
Axel hanya terdiam dan menyesali mengiyakan ajakan Jimmy tadi.
" Yank Yank " Panggil Axel.
" Kenapa Xel ? " Tanya Alin seperti biasa.
" Marah ya ? " Tanya Axel pelan.
" Ngga koq. aku ke kamar dlu ya " Pamit Alin seperti biasa dan seperti tidak terjadi apa-apa.
Mending gue dimarahin deh ini mah, dari pada Alin bersikap tenang biasa aja . Jimmmy brengsek nih...
Axel memandang tubuh wanita yang besok akan sah menjadi istrinya kalau Alin tidak berubah pikiran.
Saat Axel merasa kesal dengan dirinya sendiri yang malah mengiyakan ajakan Jimmy yang seharusnya dia tolak sejak awal itu, ponselnya bergetar menandakan telepon masuk.
Dan ternyata itu panggilan Video Call berjamaah.
Axel terlihat malas menggeser tombol hijau di layar ponselnya itu.
Tapi mau tidak mau dia angkat Karen itu panggilan dari grup chat Elite Squad khusus para pria tampan nan somplak.
" APA ?? "
Baru saja teman-teman nya melihat wajah Axel dilayar ponsel langsung dikejutkan oleh suara dan wajah Axel yang menyeramkan .
" Wehh kenapa calon bapak satu ini " goda Iqbal di ujung sana.
" Tau nih jadi ga ? " tanya Jimmy yang belum tau akar permasalahan wajah tampan Axel berubah menjadi wajah killer.
" Diem Lo semua gara-gara Lo nih Jim , jangankan jadi calon bapak. Jadi calon suami aja gue masih di ujung tanduk " Kesal Axel dan disambut gelak tawa oleh teman-temannya.
" Lah kenapa jadi gue disalahin " Jimmy masih Tertawa.
" Gue ogah menderita sendiri, Lo mending sekarang baikin para calon ibu negara Lo deh.
Gue mau tutup dulu nih telepon, gue mau baikin wanita yang akan menampung kecebong premium gue nanti seumur hidup.
Mereka udah pada tau kita mau ke Club laknat atas saran dari Jimmy.
Dan Jimmy ,gue udah bilang Anne kalau Lo yang ngajak kita-kita kesana "
Axel menampilkan muka sinis ke ponselnya.
" Wah curang Lo ,kenapa Lo bilang usul gue . kan Lo juga iyain Bambang " Jimmy mulai panik.
Jimmy berfikir kalau Axel panik tapi mau tidak mau dia harus tetap menikah dengan Alin besok.
Karena undangan sudah tersebar luas,dan Jimmy tau Alin tidak akan membatalkan pernikahannya dengan axel.
Sedangkan Jimmy sendiri, jadian aja belum sama Anne tapi masalah sudah menghampiri.
Di layar ponsel pintar itu hanya wajah Jimny yang panik. wajah Iqbal dan Abie terlihat biasa saja bahkan mereka tertawa-tawa.
" Bal, Lo diem aja. udah matiin noh baikin emaknya Ola. tar dia jijik sama Lo. Gua aja jadi jijik inget diri gue sendiri saat oke in Jimmy tadi " Axel bergidik ngeri .
__ADS_1
" Vika sih udah tau gue mau kemana. Gue selalu bilang kalau kemana-mana. " Iqbal Tertawa diikuti Abie. sedang Axel dan Jimmy terperangah atas jawaban Iqbal.
" Yang ga gue bilang ke dia kalau gue lagi bersolo karir doang " Lanjut Iqbal sambil terbahak.
" GILA " semua menyerukan itu ke Iqbal dan Iqbal hanya tertawa senang. karena dia tak perlu repot-repot menjelaskan dan meminta maaf ke ibunya Ola itu.
" Gue cuma belajar jadi bapak yang baik buat Ola dan adik-adik nya nanti.
Gue juga ingin menjadi lelaki jujur yang disenangi Vika, karena dia sempat ga percaya sama laki-laki lagi "
Jujur Iqbal yang membuat teman-teman kecilnya itu terkesima atas jawaban Iqbal yang biasanya nyeleneh kini lurus.
" Keren Lo Bal " Abie menimpali omongan Iqbal yang sepertinya sudah mentok dan cinta mati sama sosok ibu dari anak kecil bernama Ola itu.
" Ya udah gue tutup dulu ya ,gue jadi bingung nih ngomong apa sama Anne "
Jimmy menampilkan wajah yang frustasi. baru saja dia ingin menyatakan cinta ke Anne disaat resepsi Axlin nanti.
" Bye ," Keduanya mengucapkan serentak dan mengakhiri sambungan video call mereka.
***
Sedangkan di kamar Alin.
Para wanita yang berada disana sedang mengatur aksi ngambek , eh kecuali Vika deh nggak. Karena Vika sudah mendapatkan kejujuran dari pria yang mengklaim ayah nya Ola itu.
" Gue udah punya cara sih buat balas aksi Axel besok. " Alin memulai pembicaraan.
" Tapi Lo tetep jadi nikah kan Lin ? " Tanya Anne khawatir.
" Jadi dong ,mau dikata apa gue ngebatalin cuma karena ini aja .
" Tapi kan ada niat Lin. Astaga gue ga habis pikir si Jimmy punya kepikiran kesana " ucap Anne yang kesal sampai ke ubun-ubun ke calon pacarnya itu .
" Iya tapi paling ga jadi , beruntung masih kita halangin . Lagi juga semoga mereka cuma iseng-iseng aja ya " Alin mencoba menenangkan dirinya dan Anne.
" Iqbal waktu bilang ke Lo gimana Bu Vika ? " tanya Alin penasaran sambil menyandarkan tubuhnya ke ranjang yang besar itu .
Karena saat ini mereka tidur tengkurap seperti ikan teri terdampar.
" Bu, anak-anak mau ke Club lihat penari, aku izin ikut ya, tapi aku hanya jagain mereka aja koq . Paling aku cuma minum orange jus biar ada yang tetap sadar saat mereka sedang mabuk Bu "
Ujar Vika mengikuti gaya bicara Iqbal saat meminta izin kepada Vika.
" Udah Lo terima aja tuh Vik si Iqbal kelihatan emang baik dan cocok buat bapaknya Ola " Alin keluar dari alur cerita.
Vika hanya tertawa menanggapi nya .
" Lo mau ngambek apa sama Jimmy ?" Gantian Alin bertanya ke Anne.
" Bingung mau ngambek bukan pacar, mau marah bukan kekasih, mau kesel bukan pasangan " Anne mengerucutkan bibirnya membuat Alin dan Vika tertawa.
" Ya udah lo jadiin ,pacar,kekasih sama pasangan deh tuh si Jimmy , ngarep banget deh Lo kayaknya "ucap Alin dan disambut delikan mata oleh Anne, Alin dan Vika pun tertawa dan merasa lucu atas tingkah sahabatnya itu.
Dan entah ada obrolan apa lagi, mereka pun tertawa lepas seperti tak ada beban.
__ADS_1
Dan itu terdengar hingga keluar kamar karena memang kamar Alin tidak kedap suara.
Axel yang melewati kamar Alin seketika merasa khawatir dan berdiri agak lama disana .
Axel berusaha mendengar apa obrolan ketiga wanita berumur sama semua yaitu 23 tahun.
Saat Axel berusaha mendengar tiba-tiba pintu kamar Alin terbuka.
" Eh sayang nya aku nguping ya " tanya Alin dengan raut wajah biasa saja dan berhasil membuat Axel makin merinding.
Anne dan Vika cekikikan lalu meninggalkan Alin dan Axel berdua.
Axel menarik tangan Alin masuk ke kamar Alin .
" Yank maaf jangan marah " Lirih Axel.
" Aku ga marah Xel " Wajah Alin yang tetap tersenyum biasa itu malah membuat Axel bingung sendiri.
" Besok kita jadi nikah kan yank ? " Tanya Axel penasaran karena takut pernikahan nya dibatalkan.
" Iya dong masa batal kan aku sayang kamu "
Sungguh kata-kata yang harusnya terdengar manis itu malah membuat Axel merinding seperti saat sedang uji nyali di kegelapan dan hanya ditemani kamera yang berada di dalam ruangan gelap itu.
Yang kalau tidak kuat cukup melambaikan tangan saja .
" Bener yank ga marah ? " Tanya Axel masih penasaran.
" Iya " Alin menjawab sambil tersenyum.
Axel pun berusaha merapatkan tubuhnya ke Alin ,Alin tidak menolak, tapi saat wajah Axel mendekat ke wajah Alin dan ingin mencium bibir Alin.
Alin langsung menghindari nya.
" Aku ditunggu Vika sama Anne dibawah . Aku keluar duluan ya " Alin mendorong tubuh Axel yang nempel sempurna di badannya.
Tapi karena tubuh Axel lebih besar dari Alin, Alin agak susah menjauhi Axel.
" Cium dulu yank, biar aku lega " Rengek Axel. dia yang berbuat salah dia yang merengek.
" Cup "
Hanya kecupan biasa saja dan bahkan hambar yang Alin daratkan di bibir Axel.
" Udah ya aku ada urusan " Alin berhasil menjauhi tubuh Axel yang sebenarnya membuat jantung Alin memompa lebih cepat.
" Huftt berhasil juga keluar dari situasi itu. Rasain makanya jangan rese " Gunam Alin pelan sambil keluar dari kamar nya.
Dan Axel hanya meringis mendapati calon istrinya itu mencium tanpa ada rasa .
Sedangkan Vika dan Anne menunggu dibawah dan melihat Alin. mereka bertiga cekikikan dan menuju kamar Oma dibawah.
Entah rencana apa yang mau mereka buat.
***
__ADS_1
Morning happy weekend .
Jangan lupa ritualnya ya setelah baca ðŸ¤