
"Iiiiiihhhhh ngeselin... Kenapa dari dulu kamu suka sekali menjahiliku?..." Rani mengeluh dengan bibir yang sudah mengerucut.
"Aku suka saat melihat bibir mu mengerucut. Kalau di ikat dengan karet pasti bisa." Iqbal mengutarakan alasannya. Sebagai bentuk protesnya, Rani malah menggelitik perut Iqbal hingga dia tertawa terbahak-bahak. Iqbal yang sudah tidak tahan karena geli akhirnya menarik rambut Rani.
"Iiiiiihhhhh sakit." Rani balas mencubit pipi Iqbal.
"Maaf..." Ucap Iqbal lalu mengusap rambut Rani. Iqbal meraih tangan Rani dan meletakkan ke kepalanya.
"Pijat." Ucap Iqbal, Rani pun menuruti.
"Saling cinta, tapi seperti kucing dan tikus. Jadi ingat Tom and Jerry." Nadine membantin, walaupun dia menutup kedua telinganya namun tetap saja suara candaan Rani dan Iqbal bisa menerobos masuk ke Indra pendengaran Nadine.
"Ternyata menikah itu enak ya, makan ada yang melayani. Pegal pegal ada yang mijitin. Tidur ada yang nemenin. Tahu begitu dari dulu aku menikahi mu Ran."
"Boro-boro mau nikahin aku, orang yang ada di pikiran mu cuma Alyn." Bukannya menjawab Iqbal malah menarik hidung runcing Rani.
Tak terasa Zain sudah menghentikan mobilnya tepat di depan Kampus Nadine, Dia pun segera turun namun Rani memanggilnya.
"Nadine, tunggu."
"Iya kak..."
"Ini, buat beli jajan." Rani menyodorkan uang pada Nadine.
"Nggak usah kak, makasih."
"Jangan di tolak. Ini dari suamiku." Dengan ragu Nadine pun menerima uang tersebut. Dan sekilas dia melirik Zain yang pandangannya masih fokus ke depan.
"Terimakasih kak."
"Sama sama, belajar yang rajin ya."
"Iya."
"Daah..." Rani melambaikan pada Nadine saat mobil mulai melaju.
"Wah senangnya kalau punya bos baik hati kayak kak Rani."
__ADS_1
"Puk Puk Puk..." Seseorang menepuk pundak Nadine dari belakang. Nadine menoleh kebelakang.
"Kak Dion."
"Baru sampai..." Nadine hanya mengangguk dan mulai melangkah memasuki kampus.
"Udah sarapan belum, ntar pingsan lagi kayak kemaren."
"Udah kak."
"Ngantin dulu yuk sambil ngobrol."
"Nggak ah kak, Aku kumpul sama temen baru ku aja. Biar lebih akrab."
"Memangnya kamu nggak mau nih akrab sama aku?..." Nadine hanya tersenyum. Dari kejauhan Renata and the gang memperhatikan Nadine dan Dion yang terlihat akrab dengan seksama.
***
Zain memarkirkan mobilnya di parkiran rumah sakit. Kemudian Rani, Iqbal dan Zain memasuki rumah sakit bersama-sama. Iqbal berjalan di samping Rani dengan Rani yang bergelayut di lengan Iqbal. Sementara Zain berjalan di belakang mereka berdua.
"Zain..." Secara bersamaan Rani, Iqbal dan Zain menoleh ke belakang, ke asal suara. Wajah Zain berubah merah padam, emosinya membuncah sampai ke ubun-ubun. Kenangan indah di masa lalu yang berubah menjadi neraka kini berkobar di ingatan Zain. Apa lagi melihat senyum di wajah wanita itu seolah semua baik baik saja dan tidak pernah terjadi apapun di masa lalu.
"Zain apa kabar?..." Bukannya menjawab, Zain malah menghindar. Melangkah pergi namun wanita itu sepertinya tidak rela jika Zain pergi begitu saja. Dia menarik lengan Zain namun segera Zain hempaskan.
"Zain kita harus bicara." Wanita itu mengikuti langkah Zain, dia berjalan mensejajari Zain. Sementara Rani dan Iqbal berjalan di depannya.
"Iqbal wanita itu siapa?..." Rani berbisik pelan ke telinga Iqbal sambil berjinjit sebab tubuh Iqbal terlalu tinggi. Hati Rani tergelitik, ingin tahu ada apa sebenarnya.
"Iqbal." Karena Iqbal tidak kunjung menjawab Rani pun menarik narik tangan Iqbal.
"Zain tolong dengarkan aku sebentar." Namun Zain tetap tidak bergeming, dia memasang wajah datar tanpa ekspresi.
"Zain, aku minta waktu mu sebentar."
"Iqbaaaal.... Jawab dong, dia siapa?..." Lagi lagi Rani berbisik sambil menarik tangan Iqbal.
"Zain kenapa kamu tidak mau melihat ku?..."
__ADS_1
"Iqbal..." Ucap Rani. Akhirnya Iqbal menghentikan langkahnya, langkah Zain dan wanita itu pun terhenti.
"Zain." Iqbal berbalik dan memberikan isyarat pada Zain untuk pergi.
"Baik Tuan." Zain pun pergi dan masih di ikuti oleh Wanita itu. Iqbal kembali melangkah menuju ruang ob-gyn.
"Iiiiiihhhhh apa apaan sih mereka. Memangnya Iqbal bilang apa kok Zain langsung mengerti dan hengkang."
"Iqbal wanita itu siapa?..."
"Jangan suka ikut campur urusan orang."
"Iiiiiihhhhh,,,, Jiwa penasaran ku meronta-ronta loh. Ayolah Iqbal cerita sedikiiiit saja." Ucap Rani sambil menyatukan ujung jari jempol dan telunjuknya menjadi satu hingga menyerupai huruf O.
"Aku tidak tahu..."
"Iiiiiihhhhh pelit, ngeselin." Iqbal tetap tidak peduli.
"Ya sudah nanti aku tanya sendiri sama Zain." Iqbal langsung memberikan tatapan tak suka pada Rani.
"Namanya Riska."
"Riska?..."
"Zain adalah korban." Ujar Iqbal.
"Korban?..." Rani melongo masih tak mengerti.
"Iya."
"Iya korban apa?..." Iqbal tak bergeming.
"Iiiiiihhhhh kamu mah bikin aku penasaran. Kalau anakmu ngiler karena nggak keturutan gimana?..." Iqbal malah tersenyum seraya mengkhusuk khusuk rambut Rani dan mengecup keningnya, beruntung tidak ada orang yang melihatnya.
"Ayo Iqbal cerita, Zain itu jadi korban apa?..."
"Korban perasaan." Jawab Iqbal.
__ADS_1