Cinta Suci Shanum

Cinta Suci Shanum
Chapter 28


__ADS_3

"Huweeek!" Hanan memuntahkan kembali kuah sayur sop yang belum sempat melewati kerongkongannya.


Apa ini? Rasanya asin sekali. Kamu masukin garamnya berapa sendok?"


"Loh, kok dimuntahin. Memangnya masakanku nggak enak ya?" tanya Naomi.


"Kamu coba saja sendiri."


Naomi pun lantas memasukkan satu sendok kuah sop ke dalam mulutnya.


Ekspresi yang sama juga ditunjukkan olehnya. Ia cepat-cepat mengambil tissue lalu membersihkan bibirnya.


"Bagaimana rasanya? Lezat 'bukan? Kamu ini bisa masak nggak sih?!"


"Mungkin tadi aku kebanyakan masukin garamnya. Biar aku buat yang baru lagi," ucap Naomi.


"Tidak perlu. Paling-paling rasanya sama saja. Biar aku minta bi Sumi saja yang masak. Bi! Bi Sumi!"


Tidak lama kemudian Shanum memasuki kamar Hanan.


"Loh, aku manggil bi Sumi, kok kamu yang muncul."


"Bi Sumi belum pulang dari pasar, Mas. Katanya beli daging dan ayam. Memangnya ada apa?"


"Kamu bisa 'kan masak sayur sop?"


"Insyaallah bisa."


"Kamu masakin buat saya sekarang."

__ADS_1


"Loh, bukannya tadi mbak Naomi sudah masak sop untuk Mas Hanan? Itu 'kan sudah matang." Shanum mengacungkan jari telunjuknya pada mangkuk berisi sop yang berada di atas meja.


"Yang ini buang saja, nggak bisa dimakan. Kamu buat yang baru saja."


"Saya pikir mbak Naomi ini pintar masak," ucap Shanum.


"Sudah, tidak usah banyak komentar, bawa mangkuk ini ke dapur, lalu masak yang baru untukku."


"Baik, Mas. Saya permisi dulu."


Shanum meraih mangkuk berisi sayur sop keasinan itu lalu membawanya ke ruang dapur.


Tidak lama kemudian nyonya Elina kembali memasuki dapur.


"Loh, tadi Naomi yang memasak di sini, kok jadi kamu. Memangnya masakannya sudah matang?"


"Sudah, Nyonya."


"Iya, Nyonya. Tapi kata mas Hanan sop ini tidak bisa dimakan."


"Memangnya kenapa?"


"Ehm … anu … anu."


Nyonya Elina yang penasaran itu pun mulai mengambil sesendok kuah sop masakan Naomi lalu memasukkannya ke dalam mulutnya.


"Huweeek! Masakan apa ini? Rasanya aneh begini. Hanya asin saja, itu pun keasinan."


"Ehm … tadi mbak Naomi yang masak."

__ADS_1


"Secantik apapun dia, kalau nggak bisa masak, jangan harap bisa menjadi bagian dari keluarga ini," ujar nyonya Elina. "Terus, kamu mau masak apa sekarang?" tanyanya kemudian.


"Ehm … mas Hanan meminta saya untuk membuat sayur sop yang baru."


"Ya sudah, kamu masak yang benar, jangan membuat sakit anak saya semakin parah. Saya mau bicara dengan gadis payah itu."


Sang nyonya beranjak meninggalkan dapur lalu menuju kamar Hanan yang berada di lantai dua.


"Naomi!" seru nyonya Elina yang tiba-tiba saja berdiri di ambang pintu.


"I-i-iya, Nyonya. Ada apa?"


"Sebenarnya kamu ini bisa memasak atau tidak?"


"Bi-bi-bi-sa kok, Nyonya."


"Kalau bisa masak, tidak mungkin sayur sop nya hancur begitu rasanya."


"Dari mana Nyonya tahu rasa sayur sop nya? Pasti pembantu kampungan itu yang mengadu."


"Shanum tidak mengadu apapun. Saya sendiri yang mencicipi masakanmu. Asal kamu tahu, siapapun yang kelak menjadi menantu di rumah ini, dia harus pandai memasak. Kamu paham dengan maksud ucapan saya 'bukan?"


"I-i-iya, Nyonya."


"Jika kamu serius menjalin hubungan dengan putera saya, saya harap mulai sekarang kamu mau belajar memasak," ujar nyonya Elina.


"Kenapa harus begitu? Setelah menikah nanti saya bisa memakai jasa asisten rumah tangga."


"Sayangnya hal itu tidak berlaku bagi calon menantu saya kelak."

__ADS_1


"Astaga. Kalau ada yang mudah, kenapa harus dibuat rumit sih?" gerutu Naomi kesal.


Bersambung …


__ADS_2