
Setelah sepuluh menit berjalan kaki, Shanum dan Rayhan pun tiba di makam.
Tangis Shanum pecah saat melihat kondisi makam sang kakek yang jauh dari kata terawat. Rumput liar tumbuh begitu subur di atas pusara bahkan nyaris menutupi batu nisan.
"Assalamu'alaikum, Kek," isaknya.
"Makam ini kotor sekali. Pasti paman dan budhemu tidak pernah mengunjunginya," ucap Rayhan sembari mencabuti rumput liar itu.
"Maaf, Kek. Aku tidak bisa sering-sering mengunjungi makam Kakek," ucap Shanum dengan suara lirih.
"Sudahlah, jangan menangis terus. Lebih baik kamu do'akan kakekmu," bujuk Rayhan.
Shanum mulai melantunkan do'a-do'a untuk arwah sang kakek. Rayhan dibuat keheranan lantaran gadis itu bisa menghafal do'a berdurasi panjang itu di luar kepala.
"Bagaimana kamu bisa menghafal do' a sepanjang itu?" tanya Rayhan.
Shanum mengulas senyum tipis.
"Dulu aku mengajar di TPQ kampung ini. Almarhum guru mengajiku yang sering membaca do'a itu hingga aku bisa hafal dengan sendirinya."
"Duar!" Tiba-tiba langit berubah mendung bersamaan petir yang menyambar.
"Sepertinya mau turun hujan. Ayo kita segera kembali ke rumah kawanmu itu," ucap Rayhan. Shanum mengangguk paham.
"Aku pamit dulu, Kek. Assalamu'alaikum," ucap Shanum setelah menaburkan bunga segar di atas pusara sang kakek.
Shanum baru saja beranjak dari makam sang kakek. Matanya terbelalak saat mendapati dahan kering dari pohon kamboja tiba-tiba saja patah dan nyaris menimpa kepala Rayhan.
"Mas Rayhan! Awas!" pekik Shanum.
Tanpa menghiraukan keselamatannya sendiri, Shanum bergegas menghampiri Ray lalu mendorong tubuh Rayha. Alhasil dahan itu terjatuh tepat di bagian kakinya.
__ADS_1
"Astaga! Shanum! Kamu tidak apa-apa 'kan?" tanya Rayhan.
"Ehm … nggak apa-apa kok, Mas."
"Apanya yang tidak apa-apa. Lihat, kakimu berdarah."
"Ah, ini hanya luka kecil." Shanum hendak berdiri namun entah mengapa ia merasa begitu kesakitan bahkan kakinya terasa sulit digerakkan.
"Astaghfirullahaldzim."
"Kenapa?" tanya Rayhan.
"Kakiku sakit sekali."
"Tadi saja bilang nggak apa-apa. Sekarang baru bilang sakit. Kamu bisa jalan nggak?"
Shanum menggelengkan kepalanya.
"Ayo naik," titahnya singkat.
"A-a-pa?"
"Kamu kesulitan berjalan 'bukan? Makanya kugendong saja."
"Tapi, ehm …"
"Duar!" Sekali lagi petir menggelegar.
"Ayo, cepat! Atau kamu mau kehujanan?"
Shanum tak bergeming.
__ADS_1
"Aku hitung sampai tiga. Jika sampai hitungan ke tiga kamu tidak juga naik ke punggungku, aku tinggal kamu!"
"Sendirian di makam saat hujan? Membayangkannya saja begitu menakutkan," batin Shanum.
"Satu … Dua … dua seperempat … dua setengah … dua tiga perempat … ti …"
Rayhan hendak menegakkan kembali tubuhnya namun Shanum menahannya.
"Tunggu!" serunya.
"Ayo cepat naik. Ini sudah mulai gerimis."
Dengan tangan gemetar Shanum mulai berpegangan pada pundak kekar Rayhan. Demi apapun ini adalah kali pertama dalam hidupnya menyentuh seorang laki-laki.
"Maaf, ya," ucap Rayhan saat ia melipat kedua tangannya hingga menyentuh bagian pantatt Shanum.
"Berat juga kamu."
"Ah, bobotku hanya 50 kilo saja kok."
"Hanya 50 kilo kamu bilang? Kamu pikir aku kuli panggul yang sudah terbiasa mengangkut karung beras?" gerutu Rayhan yang justru membuat Shanum tertawa geli.
"Bress!" Hujan yang turun dengan begitu derasnya memaksa mereka berhenti dan berteduh di sebuah pos ronda.
"Aww!" pekik Shanum.
"Apa sakit sekali?" tanya Rayhan.
Shanum menganggukkan kepalanya. Laki-laki itu bahkan melihat buliran bening mulai membasahi pipi gadis itu.
"Aku minta maaf, kamu jadi begini karena menyelamatkanku. Pasti ceritanya akan lain jika tadi dahan pohon itu menimpa kepalaku," ujar Rayhan.
__ADS_1
Bersambung …