapi tolong pikirkan anak kita, tolong tekan ego kita masing-masing. Dia butuh kita, kita hadapi semua masalah bersama."


"Berdoa lah semoga semua baik baik saja." Iqbal melepaskan pelukannya dan pergi meninggalkan Rani.


***


Iqbal merenungkan setiap perkataan Rani. Setiap kata yang di ucapkan Rani benar-benar menyiksa relung hati Iqbal. Rasa marah, kecewa, penyesalan menghantam hati Iqbal. Semua orang akan kecewa atas perbuatannya. Iqbal sendiri tidak menyangka, hanya satu kali melakukannya akan membuahkan hasil. Iqbal sangat bersyukur akan adanya buah hati di tengah tengah mereka, tapi sangat menyesal kenapa harus hadir sebelum dirinya menikahi Rani.


Dulu, berulang kali Iqbal meminta restu pada ibu Narsih, tapi selalu saja ada penolakan dengan dalih tahayul yang tidak memperbolehkan saudara kandung menikah di tahun yang sama. Jika saja Bu Narsih merestui hubungan Rani dan Iqbal, tentu hal ini tidak akan terjadi.


***

__ADS_1


Maaf ya updatenya telat...


__ADS_2