
Kakak sayang , Bukan Wanita Malam bukan Ngelapak disini. Tapi cuma numpang promosi aja ðŸ¤.
Yok kita lanjut kisah para Babang Elite .
***
Alin dan Axel menunggu mobil mereka di lobby. Saat menunggu mobil Chiko lewat , Chiko berhenti sebentar dan keluar dari mobilnya.
" Lin aku lupa tadi mau bilang, saat ini aku sedang dekat dengan wanita muda mungkin seusia Dila. Doakan ya biar aku sukses mendekatinya " Chiko memberi tahu Alin dan Alin pun sumringah mendengar Chiko menyukai lawan jenis kembali..
" Aku diam terbaik untuk kamu Ko " Ucap Alin senang.
" Makasih ya Lin "
" Iya sama-sama kapan-kapan kenalin ya "
" Sip , kamu baik-baik ya jaga kandungan kamu, sehat-sehat terus. Aku pamit ya ,aku balik dulu . Xel Gue duluan ya "
Chiko pamit ke Alin dan Axel.
Axel hanya mendengus kesal dalam hati.
Mentang-mentang lagi ngambek ,seenaknya aja senyum-senyum sama cowok lain.
" Sayang ayo masuk . " Axel berkata lembut sambil membuka pintu mobil untuk sang istri masuk.
" Hmm " Alin hanya menjawab dengan deheman saja.
Mobil Axel dan Alin melaju di kecepatan normal. Alin hanya diam saja sambil menatap ke arah luar.
" Sayang.. " panggil Axel sambil memegang jemari Alin.
" Jangan pegang-pegang , setir mobil aja yang bener " Alin mode galak.
" Biasa juga pegang yank " Cicit Axel.
" Ini lagi luar biasa jadi setir aja yang bener, aku sama bayi aku gak mau kenapa-kenapa " Masih mode galak ya..
" Iya Yank " Axel menjawab dengan lirih .
Suasana hening hingga Axel memulai obrolan kembali..
" Sayang mau beli makanan gak buat nyemil dirumah " Axel bertanya hati-hati.
" Iya " Jawab Alin singkat. Ada angin segar untuk Axel .
" Mau beli apa biar aku berhenti nanti " Axel mulai pede dan tersenyum ke Alin walau Alin tidak membalasnya, bahkan menghadapnya saja tidak.
" Martabak " Alin masih menjawab dengan singkat,jelas dan padat.
Axel sudah tau martabak kesukaan Alin yang dimaksud .
Ia melipirkan mobilnya. Setelah mobil menepi Alin membuka pintu mobilnya tapi ditahan Axel..
" Yank biar aku aja yang beliin "Axel menampilkan senyumnya agar hati Alin luluh.
" Ga usah, aku aja. Aku harus biasa sendiri mulai saat ini. Takut-takut kamu tiba-tiba gak sama aku lagi . Aku harus mandiri jadinya " Nyess hati Axel merasa ditusuk jarum vaksin berkali-kali.
" Yank koq gitu sih " Axel benar-benar sedih , teman sekolahnya yang tadi bertemu di acara Jimmy adalah seorang dokter. Ia mengatakan biasanya mood ibu hamil gampang berubah bisa baik dan buruk secara cepat.
Yapi kalau mood buruknya berlangsung lama berati ia memang sedang merasa sedih sesedih-sedihnya.
" Yank, jangan gitu " Axel mengunci pintu mobilnya agar Alin tidak keluar.
__ADS_1
" Niat berhenti gak sih ? " Alin malah tambah ngambek.
" Jangan begitu yank, aku aja yang beliin. Ya sayang " Ujar Axel dengan mode memelasnya.
" Ga usah ,aku aja , aku masih bisa beli sendiri ,bisa jalan pakai kaki aku, pakai uang aku " Alin bicara tidak mau menatap Axel.
" Aku minta maaf soal tadi yank, aku gak ada niat apa-apa " Axel mencoba menjelaskan.
" Aku udh maafin " Alin masih menjawab dengan nada ketusnya.
" Makasih yank, tapi kenapa kamu masih begitu ." lirih Axel.
" Karena kamu sangat mengkhawatirkan " Alin menekan kunci mobil di samping Axel ,kemudian saat Alin mau keluar dari mobil tangannya ditahan Axel.
" Sakit banget yang digituin kamu, perih rasanya, ngerasa ga berguna banget aku jadi suami . Maafin aku Soal tadi yank,aku ga ada niat apa-apa " Ujar Axel sedih tanpa dihiraukan oleh Alin.
Alin pun turun dari mobil duluan kemudian diikuti Axel.
Axel bergegas menyamai jalan Axel dan menggandeng tangannya.
Di depan umum Alin tidak menolak. Alin mengantri untuk memesan, Axel menyuruhnya duduk tapi Alin menggelengkan kepalanya tanpa menjawab.
Sedih rasanya hati Axel melihat sang istri yang sedang hamil berdiri mengantri dan tidak mau menerima bantuannya.
Alin pun sampai diurutan pertama untuk memesan dan menyebutkan apa saja pesanannya. Biasanya Alin memesan martabak manis rasa pandan kesukaan Axel . Tapi kali ini tidak. Axel hanya mengelus dada menerima pembalasan dari sang istri .
Dua martabak pesanan Alin pun jadi. Alin dan Axel sama-sama mengeluarkan uang dan berebut ingin membayar. tapi Alin Keukeh ,Alin pun membayar dan membiarkan kembaliannya untuk tips penjual martabak.
Axel hanya melihat dan tak lama.
" Pak ini untuk membayar martabak pesanan istri saya, dan yang istri saya tadi untuk bapak ,saya cuma minta doanya biar istri saya diberi kemudahan hingga saat melahirkan nanti " Axel tersenyum dan memberikan dua lembar uang ke sang penjual martabak.
"Alhamdulillah makasih Nak Axel , aamiin bapak doakan biar sehat-sehat semuanya. " jawab si penjual martabak yang sudah menjadi langganan Axel itu.
" Aamiin doa terbaik untuk bapak juga ya pak " Axel menyahuti kembali.
Alin menyandarkan punggungnya di mobil sang suami.
Ia memejamkan matanya. Kasihan melihat suaminya lesu tapi ia juga sedih di depan mata kepalanya sendiri Axel memuji wanita lain.
Ditambah hormon kehamilan yang sensitif membuat moodnya gampang berubah.
Axel mengira Alin tertidur pulas padahal hanya memejamkan matanya saja. Ia tak tega membangunkan sang istri yang lelah sekali hari ini ditambah ulahnya pasti Alin tambah lelah.
Axel memanggil penjaga rumahnya untuk membawakan makanan sang istri.
" Pak , tolong bantu sebentar . istri ku tidur aku gak bisa bawa semuanya . Tolong makanannya bawa ke dapur biar nanti saya yang rapihkan. Oh ya itu ambil satu box pak yang di plastik terpisah untuk bapak sama yang lainnya buat nyemil sambil jaga " Ujar Axel memelankan suaranya khawatir Alin terbangun .
Alin membiarkan tubuhnya diangkat Axel dan digendong.Axel membawa Alin ke kamarnya menggunakan lift agar tidak oleng saat ditanggaee mengingat tubuh Alin yang mulai berisi.
" Sayang kalau udah bangun jangan marah lagi ya, aku takut , ga bisa aku di diemin kamu lama-lama begini " ucap Axel sambil mencium kening Alin.
Alin hanya diam saja meneruskan aktingnya .
Axel melepaskan sepatu Alin dan membersihkan kaki Alin dengan washlap agar nyaman saat tidur.
Baju belum Axel ganti karena takut membangunkan Alin.
Kini Axel yang mengganti bajunya dengan kaus dan boxer yang biasa ia pakai saat tidur.
Setelah memastikan Alin tidur . Axel keluar ke arah balkon di kamar mereka.
Baru beberapa jam di cuekin Alin ,Axel merasa frustasi . Ia memilih mengambil rokok di laci meja yang ada di balkon.
__ADS_1
Ia sangat menyesali candaannya yang lupa tempat tadi bersama Iqbal.
Axel menyalakan rokok dan mengepul ke atas Asapnya.
Baru 3 kali hisapan Alin datang dan berdiri di sofa agak ujung, ia tak ingin mencium asap rokok .
" Emang gak sayang aku dan anaknya sih jadi begini nih ,ngerokok gak lihat ada siapa. "
Axel buru-buru mematikan rokoknya dan mengibaskan asapnya agar tidak terkena Alin.
" Sayang koq bangun " Axel menghampiri Alin dan Alin malah masuk.
" Bau Rokok " Hanya itu ucapan Alin.
Axel segera ikut masuk dan langsung ke kamar mandi menggosok giginya kembali dan segera mengganti pakaian nya.
Alin menyiapkan baju ganti sang suami dan juga dirinya. Setelah Axel selesai gantian Alin yang ke kamar mandi dan membersihkan diri. Juga mengganti pakaian tadi dengan pakaian tidurnya .
Axel menghampiri Alin di meja rias sedang membersihkan wajahnya dengan toner pembersih. Axel berinisiatif membantu sang istri. Dibersihkan wajah Alin, Alin hanya diam menerima perlakuan suaminya.
Setelah selesai Alin menuju ranjangnya , Axel dengan sabar mengikutinya.
Mereka masih saling diam. Berbaring di ranjang yang sama tapi saling diam. Axel takut salah ucap dan Alin pun memang sedang mendiamkannya.
" Emang udah ga sayang, tidur aja gak di peluk Huh " Alin memunggungi Axel.
Astaga sabar-sabar Xel.
Axel menguatkan hatinya sendiri kemudian tersenyum.
" Anak papa atau Mamanya nih yang minta di peluk " Axel membawa sang istri ke pelukannya . Ia memeluk dari belakang .
" Anaknya " Sahut Alin ketus.
" Mamanya ngga nih, " Axel mencium leher Alin.
" Gak mau dicium, Papanya nakal, udah tau mau punya anak malah ngeliatin cewek lain. Cewek temennya pula mentang - mentang dadanya besar.
Aku juga besar nih nih ,gak puas apa sama yang Segede gini ,masih kurang apa udah ada dua juga . apa mau 4 hah ? " Alin meraih tangan Axel dan menaruhnya di dada depan kemudian diturunkan.
Yah belum pegang juga , udah diturunin.
" Iya sayang maaf ,aku gak lagi bercanda gitu. Maafin papa ya sayang bilangin ke mama dong "Axel mengusap-usap perut Alin langsung ke arah bukit yang menyembul dibalik baju tidur.
" Segala ngerokok juga ,udah tau ada aku. ssshhh " Alin masih menggerutu tapi diiringi dengan desahann akibat perbuatan tangan Axel yang menjalar kemana-mana.
" Iya maafin aku yank, aku kira kamu udah pulas tidurnya . Jangan marah lagi ya ga bagus untuk kandungan kamu." Axel mengucapkan dengan pelan sambil jari-jarinya ingin masuk kebawah sana.
" Eunggh " Alin melenguh.
" Basah Yank, boleh masuk gak ? " Alin mengangguk kemudian penyatuan pun dimulai dan mereka melupakan kejadian tadi hingga mengerang bersama .
" Akhhh Xel ..."
" Akkhh Yank ..."
Saat nafas masih memburu alin mengucapkan kalimat mematikan .
" Kalau kayak tadi lagi kamu gak akan dapetin begini lagi sama aku " ancam Alin dengan nada santai .
" Ampun Yank, aku kapok. Jangan bilang gitu lagi " Axel shock lalu memeluk Alin .Yang di peluk cekikikan dalam hati.
***
__ADS_1
Kita ke Babang Bale ya habis ini .
Ritualnya dulu biar othor yang polos ini lanjut nulis llpke Bab berikutnya