
"Heemmmm, ya sudah aku masuk dulu kak...Daaaahhh..." Nadine melambaikan tangannya dan pergi memasuki gerbang rumah Iqbal.
Saat melewati halaman, Nadine berpapasan dengan Rani yang sedang menyiram tanaman.
"Siapa Nad?..."
"Eh, kak Rani.... Itu teman."
"Hemmmm kirain pacar."
"Hehehe kak Rani bisa saja, masak baru tinggal di Jakarta udah punya pacar."
"Hemmmm iya ya, lupa."
"Kak Rani, apa Tuan Iqbal tidak marah jika melihat kakak kerja gini."
"Tenang saja, tinggal bilang aku ngidam nyiram tanaman dia tidak akan marah. Lagian orang hamil juga harus banyak gerak biar sehat. Ya sudah sana kamu masuk dulu, terus makan."
"Iya kak. Terima kasih..."
Nadine pun berjalan memasuki rumah Iqbal lewat pintu depan, dia terperanjat kaget saat melihat Zain duduk di atas sofa ruang tamu. Mau mundur nanggung, jaraknya terlalu dekat dengan Zain. Dia menutup wajahnya dengan tas, berjalan perlahan, mengendap-endap seperti pencuri. Zain meliriknya...
"Kenapa berjalan seperti pencuri." Seketika tubuh Nadine menegang saat mendengar suara Zain.
"Maaf Tuan, saya malu karena saat OSPEK kakak senior membuat wajah saya cemong-cemong."
__ADS_1
"Ya sudah, pergi sana."
"Huuuuufffhhh..." Nadine akhirnya bisa bernafas lega. "Ya ampun, aku kok tambah rajin berbohong sih bukannya rajin beribadah." Nadine menggerutu kesal dalam hati.
"Tunggu." Ucap Zain saat Nadine mulai melangkah.
"Huh, apa lagi sih?..."
"Iya Tuan..."
"Buatkan aku teh."
"Iya." Nadine segera pergi meninggalkan Zain. Dia melempar tasnya ke atas ranjang.
"Nyebelin, kenapa aku harus berurusan dengan orang seperti itu. Kenapa juga bisa ketemu di sini. Semoga saja dia tidak ingat wajahku. Iiiiiihhhhh sebel deh..." Nadine menggerutu sendiri di dalam kamar dan memakai kembali maskernya. Dia pun pergi ke dapur untuk membuat teh.
"Kamu siapa?..." Ucap Zain pada Nadine.
"Nama saya Nadine."
"Aku tidak bertanya siapa namamu. Aku bertanya kenapa kamu ada di sini?...."
"Iiiiiihhhhh tuh kan nyebelin. Orang jelas jelas tadi dia tanya aku siapa?"
"Malah bengong."
__ADS_1
"Saya keponakan bi Ijah."
"Ya sudah sana pergi."
"Huh, gitu doang." Nadine pun segera pergi, tak ingin berlama-lama dengan Zain.
***
Keesokan harinya, Nadine keluar dari rumah Iqbal hendak pergi ke kampus barunya untuk mengikuti OSPEK. Dia berjalan melewati mobil, saat dia sudah berada di samping mobil, tepat di bagian pintu depan di bagian kemudi Nadine berhenti, dia bercermin di kaca jendela mobil yang gelap. Mematut diri, merapikan bedak di wajah dan merapikan kuncir rambut yang di ikat di kedua sisi Seperti anak TK dengan pita warna merah yang melilit di rambut yang di kuncir.
"Sreeeettt...." Tiba tiba kaca jendela mobil terbuka, memunculkan penampakan Zain yang duduk di bagian kemudi, memperhatikan wajah Nadine sedari tadi saat berkaca mematut diri.
"Haaaaa...." Nadine yang terkejut berjalan mundur dengan langkah cepat, namun sayang dia terjatuh ke belakang sebab tersandung kakinya sendiri. "Sejak kapan dia ada di sana, bukannya tadi masih ada di ruang tamu."
Zain segera keluar dari mobilnya, menghampiri Nadine. Nadine bangkit hendak berlari tapi Zain keburu menarik satu kuncir rambutnya.
"Adu du du du.... Sakit kak lepas...."
"Mau kabur lagi?...."
"Aku nggak kabur kak...."
"Nggak kabur tapi melarikan diri, itu sama saja."
"Aku nggak akan melarikan diri kak, aku cuma kaget, terkejut dan bingung. Aku nggak akan kabur, aku akan tanggung jawab. Lepasin rambutku kak. Aku harus segera pergi ke kampus. Nanti aku bisa telat dan di hukum.''
__ADS_1
Nadine sangat gugup menghadapi Zain, dia bingung akan mempertanggung jawabkan kesalahannya dengan cara apa.