
Hanan tersentak kaget saat seseorang tiba-tiba menepuk punggungnya.
"Kamu ngapain di sini?" tanyanya.
"Kamu, Ray. Bikin kaget saja. Untung aku nggak punya riwayat sakit jantung."
"Kamu ngapain di sini? Jangan-jangan kamu ngintip Shanum ya. Loh, kamu nangis?"
"Nggak kok. Siapa yang nangis." Hanan cepat-cepat menyeka air matanya.
Obrolan keduanya terhenti saat tiba-tiba pintu kamar Shanum terbuka. Tentu saja ia keheranan mendapati dua kakak beradik itu mengobrol di dalam kamarnya.
"Mas Rayhan? Mas Hanan? Kalian ngapain di sini?"
"Ehm … aku-aku tadi kebetulan saja lewat," ucap Hanan.
"Tidak usah bohong. Saat aku masuk, kamu sudah berdiri di depan pintu kamar ini kok."
"Aku mau ke kamar dulu." Hanan berlalu dari hadapan Rayhan lalu kembali berjalan menuju kamarnya.
"Mas Rayhan baru pulang?" tanya Shanum yang masih mengenakan mukena itu.
"Sudah tahu masih saja bertanya," ketusnya sebelum akhirnya beranjak meninggalkan tempat itu.
"Ada apa sih dengan mereka?" batin Shanum. Ia lantas menutup kembali pintu kamarnya.
"Bi! Bi!" Buatkan aku minuman dingin dong. Aku dehidrasi nih!" teriak Rayhan sembari berjalan menuju ruang makan.
"Ya, Mas," sahut bi Sumi dari arah dapur.
"Bibi tadi beli mangga di pasar ya?" tanya Hanan sesaat setelah memasukkan sepotong mangga yang telah dikupas ke dalam mulutnya.
"Tidak kok, Mas. Bibi belum ke pasar lagi," jawab bi Sumi seraya meletakkan segelas sirup jeruk dingin di atas meja.
"Lantas, dari mana buah mangga sebanyak ini?"
"Shanum yang metik siang tadi."
"Astaga! Maksud Bibi dia manjat pohon mangga di belakang rumah itu?"
"Iya, Mas."
"Dia itu perempuan asli ata jadi-jadian sih? Bisa-bisanya manjat pohon mangga setinggi itu." Rayhan memasukkan potongan mangga ke dua ke dalam mulutnya.
"Ya perempuan asli lah, Mas. Masa perempuan jadi-jadian. Mungkin dia terbiasa memanjat pohon saat di kampungnya," ujar bi Sumi.
"Oh ya, mana si Adnan? Aku lihat mobilnya sudah ada di halaman."
"Tadi mas Adnan mengantar nyonya Elina ke salon, mungkin sekarang sedang tidur siang. Mas Rayhan mau makan siang sekarang?"
"Tidak, Bi. Aku masih kenyang, tadi malam bakso di kantin kampus. Ya sudah, Bi, aku istirahat di kamar dulu." Rayhan ambaru saja membalikkan badannya. Di saat bersamaan Shanum melintas. Dia terlihat membawa keranjang berisi setumpuk jemuran kering yang baru saja diangkat dari halaman rumah. Tumpukan pakaian itulah yang membuat pandangannya terhalang.
"Bruk!" Tabrakan pun tak terhindarkan. Shanum terjatuh bersama keranjang berisi pakaian itu. Alhasil pakaian kering itupun berhamburan di atas lantai.
"Astaga! Jalan itu pakai mata!" sentaknya.
__ADS_1
"Ma-ma-af, Mas. Tadi pandangan saya terhalang pakaian-pakaian ini."
"Sudah, jangan saling menyalahkan. Cepat rapikan kembali pakaian-pakaian ini sebelum nyonya Elina melihat dan menyuruhmu mencuci ulang," ucap bi Sumi.
"Hufht!" Rayhan mendengus kesal sebelum akhirnya meninggalkan ruangan tersebut.
"Aku 'kan sudah minta maaf. Kenapa masih marah-marah. Orang yang suka marah-marah nanti lekas tua, lekas kena stroke, dan cepat mati," gerutu Shanum.
"Bilang apa kamu barusan?" Rayhan membalikkan badannya lalu menatap tajam mata Shanum.
"Ah, ti-ti-tidak apa. Aku hanya sedang mengeluh pinggangku sakit karena jatuh barusan," ucap Shanum sembari mengusap bagian pinggangnya.
Rayhan enggan melanjutkan perdebatan. Ia pun lantas berjalan menuju kamarnya.
"Aku setrika baju-baju ini dulu, Bi," ucap Shanum setelah merapikan kembali pakaian-pakaian yang tadi berserakan di atas lantai. Ia lantas membawanya menuju ruang setrika.
"Bi," panggil nyonya Elina yang baru saja muncul di ruangan itu.
"Ya, Nyonya."
"Besok siang rumah ini mendapat jatah tempat arisan. Tolong Bibi siapkan camilan dan minuman untuk tamu saya sekitar dua puluh lima orang."
"Camilan seperti apa, Nyonya? Kue basah atau kue kering?" tanya bi Sumi.
"Apa saja yang penting pantas untuk tamu saya, ini uangnya." Nyonya Elina menyodorkan beberapa lembar uang pecahan seratus ribu pada bi Sumi.
"Baik, Nyonya. Nyonya mau kemana?"
"Aku ada urusan sebentar."
"Kenapa nggak minta diantar mas Rayhan atau mas Adnan saja?"
"Ya sudah, Nyonya hati-hati."
"Oh ya, kalau tuan pulang lebih dulu dari saya, bilang saja saya sedang menemui klien."
"Baik, Nyonya."
Nyonya Elina pun lantas meninggalkan ruangan tersebut.
"Sumi! Sumi!" panggil nyonya Arimbi dari dalam kamarnya.
"Ya, Nyonya," sahut bi Sumi seraya berjalan menghampiri kamar sang nyonya besar.
"Ada apa, Nyonya?"
"Aku ingin sekali makan bubur kacang hijau."
"Ehm … kalau menjelang sore begini biasanya bubur kacang hijau yang dijual di kedai dekat rumah ini sudah habis. Kebetulan juga stock kacang hijau di dapur kosong."
"Ya sudah, kamu beli saja kacang hijau mentah di warung dekat rumah lalu buatkan bubur untukku. Kamu bisa 'kan?"
"Bisa, Nyonya."
"Ini uangnya," ucap nyonya Arimbi sembari menyodorkan selembar uang pecahan lima puluh ribu pada bi Sumi.
__ADS_1
"Ya sudah, saya ke warung dulu."
Bi Sumi menutup pintu kamar itu lalu berjalan menuju pintu depan. Entah mengapa tiba-tiba tubuhnya terasa lemas. Pandangannya pun mulai berkunang-kunang. Jika saja Shanum tidak dengan sigap menopangnya, tubuh yang mulai renta itu sudah pasti luruh di lantai.
"Bibi kenapa?"
"Entahlah, tiba-tiba kepala bibi pusing."
"Memangnya Bibi mau ke mana kok bawa uang?"
"Nyonya Arimbi meminta bibi membuatkannya bubur kacang hijau. Tapi kalau siang begini kedai di dekat rumah biasanya sudah tutup. Itulah sebabnya bibi mau membelinya di warung," papar bi Sumi.
"Bibi di rumah saja, biar aku yang ke warung."
"Bagaimana dengan setrikaanmu?"
"Sudah selesai kok Bi. Oh ya, warungnya di mana?"
"Kamu menyeberang jalan, lalu masuk gang kecil. Warungnya di sebelah kiri."
"Apa saja yang harus kubeli?"
"Kacang hijau, daun pandan, santan cair dan gula Jawa."
"Baik, Bi. Aku pergi dulu, assalamu'alaikum.
"Wa'aalaikumsalam, hati-hati."
Shanum berjalan menuju pintu depan lalu meninggalkan rumah itu.
Sesampainya di warung.
"Mbak ini tinggal di mana? Sepertinya saya belum pernah melihatmu," ucap pemilik warung.
"Ehm … saya dari kampung dan sekarang bekerja di rumah tuan Adrian."
"Sudah berapa lama kamu kerja di sana?"
"Baru satu Minggu, Bu. Oh ya, saya mau membeli bahan untuk membuat bubur kacang hijau."
"Aduh, maaf sekali. Kebetulan stock kacang hijau sedang kosong."
"Padahal ini permintaan nyonya Arimbi."
"Ada warung sembako tapi cukup jauh dari sini."
"Kalau boleh saya tahu di mana warung itu?" tanya Shanum.
Dari sini kamu keluar gang lalu belok kanan. Ikuti trotoar hingga bertemu warung bernama warung bu Jihan."
"Baik, terima kasih, Bu. Assalamualaikum."
"Wa'aalaikumsalam." Hati-hati.".
Shanum baru saja keluar dari gang berniat menuju warung yang dimaksud. Namun tiba-tiba saja seseorang berlari dari arah belakang dan mengambil uang dari dalam saku pakaiannya.
__ADS_1
"Astaghfirullahaldzim! Tunggu! Jangan lari!" teriaknya.
Bersambung …