Cinta Suci Shanum

Cinta Suci Shanum
Chapter 57


__ADS_3

Sementara itu Adrian terlihat tengah mengobrol dengan seorang pria di depan sebuah rumah.


"Harga sewa rumah ini adalah tiga juta per bulannya dan anda harus membayarnya di muka," ucap si pria.


"Bagaimana kalau tiga atau empat hari ke depan?"


"Maaf, tidak bisa, Tuan. Jika anda tidak bisa membayar uang sewanya sekarang, saya terpaksa menyewakannya pada orang lain."


"Baiklah, dua hari lagi saya pasti akan membayar lunas uang sewanya. Anda tahu 'bukan, daerah ini jauh dari mesin ATM?"


"Baiklah, dua hari lagi saya akan datang untuk menagih uang sewa rumah ini. Oh ya, ini kunci rumah ini." Pria itu mengambil sebuah anak kunci dari saku celananya lalu memberikannya pada Adrian.


"Terima kasih."


"Saya permisi dulu, selamat siang," ucap si pria sebelum akhirnya meninggalkan tempat tersebut.


Adrian memasukkan anak kunci ke dalam lubangnya lalu membuka pintu rumah itu. Sebuah rumah yang ukurannya tidak lebih besar dari ruang dapur rumahnya dulu.

__ADS_1


Isi di dalamnya pun tentu saja jauh dari kata mewah. Hanya tampak sebuah sofa dan dua ruangan yang bisa dipastikan satu kamar tidur dan ruangan lainnya adalah kamar mandi.


"Maafkan aku, Elina. Seandainya aku tidak bermain api, aku tidak akan terbakar," ujarnya.


Demi menghindari kejaran polisi, kini Adrian memilih menyewa rumah di daerah pinggiran kota. Esok hari dia berencana menggadaikan sertifikat rumah yang dulu dibelinya sebagai hadiah ulang tahun bagi Alicya serta menjual perhiasan yang disimpan kekasih gelapnya itu di dalam lemari pakaiannya. Dengan uang itulah ia akan pergi dan menghilang ke luar negeri.


Adrian memutar gagang pintu kamar lalu mendorongnya. Yang tampak di hadapannya hanyalah sebuah kasur busa tipis ukuran single serta sebuah lemari plastik susun tiga.


"Tak masalah aku tinggal di rumah sempit ini, yang penting aku bisa menghindari kejaran polisi," ujarnya.


Tiba-tiba terdengar suara khas dari dalam perut yang menandakan jika dirinya tengah diserang rasa lapar.


"Nanti malam saja aku cari makan, sekarang aku mau tidur," gumamnya.


Perlahan Adrian merebahkan tubuhnya di atas kasur busa yang tebalnya tidak lebih dari 10 centimeter itu. Beberapa saat kemudian rasa kantuk pun mulai menyerangnya hingga akhirnya pria itu pun terlelap.


Adrian tidur begitu pulas dan baru terbangun saat matahari sudah terbit kembali. Alhasil perutnya kini terasa begitu melilit karena terlalu lama menahan lapar.

__ADS_1


Setelah membersihkan diri dan berganti pakaian, dia pun meninggalkan rumah kontrakan itu dan mendatangi warung makan yang berada tidak jauh dari tempat tinggal barunya itu.


Hari ini dia berencana mendatangi bank lebih dulu baru lah menjual perhiasan milik Alicya lalu membeli tiket pesawat dengan tujuan luar negeri. Negara yang akan didatanginya adalah Negara J. Di negara itu dia masih memiliki rekan kerja yang masih berhubungan baik hingga sekarang.


Manusia memang hanya bisa berencana, tak ada yang tahu nasib satu jam setelahnya. Tanpa diduga pihak bank menolak pengajuan gadai atas rumahnya.


"Kenapa permohonan saya ditolak, Bu? Sertifikat tanah ini asli," ucap Adrian.


"Saya juga tahu kalau sertifikat rumah ini asli. Tapi masalahnya pihak kami sudah mendapat perintah agar menolak permohonan apapun yang menggunakan sertifikat rumah ini."


"Memangnya siapa yang memerintahkan Bank ini untuk menolak permohonan saya?"


"Ah, itu dia mereka datang." Petugas bank mengacungkan ibu jarinya ke arah pintu.


Seketika wajah Adrian pucat pasi saat tahu siapa yang berdiri di ambang pintu.


Bersambung …

__ADS_1


__ADS_2