
Hari-hari yang di jalani setiap saat, membuat mereka semakin memahami satu sama lain, persahabatan yang di jalani dengan penuh kasih sayang, membuat mereka tidak ingin di pisahkan, berjanji tidak saling meninggalkan sampai maut memisahkan.
Setiap hari Farrell menatap pohon akasia yang berada dekat lapangan basket yang biasa di gunakan oleh Rachel saat bersantai, sejak saat itu, farrel tidak pernah lagi bertemu dengan Rachel, meskipun setiap pagi ia pergi ke tempat di mana pertama kali mereka bertemu, namun Farrell tidak pernah bertemu lagi dengannya.
Rachel yang melupakan cinta pertamanya Akhirnya di gantikan oleh seseorang yang benar-benar memahami dirinya.
Meskipun cinta monyet, namun Rachel menggap Ricko lebih dari sahabatnya.
" Hari ini aku akan traktir kalian makan di kantin" kata dinda yang berdiri di depan teras rumah Ricko menunggu ke dua sahabatnya selesai memakai sepatu.
"Tumben amat" sahut Ricko sembari memakai sepatunya.
"Iyya hari ini aku pasti dapat juara lagi" sambung dinda dengan wajah semangat.
"kamu yakinnn...?" sontak Ricko berdiri mencubit pipi dinda
" kan kamu ihh,,,," suara dinda yang terlihat kesal dengan perkataan Ricko
__ADS_1
Ricko meletakkan tangannya ke atas bahu Rachel sembari tertawa melihat ekspresi wajah Dinda yang amat kesal.
Kemudian mereka bertiga berangkat kesekolah bersama-sama di antar oleh sarah.
Sepanjang perjalanan, dinda amat bahagia karena keyakinannya untuk mendapatkan peringkat ke 1, terlihat amat jelas di raut wajahnya dengan rasa percaya diri.
Sesampainya di sekolah, Semua menuju ke ruangan masing-masing , untuk pembagian raport, meras dekdekan namun membuat hati senang, hal ini yang di rasakan Dinda, sedangkan Ricko, dan teman lainnya yang terlihat santai tidak terlalu memikirkan nilai, dan tidak mengharapkan apapun kecuali naik kelas, karena mereka yakin tidak bisa menyingkirkan dinda yang selalu memegang juara 1 di kelas mereka.
"Juara 1 tahun ini di raih oleh...?" suara yang di lontarkan oleh wali kelas mereka membuat dinda semakin dek-dekan dan langsung berdiri, tak sabar ingin cepat-cepat menerima raport miliknya yang ada di genggaman wali kelasnya, namun tiba-tiba terdengar suara aneh di telinganya yang memanggil nama orang lain namun tidak terlalu jelas ia dengar.
merasa tidak percaya,Dinda malu dan duduk kembali ke kursi miliknya.
Semua orang tidak percaya, bahwa Rachel bisa menggeser nilai Dinda, namun Rachel tidak ada bermaksud apa-apa, karena dirinya sendiri tidak tau mengenai hal ini.
Rasa sedih dan kecewa yang di alami Dinda membuatnya sedikit iri terhadap Rachel, seolah-olah seseorang telah merampas milikinya.
"hahahaha kasian deh loh...!" ujar Ricko becanda kepada dinda yang duduk di kursi miliknya.
__ADS_1
Niatnya yang mengganggu, membuat dinda salah paham dan akhirnya berujung perselisihan sementara kedua sahabat tersebut.
Rachel yang berusaha menenangkan sahabatnya itu, membuat dinda merasa malu atas apa yang di lakukanya tadi pagi, Rasa percaya dirinya berujung kekecewaan.
"Bukan salah Rachel mendapatkan peringkat pertama, karena dirinya juga tidak tau hal ini terjadi, mungkin belum rezeki" kata Ricko berusaha keras membujuk Dinda yang amat manja.
"aku tidak menyalakan Rachel, aku hanya malu kepada kalian, atas apa yang aku katakan tadi pagi" sambung dinda terhadap kedua sahabatnya yang berusaha mencoba menghibur dirinya
" kenapa harus malu, kita kan teman" sahut Rachel lembut dengan penuh keyakinan.
Berlahan perasaan Dinda Akhirnya mulai membaik.
Memahami satu sama lain, saling membantu, tidak memperdulikan diri sendiri, saling jujur, tidak ingin terpisahkan tidak ingin berada jauh, inilah yang di namakan sahabatnya,
Masa-masa kecil yang penuh dengan warna sampai mereka beranjak usia Remaja.
Jangan lupa like, sher, komen, dan votenya y kk, dan jangn lupa juga follow Instagram aku @Kim_cahya terimakasih sudah mampir.
__ADS_1