
Rachel dan Ricko masuk ke dalam kamar masing-masing, beberapa jam kemudian Waktu tidak terasa menunjukkan pukul jam 7 malam, Bi'imah yang sudah cukup tua dengan uban di kepalanya sedang menyiapkan makanan di dapur, Demi menjaga Rachel ia memutuskan untuk tidak menikah lagi, dikarenakan dirinya adalah Janda tua yang menganggap Rachel seperti putrinya sendiri dan begitu juga sebaliknya.
Pernah menikah adalah hal yang telah di rasakan Bi'imah, namun perceraian membuat dirinya trauma untuk tidak menikah lagi, Sedangkan Zahra (ibu Ricko) Masih tetap seperti dulu, hanya bisa duduk di kursi Roda, dan berbaring di tempat tidur.
"Ricko,, Farrel,, ayo turun, waktunya untuk makan malam...!" suara Bi'imah memanggil Ricko yang asik bermain Game di kamarnya, sedangkan Rachel menulis buku harian miliknya.
"Waktunya untuk makan malam..!" kata Rachel membuka pintu kamar Ricko yang berada di lantai dua.
"aku gk lapar...!" jawab Ricko yang sedang asing bermain game
"apa game lebih penting dari pada perut mu..!" sambung Rachel menarik ponsel Ricko yang ada di tangannya.
"Sini in gk...!" sahut Ricko berusaha merebut Hp miliknya dari tangan Rachel.
Hal ini membuat mereka terjatuh tepat keranjang milik Ricko, membuat Rachel tertimpa oleh badan Ricko yang kekar sembari menggenggam kedua tangan Rachel dengan sangat erat.
"apa kamu ingin bermain-main dengan ku" kata ricko berbisik ketelinga Rachel yang sedang memandangi wajahnya dengan penuh rasa dek-dekan.
"Jantung ku yang terasa hampir copot, badan yang tak bisa aku gerakkan, tangan ku yang berada di dalam genggamannya, membuat diriku susah untuk terlepas dari dekapannya" Gumam Rachel berusaha membebaskan diri.
"apa kamu berusaha untuk melarikan diri dari ku..!" tanya Ricko memandangi Wajah cantik Rachel penuh dengan nafsu.
"Ricko,, udahan deh bercandanya,ih gk lucu tau...!" sambung Rachel kesakitan.
Tubuhnya yang tinggi, ramping, kecil, dan bagian dadanya yang agak sedikit besar, lagi-lagi membuat Ricko tidak bisa menahan Nafsunya, Dengan keadaan yang sangat mendukung, Membuat wajah Ricko dan dan Rachel sejajar sehingga sekali saja Ricko menurunkan wajahnya akan mengenai Bagian bibirnya.
"Apa kau ingin melakukan sesuatu pada ku" tanya Rachel berusaha memberanikan diri kepada Ricko yang sedang memandangi seluruh tubuhnya.
__ADS_1
"ya,,Tentu saja.....!" jawab Ricko dengan sangat cepat membuat jantungnya semakin berdetak kencang.
"coba saja kalau berani,...!" sambung Rachel dengan gugup
Kemudian, Berlahan Ricko mencium kening Rachel, menurunkan bibirnya kebawah, tepat berada di pipi Rachel, di ciumannya kedua pipi tersebut dengan penuh kehangatan, berlahan mencium lehernya yang membuat bulu kuduk Rachel merinding.
"apa kamu merasakannya" kata Ricko berbisik ketelinganya dengan suara yang hangat dan penuh gairah, Rachel yang terdiam dan tersipu malu tidak bisa berkata apapun.
Berlahan, sedikit demi sedikit memejamkan matanya, mengarah kebagian bibir Rachel yang membuat gairahnya semakin meningkat, Rachel yang pasra tidak bisa berbuat apa-apa dengan tangannya yang telah di genggaman erat oleh Ricko.
"Ricko,,,, Rachel..!" Suara Bi'imah yang keras memanggil mereka berdua akhirnya tiba-tiba berhenti secepat kilat saat hendak ingin mencium bibir Rachel, namun semuanya gagal total setelah Bi'imah merusak adegan yang romantis itu.
Rachel yang tiba-tiba berdiri tersenyum malu saat melihat Ricko yang kesal menarik-narik rambutnya.
"Sialan,,,aaaaaahhhh..!" gumam Ricko melempar Rachel dengan bantal
"Di mana Ricko..!" tanya Bik'imah kepada Rachel yang berada di tangga berjalan menuju meja makan.
"Aku disini...!" sahut Ricko menyusul Rachel dari belakang, kemudaian mereka duduk dan menyantap makan malam.
"dug.........dug...trakkkkk..." Suara petir terdengar oleh mereka, serta angin yang bertiup sangat kencang membuat mereka bertiga berlari menutup jendela,setelah selesai menutup semua jendela, mereka kembali melanjutkan makan malam yang sempat tertunda karena angin dan petir.
"Sepertinya akan turun hujan hari ini" kata Bi'imah yang merasa sedikit kedinginan.
"Apa Bibi baik-baik saja" sahut Rachel kepada bi'imah yang sedang menghangatkan badannya dengan kedua tangannya
"Bibi istirahat aja,, biar aku dan Rachel yang akan menyelesaikan ini semua" sambung Ricko menatap wajah Rachel
__ADS_1
"Lalu ibu mu,,!!"tanya Bi'imah lagi
" jangan khawatir, aku yang akan melakukannya" lanjut Ricko
kemudian Bi'imah pergi ke kamarnya untuk istirahat, sedangkan Rachel yang menggantikan Bi'imah untuk membersihkan semua piring yang kotor, Sementara Ricko mengantarkan makanan untuk ibundanya lalu menyuapinya.
"ssssssssssssssss." suara hujan yang baru saja turun terdengar sangat deras, membuat tidur semakin nyenyak.
Kemudian mereka kembali ke kamar masing-masing, Jarak antara Rachel dan Ricko hanya terhalang dinding saja, hanya butuh beberapa langkah saat ingin datang kekamar Rachel, Bi'imah dan Zahra tinggal di di kamar bawah, sedangkan kedua sejoli itu tinggal di kamar atas, tentunya di kamar yang berbeda.
Musim silih berganti, jaman semakin modern, bahkan tahun ke tahun semakin banyak kemajuan sehingga teknologi semakin canggih, saat semua orang-orang memiliki alat komunikasi yang menghubungkan mereka antara satu sama lain dari jarak jauh hingga jarak dekat, Namun Rachel memilih untuk tidak mempunyai alat komunikasi tersebut yaitu Handphone (HP), bukan karena tidak bisa membeli, hanya saja takut terganggu saat jam istirahat dan jam belajarnya.
Resah gelisah tidak bisa tidur, apa yang akan di lakukan Ricko, saat Rindu menghantui dirinya, Memikirkan Rachel, merindukannya setiap detik, Namun dirinya tau Rachel tidak memiliki HP walaupun ia ingin menghubunginya, Menidurkan badannya di bawah selimut yang tebal membuat dirinya tidak hilang dari rasa kedinginan di tengah derasnya hujan.
"Tab......!" Suara lampu yang padam membuat Rachel Sesak karena tidak bisa tidur di kegelapan dan di ruangan yang sempit, tiba-tiba badannya kejang-kejang, merasa kedinginan tapi berkeringat.
Melihat dirinya di sekelilingi api yang sangat besar, dan suara orang tuanya yang memanggil namanya, membuat ia mengingat kejadian yang menimpanya 5 tahun yang lalu, sudah lama sekali ia tidak mengingat kenangan pahitnya itu, namun saat ini muncul secara tiba-tiba, Semakin dirinya merasa sesak, seolah-olah seseorang telah mencekik lehernya, ia menagis histeris tanpa seorangpun mendengarkan tangisannya, di ruangan yang gelap, di tengah derasnya hujan, tiba-tiba Ricko teringat Rachel yang takut akan kegelapan.
Ricko berlari menuju kamar Rachel, sementara Rachel yang sedang kesakitan hanya menunggu hitungan detik hingga ia kehilangan nyawanya.
"Trangggggggggggg......."
Suara pintu kamarnya terbuka, segera Ricko memeluk tubuh Rachel yang lemas.
"Rachel apa kamu baik-baik saja" Ricko bertanya kepada Rachel yang sudah tidak bisa bersuara lagi, Segera ia mencari lilin di laci milik Rachel kemudaian menyalakannya.
jangan lupa, like,sher, komen dan votenya y kk.
__ADS_1
jangan lupa juga follow Instagram aku @Kim_cahya terii sudah mampir.