
"Selamat siang, ada yang bisa saya bantu?" tanya perawat yang kebetulan berada di ruangan itu.
"Saya ingin mengunjungi pasien yang bernama Shanum."
Suara lantunan ayat suci Al Quran pun tiba-tiba terhenti.
"Mas Adnan?"
Shanum tercengang saat mendapati Adnan berada di dalam ruang perawatannya.
"Jadi, tadi itu suaramu?" tanya Adnan.
"I-i-iya, Mas. Ada Al Qur'an di meja ini, jadi kubaca."
"Suaramu merdu sekali," puji Adnan.
Shanum hanya menanggapinya dengan senyum tipis.
"Bagaimana keadaanmu?"
"Alhamdulillah, sudah lebih baik, tapi dokter menyarankan agar aku dirawat sampai besok."
"Aku bawakan makan siang untukmu."
Adnan meletakkan sebuah kotak di atas meja.
"Mas Adnan tidak perlu repot-repot."
"Tidak repot kok. Kebetulan aku juga belum makan siang. Kamu suka pizza 'kan?"
"Pizza itu apa, Mas?"
"Astaga. Jadi kamu belum pernah makan pizza?"
"Belum, Mas. Di kampung nggak ada yang jualan."
"Pizza itu makanan yang terbuat dari adonan tepung yang ditaburi sossis dan keju lalu dipanggang lalu diberi saos di atasnya," jelas Adnan.
"Apa rasanya enak, Mas?"
"Kalau kamu penasaran, coba saja." Adnan menyodorkan kotak berisi pizza itu pada Shanum. Gadis itu pun lantas mengambil sepotong pizza dari dalam kotak tersebut lalu mencuilnya sepotong kecil.
"Rasanya kok aneh gini sih Mas," protes nya.
"Aneh gimana? Menurutku ini lezat," ucap Adnan dengan mulut berisi penuh makanan.
"Maaf, aku nggak bisa makan ini, di kampung dulu aku hanya makan ubi dan singkong. Bukan makanan yang rasanya aneh begini."
"Mungkin lidahmu belum terbiasa," ujar Adnan.
"Pizza nya buat mas Adnan saja."
"Ini besar sekali, aku tidak akan sanggup menghabiskannya sendirian."
"Ya sudah, bagi-bagi saja dengan pasien yang lain."
"Ide bagus."
Adnan mengambil beberapa lembar tissue lalu meletakkan beberapa potong pizza kemudian membagikannya pada pasien yang berada di dalam ruang perawatan itu.
"Terima kasih, Num. Kamu sudah mengajariku apa itu berbagi," ucap Adnan.
"Jika kita memiliki uang atau makanan berlebih alangkah baiknya jika kita bagikan pada orang lain," ujar Shanum.
__ADS_1
"Malam ini aku yang jagain kamu di sini."
"Tidak perlu, Mas. Aku nggak apa-apa kok sendirian."
"Bagaimana kalau kamu butuh sesuatu? Kakimu sedang sakit 'bukan?"
"Tidak perlu khawatir, aku bisa meminta bantuan pada dokter ataupun perawat. Lagipula tuan dan nyonya tidak akan mengizinkanmu berada di klinik ini semalaman."
"Mereka tidak pernah peduli apa yang dilakukan ketiga anaknya," ujar Hanan.
"Mas Hanan pulang saja, jangan membuat masalah dengan tuan dan nyonya."
"Baiklah, kalau kamu memang tidak mau ditemani. Jika dokter sudah memperbolehkanmu pulang, kabari aku. Aku akan menjemputmu."
"Terima kasih, Mas Hanan sudah begitu baik padaku," ujar Shanum.
"Bukan masalah."
"Ya sudah, aku pulang dulu."
Hanan pun lantas meninggalkan klinik.
Sore harinya.
"Apa Ayah tidak berniat menjenguk Shanum? Kalau Ayah tidak menyuruhnya membersihkan gudang, dia tidak akan digigit ular," ucap Adnan di sela makan malam mereka.
"Kenapa kamu begitu peduli pada pembantu itu? Jangan-jangan kamu menyukainya." Rayhan menimpali.
"Bukan begitu, dia tidak memiliki kerabat atau saudara di kota ini. Aku hanya kasihan saja padanya. Malam ini dia di klinik sendirian tanpa ditemani siapapun."
"Tidak usah berlebihan. Aku yakin besok pagi dia sudah diizinkan pulang," tukas tuan Adrian.
"Kalau tadi mas Rayhan tidak di rumah, bisa jadi nyawanya tidak tertolong. Ayah pasti akan terkena masalah besar."
Tiba-tiba tuan Adrian meletakkan sendoknya.
"Memangnya apa yang terjadi dengan gadis itu?" tanya nyonya Arimbi yang baru saja muncul dari dalam kamarnya.
"Pagi tadi Shanum digigit ular berbisa saat membersihkan gudang," jelas Adnan.
"Malang benar nasibnya. Lantas, bagaimana keadaannya sekarang?"
"Tadi siang aku menjenguknya, keadaannya sudah lebih baik."
"Sumi, malam ini kamu temani gadis itu di klinik," titah nyonya Arimbi.
"Bagaimana dengan Nyonya besar?"
"Apanya yang bagaimana? Apa kamu lupa, aku punya tiga orang cucu laki-laki. Mereka pasti bisa menggantikan tugasmu untuk sementara waktu."
"Baik, Nyonya besar."
"Berangkat lah sekarang sebelum kemalaman."
"Saya permisi dulu, Assalamu'alaikum."
"Wa'aalaikumsalam." Hanya Adnan yang menjawab salamnya.
Sesampainya di klinik.
Shanum terkejut saat mendapati bi Sumi tiba-tiba saja berada di dalam ruang perawatannya.
"Bi Sumi? Kenapa Bibi ada di sini? Bagaimana kalau Nyonya besar marah?"
__ADS_1
Wanita paruh baya itu mengulas senyum.
"Nyonya besar tidak akan marah kok. Justru beliau lah yang menyuruh bibi untuk menemanimu di klinik malam ini."
"Sungguh?"
"Buat apa bibi bohong. Di luar nya saja nyonya besar terlihat angkuh, tapi hatinya baik," ujar bi Sumi.
"Sebenarnya nyonya Arimbi itu ibunya siapa, Bi? Ibunya tuan Adrian atau nyonya Elina?"
"Nyonya Arimbi itu ibu kandungnya nyonya Elina. Rumah yang kita tempati itu sebenarnya milik nyonya Elina."
"Jadi, rumah itu bukan milik tuan Adrian?"
Bi Sumi membuang nafas.
"Tuan Adrian dulunya bukan siapa-siapa. Bibi tidak paham kenapa nyonya Elina begitu tergila-gila padanya. Dia bahkan berani menentang perjodohan yang diinginkan mendiang ayahnya hingga akhirnya beliau meninggal dunia karena penyakit jantung," paparnya.
"Sepertinya Bibi tahu banyak hal tentang rumah ini."
"Bagaimana tidak? Bibi bekerja di rumah itu sejak bibi masih seusiamu dan saat itu nyonya Elina masih begitu kecil. Jadi bibi tahu semua seluk beluk keluarga itu."
"Pantas saja."
"Tapi, aku salut dengan tuan dan nyonya. Meski sudah puluhan tahun menikah, hubungan mereka masih romantis," ujar Shanum.
"Kelihatannya saja romantis, tapi tidak jarang mereka berdebat bahkan bertengkar. Bibi sendiri saksi matanya."
"Memangnya apa yang membuat mereka bertengkar?"
Obrolan mereka terhenti saat perawat memasuki ruangan.
"Permisi, saya ingin mengantar makan malam dan obat untuk mbak Shanum," ucapnya.
"Baik, Sus."
Setelah meletakkan nampan di atas meja, perawat itu pun lantas meninggalkan ruangan tersebut.
****
Sementara itu di kampung halaman Shanum.
Di sebuah rumah terdengar obrolan antara seorang pria dan seorang wanita.
"Aku lihat bengkel kita cukup ramai, tapi kenapa pendapatan kita setiap hari makin menurun," ucap si wanita.
"Kebanyakan yang mendatangi bengkel kita hanya menambal ban atau mengganti oli kendaraan mereka. Kamu tahu 'bukan? Upahnya tidak seberapa," jelas si pria.
"Kamu jangan mencoba membohongiku, Mas. Kamu kemanakan uang pendapatan bengkel kita?"
"Maksud kamu apa bicara begitu?"
"Uangnya kamu gunakan untuk bersenang-senang dengan perempuan lain ya?"
"Dini!" jaga mulutmu!" sentak Faisal.
"Jangan-jangan selentingan yang selama ini kudengar itu benar. Kamu ada main dengan janda baru di kampung sebelah."
"Plak!" Sebuah tamparan yang cukup keras baru saja mendarat di pipi Dini.
"Tampar lagi! Kalau itu membuatmu puas!" seru Dini.
Ya, pria dan wanita yang tengah berdebat itu tidak lain adalah Faisal, paman Shanum dan istrinya, Dini. Semenjak merebut rumah milik mendiang ayah Shanum dan mengusirnya, kehidupan suami istri itu sungguh jauh dari kata tentram. Mereka seringkali bertengkar bahkan hanya karena masalah kecil. Tak hanya itu, Faisal pun kini menjadi ringan tangan dan mudah marah terutama saat Dini menuduhnya memiliki hubungan gelap dengan perempuan lain.
__ADS_1
"Apa ini akibat karena aku mendzolimi anak yatim piatu itu?" lirih Dini.
Bersambung …