Cinta Suci Shanum

Cinta Suci Shanum
Chapter 47


__ADS_3

Pagi itu Nining dan ibunya baru saja kembali dari pasar. Keduanya kaget bukan main saat mendapati seorang laki-laki berdiri di teras rumahnya.


"Mas Rayhan? Ini benar Mas Rayhan 'kan? Atau saya hanya mimpi." Nining mengucek matanya berulang.


"Iya ini aku, Rayhan."


"Mas Rayhan ngapain ke sini lagi? Eh … maksudku kenapa pagi-pagi begini Mas Rayhan sudah ada di depan rumahku?"


"Aku datang ke sini untuk menjemput Shanum."


"Loh, kok dijemput sih Mas. Bukannya kemarin Mas Rayhan sendiri yang bilang selama kaki Shanum masih sakit, mau dititipkan di rumahku dulu?"


"Nenekku yang memintaku untuk menjemputnya. Beliau ingin Shanum mendapatkan perawatan di rumah sakit."


"Masyaallah, Shanum beruntung sekali dikelilingi orang-orang baik," ujar gadis berhijab lebar itu.


"Maaf, sampai lupa. Mari masuk, Mas. Shanum ada di kamarnya."


Ketiganya pun lantas memasuki ruang tamu.


"Tunggu sebentar ya, Mas. Biar aku ajak Shanum keluar." Nining beranjak dari ruang tamu lalu masuk ke dalam kamar sahabatnya itu.


"Num … di luar ada mas Rayhan."


"Mas Rayhan? Mana mungkin dia datang ke sini?"


"Kalau kamu nggak percaya biar kupanggil."


"Mas … Mas Rayhan."


"Ya, ada apa?" sahut Rayhan dari ruang tamu. Dia pun lantas menghampiri kamar itu.


"Mas Rayhan ngapain ke sini lagi? Apa ada barang yang tertinggal?" tanya Shanum.


"Iya, kamu yang ketinggalan."


"Aku kan memang ditinggal di sini karena kakiku masih sakit."

__ADS_1


"Kita ke kota sekarang."


"A-a-pa? Ke kota? Ngapain? Mas Rayhan 'kan kemarin bilang sendiri selama kakiku masih sakit, aku di sini dulu."


"Nenek memintaku untuk menjemputmu. Beliau bilang kamu harus dirawat di rumah sakit agar kakimu lekas sembuh," jelas Rayhan.


"Tapi, Mas, …"


"Sudahlah, Num. Nurut saja. Tidak semua orang seberuntung kamu," sela Nining.


"Benar, Nak. Mungkin kalau kamu dirawat di rumah sakit kakimu akan cepat sembuh bila dibandingkan di sini yang hanya meminum obat dari bidan desa," timpal bu Fatimah.


"Gimana? Kamu mau 'kan? Masa kamu berani menolak permintaan nenek."


"Ehm … ya, aku mau."


"Kalau begitu kita pergi sekarang."


"Tunggu dulu. Kamu berangkat dari kota jam berapa?" tanya bu Fatimah.


"Jam empat pagi, Bu."


"Tidak usah repot-repot, Bu. Nanti saya bisa sarapan di mana saja."


"Tunggu sebentar." Wanita paruh baya itu beranjak dari ruang tamu lalu berjalan menuju arah dapur. Tidak lama kemudian ia kembali dengan membawa nampan berisi sepiring nasi hangat dan semangkuk sayur gulai nangka lengkap dengan ikan asin dan sambal terasi. Aroma masakan itu pun membuat selera makannya muncul.


"Silahkan, Nak."


"Maaf, Bu. Jadi enak. Eh … maksud saya jadi repot."


"Tidak repot kok. Saya sudah memasaknya pagi tadi."


"Maaf, saya makan sendirian."


"Tidak apa. Kami sudah sarapan tadi."


Rayhan mulai menuangkan sayur nangka ke dalam piring berisi nasi beserta sambal terasi dan ikan asin.

__ADS_1


"Entah apa nama makanan ini, ini adalah salah satu masakan terlezat yang pernah kumakan," gumamnya.


"Ehm … Bu."


"Ya, Nak."


"Saya jadi malu."


"Malu kenapa?"


"Ehm … boleh nggak sisa sayur nangka ini saya bawa ke kota?"


"Oh, saya pikir mau ngomong apa. Boleh kok. Kebetulan saya masak banyak."


"Terima kasih, Bu."


"Saya senang kalau kamu menyukai masakan saya."


"Kami pamit dulu, Bu … Ning," ucap Rayhan.


"Kalian hati-hati."


"Ayo."


Shanum berusaha melangkahkan kakinya tapi nyatanya menggerakkannya saja terasa begitu menyakitkan.


"Kaki Shanum masih sakit, Mas. Belum bisa buat jalan," ucap Nining.


"Ayo kugendong."


"Jangan, Mas. Aku malu pada bu Nyai."


Rayhan tak menggubris. Ia justru mengangkat tubuh Shanum lalu menggendongnya.


"Kami permisi dulu, Assalamu'alaikum."


Shanum dan Rayhan pun lantas meninggalkan rumah tersebut.

__ADS_1


"Shanum dan Rayhan memiliki kemiripan wajah. Ibu yakin mereka berjodoh," ujar sang ibu.


Bersambung ..


__ADS_2