
Nadine sangat kesal pada Zain, dia tahu Zain sedang menertawakannya dalam hati. Lihat saja senyum yang masih terukir di bibirnya itu tak henti hentinya mengembang. Apa lagi Nadine menangkap basah Iqbal dan Rani yang diam diam memperhatikannya dan sesekali tertawa.
Nadine melihat ke segala arah, berkunjung di Mall pada tanggal merah tentu banyak sekali pengunjung yang datang. Nadine melihat semua mata pengunjung tertuju padanya. Mereka tadi juga menertawakannya, seandainya sejak awal Zain memberikan sendoknya pada Nadine tentu dia tidak akan terlihat konyol dan jadi tontonan banyak orang.
"Kak Zain sakit ya?..." Nadine melirik Zain yang sedang tersenyum.
"Tidak." Zain berusaha menahan tawa.
"Oh, kirain lagi sakit kok senyum senyum sendiri." Nadine mengangguk ngangguk. "Pembalasan."
"Sakit apa maksudmu?..." Wajah garang Zain muncul kembali.
"Sakit jiwa hahahaha...." Sambil menunjuk pelipisnya.
"Bibirmu itu memang looos kalau bicara?..."
"Sensitif banget sih, nggak bisa di ajak bercanda."
"Aku tidak punya waktu bercanda dengan mu..."
"Sok jual mahal, terus kenapa itu senyum senyum sendiri dari tadi."
"Bukan urusanmu." Nadine mencibir. Hening beberapa saat.
"Kak Zain punya masalah."
"Tidak. Kenapa?..."
"Sikap Kak Zain menunjukkan bahwa hati kak Zain itu bermasalah."
"Sok tahu."
"Iiiiiihhhhh, insting ku jarang meleset loh."
"Sombong."
"Iiiiiihhhhh, kok sombong sih. Di lihat dari sudut manapun wajah kak Zain ini wajahnya penuh dengan masalah."
__ADS_1
"Diam lah. Jangan banyak bicara."
"Ouw..." Nadine hanya malah mengerucutkan bibirnya. Dia kembali menyantap makanannya.
***
Zain mengirim chat pada Iqbal."Tuan, Waktunya untuk shalat. Kalau sudah selesai makan, ayo ke musholla."
"Kalau sudah selesai, ayo shalat dulu." Ucap Iqbal pada Rani.
"Udah, Ayuk." Jawab Rani.
Mereka berempat beranjak dari tempat duduknya dan keluar dari tempat makan tersebut.
Rani bergelayut di lengan Iqbal, Zain dan Nadine jalan bersisian, mereka berempat berjalan melewati setiap toko yang berderet di lantai 4. Iqbal dan Rani berbincang bincang membahas tentang apa yang di butuhkan untuk bayinya nanti dan senam hamil untuknya nanti.
Sementara Zain dan Nadine berjalan di belakang mereka tanpa sepatah katapun yang keluar dari salah satunya.
Beberapa menit kemudian sudah hampir sampai di depan pintu lift, Iqbal menghentikan langkahnya. Saat melihat antrian orang yang hendak memasuki lift, Iqbal sebagai pemimpin jalan memutuskan untuk turun menggunakan eskalator. Dia enggan untuk mengantri dan berdesakan desakan.
"Kak Zain. Kenapa nggak naik lift aja?..." Nadine bertanya dengan wajah yang pucat.
"Antri."
"Tapi aku nggak bisa naik tangga berjalan."
"Tinggal naik apa susahnya." Ucap Zain dengan pandangan mengarah pada Iqbal dan Rani yang sudah sampai di tengah pijakan eskalator. Zain pun mulai berpijak pada tangga eskalator meninggalkan Nadine.
"Kak Zain." Nadine memanggil Zain namun tidak mendapatkan sahutan.
"Kak."
Walaupun takut, Nadine tetap melangkahkan kakinya, baru saja menyentuh pijakan eskalator dia sudah menarik lagi kakinya ke atas karena hal itu membuatnya hampir terjerembab. Beberapa kali dia mencoba namun selalu urung dan gagal, lagi lagi aksi memalukan Nadine menjadi tontonan banyak pengunjung Mall. Nadine adalah anak rumahan, jarang keluyuran walaupun pada usia muda sepertinya merupakan saat terindah menikmati masa remaja yang bebas.
Nadine membayangkan jika dirinya memaksa turun dan terjatuh ke bawah itu akan fatal akibatnya.
"Jahat banget sih kak Zain, ninggalin aku sendirian."
__ADS_1
Nadine sangat malu dia melihat ke sekeliling semua orang yang melihatnya tersenyum bahkan ada yang tertawa geli. Di lihatnya Rani dan Iqbal sudah turun. Beberapa saat kemudian Zain pun juga sudah turun dari eskalator. Ingin sekali Nadine berteriak memanggil mereka tapi akan sangat memalukan jika berteriak di Mall dan semakin menjadi pusat perhatian. Rasa malu dan takut melebur menjadi satu.
Sejak tadi Rani terlalu asyik bercengkrama dengan Iqbal hingga dia tak menyadari keberadaan Zain dan Nadine, karena dia berpikir Zain bersama Nadine jadi tidak ada yang perlu di khawatirkan. Rani pun akhirnya menoleh dan hanya melihat Zain berjalan sendirian tanpa Nadine. Rani memberikan Zain tatapan sinis dan menghentikan langkahnya, langkah Iqbal pun ikut terhenti.
Rani melepaskankan tangannya dari lengan Iqbal lalu menghampiri Zain. Iqbal pun mengikuti langkah Rani.
"Zain di mana Nadine?..." Ucap Rani setelah sampai di hadapan Zain. Seketika itu pula Zain menoleh ke belakang, namun Nadine tidak ada.
"Gadis itu masih ada di atas." Iqbal menunjuk Nadine yang kebingungan. Mata Zain dan Rani langsung tertuju ke ujung atas eskalator, di sana Nadine terlihat sangat menyedihkan ingin turun tapi tidak bisa. Dan menjadi bahan tertawaan para pengunjung. Tempat Mereka bertiga berdiri masih belum jauh dari eskalator.
"Kau itu jahat sekali Zain, ninggalin Nadine sendirian." Rani menggerutu kesal pada Zain, dia tidak terima dengan sikap Zain yang terlalu cuek pada Nadine. Apa lagi saat ini Nadine jadi tontonan banyak orang. Zain tidak memperdulikan ucapan Rani, dia pergi begitu saja menuju eskalator.
"Sudah lah Ran. Ini juga salah mu terlalu memaksakan hubungan mereka. Hati Zain itu sangat alot, sulit untuk di luluhkan. Apa lagi cinta itu tidak bisa di paksakan." Iqbal berusaha memberikan pengertian pada Rani.
"Iya..." Jawab Rani seraya mengangguk. Iqbal meraih tangan Rani dan menggenggamnya, mereka berdua beranjak menuju eskalator.
Zain mulai berpijak pada eskalator. Melihat Zain menuju ke arahnya Nadine menjadi lega, bercampur malu dan jengkel sebab Zain tidak menggubrisnya sejak tadi. Nadine menegakkan posisinya menatap Zain dengan wajah cemberut.
Setelah sampai ke atas Zain menghampiri Nadine, sementara Iqbal dan Rani menunggu mereka di bawah tepat di samping eskalator.
"Aku minta maaf." Ucap Zain setelah tiba di hadapan Nadine. Dia benar-benar tulus meminta maaf pada Nadine sebab tidak mengindahkan ucapan Nadine tadi sehingga Nadine menjadi bahan tontonan gratis untuk para pengunjung Mall. Zain pikir Nadine hanya gadis manja yang ingin di perhatikan.
"Ayo." Zain mengulurkan tangannya, Nadine yang tak punya pilihan lain akhirnya menerima uluran tangan Zain.
"Langkah kan kakimu bersamaan dengan kakiku. Dan bersamaan dengan langkah kaki yang berpijak di... Apa katamu tadi... Aa tangga berjalan, tanganmu berpegangan di pegangan tangga berjalan." Nadine semakin mengeratkan pegangan tangannya pada Zain saat memulai instruksi dari Zain.
"Nadine, kenapa sejak tadi kamu selalu mencari kesempatan untuk menyentuh ku?..." Ucap Zain setelah mereka berhasil menaiki eskalator.
"Iiiiiihhhhh apa sih GR, ini tuh terpaksa. TER-PAK-SA... Tau nggak terpaksa." Ucap Nadine menekankan perkataannya setelah melepas genggaman tangannya dari Zain.
Setelah sampai di ujung bawah eskalator karena emosi yang mendominasi suasana hati Nadine tanpa sadar dengan mudahnya Nadine turun.
"Nadine..." Ucap Rani yang langsung menggandeng tangan Nadine setelah Nadine mendarat dengan sempurna di lantai.
"Hm... Modus." Celetuk Zain yang kemudian melewati Nadine dan Rani.
"Udah, jalan sama aku aja Mas. Lebih aman." Ujar Rani.
__ADS_1