CINTA GADIS OBAT NYAMUK (Kesucian Yang Ternoda)

CINTA GADIS OBAT NYAMUK (Kesucian Yang Ternoda)
MELULUHKAN MU


__ADS_3

Rani bungkam seribu bahasa, membuat Iqbal kebingungan. Padahal selama ini Rani tidak pernah seperti ini, jika marah dia akan bicara panjang lebar. Sedangkan Zain masih mengemudikan mobilnya menuju kantor, pura pura tuli dengan rayuan Iqbal pada Rani.


"Huuuuufffhhh..." Iqbal berulang kali bernafas frustasi melihat kebungkaman Rani, berulang kali dia mengusap tengkuknya karena di landa kebingungan. Dia tidak menyangka bahwa candaannya di anggap begitu serius oleh Rani.


"Ran, jangan diam saja. Tolong katakan sesuatu. Kamu minta apa?... Minta lah apapun, aku pasti akan memberikannya. Tapi berhentilah marah marah. Kamu sedang hamil, tidak baik marah terlalu lama dengan suami." Namun Rani tak peduli, tatapannya masih lurus ke jendela.


"Rani, lihat aku." Iqbal merangkum kedua pipi Rani hingga menatapnya.


"Katakan apa yang harus aku lakukan agar kamu bisa memaafkan ku. Katakan apapun yang kamu inginkan, aku pasti akan mengabulkannya." Rani hanya memutar bola mata malas lalu menepis tangan Iqbal dan kembali menghadap ke jendela.


"Zain antar kami pulang." Ucap Iqbal pada Zain karena tidak ingin membuat Rani semakin marah.


"Baik Tuan." Zain memutar balik mobilnya untuk kembali ke rumah Iqbal.


Setelah 45 menit di perjalanan akhirnya mobil sampai juga, sedikit lambat sebab jalanan sedang macet. Di sepanjang perjalanan pulang semua orang diam membisu, hanya Iqbal yang sesekali berbicara membujuk Rani berharap bisa meluluhkan hatinya yang sedang di kepung emosi.


Setelah sampai di halaman rumah, Zain menghentikan mobilnya dan membuka kunci pintu mobilnya. Rani segera keluar, di susul oleh Iqbal. Dia berjalan di belakang Rani. Rani berjalan dengan langkah tergesa masih di ikuti oleh Iqbal.


"Rani jalannya pelan pelan. Kamu sedang hamil." Ucap Iqbal dengan nada sehalus mungkin, Rani pun memperlambat langkahnya. Iqbal berusaha untuk bersabar dan menahan emosinya.


Sedangkan Zain kembali ke kantor untuk menghandle semua pekerjaan di kantor termasuk pekerjaan bos-nya yang sedang merayu istrinya yang sedang merajuk. Tak peduli suasana hatinya juga sedang kacau namun dia mencoba untuk tetap profesional dalam bekerja.


Rani buru buru masuk kamar sebab tak ingin melihat Iqbal. Saat melihat Iqbal, dia segera menutup pintu kamar dan menguncinya. Iqbal hanya bisa tercengang di depan pintu.


"Huuuuufffhhh inilah akibatnya mencari masalah dengan istri yang sedang hamil."


Iqbal mengambil Hpnya dan browsing ke internet mencari tahu bagaimana cara merayu istri yang sedang marah. Namun semua penjelasan yang muncul terkesan berlebihan dan kekanak-kanakan. Iqbal memutar otak berpikir dan berpikir bagaimana cara membujuk Rani.


Iqbal teringat sesuatu, dia ingat waktu Rani marah karena Dia memakan semua donat dan hanya memberikan 1 donat untuk Rani, bukankah Rani sangat menyukai donat dan coklat. Iqbal pergi ke dapur untuk membuat donat. Dia memanggil Bi Ijah untuk membantunya.


Dia mempersiapkan wadah dan semua bahan yang di butuhkan. Dengan instruksi dari Bi Ijah, dia mulai membuat adonan donat. Setelah 150 menit berkutat di dapur akhirnya donat dengan taburan gula halus dan sebagian bertabur coklat selesai di buatnya.


Dengan harapan besar Iqbal melangkah dengan perasaan tidak percaya diri, berharap dengan usaha kecil yang Iqbal lakukan akan mampu meluluhkan hati Rani.


"Kalau Rani luluh dengan donat ini, aku berjanji akan membagikan donat pada semua karyawan di kantor. Kalau perlu aku akan membuka toko donat."

__ADS_1


Iqbal membuka pintu dengan kunci duplikat, di lihatnya Rani yang sedang berdiri memainkan Hpnya di balkon kamar.


"Ran..." Rani tak peduli dengan kehadiran Iqbal dia tetap menatap layar ponselnya. Hatinya masih tersinggung dengan candaan Iqbal.


Iqbal meletakkan donat ke atas meja, dia menghampiri Rani. Iqbal memeluk Rani dari belakang, melingkarkan tangannya ke perut yang sudah buncit, walaupun Rani tak bergeming rasa cemas Iqbal sedikit terobati karena tendangan bayi di perut Rani yang seolah menyambut kedatangan Iqbal. Bayinya terus bergerak lincah, menendang nendang tangan Iqbal.


"Anakku sangat lincah."


"Maaf, Papa belum bisa tengok kalian. Meskipun Papa rindu." Ucap Iqbal kemudian mengecup pipi Rani.


"Pipimu harum."


"Heemmm, iya lupa kamu masih marah makanya tidak mau bicara."


"Apa sih?... Males deh..."Rani membatin dengan tangan yang masih menggeser geser layar HP tidak jelas, apa yang sebenarnya ingin ia lihat.


"Istri ku yang cantik masih marah." Iqbal meletakkan dagunya di atas pundak Rani. Beberapa saat kemudian Iqbal menengadah ke atas, menatap lagi yang mendung.


"Lihat lah Ran, langit mendung saat melihat dirimu bersedih."


"Sepertinya Tuhan lupa menutup pintu surga, sampai satu bidadari jatuh di pelukanku."


"Iiiiiihhhhh lebay, nyebelin, nyebelin, nyebelin..."Masih membatin dengan hati bersorak-sorai. Itulah kaum hawa, mudah luluh hanya dengan rayuan kaum Adam. Sebab wanita lebih sering bermain dengan perasaan ketimbang logika, walaupun sudah tahu di bohongi tapi tetap percaya. Beda lagi dengan wanita materialistis, yang penting uang uang uang, semua orang juga butuh uang sih.


"Rani, mau sampai kapan kamu mendiamkan aku?... Aku akan melakukan apapun yang kamu inginkan asal kamu tidak lagi marah padaku."


"Apa pun?..." Akhirnya Rani mau membuka suara.


"Iya." Jawab Iqbal yakin.


"Apa kamu yakin?..." Ucapan Rani terasa seperti angin segar bagi Iqbal.


"Huuuuufffhhh, Iya aku yakin."


"Kalau aku minta kita pisah bagaimana?..."

__ADS_1


"Deg." Hati Iqbal bagai tersambar petir mendengar ucapan Rani, jantungnya terpompa lebih cepat dari biasanya. Seketika Iqbal membalik tubuh Rani hingga menghadap dirinya. Dia merangkum wajah Rani dan menatapnya, dengan tatapan penuh kesedihan.


"Apa yang kamu katakan Ran?...Apa kamu sudah tidak mencintai ku lagi?... Sampai kapanpun aku tidak akan pernah melepaskan mu. Aku sangat mencintaimu Ran, aku juga mencintai anak kita. Jangan bicara seperti itu lagi, itu terlalu menyakitkan." Ucap Iqbal yang di rundung emosi, sedih bercampur rasa takut kehilangan. Dadanya sudah naik turun lebih cepat, hatinya kacau.


"Makanya kalau ngomong itu di saring dulu, pakai filter. Perkataan yang kiranya menyakitkan hati ya jangan di lontarkan lah. Pernikahan bukan hanya bermodalkan cinta saja tapi juga pengertian dan saling menjaga perasaan satu sama lain." Iqbal mencermati setiap Ucapan Rani yang terjeda sejenak."Kalau lama lama aku bosan dengan sikap mu dan berhenti mencintaimu bagaimana?..."


Seketika Iqbal memeluk Rani dengan erat, kalimat terakhir yang di ucapkan Rani membuat Iqbal gentar dan takut.


"Jangan bicara seperti itu lagi. Maaf, aku tidak akan bercanda seperti itu lagi. Sekarang jangan marah lagi ya..." Rani pun mengangguk, Sebenarnya tanpa Iqbal meminta maaf pun Rani sudah memaafkan Iqbal. Rasa cintanya yang begitu besar untuknya membuat Rani mudah untuk memaafkan Iqbal. Sejak tadi Rani sudah tidak tega melihat Iqbal terus saja membujuknya untuk mendapatkan maaf, tapi Rani hanya memberikan sedikit pelajaran pada Iqbal yang memiliki sifat tempramen, berharap Sifat kasarnya itu lambat laun akan berkurang dan sirna. Bagaimana jika Iqbal juga bersikap kasar pada anaknya nanti.


"Tadi aku membuat donat untuk mu." Ucap Iqbal setelah melepaskankan pelukannya. Iqbal menggenggam tangan Rani dan membawanya memasuki kamar.


"Sampai segitunya yang pengen minta maaf."


Rani membatin seraya tersenyum.


Iqbal mendudukkan Rani ke sisi ranjang, Iqbal meraih piring berisi donat kemudian ikut duduk di sisi Ranjang tepat di hadapan Rani dan menyuapi Rani. Dia terus menyuapi Rani sambil sesekali membersihkan bibirnya dari gula halus putih di sekitar bibirnya.


"Enak?..."


"Lumayan." Jawab Rani dengan mulut berisi penuh dengan donat.


"Kalau suka, aku akan buatkan setiap hari."


"Kalau buatnya setiap hari ya nggak enak, bosen jadikan. Sesekali aja kalau lagi pengen. Kamu nggak makan?... Waktu itu kamu doyan banget, aku cuma di sisain 1 donat doang."


"Waktu itu aku marah karena lihat cincin pemberian dari Yusuf melingkar di jarimu."


"Hemmmm, cemburu nih ceritanya."


"Iya."


"Ini kamu juga makan, donat ini terlalu banyak. Aku nggak bisa ngabisin ini sendirian." Ucap Rani kemudian menyuapi Iqbal.


"Sudah lama kita nggak jalan jalan. Kamu mau jalan-jalan nggak."

__ADS_1


"Hemmmm, mau dong..." Jawab Rani antusias.


__ADS_2