Cinta Suci Shanum

Cinta Suci Shanum
Chapter 17


__ADS_3

Bukan Shanum namanya jika diam saat tertindas. Dia berlari sekencang mungkin demi mengejar pencuri itu. Usahanya pun tak sia-sia. Dia berhasil menarik ujung pakaian yang dikenakan pencuri tu.


"Kembalikan uangku!" sentaknya.


"Ampun … ampun. Saya hanya ingin uang jajan," ucapnya.


Shanum kaget bukan main saat melihat wajah pencuri itu.


"Hah? Anak-anak?"


"Saya minta maaf, Mbak. Saya mencuri karena ingin jajan es krim," ucap bocah laki-laki berusia sepuluh tahun itu sembari merengkuh kedua kaki Shanum.


"Bangun lah. Mencuri dengan alasan apapun tidak pernah dibenarkan," ujarnya.


Siapa namamu, dan di mana rumahmu?" tanyanya kemudian.


"Nama saya Arif, rumah saya di dekat warung. Sedari tadi saya mengikuti Mbak," ungkap bocah itu dengan wajah tertunduk.


"Kamu masih punya ayah dan ibu?" tanya Shanum.


"Ayah saya sudah meninggal, ibu saya sedang bekerja dan baru pulang sore hari."


"Mari ikut aku ke warung itu. Tapi kamu harus janji, setelah hari ini kamu tidak akan pernah mencuri lagi."


"Baik, Mbak."


Keduanya pun lantas berjalan beriringan menuju warung.


"Kamu bisa memilih es krim mana saja yang kamu suka," ucap Shanum.


Dengan penuh semangat bocah laki-laki itu memilih es krim yang berada di dalam kotak pendingin. Di antara puluhan jenis es krim, pilihannya jatuh pada es krim berbentuk kerucut.


"Es krim ini ditambah bahan membuat bubur kacang hijau jadi berapa jumlah nya, Bu?" tanyanya pada pemilik warung.


"Semuanya empat puluh ribu, Mbak."


"Ini uangnya," ucap Shanum sembari menyodorkan uang pecahan lima puluh ribu padanya.


"Terima kasih, Mbak ehm …"


"Namaku Shanum."


"Saya tidak akan pernah melupakan kebaikan Mbak Shanum."


"Kamu harus janji jangan pernah mencuri lagi. Jika suatu hari aku mendapatimu mencuri lagi, aku akan melaporkanmu pada polisi."


"Iya, Mbak. Saya janji. Ini pertama dan terakhir saya mencuri."

__ADS_1


"Aku pegang janjimu." Shanum membelai lembut rambut Arif. Sekarang pulang lah," imbuhnya.


"Mbak Shanum tinggal di mana?" tanya Arif.


"Aku tinggal di rumah pak Ardian."


"Wah, rumah pak Adrian yang bagus itu ya?"


"Ya, aku bekerja di sana sebagai asisten rumah tangga."


"Sekali lagi terima kasih es krim nya, Mbak Shanum."


"Sama-sama."


"Sampai ketemu lagi." Bocah itu melambaikan tangannya pada Shanum sebelum akhirnya berlalu dari hadapannya.


"Kasihan juga anak itu, mau jajan es krim saja harus mencuri," gumam Shanum.


Setibanya di rumah tuan Adrian.


"Bagaimana, Nak? Dapat kacang hijau nya?" tanya bi Sumi.


"Alhamdulillah, dapat, Bi. Maaf agak lama, tadi warung yang di dekat rumah tidak ada kacang hijau, jadi aku membelinya di warung lain yang cukup jauh. Oh ya, Bi. Uang kembaliannya kurang sepuluh ribu."


"Kenapa bisa kurang?"


"Tadi uangnya kupakai untuk mentraktir es krim seorang bocah laki-laki."


"Namanya Arif. Seorang anak yatim yang mencuri karena tidak memiliki uang jajan."


"Ya sudah kalau begitu, nanti bibi ngomong pada nyonya Arimbi.


"Bagaimana kalau Nyonya Arimbi marah?"


"Bibi jamin dia tidak akan marah, dia justru akan memuji sikapmu."


"Bibi gimana, sudah baikan?" Shanum mengalihkan pembicaraan.


"Alhamdulillah. Tadi kepala bibi tiba-tiba pusing. Setelah minum obat sudah mendingan."


"Syukurlah. Jika Bibi masih pusing, biar aku saja yang membuat bubur kacang hijau untuk nyonya Arimbi."


"Tidak usah, bibi tidak enak dari tadi merepotkanmu."


"Aku sama sekali tidak merasa direpotkan kok, Bi. Aku justru senang kita bisa saling membantu," ujar Shanum.


Keduanya tak menyadari jika sedari tadi sepasang telinga mendengarkan obrolan mereka.

__ADS_1


Sekitar satu jam kemudian bubur kacang hijau yang diinginkan nyonya Arimbi siap. Aroma daun pandan dari makanan itu rupanya tercium hingga ke kamar yang berada di lantai dua sehingga memaksa penghuninya untuk turun ke ruang dapur.


"Bibi masak apa?" tanya Rayhan.


"Bukan bibi yang masak, tapi Shanum. Nyonya besar katanya ingin sekali makan bubur kacang hijau. Kalau Mas Rayhan mau boleh makan juga kok. Tadi Shanum beli bahannya lumayan banyak," jelas bi Sumi.


"Oh, tidak usah, Bi. Aku masih kenyang setelah makan siang tadi."


"Mau dong bubur kacang hijaunya. Aromanya saja sudah membuat lapar begini," ucap Adnan yang baru saja memasuki ruangan itu.


"Ya sudah, Mas Adnan tunggu di meja makan saja, biar saya siapkan," ucap Shanum.


"Mas Rayhan beneran nggak mau bubur nya?" tanya Shanum pada Rayhan yang belum beranjak dari tangga.


"Nggak. Aku masih kenyang."


"Kalau memang masih kenyang, kenapa turun setelah bubur kacang hijau ini siap?"


"Ini rumahku. Aku bebas mau melakukan apa saja 'bukan?"


Tidak hanya Rayhan, sang nyonya juga rupanya juga penasaran dengan aroma daun pandan itu.


"Masak apa, Bi?" tanyanya.


"Sudah lama sekali aku tidak memakannya. Sepertinya lezat."


"Kalau Nyonya mau biar Shanum yang siapkan."


"Boleh."


Tidak lama kemudian Shanum muncul dari dapur dengan membawa semangkuk bubur kacang hijau yang masih mengepulkan asap.


"Loh, Nan. Kamu di sini juga."


"Iya, Bu. Hoeek!" Putera bungsunya itu tiba-tiba bersendawa jika perutnya begitu kenyang.


"Di mana Hanan? Kenapa dia nggak kelihatan?" tanya sang ibu.


"Akhir-akhir ini dia sering mengurung diri di kamar."


"Mungkin tugas kuliah nya banyak."


"Kamu antar saja bubur kacang hijau itu ke kamarnya," ucap bi Sumi pada Shanum.


"Baik, Bi."


Shanum pun dengan sigap menyiapkan semangkuk bubur kacang hijau itu lalu membawanya menuju lantai dua.

__ADS_1


"Astaghfirullahaldzim! Mas Hanan!" jeritnya yang sontak membuat seisi rumah panik.


Bersambung …


__ADS_2