
"Aku lah yang meniduri mu dan membuat mu hamil." Ucapan Iqbal membuat Rani tertegun, Rani diam saja, antara percaya dan tidak percaya. Iqbal di buat kebingungan dengan reaksi Rani.
"Ran..." Ucap Iqbal lirih.
"Katakan kalau kau berbohong." Seloroh Rani dengan tatapan kosong. Iqbal berulang kali menelan salivanya, iqbal makin gentar.
"Aku tidak bohong Ran."
"La-lu, lalu.... Bagaimana mana bisa. Jelas jelas waktu itu Heru..." Rani mulai terisak menutup wajahnya tidak sanggup dia mengatakan bahwa Heru lah yang menidurinya.
"Aku tidak percaya, kau pasti hanya menghiburku supaya aku tidak bersedih." Lanjut Rani yang masih menangis. Rani masih sangsi atas ucapan Iqbal.
"Aku tidak bohong Ran, pahamu ada tahi lalatnya kan."
"Plaaakkk..."
"Aaaww..." Pekik Iqbal saat Rani memukul kepalanya dengan sangat keras.
"Aaaaakkkhhh...." Rani berteriak bercampur dengan air mata yang mengalir hebat.
"Aawww... Aawww... sakit Ran." Pekik Iqbal yang kesakitan karena Rani menjambak rambutnya dengan kencang hingga kepala Iqbal terhuyung kesana kemari.
"Kau jahat Iqbal, kau jahat."
"Aaawww... Rambutku bisa rontok Ran." Iqbal mengaduh kesakitan. Rani melepaskankan tangannya dari rambut Iqbal, Iqbal menggosok gosok kepalanya yang sakit.
"Aku akan membunuhmu Iqbal." Rani terus memukuli dada Iqbal. Iqbal mengalah, membiarkan Rani melakukan apapun padanya.
"Kau tahu tidak, betapa terpukulnya aku saat kehilangan kesucianku, apa lagi saat aku berpikir bahwa Heru, Heru....Aaaaa....? Kau tahu tidak betapa syoknya aku saat mengetahui bahwa aku sedang hamil hah. Kau tahu tidak betapa hancur dan frustasinya aku....Huaaaa...." Rani masih meraung raung memukul dada Iqbal.
"Maaf, maaf, Ran aku khilaf." Ucap Iqbal yang langsung memeluk Rani.
"Kau jahat Iqbal. Kalau kau jujur dari awal aku tidak akan sesetres ini. Hikzzz...Hikzzz... Kau tahu tidak, betapa hancurnya aku saat aku pikir Heru lah yang sudah.... Hikzzz hikzzz..." Tangisan Rani mulai reda dalam dekapan hangat Iqbal.
"Jangan sentuh aku brengsek. Pergi... Pergi... Pergiiiii...." Rani mengusir Iqbal dengan mendorong dada Iqbal dan menunjuk pintu keluar.
"Maafkan aku Ran. Aku benar-benar menyesal."
"Kenapa kau melakukannya? Kau bisa kan memanggil dokter untuk menghilangkan efek obat perangsangnya." Rani masih meraung raung memukul dada Iqbal. Mana ada lelaki yang tahan melihat wanita tanpa memakai apapun, kecuali yang kuat imannya. Ibarat kata kucing di beri ikan asin juga mau.
"Maafkan aku Ran, Karena cemburu aku lepas kendali dan melakukannya."
Iqbal hanya bisa menggertakkan gigi gerahamnya menahan sakit saat kini Rani menggigit lengannya kuat kuat.
Rani terus menangis sesegukan di pelukan Iqbal, hingga tubuhnya bergetar, ada rasa marah dan kecewa tapi juga lega ternyata dia mengandung anak dari laki laki yang di cintainya. Iqbal terus memeluk Rani dengan tangan kekarnya, memeluknya dengan erat. Berharap bisa mengurangi luka yang Rani rasakan karena ulahnya.
__ADS_1
"Biarkan aku pulang ke rumah ku."
"Aku tidak akan membiarkan mu tinggal sendirian lagi."
"Aku juga tidak mau tinggal dengan mu."
"Ran kita harus membicarakan Pernikahan kita. Kita harus segera menikah. Kandungan mu sudah mulai membesar."
"Menikah???.... Yang ada Ibu akan membunuh kita berdua saat melihat perutku membuncit begini." Iqbal menelan salivanya saat membayangkan amukan Ibu Narsih.
"Tapi Ran..."
"Pergi."
"Ran, jangan begini. Aku sangat mencintaimu."
"Kalau mencintai tidak akan menyakiti Iqbal." Rani terus mendorong dada Iqbal. "Selama ini aku selalu menuruti keinginan mu. Tapi kamu selalu menuntut ku. Aku harus begini, aku harus begitu. Kau selalu bersikap seenaknya sendiri. Tanpa mau mengerti keinginan ku. Ya Tuhan kenapa kau buat aku mencintai lelaki yang tempramen seperti Iqbal."
"Ran aku janji tidak akan kasar lagi. Aku akan berubah demi mu dan demi anak kita. Besok aku akan ke Kampung Nelayan untuk melamarmu lagi, aku harap Ibumu tidak menolakku lagi." Ucap Iqbal penuh tekad dan berusaha meraih tubuh Rani.
"Pergiiiii...." Rani berteriak, karena Iqbal tidak mau beranjak. Rani mengambil bantal lalu memukul Iqbal dengan bantal. Mendorong Iqbal hingga keluar dari kamarnya.
"Ran, Ran, tolong jangan seperti ini Ran."
"Biarkan Nona Rani tenang dulu tuan." Ucap Zain yang tiba-tiba muncul di belakang Iqbal.
"Iya kau benar." Ucap Iqbal setelah menghela nafas. "Apa yang ku lakukan sangat keterlaluan, Rani pasti mengalami banyak kesulitan karena perbuatan bejatku." Kemudian Iqbal pergi meninggalkan Zain.
***
Rani sangat kecewa pada Iqbal, seandainya dia jujur dari awal dia tidak akan mengalami masa-masa sulit seperti yang lalu. Tapi ada rasa lega di hatinya saat mengetahui bahwa anak yang di Kandungnya merupakan anak dari kekasih hatinya.
"Papamu sangat menyebalkan Nak...Kalau sudah besar nanti jangan tiru sifat dan sikapnya ya. Dia sangat baik tapi sayang, Kalau sedang cemburu dan kesal dia seperti harimau lapar yang siap memangsa siapapun." Rani menggerutu sendiri sambil mengelus perutnya dan tersenyum. Rasa sakit di hati Rani mulai berkurang, nyaris tak tersisa setelah pengakuan Iqbal.
"Papamu harus di beri pelajaran biar tidak nakal lagi, apa kamu setuju dengan ide Mama Nak? Apa! setuju, bagus anak pintar." Rani mengajak bayi yang berada di perutnya bicara. Padahal bayi itu tidak mengerti apa-apa.
***
Zain membantu mengompres kepala Iqbal yang sakit karena jambakan Rani. Mereka duduk di atas sofa di ruang kerjanya.
"Apa sangat sakit Tuan."
"Sangat nikmat. Cinta memang aneh. Semoga kau juga bisa merasakan yang namanya cinta."
"Ceklek..." Tiba-tiba pintu ruangan Iqbal terbuka memunculkan sesosok Rani yang tampil begitu cantik dan menawan dengan riasan dan baju yang elegan. Iqbal pun langsung berdiri, terpesona melihatnya. Rani begitu cantik, dia tersenyum manis ke arahnya. Rani mulai melangkah mendekati Iqbal. Jantung Iqbal jadi berdendang, bahagia karena Rani tidak lagi marah padanya.
__ADS_1
"Ran, aku senang akhirnya kau mau memaafkanku..."
"Siapa bilang aku sudah memaafkan mu?..."
"Lalu kenapa kau tersenyum kepadaku?"
"Aku tidak tersenyum kepada mu, Aku tersenyum pada Zain."
"Eh apa?..." Zain kelagepan terkejut dengan ucapan Rani. Sementara Iqbal rahangnya mengeras, menatap tajam pada Zain. Zain pun langsung menunduk. "Sial...Nona Rani kenapa malah menjeratku kalau hanya mau membalas Tuan Iqbal."
"Zain pergi lah..." Ujar Iqbal dengan nada tinggi dan tegas.
"Ba...Baik Tuan." Jawab Zain dengan terbata bata.
"Eh eh eh....Mau kemana?... " Cetus Rani. Zain langsung menahan nafas saat Rani tiba-tiba menghadangnya dari depan. Zain berusaha menghindar dia melangkah ke kiri Rani ikut ke kiri, dia melangkah ke kanan Rani ikut ke kanan.
Iqbal yang melihat itu sangat geram. Tangannya sudah terkepal, rasa terluka karena Rani menolaknya belum sembuh sekarang hatinya malah terbakar api cemburu.
"Apa mau mu Ran?..." Ujar Iqbal wajah datarnya, berusaha menahan amarah yang mengungkung hatinya. Zain berusaha kabur tapi Rani malah menarik lengan kemeja yang Zain kenakan."Apa apaan Nona Rani ini. Apa dia ingin Tuan Iqbal mencekik leherku."
"RANI..." Hardik Iqbal dengan suara tinggi.
"APA?..." Rani malah menantang Iqbal, memasang wajah tanpa dosa. Rani tau Iqbal adalah pencemburu berat. Sejak dulu Iqbal akan uring-uringan dan kasar jika melihat Rani dekat dengan pria lain. Hati Rani belum lega jika belum membalas sakit hatinya pada Iqbal. Jika dulu Rani selalu memaafkan perbuatan Iqbal tanpa syarat karena rasa cintanya yang teramat besar. Rani bahkan hampir mati karena Iqbal tapi Rani bisa memaafkannya dengan lapang dada.
"LEPASKAN ZAIN." Ujar Iqbal tegas, Iqbal menarik tangan Rani. Zain kabur, tapi sayang pintu terkunci dan kuncinya berada di tangan Rani.
"Aku ngidam, aku ingin Zain membuatkan ku nasi goreng." Ucap Rani dengan wajah memelas.
"Tidak perlu Zain. Aku sendiri yang akan memasak untukmu."
"Tapi aku ingin Zain yang masak untukku."
"Aku tidak mengizinkan."
"Tapi anak di perutku yang minta bukan aku."
"Itu hanya alasanmu saja."
"Ya sudah aku tidak mau makan kalau begitu, biar aku dan anakku kelaparan." Rani bersedekap dengan bibir manyun.
Zain sendiri bingung berada di tengah perseteruan pasangan aneh ini.
***
SELAMAT MENIKMATI
__ADS_1