
Malam hari jam 08.00 WIB, Iqbal menghampiri Rani yang terlihat tidur begitu nyenyak. Dia meletakkan segelas susu untuk ibu hamil yang ia bawa ke atas nakas.
"Bangun." Iqbal mentoel-toel bahu Rani namun Rani tetap memejamkan mata.
"Bangun, jangan pura pura tidur."
"Kamu pikir aku tidak tahu kamu pura-pura tidur."
Karena Rani tetap tidak bergeming Iqbal pun menutup hidung Rani hingga tak bisa bernafas.
"Aaaahhh,,, Iqbaaaal..." Rani memukul mukul lengan Iqbal agar melepaskan hidungnya.
"Iiiiiihhhhh... Nyebelin, aku nggak bisa nafas tau..." Ucap Rani dengan wajah merengut setelah Iqbal melepas hidupnya.
"Salah sendiri di bangunin baik baik tidak mau bangun, malah mempersulit keadaan."
"Ada apa?..."
"Mana tanganmu." Tanpa menunggu jawaban dari Rani, Iqbal sudah menarik tangan Rani dan melepaskan cincin yang melingkar di jari manisnya.
"Hey, kamu mau apa?... Itu punya ku."
"Punyamu!!... Dari Yusuf mantan pacarmu kan."
"Ya ampun Iqbal, cemburu mu itu berlebihan. Kak Yusuf itu kakak sepupuku."
"Kakak sepupu?...Oya!!... Kakak sepupu masih bisa menikahi, apa lagi hanya anak angkat."
"Mana mungkin dia bisa menikahi ku sedangkan aku sudah menikah. Sini balikin."
"Berhenti membantah, ingat kata ibumu tadi"Nurut sama suami." jadi Jangan sampai aku berbuat kasar pada mantan pacarmu itu." Ucap Iqbal sambil menusuk nusuk hidung mancung Rani. Rani hanya merengut karena perlakuan Iqbal.
__ADS_1
Iqbal pun memasukkan cincin itu kedalam saku celananya.
"Iiiiiihhhhh, nyebelin...Itu cincin dari kak Yusuf mau di kemanain?..."
"Akan ku jual dan ku sumbangan kan supaya mantan kekasihmu itu dapat pahala."
"Iiih ngomong apaan sih..."
"Sini tanganmu."
"Apa lagi?..."
"Jangan banyak tanya, sini."
"Nih..." Rani menjulurkan tangannya pada Iqbal. Iqbal mengambil cincin di kemejanya.
"Lebih baik pakai perhiasan dari suami dari pada dari mantan kekasihmu itu. Aku tidak ingin jika kamu melihat cincin pemberian dari Yusuf, kamu akan mengingatnya." Ucap Iqbal sambil memasang cincin yang baru saja ia pesan ke jari manis Rani. Iqbal yang curiga melihat Rani memakai cincin asing yang baru pertama kali Rani pakai, bisa menyimpulkan bahwa cincin itu pemberian dari Yusuf. Tentu saja harus merepotkan Zain untuk mencari cincin yang ia cari lewat internet.
"Kapan jadwal kontrol kandunganmu?..." Iqbal bertanya sambil mengusap lembut perut Rani.
"Lusa."
"Apa kamu tidak ingin makan sesuatu."
"Iiih aku masih kesal dengan mu, donat ku kamu habiskan semua..."
"Hahahaha, aku khilaf... Mau ku buatkan lagi."
"Nggak ah, aku ngantuk. Mau tidur saja."
"Ya sudah, minum susunya dulu." Iqbal meraih susunya dan memberikannya pada Rani, setelah susu habis Rani merebahkan diri dan Iqbal kembali menyelimuti Rani lalu mengecup keningnya.
__ADS_1
***
Hari pertama kuliah, seperti biasa. Para mahasiswa baru akan melakukan OSPEK di hari pertama mereka memulai pembelajaran.
Nadine menggunakan seragam SMA (putih abu-abu) tak hanya seragam yang di atur, pernak pernik juga menghiasi pakaian mahasiswa baru. Mereka memakai topi dari bola plastik yang di belah menjadi dua dan di ikat dengan tali rafia. Tak hanya itu, Nadine dan mahasiswa lainnya juga menggunakan kalung dan gelang rafia yang di hiasi permen dan papan bernama kardus. Untuk papan Nama Nadine bertuliskan ulat bulu.
Untuk mahasiswi yang berhijab, panitia OSPEK meminta mereka menghiasi kerudung yang dipakai dengan beragam pita warna-warni, yang ditempelkan dengan peniti.
Beberapa kakak senior memberikan begitu banyak kegiatan untuk Mahasiswa baru, termasuk Nadine. Masih dengan seragam SMA (putih abu-abu).
Awalnya para mahasiswa baru melakukan upacara bendera, setelah itu mendengarkan serangkaian pidato, serta pengarahan dari kakak senior yang di lakukan di bawah teriknya matahari.
Setelah itu mereka semua di haruskan membersihkan sampah yang terlihat di lingkungan sekolah. Masing-masing pelajar membawa kantung plastik untuk tempat sampah.
"Capek ya..."
"Banget..."
"Nih, minum dulu."
"Terimakasih." Ucap Nadine pada teman barunya yang tadi berada di barisan tepat di belakangnya. Mereka kembali membersihkan sampah di sekitar kampus.
Setelah membersihkan sampah para Kakak senior menyuruh mereka berlari mengelilingi lapangan.
Nadine sangat tidak tahan dengan teriknya sinar matahari, dehidrasi, lelah dan pusing menjadi satu. Walaupun tubuhnya terasa lemas dia tetap berlari, sebab dia tidak ingin gagal dalam masa orientasi bagi mahasiswa baru. Dia terus berlari sambil sesekali menyeka keringat yang membanjiri wajah dan lehernya.
Namun niat tinggallah niat, walaupun pikirannya merongrong untuk terus bersemangat tapi tubuhnya tidak bisa di ajak berkompromi.
Tubuhnya tiba tiba lemas, dunia terasa berputar dia merasa sedang melayang, beruntung sebelum tubuhnya ambruk terjatuh seorang pemuda berhasil merengkuhnya.
Pemuda itu menggendong Nadine dan membawanya ke ruang UKK.
__ADS_1